Menu
Menu

Masa-masa kejayaan pembuat topeng memang sudah lama lewat. Ali mewarisi pekerjaan sebagai pembuat topeng dari bapaknya.


Oleh: Dadang Ari Murtono |

Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain “Ludruk Kedua” (kumpulan puisi, 2016) dan “Samaran” (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.


Jalanan lengang menjelang pukul dua siang di bagian selatan kota kecil ini. Ali berjalan dengan risih. Bajunya lengket akibat keringat yang membanjir.

Mukanya juga mulai terasa gatal dan gerah, menginginkan sedikit elusan udara segar. Ia berhenti di depan sebuah kedai yang terlihat sepi. Ia merogoh kantong celananya. Ada beberapa koin di sana. Ia mungkin tidak bisa mendapatkan sepiring makanan, namun segelas kopi akan terasa lumayan segar. Ali memasuki kedai itu dan membanting pantatnya di kursi terdekat dari pintu. Sebuah boneka besar seukuran manusia dewasa lengkap dengan pakaiannya yang selalu ia panggul ke mana-mana ia letakkan di sisi kiri kursi. Dan tas ransel besar berisi aneka topeng bikinannya ia letakkan di sisi kanan. Suara kipas angin yang berada di langit-langit kedai menderu-deru bising. Ali menengadahkan wajah, mengais-ngais kenikmatan yang bersumber dari kipas angin tersebut. Pemilik kedai tampak agak malas berjalan ke arahnya. Ia adalah seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan, bertubuh kurus, berparas tirus, berkumis tipis dan tidak terawat, serta mukanya bopeng akibat jerawat yang dikopek paksa.

“Kau bisa melepaskan topengmu di sini. Lagipula kau tidak akan makan atau minum sambil memakai topeng bukan?” kata si pemilik kedai.

Ali memandang sekeliling. Berusaha memastikan bahwa semuanya aman. “Beri aku segelas kopi. Kopi hitam biasa saja,” katanya.

“Itu saja? Tanpa makanan?”

“Itu saja. Tanpa makanan.”

Si pemilik kedai memutar badan dengan sebal. Mungkin ia sedang berpikir bagaimana bisnis akan berjalan bila setiap yang datang hanya memesan segelas kopi yang biasa-biasa saja – yang itu artinya kopi yang paling murah – lantas duduk berjam-jam di kedai itu. Ali tentu saja ingin juga memesan sepiring nasi dengan telur dadar. Tapi bisnisnya juga berjalan buruk dari hari ke hari. Dua hari yang lalu masih ada seorang bocah sekitar enam tahunan yang merengek-rengek kepada ibunya supaya dibelikan topeng macan ketika ia beristirahat di bawah pohon mangga seberang rumah bocah itu sambil menggelar dagangannya, dan si bocah, murni karena kebetulan, mengintip dari balik jendela kaca kamarnya di lantai dua. Ibu si bocah menurutinya karena tak tahan mendengar rengekan si bocah yang tak kunjung berhenti selama setengah jam. Ali tidak memasang harga terlalu mahal. Lima puluh ribu rupiah. Itu benar-benar murah mengingat butuh waktu yang tidak sebentar untuk meraut pangkal bambu betung besar menjadi bentuk macan seperti itu.

Namun perempuan itu mengatakan tidak akan mau membayar lebih dari tiga puluh ribu untuk topeng jelek semacam itu. Ali mengalah. Si bocah berjingkrak-jingkrak girang dengan topeng barunya. Ibu bocah itu memberikan uang dengan muka masam. Dan Ali menerima uang tersebut dengan tangan gemetar, terbayang kerja kerasnya mencari pangkal betung yang batangnya sudah ditebang, mendongkelnya, lantas merautnya sampai mencapai derajat ketipisan dan keringanan tertentu, sebuah proses panjang yang bisa memakan waktu hingga empat hari. Satu-satunya hal yang membuatnya mau menjual topeng itu dengan harga tiga puluh ribu rupiah adalah fakta bahwa sudah tiga hari sejak ia berhasil menjual topengnya yang terakhir. Dan kini terbukti, penjualan topeng macan itu adalah penjualan terakhirnya dalam tiga hari terakhir. Sisa-sisa uang penjualan topeng macan itu kini akan segera berubah menjadi segelas kopi yang ia harapkan bakal membuat sisa harinya terasa lebih indah.

Masa-masa kejayaan pembuat topeng memang sudah lama lewat. Ali mewarisi pekerjaan ini dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, dan begitu seterusnya hingga entah. Bapaknya pernah cerita bahwa kakek Ali adalah seorang pembuat topeng terbaik yang pernah dilahirkan. Ia bisa membuat topeng yang sama persis dengan obyek yang ditirunya, sama persis hingga detil-detil kecil seperti anak rambut atau tahi lalat atau bercak yang paling samar. Karena kepersisannya itu, banyak yang percaya bahwa topeng-topeng bikinan kakek Ali bukanlah topeng-topeng sembarangan, melainkan topeng-topeng yang hidup dan berkeliaran pada malam-malam tertentu.

Namun tak pernah ada yang mampu membuktikan kebenaran desas-desus tersebut. Fakta tidak terbantahkan dari hasil kerja kakek Ali adalah begitu banyak orang yang meminati topeng bikinannya. Apalagi pada hari-hari tertentu semisal tujuh belas agustusan. Namun pada hari-hari lain, tidak berarti permintaan sepi. Ada saja orang yang membutuhkan dan membeli topeng-topeng tersebut. Kakek Ali tak pernah berjalan sampai payah keliling kota, berteriak hingga serak, atau mendatangi kerumunan bocah dan membuka bungkusan besar berisi aneka topeng dan membujuk mereka supaya mau membeli. Tidak. Pembelilah yang datang ke bengkel kerja kakek Ali. Satu-satunya tugas kakek Ali hanyalah membuat topeng sesempurna mungkin. Berjalan keliling kota dan berteriak menawarkan topeng hingga suaranya habis dan tenggorokannya serak baru terjadi pada era bapak Ali. Kondisi pembuat topeng sudah agak seret.

Namun, masih ada saja orang atau bocah yang tertarik untuk membeli. Bapak Ali tidak memiliki bakat sebesar kakek Ali. Topeng-topeng yang ia bikin seringkali melenceng jauh dari yang ia harapkan. Topeng macan yang ia bikin, alih-alih galak, justru tampak konyol dengan mata dan hidung besar yang benar-benar aneh. Begitu pula topeng kera yang ia bikin. Hasilnya malah mengingatkan lelaki itu kepada kepala kalkun. Lantas bagaimana bisa topeng raksasa itu begitu mirip dengan wajah istrinya? Ketidak berbakatannya itulah yang menyebabkan lelaki itu berpikir bahwa bisnis menjadi sulit. Orang-orang tidak suka kepada topengnya karena jelek. Maka ia bertindak proaktif dengan menjajakannya, berkeliling kota, berteriak hingga suaranya tinggal desisan. Dan dengan cara itu, ia bisa menjaga rumah tangganya tetap baik hingga istrinya meninggal pada usia empat puluh lima akibat demam berdarah. Ia bisa membesarkan dan mengajari Ali bagaimana membuat topeng, dan segera menyadari bahwa bocah itu memiliki kemampuan yang nyaris sama dengan kakeknya.

“Kau akan hidup mulia, Nak. Seperti kakekmu,” kata bapak Ali waktu itu.

Namun ucapan itu terbukti keliru. Zaman memang berubah dan tak bisa dilawan. Tak ada lagi orang yang tertarik pada topeng, tak peduli sesempurna apa topeng tersebut dibuat. Ali meneruskan laku bapaknya berkeliling kota, berteriak hingga yang keluar dari mulutnya sekadar napas kering dan bau tembaga, berupaya menjual satu atau dua topeng setiap hari. Bila kakeknya memiliki sebuah rumah dan bengkel kerja yang di kemudian hari dijual oleh bapak Ali, dan bila bapak Ali mampu mengontrak rumah yang cukup lumayan meski tidak bisa dikatakan mewah, maka Ali mesti puas menjadi gelandangan akibat kesulitan keuangan yang membelit dirinya.

Namun ia tidak pernah menyesali bakat dan jalan hidupnya sebagai pembuat topeng. Ia mensyukurinya dan ia tahu bahwa hal itu adalah hal terbaik yang terjadi kepadanya. Seharusnya ada dua kematian yang terjadi pada pagi di mana bapak Ali wafat tiba-tiba. Barangkali memang begitulah ketentuannya. Bukankah mati adalah mati, tak mesti didahului oleh sakit atau kecelakaan atau usia tua atau apalah. Mati adalah mati. Habis perkara. Ali merasakan hawa dingin melinukan tulang pagi itu, dan ia terbangun, dan ia melihat selapis cahaya putih transparan menembus tubuh bapaknya. Ali terpukau. Tubuhnya kaku. Ia melihat bapaknya berkelejatan dalam sekarat yang singkat. Ali bukan anak bodoh. Ia juga terbiasa berpikir cepat. Maka ia segera tahu bahwa cahaya itu adalah Maut. Dan ketika cahaya itu selesai dengan bapaknya lalu menoleh ke arahnya, ia merasa bahwa hari kematiannya juga sudah tiba. Ali mendapatkan kesadarannya. Ia mundur ke belakang. Ia tahu, di kamarnya, ada dua buah topeng bikinannya. Yang satu adalah topeng berbentuk mukanya yang sama persis dan tak ada bedanya sedikit pun dengan wajahnya, termasuk tahi lalat di atas bibir dan bercak tanda lahir di kening kanan; yang lain adalah topeng wajah pengemis kusta yang pernah ia lihat di pasar. Ali terus mundur, lantas melesat ke kamarnya, di mana ia meraih topeng wajah lelaki kusta, mengenakannya, kemudian mengambil topeng wajahnya sendiri dan memakaikannya pada ujung guling. Jantung Ali seperti dipacu. Apakah Maut cukup bodoh dan tertipu hal konyol seperti itu?

Maut melayang-layang lama di langit-langit kamarnya. Ali diam seperti bangkai di lantai kamar. Sementara guling dengan topeng wajahnya terbaring di atas kasur. Bahkan Ali pun tetap terkejut ketika pada akhirnya Maut melayang dan menembus guling itu meski itu memang yang dikehendaki Ali. Berkali-kali Maut menembus guling tersebut. Dan tak menemukan seonggok kehidupan yang bisa ia renggut. Sebegitu tololnyakah Maut hingga ia tidak bisa membedakan mana tubuh manusia dan mana guling? Apakah ia hanya memperhatikan muka dari manusia yang hendak ia ambil kehidupannya?

Ali mendengar geram kemarahan Maut. Ali mendengar bagaimana Maut berjanji akan terus memburu Ali, tak akan melepaskannya, tak peduli sejauh apa ia pergi. Namun yang kemudian pergi adalah Maut. Ia menembus langit-langit. Maut terkenang skenario dalam buku takdir yang gagal ia penuhi. Bapak Ali mangkat lantaran angin duduk yang mengeram di ulu hatinya. Dan Ali menyusul bapaknya setelah jantungnya mogok berdetak menyaksikan Maut bermain-main dengan tubuh bapaknya.

Sejak saat itu, Ali memulai karir pembuat sekaligus penjual topengnya, Maut memburunya dengan kemarahan yang berkobar-kobar, dan mereka berdua memulai permainan kucing-kucingan yang panjang dan melelahkan dan berbahaya. Pada waktu-waktu tertentu yang tidak terpola atau tertebak, Maut menemukan Ali dan topengnya dan dengan ganas menyelam-nyelam ke dalam boneka tiruan Ali. Sementara Ali sendiri – yang berganti-ganti mengenakan topeng binatang atau makluk dari negeri dongeng – merasakan hawa dingin yang menggigil, atau menyaksikan cahaya putih menyelami boneka dirinya, atau mendengar kepak bising berkisar di punggungnya yang memanggul boneka. Ia tahu, Maut memiliki banyak cara untuk datang, memiliki banyak bentuk untuk menuntaskan tugasnya. Namun kenyataannya, sampai hari ini, Maut masih gagal menyelesaikan misi atas diri Ali. Dan Ali, setelah dua atau tiga kali didatangi Maut, selalu mengganti topeng dirinya dengan ekspresi yang berbeda.

“Ini kopi Anda,” pelayan tiba-tiba berdiri di depan meja Ali, meletakkan kopi dengan setengah kasar. “Topeng yang Anda kenakan jelek sekali. Kenapa Anda memilih topeng kera? Kenapa Anda tidak memakai topeng yang Anda pakaikan pada boneka Anda itu? Itu topeng wajah yang tampan,” tambah pelayan itu.

“Terimakasih,” jawab Ali. “Saya memang suka memakai topeng ini. Dan kalau Anda tertarik, Anda mungkin bisa melihat topeng-topeng saya yang lain. Harganya murah. Cuma lima puluh ribu satu topeng. Sudah dua hari ini saya belum makan….”

Pelayan itu kembali membalikkan badan dengan sebal. (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *