Menu
Menu

Di tengah keasyikan menonton pementasan demi pementasan itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dan mengganggu pikiran saya: bagaimana posisi sastra di Maumerelogia IV kali ini?


Oleh: Afryantho Keyn |

Lahir di Kinabalu, 28 Oktober 1991. Cerpennya tergabung dalam buku antologi Tsunami, Tsunami (2018). Cerpennya yang berjudul “Reruntuhan Ketujuh” menjadi Cerpen Terbaik Litera 2019. Kini bermukim di Nuhalolon, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.


Kamis pertama bulan November terasa begitu terik bahkan ketika hari masih pagi. Kota Larantuka membikin gerah seperti biasanya. Saya menunggu seorang teman yang akan menjadi teman perjalanan.

Saya menunggu di taman yang sedang dirombak menjadi lebih terbuka karena sebelumnya begitu tertutup seperti mengurung patung Herman Fernandez. Lalu lintas ramai, bis-bis antarkota diparkir tak jauh dari taman, menanti penumpang, sebelum menempuh perjalanan ratusan kilometer Larantuka–Maumere yang membentang berkelok-kelok di depan—jalan yang sama yang akan kami lewati.

Ketika sepeda motor kami perlahan meninggalkan Kota Larantuka, saya bahkan belum menemukan motivasi mendasar apa yang mendorong saya melakukan perjalanan cukup jauh ini untuk menghadiri Maumerelogia IV. Barangkali saya hanya ingin menyingkir sejenak dari rutinitas pekerjaan yang monoton dan kadang membosankan, menghadiri sebuah perayaan seni yang mungkin saja di sana sastra mendapat ruang perbincangannya.

Maumerelogia merupakan festival sastra dan teater yang diselenggarakan oleh Komunitas Kahe, Maumere. Festival ini rutin digelar setiap tahun, dan kali ini merupakan penyelenggaraannya di tahun yang keempat.

Maumerelogia pertama kali digelar pada tahun 2016, didukung Coloteme Art Movement Kupang dan melibatkan komunitas-komunitas di Maumere. Pada tahun 2017, bekerja sama dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) dan Peace Woman Across The Globe (PWAG), Maumerelogia II terselenggara dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok teater pelajar di Maumere. Pada tahun ketiga, Maumerelogia kembali hadir mengusung tema Tsunami! Tsunami!, membahas bencana tsunami tahun 1992 yang melanda Maumere dan bencana-bencana mataforis kontemporer. Pada tahun 2019 ini, Maumerelogia IV digelar lagi dengan menyodorkan Renewal sebagai tema refleksi dan perbincangan. Maumerelogia IV berlangsung tiga hari, dari Kamis sampai Sabtu (7 – 9 November 2019) di Panggung Pertunjukan Rumah Jabatan Bupati Sikka, Maumere.

Kami tiba di Maumere sekitar pukul 15.30 sore, terpaksa melewatkan diskusi “Membaca Kembali Maumerelogia” bersama Eka Putra Nggalu, Ketua Komunitas Kahe, dan Inno Koten, seorang pastor dan seniman teater. Kami baru bisa mengikuti rangkaian pementasan teater pada malam harinya.

Pertama kali memasuki lingkungan Rumah Jabatan Bupati Sikka, kaku menyeruak sebagai perasaan pertama. Rumah jabatan itu memiliki halaman luas, dikelilingi pagar beton dan gerbang yang dijaga aparat keamanan. Keadaan baru cair, berubah santai, ketika mendekati sebuah aula terbuka, tempat berlangsungnya kegiatan. Di pintu masuk aula, lampu-lampu mengarah ke dinding putih, seakan memberi nyawa pada sederet huruf berwarna hitam yang membentuk kata renewal.

Renewal merupakan tema yang diusung Maumerelogia IV. Mendapati tema itu terpampang di dinding, saya membuka gawai, membaca sekali lagi maksud refleksi tematik itu. Lewat akun instagramnya, Komunitas Kahe menjelaskan, renewal mengusung gagasan pembaharuan: aksi membongkar dan menyusun kembali elemen-elemen dan komponen-komponen dari sesuatu yang dulu untuk diperbaharui dan digunakan pada saat ini dan di masa yang akan datang. Renewal direfleksikan dalam spirit “tumbuh bersama” sesuai dengan semangat awal penyelenggaraan Maumerelogia. Renewal menjadi bagian dari refleksi Komunitas Kahe membaca kembali seluruh alasan ia berada, memosisikan kembali dirinya dan menajamkan tatapan ke depan, sebelum kembali melangkah di tahun kelima, keenam, dan seterusnya.

Saya matikan gawai, masuk ke dalam aula, sambil mengingat-ingat, kapan terakhir kali saya menonton sebuah pementasan teater. Saya merasa seakan sedang memasuki sebuah dunia yang asing sama sekali.

Di dalam aula, saya beruntung sekali bisa bertemu Maria Pankratia. Saya akhirnya mendapatkan teman bicara meski tak lama. Maria penulis cerpen yang pada tahun 2017 terpilih sebagai salah satu emerging writer di Makassar International Writers Festival (MIWF). Ia kini bekerja di Yayasan Klub Buku Petra Ruteng sebagai koordinator program, sekaligus menjadi sekretaris redaksi Bacapetra.co. Jauh sebelumnya, pada tahun 2015, kami bertemu untuk pertama kalinya di Denpasar, Bali, dalam workshop penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh harian Kompas. Selain kami berdua, ada Armin Bell, Saddam Hp, Michael Roger dan Agus Thuru sebagai sesama peserta yang lolos dari NTT.

Kesamaan minat pada cerpen cepat membangun percakapan di antara kami. Ia bercerita tentang kesulitan yang mereka hadapi ketika membaca karya-karya yang meramaikan lomba menulis cerpen bertema Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)—lomba yang diselenggarakan oleh Yayasan Karya Bakti Ruteng bekerja sama dengan Klub Buku Petra dalam rangka Lustrum Klinik Jiwa Renceng Mose. Armin Bell selaku kurator lomba, ujarnya, sedang pusing menyeleksi karya-karya peserta. Kurator berhadapan dengan cerpen-cerpen yang masih membawa masalah-masalah elementer: belum selesai dengan dirinya sendiri, belum beres unsur-unsur pembangunnya yang paling mendasar. Pembicaraan kami terhenti di situ karena perhatian kami diarahkan ke atas panggung di mana pementasan pertama malam itu akan segera berlangsung.

Kami berpisah. Saya berpindah ke depan mendekati panggung pementasan. Tampil berturut-turut Studio Teater Kahe membawakan Tempat Istirahat, Linda Tagie dengan Abnormal, dan Teater Refrein SMAS John Paul II menutup malam pertama dengan Jong Dobo. Di tengah keasyikan menonton pementasan demi pementasan itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dan mengganggu pikiran saya: bagaimana posisi sastra di Maumerelogia IV kali ini?

***

Aktivitas sastra sebenarnya kerap menjadi bagian penting dalam kerja-kerja Komunitas Kahe. Pada event M 7.8 SR di akhir Desember 2017 lalu misalnya, sebagaimana diterangkan Eka Putra Nggalu dalam tulisannya, Saya, KAHE, dan Pertemuan dengan Garasi, dilaksanakan pembacaan cerpen oleh SMAS John Paul II. Pembacaan cerpen tersebut dianggap sebagai event pembacaan cerpen pertama di Maumere.

Pada tahun 2018, saya berkesempatan menghadiri Maumerelogia III. Saya hanya mengikuti rangkaian kegiatan diskusi pada minggu pertama—tak sempat menikmati pentasan teater pada minggu berikutnya. Tahun lalu, saya kira, sastra memperoleh ruang apresiasi yang cukup besar, dengan hadirnya diskusi “Sastra: Yang Personal, Yang Politis”, membahas buku kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam karya Armin Bell dan buku antologi tulisan Tsunami! Tsunami! karya para penulis Komunitas Kahe.

Pada awal tahun 2019, Komunitas Kahe membentuk Klub Baca Kahe sebagai forum membincangkan karya-karya sastra, juga beberapa kali mengadakan jamming sastra. Perhatian Kahe terhadap sastra ini sangat menggembirakan tentunya.

Mengalami diskusi sastra yang berkesan di Maumerelogia III pada akhir 2018, dan memantau perkembangan forum sastra di tubuh Komunitas Kahe pada awal 2019, membentuk imajinasi saya tentang akan semeriah apa aktivitas sastra di Maumerelogia IV ini. Akan tetapi, hingga hari kedua, Jumat (8/11/2019), Maumerelogia IV masih didominasi diskusi seputar seni pertunjukan, dilanjutkan dengan pementasan teater sebagai penutup kegiatan. Bincang tematik membahas “Maumerelogia dan Aktivasi Seni di Maumere” hadirkan teman bincang Darno Desno (seniman musik, guru seni budaya), Linda Tagie (seniman teater, penggiat di Lowewini, Kupang), Maria Ludvina Koli (sutradara Teater Refrein), dan Gwen Lesmaister (Dramaturg, Theater X – Berlin, Jerman). Sementara para penampil pada malam kedua itu adalah Studio Teater Kahe membawakan Biar Kutulis untuk Mu Sebuah Puisi Jelek yang Lain, dan Teater Dala yang menampilkan Pare Rebo.

Kerinduan saya baru sedikit terobati di malam pemungkas Maumerelogia IV, pada Sabtu (9/11/2019). Tidak seperti dua malam sebelumnya di mana acara semata dikuasai pementasan teater, pada malam penutup tersebut, cerpen-cerpen pun berhasil naik ke atas panggung yang sama. Qikan beserta teman-teman ciliknya di Komunitas Huruf Kecil membacakan dua judul cerpen dari dua penulis Maumere. Cerpen pertama berjudul Filu Merah Putih karya Erlyn Lasar sedang cerpen yang kedua berjudul Pesan Ibu Bumi karya Eka Putra Nggalu. Usaha lebih serius datang dari Teater Tanya Ritapiret. Cerpen Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret di Toilet berhasil diadaptasi menjadi pementasan teater yang menutup Maumerelogia IV malam itu. Selain Teater Tanya, tampil juga Sanggar Sinariang Adonara membawakan Kelana Abadi, dan Teater Evergrande SMAK Syuradikara Ende dengan monolog Lentera Ibu.

***

Jika menjadikan Maumerelogia III sebagai pembanding, harus diakui bahwa posisi sastra di Maumerelogia IV mengalami kemunduran—menjadi sebatas pelengkap belaka. Pembacaan cerpen di sisi lain sekilas terlihat sekadar mengisi waktu kosong di atas panggung ketika para penampil tengah menyiapkan diri di ruang ganti. Selain itu, sama sekali tak ada diskusi seputar sastra kali ini.

Penyebab kemunduran ini barangkali berkaitan erat dengan kondisi Komunitas Kahe yang mengalami penurunan jumlah personil—kondisi yang turut memengaruhi lahirnya Renewal sebagai titik tolak rekleksi yang diusung Maumerelogia IV tahun ini. Imbasnya, tak banyak atau tak ada lagi yang menangani urusan-urusan sastra. Di tengah penurunan itu, Kahe tentu tetap menaruh perhatian lebih besar pada pengembangan teater—yang telah menjadi identitas Maumerelogia—daripada sastra. Di tengah posisi sulit seperti itu, sastra menjadi pilihan yang masuk akal untuk dikorbankan.

Lebih jauh, pada diskusi hari terakhir Maumerelogia IV, Sabtu (9/11/2019) pagi, diketahui bahwa kerja-kerja Kahe dan penyelenggaraan Maumerelogia dari tahun ke tahun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dari segi kehadiran peserta diskusi pada hari terakhir dan juga dua hari sebelumnya jelas menunjukkan itu. Tak satu pun perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) yang datang dan terlibat meski telah diundang. Karenanya, diskusi hari terakhir bertajuk “Festival sebagai Platform Bersama Pengembangan Seni Pertunjukan” seakan tak menemukan arahnya. Padahal diskusi itu sengaja dirancang menjadi ruang berbagi pengalaman berfestival dengan menghadirkan Silverter Petara Hurit, pengamat seni pertunjukan, pendiri Nara Teater, sekaligus penggagas berbagai festival budaya di Flores Timur. Kurangnya perhatian ini menjadikan posisi sastra sendiri pun rasa-rasanya semakin sulit dan tak menentu.

Akan tetapi, kabar gembira baru tiba malam harinya, pada pementasan penutup Maumerelogia IV. Hadir Bupati Sikka, Bapak Robi Idong. Beliau dalam sambutannya menyatakan dukungan terhadap geliat berkesenian yang telah dilakukan Komunitas Kahe dan menawarkan kerja sama. Ia ingin Maumerelogia mendatang menjadi ruang apresiasi kerja-kerja seni, tak hanya di Maumere tetapi juga lebih luas di NTT.

Jika pun kerja sama itu pada akhirnya terjalin, tentu juga harus membawa sastra ke posisi yang lebih tinggi, yang harus terus-menerus mendapat perhatian. Mendengarkan pernyataan Bupati Sikka tersebut, saya serta-merta membayangkan Maumerelogia di tahun-tahun mendatang yang tak hanya cenderung menjadi ruang apresiasi seni pertunjukan semata, tetapi juga karya-karya sastra di NTT yang selama ini seakan lahir, bertumbuh, dan berjuang menentukan nasib sendiri di dunianya yang sunyi tanpa geliat perbincangan dan apalagi penghargaan. Saya membayangkan Maumerelogia menjadi sebuah perayaan buku, serta ruang interaksi antara penulis dan pembaca lewat diskusi-diskusi sastra.(*)


Baca juga cerpen Afryantho Keyn: KASMIR DAN KINA. Artikel lain agenda literasi dapat dilihat di rubrik ACARA.

Bagikan artikel ini ke:

1 thought on “Posisi Sastra di Maumerelogia IV”

  1. Qikan says:

    Terina kasih…ini keren la…terima kasih lagi😇🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *