Menu
Menu

Amir Sareh tahu, istrinya hanya sedang menyindir. Tak butuh waktu terlalu lama, situasinya akan kembali seperti biasa. Dia tahu, sejak semula istrinya juga gemar makan ikan—ikan air tawar, mujair terutama.


Oleh: Tjak S. Parlan |

Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya “Kota yang Berumur Panjang” (Basabasi, 2017). Selain menulis, sehari-harinya mengerjakan perwajahan untuk sejumlah buku dan sejumlah penerbitan lainnya. Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.


Amir Sareh meludahi kail yang sudah terpasang umpan itu. Tiga kali, sebelum kemudian mengulurkan tali kail ke arus yang lebih tenang seraya mulutnya berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Tak perlu menunggu lebih lama, joran bambu di tangannya bergetar. Getaran itu membuat matanya berbinar. Rupanya seekor mujair sebesar telapak tangannya telah tersangkut mata kail. Kepis bambu yang menggantung di pinggangnya pun kembali terisi.

“Hari yang baik,” gumamnya seraya kembali memasang umpan.

Amir Sareh percaya bahwa cacing lur sawah adalah umpan yang paling unggul ketimbang cacing jenis lainnya. Dia telah membuktikannya berkali-kali dengan ikan-ikan di Kali Sarong. Oleh karenanya, dia memindahkan beberapa jengkal tanah pematang sawah milik tetangga ke belakang rumahnya. Di tempat itu, dia merawat tanah sedemikian rupa agar cacing-cacing lur bisa hidup dan berkembang biak dengan baik.

“Kalau saja cacing-cacing itu laku dijual, kita tak akan pernah repot mencari pinjaman,” sindir istrinya pagi itu.

Itu bukan pertama kalinya. Dalam banyak kesempatan, istrinya menyemburkan sindiran yang sama kepadanya. Meskipun begitu, tampaknya Amir Sareh selalu bisa mengatasi sindiran itu dengan penuh percaya diri.

“Kamu ini bagaimana?” tanggapnya. “Cacing-cacing ajaib inilah yang bisa menarik perhatian ikan-ikan itu. Kalau hari ini tangkapanku banyak, kita bisa menjualnya sebagian. Kita akan memiliki uang, dan sisanya bisa untuk lauk makan.”

Amir Sareh percaya bahwa ikan-ikan sangat baik untuk kesehatan. Dia telah membuktikannya selama bertahun-tahun. Setidaknya, jika dibandingkan dengan orang-orang lain di Kampung Sarong, dirinyalah yang paling jarang berurusan dengan mantri Puskesmas atau dukun karena persoalan penyakit. Dia kerap merasa heran dengan orang-orang di kampungnya yang tak begitu suka makan ikan.

“Ikan itu baik untukmu,” ujarnya suatu hari kepada anaknya.

“Iya. Dia sudah tahu,” sahut istrinya. “Dia bosan setiap hari makan ikan. Hanya ikan!”

Namun Amir Sareh tak pernah bosan. Dia belum berhenti pergi ke kali. Dia selalu menyiapkan kailnya di pagi buta ketika tetangga sekitarnya berangkat ke sawah, ladang, atau kebun kopi untuk melakukan apa saja yang bisa dikerjakan. Dia akan kembali ke rumah ketika matahari sudah benar-benar berada di atas kepala. Di rumah, dia akan segera menyiangi ikan hasil tangkapannya, lalu memasaknya untuk dirinya sendiri.

Menjelang Asar, istrinya baru akan pulang dari kebun kopi yang letaknya tak jauh dari kampung. Sementara, anak laki-laki satu-satunya yang berusia sembilan tahun, lebih suka bermain-main di rumah neneknya sehabis pulang sekolah. Namun sudah hampir sebulan, istrinya jarang pergi ke mana-mana. Musim panen kopi sudah berakhir. Tak banyak yang bisa dilakukan di perkebunan milik pemerintah itu. Perkebunan lebih membutuhkan buruh laki-laki untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat. Di saat-saat seperti itu, istrinya kerap mengungkapkan keinginan untuk pulang ke kampung halamannya.

“Ada saja yang bisa kita kerjakan di sana. Seperti dulu.”

“Aku bosan duduk di lapaknya Mamak. Di pasar yang pengap, seperti itu setiap hari. Aku senang bekerja di luar.”

“Di kali, maksudmu?”

Amir Sareh tahu, istrinya hanya sedang menyindir. Tak butuh waktu terlalu lama, situasinya akan kembali seperti biasa. Dia tahu, sejak semula istrinya juga gemar makan ikan—ikan air tawar, mujair terutama. Seperti yang sudah-sudah, dia berharap bahwa ikan-ikan hasil tangkapannya bisa mengubah keadaan, meskipun sementara. Dia yakin perasaan istrinya yang semula suntuk, akan berangsur-angsur surut. Untuk hal yang seperti itu, dia telah memegang kunci sederhana: tak boleh banyak membantah! Lalu, saat makan malam tiba, dia akan menghidangkan gulai mujair pedas kesukaan istrinya.

“Sudahlah, istirahat saja di rumah. Jangan terlalu dipikirkan. Sepulangnya nanti, aku akan memasak gulai mujair pedas untukmu.” Begitulah, Amir Sareh kerap berkilah.

Mata Amir Sareh kembali berbinar. Joran bambu itu kembali bergetar. Dia membiarkannya beberapa saat. Dia tahu—dan sangat hapal—kapan saat yang tepat untuk mengangkat joran. Maka, sebuah sentakan yang sangat meyakinkan mengakhiri semuanya. Seekor mujair meronta-ronta di ujung kail sebelum kemudian harus pasrah berdesak-desakan di dalam kepis bambu bersama sejenisnya.

”Benar-benar hari yang baik,” gumamnya seraya melirik kepis bambu di pinggangnya yang semakin berat dan penuh.

Matahari belum benar-benar di atas kepala. Namun dia memutuskan untuk pulang lebih cepat hari itu. Di sepanjang jalan menuju rumahnya, tak henti-hentinya dia bersenandung.

***

“Lagi pula, siapa yang mau membeli ikan-ikan ini?”

Amir Sareh mencoba berpikir keras. Dia tak pernah menduga istrinya akan bertanya seperti itu. Dia tak memiliki pengalaman menjual ikan. Sebagian ikan-ikan itu sudah disianginya dan siap untuk dimasak. Sebagian yang lainnya dibiarkan begitu saja. Dia berpikir istrinya bisa—dan dengan senang hati—menjual ikan-ikan itu.

“Aku yakin pasti ada,” jawab Amir Sareh. “Orang-orang sekitar sini akan membelinya.”

“Sekarang memang sedang musim ikan,” ujar istrinya. “Mereka hanya butuh sebilah bambu dan kail dan cacing tanah untuk mendapatkannya! Orang-orang kampung ini biasa melakukannya, meski tak sesering yang kamu lakukan. Jadi, kenapa mereka harus beli?”

Amir Sareh terdiam. Dia tahu, Kali Sarong memang sedang dalam masa puncaknya. Selepas banjir terakhir, airnya mulai jernih. Arusnya yang sedang, disenangi ikan-ikan yang hanyut dari hulu. Orang-orang kampung terbiasa menggunakan aneka macam cara untuk menangkap ikan. Ada yang senang menggunakan kail, ada yang lebih suka menggunakan jala, ada yang terus-menerus memasang bubu, ada yang menggunakan tangan kosong belaka. Bahkan ada juga yang menggunakan potas.

“Nah,” ujar Amir Sareh tiba-tiba, seolah mendapatkan ilham, “bawalah ke loji . Apapun akan dibeli di sana. Beberapa orang kampung pernah melakukannya. Pegawai perkebunan itu orang baik.”

Istrinya tak menanggapi, memilih berlalu dan masuk ke kamar. Dari dalam kamar terdengar sebuah lagu. Lagu itu bercerita tentang seorang istri yang berharap dikembalikan ke rumah orangtuanya tersebab hubungan rumah tangga yang nyaris tak terselamatkan. Amir Sareh menghela napas. Dia tak habis pikir, mengapa radio transistor itu selalau menemukan lagu yang sama di saat dirinya mengalami situasi semacam itu dengan istrinya? Mengapa istrinya seolah senang mendengarkan lagu itu dari waktu ke waktu?

“Persetan!” gumamnya. “Aku tak pernah dan tak akan pernah menampar istriku seperti dalam lagu itu.”

Amir Sareh tak pernah berlaku kasar kepada istrinya. Sebelumnya dia adalah seorang laki-laki yang gemar hidup di perantauan. Di perantauan itulah dia bertemu dengan istrinya, anak seorang pedagang beras di sebuah pasar tradisional. Beberapa bulan bekerja bersama mertuanya, tak membuatnya betah. Akhirnya dia memboyong istrinya ke kampung halamannya. Dia berharap bakat lamanya sebagai pelukis dinding rumah—selalu lukisan pemandangan— bisa menghasilkan cukup uang di kampung. Tapi kenyataannya berbeda. Hingga anaknya lahir dan masuk sekolah, tak banyak orang yang menginginkan bakat lamanya itu. Tapi dia tak ingin bersedih. Dia merasa Kali Sarong dan ikan-ikan di dalamnya selalu memanggil untuk mengimbangi kesedihannya.

“Rendam saja ikannya, biar tetap segar,” ujar istrinya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya—berkalung handuk, dan menenteng peralatan mandi.

Amir Sareh menuruti apa yang dikatakan istrinya. Dia segera mengambil air dari tempayan dan menuangkannya ke dalam ember yang berisi ikan-ikan.

“Mungkin benar yang kamu katakan. Sore nanti aku akan membawanya ke loji,” ujar istrinya seraya berlalu menuju perigi.

Selepas istrinya pergi, Amir Sareh segera menyalakan tungku. Dia berharap bisa membuat masakan yang istimewa untuk anak dan istrinya.

***

Hari hampir gelap ketika istrinya kembali ke rumah. Keringat menderas di wajah istrinya yang tampak murung.

“Ada apa? Dibeli dengan harga murah, ya?” tanyanya, sejenak setelah istrinya duduk di ruang tamu.

“Tak ada yang mau membelinya,” jawab istrinya.

“Tak satu pun?”

Istrinya bergeming.

Amir Sareh berjalan ke pintu dan memeriksa sepeda jengki yang disandarkan begitu saja di bibir beranda. Tak ada apa-apa di atas sepeda itu.

“Di mana ikan-ikan itu?” tanyanya kemudian.

“Kamu tahu,” jawab istrinya dengan nada putus asa. “Setelah dari loji, aku terus berkeliling. Siapa tahu ada pembeli di kompleks afdeling. Sampai di dekat pos Hansip, tiba-tiba sekelompok anjing mulai mengonggong dan mengejarku. Bisa kamu bayangkan yang terjadi selanjutnya? Aku benar-benar ketakutan.”

Amir Sareh sama sekali tak menduga bahwa istrinya akan mengalami kejadian naas semacam itu. Lagipula—dalam benaknya—anjing-anjing semestinya makan tulang saja, bukan ikan mujair. Dia bisa membayangkan bagaimana istrinya mengayuh sepeda sekencang-kencangnya, namun anjing-anjing sialan itu tetap saja mengejarnya. Tentu saja, istrinya menjadi semakin panik dan sepedanya berguncangan sedemikian rupa di jalanan berbatu itu. Lalu, ember yang semula terikat di boncengan itu terjatuh dan ikan-ikan itu pun berceceran di jalanan.

“Bagaimana nasib ikan-ikan itu sekarang?” tanya Amir Sareh, lebih sebagai gumam.

“Kenapa ikan-ikan itu saja yang kamu pikirkan?” tanggap istrinya dengan nada tinggi. “Kenapa bukan nasib kita yang kamu tanyakan? Tak ada apa-apa selain ikan-ikan itu. Tak ada apa-apa!”

Amir Sareh terdiam. Dia baru menyadari, mestinya tak perlu mengatakan apa-apa lagi dalam situasi seperti itu.

Dan istrinya telanjur meradang.

“Ikan-ikan itu dimakan anjing! Dimakan anjing, paham?” pungkas istrinya seraya berlalu menutup pintu kamar.

Amir Sareh bergeming. (*)

Mataram, 12 Pebruari 2019


    • Loji: Loji, dalam cerita ini merujuk pada rumah tinggal peninggalan zaman Belanda. Setelah kemerdekaan, loji biasanya dijadikan sebagai rumah dinas administratur perkebunan.
    • Afdeling: Afdeling (Belanda) adalah wilayah administratif dari suatu perkebunan. Afdeling biasanya dipimpin oleh seorang asisten yang disebut sinder.

      Ilustrasi: Oliva Nagung

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *