Menu
Menu

Kebanyakan puisi-puisi Jahan Malik Khatun adalah puisi-puisi cinta, dan biasanya tentang ketakbahagiaan dalam cinta.


Oleh: Mario F. Lawi |

Buku-buku puisinya adalah “Memoria” (2013), “Ekaristi” (2014), “Lelaki Bukan Malaikat” (2015), “Mendengarkan Coldplay” (2016), “Keledai yang Mulia” (2019), dan buku puisi berbahasa Inggris: “Bui Ihi: The Cooling of the Harvest and Other Poems” (2019). September 2019, Mario akan berpartisipasi dalam Contains Strong Language Festival di Hull, Inggris.


Berapa Lama

Berapa lama kau akan
Seperti cemara,
Menjauhkan kepala indahmu
Dariku?

Kesedihanlah segala yang pernah
Kauhadirkan untukku;
Tak akan kutanya berapa lama
Aku jadi

Pengetuk di pintumu
Yang tak kaulihat,
Cincin besi yang kauabaikan
Secara tak sadar.

Bantalku terbuat dari ketakhadiran—
Sedangkan kau bebas
Mengecap cinta lain.
Melupakanku.

Jika dapat kuikuti aroma
Rambut ikalmu akan kutemukan
Cara untuk membiarkan malamnya
Menyelimutiku;

Sejak kaubiarkan aku
Sengsara,
Segenap diriku adalah
Airmata dan hati terbakar.

Tak layak aku bagimu, tetapi
Aku rindu memandang
Cahaya matahari wajahmu
Bersinar di sini, untukku.

Meski telah kautunjukkan
Tak kaupedulikan aku,
Jiwaku masih mengharapkan
Kesejahteraan bagimu.

 

Kumohon, Tuhan

Kumohon, Tuhan, buka lebar
Gerbang surga
Bagi dia yang telah dianugerahi
Kodrat surgawi;

Anugerahkan dia tempat di surga,
Dan semoga kelompok
Bidadari menyambutnya
Di tempat yang pantas baginya;

Jauhkan darinya hasrat dunia ini,
Nestapa dan dendamnya;
Anugerahkan dia rahmatmu, dan penuhilah
Jiwanya dengan cahaya.

 

Setiap Bunga Baru Merekah

Setiap bunga baru merekah dalam cahaya pagi,
Mengisi hatiku dengan keagungan dan sukacita . . .
Bahkan sebelum wanginya menjangkauku
Angin kehancuran telah menyapunya dari pandanganku.

 

Tak Akan Berobat Hatiku

Tak akan berobat hatiku untuk menyamarkan sakit ini,
Meterai Kesedihan telah dipasang, dan akan bertahan:
Tak pernah bisa lelah hatiku karena kehadiranmu yang indah,
Ketakhadiranlah segala yang memenuhi hidupku sekarang.

 

Jika Kau Harus Menciumku

Jika kau harus menciumku dengan
Bibir delimamu, Kekasihku,
Aku akan jadi hambamu dan kupakai
Anting-antingmu di telingaku.

Siapakah yang memiliki mata,
Atau bibir, atau pipi, seindah engkau?
Siapakah pemilik rambutmu, atau lehermu,
Atau warna rupamu? Siapa?

Siapakah yang telah melihat bulan memakai
Topi seperti itu? Dan siapakah di sana
Yang telah melihat pohon cemara
Terbalut jubah yang kaupakai?

Tuhan, beri aku mawar,
Bukan duri-duri cinta;
Tuhan, jangan menggigitku dengan
Bibir yang sedang kuimpikan.

Aku seperti bejana
Yang ditaruh di atas api cinta-
Sepanjang siang dan malam aku mendidih
Dan berbuih bersama hasrat;

Aku terlalu banyak menangis sejak
Kau hilang dari pandanganku;
Apa yang kau tahu tentang semua
Yang kualami semalam?

Mengapa kaulukai hatiku
Dengan kesedihan, tanpa perasaan?
Dan apakah yang membuatmu melupakan
Janji-janjimu padaku?

 

Semalam, Cintaku

Semalam, Cintaku, Hidupku, kau berbaring bersamaku,
Dagumu yang indah kuraih, kubelai,
Dan kugigit, kugigit, bibir manismu hingga
Aku terbangun … yang kugigit adalah ujung jariku.

***

Tentang Jahan Malik Khatun

Jahan mungkin putri satu-satunya dari kedua orang tuanya yang menikah pada 1324. Ayahnya, Masud Shah, raja Shiraz dan Fars dari tahun 1336 sampai 1339, dibunuh pada 1342 sesaat setelah ia mencoba merebut kembali takhtanya. Pamannya, Abu Is’haq, adalah orang yang memberanikannya menulis, dan merupakan patron penyair Hafiz dan Ubaid Zakani. Kebanyakan puisi-puisinya adalah puisi-puisi cinta, dan biasanya tentang ketakbahagiaan dalam cinta. Puisi ini diterjemahan dari terjemahan Inggris Dick Davis dalam buku Faces of Love: Hafez and the Poets of Shiraz (p. 136-184).


Ilustrasi: Photo by Anatolii Kiriak from Pexels

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *