Menu
Menu

Ada satu hasil pencarian yang menjelaskan bahwa minat baca di Indonesia meningkat. Sayangnya, informasi itu ada di halaman 5.


Oleh: Armin Bell |

Tinggal di Ruteng. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra. Cerpennya berjudul “Monolog di Penjara” menjadi Cerpen Terbaik pada Anugerah Sastra Litera 2018.


Saya ketik “minat baca indonesia” di kotak pencari google. Hasilnya? Di halaman pertama, yang keluar adalah tentang rendahnya minat baca di negeri ini.

Saya mencari informasi itu pada tanggal 25 November 2019, pukul 21.30 WITA; 7 dari 10 hasil yang ditampilkan google menyertakan kata “rendah” dan “malas” sebagai teman keyword tadi. Hasil lain memunculkan data bahwa minat baca orang Indonesia hanya mampu sampai di angka 0,01 persen. Juga informasi bahwa kita ada di urutan 60 dunia dalam bidang itu. Di halaman-halaman berikutnya—saya klik sampai halaman 6—tak banyak berbeda.

Saya sempat tergesa-gesa membuat kesimpulan, dengan menggerutu, bahwa negeri ini menyedihkan sekali. “Hasil miring” dari pencarian dengan kata kunci minat baca indonesia itu menjengkelkan; ini orang Indonesia dorang bikin apa saja e, sampe ini hasil pencarian soal minat baca bisa negatif semua begini?

Kemudian saya tarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, memanjangkan sabar, dan mulai membaca artikel-artikel di halaman 1 google itu satu per satu. Rentang waktu artikel itu disiarkan berada di antara bulan Januari 2018 sampai Juli 2019. Algoritma google pasti punya alasannya sendiri sehingga hasil seperti itu yang dia munculkan, dan saya punya alasan sendiri juga untuk kecewa.

Bagaimana tidak? Sebagian besar isi artikel-artikel itu (hanya) mengutip riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU), bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked. Riset itu, yang dilakukan pada Maret 2016, menunjukkan data bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Posisi kita persis di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi infrastuktur untuk mendukung membaca (perpustakaan, baik yang diam maupun yang bergerak, serta bentuk lainnya), peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Saya kecewa sebab data itu sesungguhnya telah saya baca dua setengah tahun yang lalu dan tidak ada narasi terbaru yang berhasil terekam mesin pencari, yang (saya harapkan) menampilkan informasi tentang minat baca kita telah meningkat. Ada satu sebenarnya. Tetapi munculnya di halaman lima. Berisi keterangan Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpusnas, Deni Kurniadi, bahwa minat baca di Indonesia mulai naik.

Saya tidak sempat buka halaman 7 dan berikutnya lagi; saya menduga hasilnya akan sama saja karena memang, sejauh yang saya ingat, belum pernah ada informasi lain selain hasil riset CCSU tadi yang ramai dibagi-bagikan warganet negeri ini.

Sebagai akibat dari kemalasan menelusuri lebih jauh itu, mau tak mau, saya memikirkan: (1) bahwa belum ada data terbaru terkait minat baca di Indonesia, (2) bahwa lembaga-lembaga penelitian kita memang belum berminat melihat geliat baca di negerinya sendiri, (3) bahwa berbagai agenda literasi macam festival, bincang buku, perpustakaan keliling/bergerak, lahirnya website-website literasi, memang sulit muncul di mesin pencari karena tidak banyak yang berminat mengetahui informasi-informasi demikian. Mungkin karena yang seperti itu agak mengancam posisi kita? Upsss.

Begini. Tentang yang ketiga tadi. Sejauh yang saya lihat, ada ribuan agenda literasi di negeri ini. Ada jutaan komunitas yang bergerak di jalur “meningkatkan minat baca”. Ada jutaan pula cerita yang hadir setiap hari tentang apa saja yang dilakukan oleh komunitas-komunitas literasi. Mengapa tidak muncul di halaman pertama?

Ada dua dugaan. Pertama, media-media besar yang memang potensial muncul di halaman pertama mesin pencari oleh karena jangkauannya yang luas, tidak terlampau berminat menulis hal-hal demikian. Kedua, para pegiatnya hidup masing-masing, tidak berniat mengetahui agenda literasi komunitas lain, dan begitu asyik memuja kegiatannya sendiri; berakibat pada rendahnya click and share pada cerita-cerita (dari komunitas lain) tadi. Yang belajar SEO pasti paham soal ini.

Ada juga sebenarnya dugaan lain, yakni soal agenda-agenda literasi tadi memang tidak sepenuh-penuhnya diarahkan untuk meningkatkan minat baca, tetapi ditujukan untuk menambah jumlah foto yang diunggah ke media sosial: inilah kami para pejuang literasi. Hanya saja, dugaan itu buruk sekali dan seperti menampar diri sendiri. Saya sering foto-foto di setiap kesempatan mengunjungi/terlibat di kegiatan-kegiatan seputar literasi dan mengunggahnya di media sosial—semula ditujukan untuk memberi pengaruh, berikutnya malah berubah menjadi berburu like dan love dan wow dan sponsorship. Maafkan kami!

Duh. Tulisan ini harus segera berakhir sebab saya tidak yakin akan banyak yang sabar membaca tulisan yang panjang. Masalahnya adalah bagaimana mengakhirinya agar berhasil tampil sebagai tulisan yang utuh dan masuk akal?

Saya memutuskan, tentu saja setelah menimbang dan memperhatikan, bahwa tulisan ini akan ditutup dengan beberapa ‘barangkali’.

Barangkali meningkatnya minat baca memang tidak terlampau berhubungan dengan banyaknya agenda-agenda literasi. Barangkali agenda-agenda literasi memang dilaksanakan karena ada sponsor. Barangkali sebagian besar pegiat literasi di seluruh muka bumi ini hanya berjuang menjadi penyedia buku dan merasa tidak harus membaca buku; kami su siapkan buku gratis, kenapa kamu tir datang pinjam? Barangkali memang yang paling menarik adalah foto-foto di depan lemari buku. Begitu?

Semoga tidak begitu. Dan, tidak boleh begitu. Tidak baik bagi kesehatan bangsa dan negara. Telah banyak penelitian yang menjelaskan bahwa minat baca yang rendah bukan sekadar mempengaruhi kemampuan verbal dan linguistik dalam menyampaikan gagasan, tetapi juga berdampak sosial. Maksudnya, jika kurang membaca, masyarakat memiliki kecenderungan menggemari percakapan-percakapan tidak bermakna, mudah percaya pada hoax, dan menjadi lebih ringan menghakimi pihak lain.

Di lain waktu, saya berencana mengetik “cara meningkatkan minat baca masyarakat” saja di kotak pencarian. Semoga hasilnya lebih positif, dan semoga lebih banyak mendapat tips-tips. (*)


Ilustrasi: Foto Kaka Ited.

Baca juga: PANJANG UMUR GERAKAN LITERASI NASIONAL. Pengalaman menarik para pembaca dapat dilihat di rubrik SAYA DAN BUKU.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *