Menu
Menu

Green Book cukup memberikan sebuah pengalaman sinematik yang dramatis, kocak, penuh kehangatan.


Oleh: D. Hardi |

Menulis cerpen, puisi, dan resensi, menetap di Bandung. Karya terbaru, buku: Antologi puisi tunggal “Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari” (Jejak Publisher, 2019), antologi cerpen bersama “Masa Depan Negara Masa Depan” (Surya Pustaka Ilmu, 2019).


Identitas Film

Judul: Green Book
Tahun: 2018
Sutradara:
Peter Farrelly
Rumah Produksi: Participant Media, Dream Works Pictures, Innisfree Pictures, Cinetic Media, Alibaba Pictures

*

Akhirnya, perhelatan Oscar menahbiskan Green Book sebagai Film Terbaik tahun 2019. Film ini mematahkan stereotip karya kampiun yang melulu mesti serius, berat, atau berjenis film ‘nyeni’ yang sukar dinikmati khalayak.

Tak terlalu jauh dari akar sinematiknya, Peter Farrelly (masih ingat Dumb and Dumber, The Three Stooges atau There’s Something About Mary?) mengemas skala Blaxploitation moderat lewat drama perjalanan yang menghibur sekaligus sentimentil secara bersamaan.

Vis-à-vis Blackkklansman, kontestasi tema rasial utamanya, dimenangkan lewat perwatakan brilian dua aktor: Viggo Mortensen dan Mahershala Ali, yang masing-masing berperan sebagai Tony Lip dan Dr. Don Shirley—seolah film ini memang sengaja dibuat untuk panggung mereka berdua.

Penonton disuguhi kemenikmatan setiap fragmen tanpa harus berpikir keras, larut memamah ironi, mengutuk kebebalan, dan menertawai kecanggungan. Adegan per adegan mengalir secara alami semudah Tony melahap sekaligus 26 hot dog untuk taruhan dengan gaya khasnya di awal lini—petugas keamanan yang rasis pula slenge’an, jago makan, berlaku sesuka hati, kadang oportunis, tapi cinta keluarga—di depan Don yang (maunya) selalu tampil resik dan berkelas.

Tanpa mencoba keluar dari batas subgenre yang tipikal, misalnya inversi dari hegemoni kulit putih, Green Book tampaknya tak berniat membawa misi radikal seheroik itu.

Lantaran dalam kisah perjalanan panjang ke Deep South, di beberapa negara bagian selatan Amerika Serikat yang terkenal rasis akibat pelaksanaan hukum Jim Crow di era 1960-an ini, intimitas kedua tokoh dengan serempak bertumbuh-kembang secara alami seiring drama demi drama lahir mengubah paradigma, meluruskan prasangka satu sama lain secara resiprokal.

Tak Ada Superioritas Moral di Green Book

Berbekal buku panduan Green Book, kontrak perjalanan terjadi bukan hanya karena faktor kepepet, sampai Tony harus menggadaikan jam tangan untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang masih kecil tersebab klub malam tempatnya bekerja, Copacabana, direnovasi selama dua bulan, sehingga sudi menerima tawaran Don menjadi juru kemudi alias sopir dengan gaji 100 dolar perminggu.

Don mengetahui, lewat sebuah rekomendasi, predikat Tony yang keras sebagai tukang pukul justru membuatnya yakin untuk menetapkan akhir pencarian audisi. Misi naif memasuki wilayah Selatan yang beresiko, jelas membutuhkan sosok seperti Tony. Awal kerjasama ini memang dimulai dari kebutuhan asas profesionalisme semata.

Yang Don belum ketahui, betapa lelaki berdarah Italia itu ternyata begitu menjengkelkan sebagai rekan tur panjang: suka merokok di dalam mobil, iseng mengutil dagangan orang, banyak omong, membuang sampah sembarangan, sok asik, sok tahu meski kurang berwawasan—tak bisa menangkap makna kata tertentu/perumpamaan, Chopin disebut ‘Joe Pan’, sering typo ketika menulis surat untuk istrinya bahkan untuk diksi ringan semacam ‘Dear’—lalu mengatasinya dengan kelihaian bersilat lidah ala sofis jalanan.

Paradigma rasial yang Tony idap sesungguhnya menggelikan karena ia sendiri adalah keturunan Italia yang notabene bukan penduduk asli Amerika. Di sisi lain, ia lelaki yang humoris, setia dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Tony meneguhkan stereotip lelaki Italia-Amerika kerah biru yang sangar di luaran tetapi lembut di dalam rumah.

Don Shirley adalah segalanya yang bukan Tony. Don berpendidikan, resik, menjunjung tinggi etiket dan martabat, detil, kaku, seorang virtuoso sejati, pianis kelas dunia yang seumur-umur menolak menu ayam goreng cepat saji karena dianggap tidak higienis. Yang tak diketahui Tony, ada kerentanan tersembunyi di balik semua keanggunan sikap dan perilaku ningrat itu: lelaki jomblo yang hanya meminum merek wine premium tertentu, yang hanya mau menderapkan jemarinya di tuts piano Steinway sebagai technical riders harga mati.

Di titik kulminasinya, mereka saling mengerti: mereka tak benar-benar asing dan berbeda. Mereka hanya terasing dalam dirinya sendiri, buah dari segregasi sosial dan ketidaktahuan.

Beberapa aspek dari film ini mungkin menimbulkan pertanyaan. Kisah tentang hubungan antara seorang sopir dengan majikan yang berbeda latar belakang etnis dirasakan mirip dengan film Driving Miss Daisy.

Pertanyaan tentang keakuratan penggambaran hubungan antara Don dan Tony—mengingat film ini mengklaim diri sebagai based on true story—muncul setelah beberapa pemberitaan di media (berdasarkan keterangan dari keluarga pianis Don Shirley) yang menyebut; Don dan Tony tidaklah sedekat itu dalam kehidupan aslinya. Penggambaran sosok Don di film pun dirasa kurang tepat.

Dalam plot cerita ditunjukkan betapa Don yang santun, bermartabat dan sering mengkritik kelakuan Tony itu tiba-tiba ditemukan mabuk dan terciduk berbuat tak senonoh dengan seorang lelaki berkulit putih. Laku ceroboh tak bernalar yang sering Don lontarkan pada Tony nyatanya memercik muka sendiri. Tony harus menyelamatkan harkatnya (lewat negoisasi jalanan dengan aparat), bagai seorang bapak yang menasehati anak labil dengan segala pertimbangan realistis, meski tetap saja, terasa menyebalkan di mata sang virtuoso.

Jika Tony terkesan sebegitu rasis dan kasarnya, mengapa ia bisa santai dengan preferensi seksual seseorang? Jika Tony sebegitu bencinya pada orang berwarna (dia membuang gelas bekas minuman petugas berkulit hitam saat memperbaiki pipa rumahnya), mengapa gaya hidupnya justru lebih ‘Bronx’ dari Don yang eksklusif—berdiam di apartemen mewahnya bagai pangeran Afrika yang menyepi. Tony pun lebih hafal Little Richard, Chubby Checker, Sam Cooke, bahkan Aretha Franklin, dibandingkan Don yang beraliran klasik.

Barangkali ironi-ironi semacam inilah yang diinginkan Farrelly untuk mengisi ruang dialektika sepanjang tur. Untuk kemudian di antara Don dan Tony dapat saling menemukan, dan merobohkan sekat masing-masing.

Perihal akting, penampilan Viggo dan Ali sungguh memukau. Tak pelak, nuansa kocak film ini lahir dari dialog-dialog, perwatakan, dan bahasa tubuh Viggo yang comical, memberi nyawa khusus bagi atmosfer kesenangan. Tercatat, kutipan-kutipan yang terkesan ngaco tapi cukup filosofis justru keluar dari mulut Tony. Misalnya:

“Lakukanlah semua hal dengan 100%. Saat makan, makanlah seolah itu adalah makanan terakhirmu.”

“Dunia ini penuh dengan orang kesepian karena mereka takut melangkah.”

“Jangan tanyakan apa yang negara bisa lakukan untukmu. Tapi tanyalah apa yang bisa kamu lakukan untukmu sendiri.”

Adegan lucu lainnya adalah saat Tony yang mungkin gemas, dengan sedikit memaksa, menjejali Don (yang sangat berhati-hati pada setiap makanan), untuk mau melahap Kentucky Fried Chicken, atau saat Don membantu Tony yang kesulitan menulis surat untuk istrinya karena Tony bukanlah orang yang puitis. Kalimat yang ditulisnya cenderung kaku, laiknya sebuah laporan.


green book drama perjalanan untuk saling memahami


Oscar tahun ini memang cukup ketat untuk predikat aktor terbaik. Karakter Tony mengingatkan saya pada sosok Cheney di film Vice, yang keras, terkesan brengsek, tapi sayang keluarga. Sedangkan Don, memiliki latar psikis—keterasingan yang serupa dengan Freddie Mercury yang obsesif dan melankolis. Soal kemampuan akting bermain piano, rasanya Ali tak kalah dengan Gosling di La La Land.

Dengan gambar yang apik dari tone warna teal-pirus, aprikot dan jingga yang klasik, beserta set, lokasi, dan properti yang memperkaya mise en scene secara visual, meski bertema klise, Green Book cukup memberikan sebuah pengalaman sinematik yang dramatis, kocak, penuh kehangatan.

Akhir kata, buku panduan The Negro Motorist Green Book karya Victor Hugo Green yang diterbitkan pertama kali pada 1936 sendiri aslinya menuturkan introduksi sebagai berikut:

Akan ada masanya dalam waktu dekat ketika panduan ini tidak lagi harus diterbitkan. Adalah saat di mana kita sebagai sebuah ras memiliki hak yang sama di Amerika Serikat.

Pertanyaan esensialnya, bilamanakah itu akan terjadi di tengah tren politik identitas saat ini? (*)


Info Grafis: Daeng Irman

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *