Menu
Menu

Dalam “Sentuh Papua”, Amelia adalah vanishing mediator bagi Rohan. Ia hadir untuk membantu pencarian-pencarian Rohan. Ia membentuk karakter dan kepribadian Rohan, lalu setelahnya terlepas dan hilang.


Oleh: Alfred Tuname |

Lahir di Ende pada tahun 1983. Ia menulis banyak opini dan esai di berbagai media di NTT. Buku perdananya berjudul “le politique” (2018). Sangat mencintai sastra.


Berbicara Papua (West Papua) adalah berbicara tentang terra incognita. Sebuah tanah wilayah luas dengan zona kehidupan misterius tanpa batas.

Tak ada yang mampu menerka dengan benar fakta dan fiktif yang terjadi di tanah itu. Samar-samar, tampak ada fakta. Muncul pula kisah fiktif dengan varian propaganda dan intrik.

Yang jelas, Papua adalah cerita panjang tentang hak hidup dan kebebasan. Tema itu selalu muncul pada setiap narasi yang terlepas bebas di meja publik. Lalu, publik mencerna semuanya dengan hati-hati. Jangan sampai ada batu, serpihan kaca atau pun baja yang mengganggu proses pencecapan akal. Jika itu berlanjut, maka seperti ayam, serpihan itu bermanfaat demi mempercepat proses percernaan di tembolok.

Seperti ayam, demikianlah apa yang kita cerna tentang Papua. Mereka yang bisa melihat Papua dari dekat, tak bisa membuka matanya selebar mungkin. Mereka yang melihat dari jauh, mencoba membongkar sejarah Papua atas remah-remah kisah yang tak utuh.

Faction

Novel “Sentuh Papua: 1500 Miles, 153 Hari, Satu Cinta” (Bukukatta, 2018) bukan berisi remah-remah kisah. Terdapat banyak fakta yang menjadi terurai. Penulisnya sendiri bahkan mengatakan bahwa novel itu berisi 90% fakta sejarah. Semuanya itu diikat dalam temali alur kisah fiksi.

Boleh jadi novel karya Aprila Wayar itu persis novel karya Robertus Fahik “Likurasi Sang Mempelai” (Cipta Media Yogyakarta, 2013) yang berkisah tentang pembentukan Kabupaten Malaka dan harapan masyarakat (tokoh penyair). Terdapat kisah fakta dan naskah pidato yang benar-benar ada. Lalu, sastrawan Gerson Poyk menyebut itu sebagai “novel faction (fact and fiction)”.

Genre “faction” ini agak sedikit berbeda fiksi umumnya. Novel fiksi berarti sebuah karya sastra berisi kisah fiktif, tanpa embel-embel fakta historis. Sedangkan, “faction” berarti sebuah karya sastra berisi kisah fiktif dengan beban fakta historis di dalamnya. “…faction can be a form of literature, film etc, that treats real peopleor events as if they were fiction, a mix of fact and faction” (bdk. www.wikidiff.com).

Bila kita bersepakat dengan Gerson Poyk di atas, maka novel “Sentuh Papua” bisa juga disebut novel bergenre “faction”. Novel itu bercerita tentang perjuangan masyarakat Papua untuk terlepas dari NKRI. Setelah tak ada lagi “Netherlands New Guinea”, tak ada lagi “Irian Jaya”, tak ada lagi “Provinsi Papua dan Papua Barat”. Hanya ada negara Papua Merdeka dengan bendera Bintang Kejora. Itulah sebongkah harapan dalam plot progresif novel “Sentuh Papua”.

Tampaknya, sebagai jurnalis, Aprila Wayar tak mampu berbicara banyak tentang Papua. Kebenaran tumbuh seperti bunga layu di atas tembok. Ada sensor berita, ada propaganda politik. Berita tak bicara soal fakta, selain timbunan advertorial. Karena itu, Aprila memilih pakem penulisan sastra a ‘la Seno Gumira Ajidarma ketika bersuara tentang tragedi “Timor Timur”: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.

Aprila Wayar benar-benar serius menekuni dunia sastra untuk bercerita tentang orang-orang Papua. Selain “Sentuh Papua”, ada dua lagi novel yang dikarangnya: “Mawar Hitam Tanpa Akar (2009) dan “Dua Perempuan” (2013). Semua bersinggungan dengan Papua. Melalui karya sastra itu ia hanya ingin bercerita apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Persoalan dan harapan diramu dalam karya sastra. Persisnya, karya sastra bukanlah parfum kehidupan melainkan jerih payah melawan kemunafikan.

Sentuh Novel

Dalam novel “Sentuh Papua”, pengarang mengangkat kehidupan seorang jurnalis dengan nama pena Rohan. Ia adalah seorang jurnalis freelance dengan identitas hybrid (istilah Homi Bhabha). Berasal dari keluarga Suriname, keturunan India dan tinggal di Belanda, melahirkan pribadi Rohan yang terlepas dari akar budaya. Jadilah Rohan seorang nomad: berpindah-pindah untuk mendapat pengakuan.

Sebagai jurnalis berbagai media internasional, Rohan terus memacu adrenalin dengan masuk ke wilayah konflik. Korea Utara, China, Tibet, India, Nepal, dan daerah lainnya sudah ia jelajah. Itu belum cukup. Ia pun ingin masuk lebih dalam ke Papua. Bukan untuk berwisata, tetapi ia ingin lebih dekat mendetak jantung pergolakan masyarakat Papua.

Dengan dana secukupnya, ia berhasil masuk Papua. Dengan dukungan ibunya, ia merasa didoakan. Dengan mengenal tokoh Papua diaspora (Zion, cs.), ia bisa bertatapan dengan tokoh-tokoh sentral OPM. Tampaknya, tak perlu susah payah. Setiap kebetulan menjadi rencana yang manis biar ia bisa masuk dalam detail persoalan Papua. Keberanian sikapnya memunculkan kebetulan itu.

Rohan berani menyebrangi perbatasan Indonesia-Papua New Guinea menuju Vanimo untuk bertemu Richard Yoweni. Di rimba batas negara itu, ia bertemu Bapa Bangsa Papua sekaligus pemimpin besar OPM. Ia ingin meliput dan mendengar langsung arah pikiran perjuangan Papua Merdeka dari Richard Yoweni.

Setelah bertemu Richard Yoweni, Rohan tahu bahwa revolusi belum selesai. Perjuangan masyarakat Papua masih Panjang. Sebab, revolusi itu butuh darah, butuh senjata; “revolusi memakan anak-anaknya sendiri”, mengutip Vergnaun ketika tokoh-tokoh revolusi Prancis terpenggal oleh Goulletine. Ada pengkhiatan di kubu OPM. Ada perebutan posisi dan kuasa. Semua itu menjadi kemelut perjuangan mereka yang tergabung dalam OPM (militer Indonesia menyebutnya KKSB: Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata).

Tak hanya Pemimpin OPM Richard Yoweni, Rohan juga bertemu para tokoh pejuang dan aktivis seperti Sony, Jonah Wenda, Filep Karma (Big Fish), para tahanan yang dibebaskan Jokowi, Pendeta Naomi Selan dan masih banyak lagi. Dari perjumpaan dengan tokoh-tokoh tersebut, ia mengumpulkan banyak data dan cerita heroik, dan hipokrit, dalam perjuangan OPM. Selain itu, fenomena-fenomena sosiologis seperti persoalan transmigrasi, HIV/AIDS, modernitas, identitas melanesia, dan lain-lain, menambah peliknya persoalan Papua.

Yang menarik adalah perjumpaannya dengan jurnalis dan novelis yang bernama Amelia. Rohan jatuh cinta dan mencintai Amelia. Begitu pun sebaliknya. Amelia menjadi mimpi indah di tengah gelapnya kisah perjuangan masyarakat Papua. “Hanya penyair termurni yang membiarkan cinta memasuki hatinya dalam masa revolusi”, tulis Orhan Pamuk dalam novel “Snow” (2008). Rohan memang bukan penyair, tetapi dengan perjuangan yang poetik (terus membuka mata pada kebebasan), ia membiarkan Amelia tiba tepat di hatinya dalam masa pikirannya penuh buntu.

Pasang-surut komunikasi percintaan Rohan dan Amelia tak menghambat hasrat dan gerilya jurnalistik mereka. Tampaknya, bagi seorang nomad Rohan, “apa yang dipersatukan Papua, bisa diceraikan oleh jurnalisme”. Cinta keduanya pun pupus ketika Rohan memilih kembali ke pangkuan ibunya, Belanda. Itu pilihan yang tak bisa ditolak setelah mengetahui bahwa Zion sedang mendorongnya ke lembah kematian, bukan Baliem Valley (ikon pariwisata) di pegunungan Jayawijaya. Perjuangan pun terus berlanjut.

Sentuh Papua

Revolusi tidak dimulai dari senjata, tetapi dari penjuangan dan ideologi kebebasan. Itulah yang menggerakan OPM mengangkat senjata. Itulah yang membuat masyarakat Papua menuntut referendum. Masyarakat Papua ingin merdeka. Mereka mendapati fakta adanya new colonialism di tanah Papua. Lepas dari kolonial Belanda, masuk kepada kolonial baru, Indonesia.

Oleh karena itu, karya sastra yang muncul pun pasti menyentuh arus perjuangan hak dan kemerdekaan. Bacaan sastra pos-kolonial pasti menyentuh arus politik dan ideologi itu. Semua itu terbaca pada situasi psiko-sosial dan sosiologi Bahasa. Persis seperti kata Mahatma Gandhi: “Bangsa yang pernah dijajah, saat merdeka akan meniru gaya penjajahnya”. Hal itu sangat terasa dalam konteks Papua.

Tindakan kekerasan dan represif militer di Papua tidak lepas dari konteks sosiologi post-kolonial. Tindakan itu selain respons atas agresi OPM, juga dicurigai sebagai “proyek militer” dan untuk mengamankan perusahaan tambang emas Freeport. Itu semua sudah menjadi rahasia umum. “The main target” OPM pun tidak jauh-jauh dari militer Indonesia yang dianggap representasi Pemerintah Indonesia.

Selain itu, setiap warga transmigrasi (yang bukan Melanesia) dianggap sebagai representasi Indonesia. Mereka juga menjadi target agresi OPM. Oleh sebab itu, litani kekerasan pun terus terjadi di tanah Papua. Aksi “lex talionis”, mata ganti mata – nyawa dibalas nyawa, melanggengkan kekerasan di Papua.

Dugaanya, kekerasan yang terus terjadi di Papua adalah ekses. Casus belli-nya adalah OPM tak ingin bergabung dalam NKRI sebab perbedaan ras Papua yang melanesoid: Papua milik orang Papua; Indonesia mempertahan hukum internasional uti poseti juris—suatu negara mewarisi wilayah yang sebelumnya diduduki oleh negara penjajahnya. Itu saja.

Sementara cara untuk memertahankan masing-masing dalil, OPM dengan senjata dan diplomasi Internasional dan Indonesia dengan militer dan kebijakan yang politically incorrect dan terkesan ada “genosida” (arus transmigrasi-“Metode California”, HIV/AIDS, kemiskinan, dll.). Semua soal itu terbaca secara detail dalam novel “Sentuh Papua”.

Sentuh Tokoh

Persoalan seputar tokoh dalam novel “Sentuh Papua” juga merepresentasikan kondisi psiko-historis Papua. Bahwa ada faktor perantara yang terus hadir sebagai kanalisasi perjuangan dan indentitas. Pada konteks psikoanalisis Zizekian disebut sebagai “vanishing mediator”. “A vanishing mediator is a concept which somehow negotiates and settles – hence mediating – the transition between two opposed concepts and thereafter disappears” (Zizek, 2002).

peserta bincang buku sentuh papua klub buku petra

| Peserta Bincang Buku “Sentuh Papua”


Tokoh Amelia adalah vanishing mediator bagi Rohan. Ia hadir untuk membantu pencarian-pencarian Rohan. Ia membentuk karakter dan kepribadian Rohan, lalu setelahnya terlepas dan hilang. Sebagai seorang jurnalis nomad, ia makin matang dalam perjuangan dan identitas diri.

Kisah Amelia dan Rohan persis seperti Rose Dawson (Kate Winslet) dan Jack (Leonardo Dicaprio) dalam film Titanic (1997). Jack adalah “vanishing mediator” bagi Rose Dawson. Setelah Rose Dawson mendapati dirinya yang bebas dari kekerasan “perjodohan”, Jack tenggelam dan hilang dalam peristiwa tenggelamnya kapal Titanic.

Sementara itu, Rohan juga berperan sebagai “vanishing mediator” bagi OPM. Kedatangannya ke Papua membuat suara-suara perjuangan Papua Merdeka terdengar kembali di dunia Internasional. Selebihnya, ia pergi dan menghilang.

Mereka yang hilang itu bisa dikenang sebagai pahlawan. Usaha dan jerih payahnya bermanfaat bagi keuntungan ideologis dan psikologis orang lain. Mengutip Soe Hok Gie dalam “Catatan Serang Demonstran” (2005): “Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi”.

Akhirnya, perjuangan orang Papua tak pernah mati. Rindu kemerdekaan dan kebebasan tapele tanjung dan lautan persoalan eksternal pun internal. Rindu itu diceritakan abadi dalam novel “Sentuh Papua”. Aprila Wayar sedikit banyak berhasil menceritakan semua itu. Profisiat, Aprila. Bravo Papua! (*)


Catatan:

  1. Tulisan ini adalah materi yang disampaikan Alfred Tuname saat bertugas sebagai Pemantik pada Bincang Buku Petra edisi Mei (Sabtu, 25 Mei 2019) di LG Corner Ruteng.
  2. Berbeda dengan pola sebelumnya, pada edisi kali ini, rubrik Bincang Buku hanya berisi komentar pemantik. Komentar peserta diskusi tidak disertakan; disepakati bahwa poin-poin hasil bacaan anggota Klub Buku Petra, berupa kritik (dan saran perbaikan) atas “Sentuh Papua”, akan dikirim kepada penulis novel ini. Masalah penokohan, penyuntingan yang tidak ketat, anakronisme, dan beberapa hal lain menjadi bagian terbesar yang ‘dipersoalkan’ peserta.
  3. Peserta Bincang Buku Petra edisi Mei adalah Alfred Tuname, Maria Pankratia, Ronald Susilo, Armin Bell, Jimmy Carvalo, Marta Muslin Tulis, Daeng Irman, Dodo Natal, Gerry Alamani Ndaur, Febry Djenadut, Geryl Ngalong, Yuan Jonta, Christian, Tommy Hikmat.
Bagi tulisan ini via:

2 thoughts on “Sentuh Papua: Rindu Tapele Tanjung dan Lautan”

  1. Dunia Sudut says:

    Sentuhan memang jalur paling terindra oleh rasa kita. Aku sebagai anak papua pastilah bangga dengan karya-karya yang lahir dari kegelisahan generasinya. Dariku “Banyak kerja lupa gelisah; bohong. “

    1. Terima kasih sudah mampir, Kaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *