Menu
Menu

Di lantai tiga kamarmu/ bunga jepun kering di jendela/ anggur merah, kiasan belaka


Oleh: Jong Santiasa Putra |

Seorang penulis dari Denpasar, bernama asli Anak Agung Putu Santiasa Putra, lahir di Denpasar 21 April 1991. Sekarang bekerja sebagai pengelola warung makan dan pengelola program kesenian di salah satu Creative Space Denpasar. Puisi-puisinya pernah dimuat di beberapa media cetak, yakni Bali Post, Post Bali, Tribun Bali, dan Indopos, serta termaktub dalam antologi puisi “Keranda Emas” (2009), “Klungkung Tanah Tua, Tanah Cinta” (2018), dan “Saron” (2018). Selain menulis, aktif berkesenian di Teater Kalangan, Kuma Jaum Projek.


Di Pantai Utara

—–Celukan Bawang

Tiga nelayan menatap laut
matahari bias di matanya.

Ikan-ikan mengeram sunyi
mengenyam sebagian rahasia
saat buih paling tua
melibas kaki mungil si bungsu.

Karang jauh,
ayah belum berlabuh

Bilik bambu ditetak angin
satu ketapang tumbang
dari mana datang petaka
sebab muasal kita tak terpeta.

Datanglah, datanglah
bulan Sampar, akhir tahun
api unggun, tikar pandan,
ikan bakar, sayur lodeh buatan istri
malam bertamu, duduk bersila
dua gelas tuak, satu batang
mimpi penuh dirajam
hal-hal selesai diterjemahkan.

Jangkar berkarat di pasir,
rumpon kering ditenggat
barakuda terjebak di jaring
doa-doa berlayar ke seberang.

Seekor ikan melompat
tubuhnya jadi tanah
matanya jadi benih
tumbuhlah-tumbuhlah.

Laut hanyalah kita
menyamar kemungkinan
batas-batas cahaya.

Oktober 2018

 

Rumah Dermaga

Doa-doa larung menuju,
perahu rumput laut
disepuh ombak lunglai
seperti rambutmu
basah, saat bulan ketiga tiba
di dermaga.

Kutemukan segenggam waktu
labuh disengaja
detaknya perlahan,
bisik daun kepada angin
pengembaraan sebentar berakhir.

Sementara dirimu
ibu kepiting, tersesat di lorong pasir
bersembunyi dari deru tongkang,
lapuk nelayan, jala basah tak bertuan
sedang kau susun mantra
datang badai sesekali
agar terang ufuk kehilangan.

Di rumah cahaya sunyi 32 watt
air laut pasi merayu cadik
tidakkah rindu masih berlayar, keluhnya
kawanan ubur-ubur pelangi
manambat pesan dari palung
kita akan baik-baik saja
hanya saja, sejarah milik siapa.

Dalam pekat lekat itu
akhirnya kutemukan juga
sisa diriku mengapung, pecah
entah bertuju.

Singaraja, Januari 2019

 

Bayang di Kelir, Menuju Singaraja

Kau tanggalkan ragu,
di setiap tikung jalan
menuju Singaraja,
kabut turun dari bukit-bukit
menyusup ruas-ruas cemas,
jadi doa di saku kiri.

Di Bale tengah, tanah asah lumut hijau
Juru Dalang meramal Pangeran Duryodana,
dari gurat usia kayu jati,
setiap lingkar pengarungan
ialah bercak tetak pengorbanan.

Arjuna hendak sembunyi
di balik tajam besi pahatmu
ia paham satu rahasia waktu
kita bagian-bagian lapuk
tak pernah terjaga
usai dengki dan kebencian.

Bulan pendar melintas di kelir
api blencong menyamar malam
dentang gender menyusur kota tua di pelabuhan
perahu-perahu merah dari Negeri Cina
membawa guci, manik-manik, gelang giok
serta berpuluh sesat yang tak terbaca,
senyummu kelu, lindap sangka
di antara sisip kamboja di telinga
——–kematian siapa abai kali ini?

Jalan pulang Diah Pragiwa
adalah diri terjauh manusia
bersemayam di hutan pinus
dari kutuk akar kata-kata
tentang pertemuan dan keikhlasan.

Bayang Raksasa memeluk dinding
leluhurmu datang, duduk di perapian
sandiwara sebatas perjamuan
pada menit terakhir air mata
kemudian kau tanam
jadi bunga-bunga di halaman.

Nonton Wayang Dalang Sembroli, Mei 2019

 

Matahari Biru dan Bunga Kuning

Lukisan Kayu

Kanvas putih, matahari biru
genggam bunga kuning
daun kamboja keriput di lantai.

Dua kecil lari berputar
jaga langkah, tatap pijak ke depan
sesekali jatuhlah ke tanah
tempat ayah dan ibu menitip rindu
di hari pertamamu

Manusia legam ekor merah
mengacung tombak
di atas punggung monster hijau
kepala batu, rambut pirang
Kota sedang runtuh
sembunyilah di bawah meja
dekat dapur,
bersama cahaya lilin
bayang padi-padi di depan rumahmu
nyiur lambai diterjang angin pantai

Panjatlah tebing karang lukisanmu
bunga-bunga kayu di ujungnya
pagi begitu sangsi,
saat kau bertanya
apa sisa dari perjalanan?

Segenggam kabut – tanjakan Gitgit
lima bunga pinus – pipih di trotoar
dingin dekap – akar cemara
lunglai bunga terompet – sepanjang Bedugul.

Matahari akan tetap biru
sampai sajak ini kau baca,
titiplah pesan ke kota
alamatkan pada jalan-jalan asing
gang-gang pesing,
klakson-klakson tak bersalah
dan aku di beranda

Rumah Belajar Mahima, 24 Mei 2019

 

Dongeng dari Lantai Tiga

Di lantai tiga kamarmu
bunga jepun kering di jendela
anggur merah, kiasan belaka
tentang cemas dan ketidakmungkinan.

Hujan deras, meretak daun teratai
seekor katak tua di sudut kolam
memandang riak satu-satu.

Kita bergantian bak balerina
melompat lalu tersesat
saat waktu berselisih
atas dusta dan dosa.

Ibu peri datang dari selatan
menyemat bunga di meja makan
kelopak gugur itu
adalah ragu yang telah kusimpan
di setiap spasi kalimat ini.

Anjing kecil mata dadu
merapal dingin,
menghayati lampu kota,
diam-diam ia paham
aku sedang mencatat
nama samar dari igauan
adakah ia pangeran dari negeri berkuda
menjemput pulang?

Aku?
hanya singgah tak bersudah.
esok akan kembali
membawakan bulan mati
dari raksasa penghuni gunung hitam.

Di kening, di ujung rambut,
di selip kuku mungil, di sudut bibirmu
kumpulkanlah remah penantian
sisa ketulusan, dan sepotong kasih
kita rangkai ulang di langit-langit kamar
saat puisi-puisi bergegas sembunyi
dari ketiadaanku.

April-Mei 2019


Ilustrasi: Photo by mentatdgt from pexels.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *