Menu
Menu

Kebanyakan pencipta menderita kutukan Kassandra: para pembaca tak mau mendengarkan.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah Elegidia: Elegi-Elegi Pendek karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan Puisi-Puisi Pilihan Catullus, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang akan terbit adalah Dua Himne karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan Ecloga I  (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


“Vain was the chief’s and sage’s pride
They had no Poet and they dyd!
In vain they schem’d, in vain they bled
They had no Poet and are dead!”

—Horatius, Buku IV, Ode 9 (terjemahan Alexander Pope, 1733)

Bahasa adalah penyebut bersama kita.

Alfred Döblin, salah satu novelis terbesar abad kedua puluh, sekali waktu ditanya mengapa ia menulis: ia menjawab bahwa pertanyaan seperti itu adalah jenis yang ditolaknya untuk dijawab sendiri. “Buku yang selesai ditulis tidak menarik bagiku,” katanya, hanya buku yang sedang ditulis, “buku mendatang.” Bagi Döblin, menulis adalah tindakan yang menyaring masa depan kita melalui masa kini, aliran tetap bahasa yang mengizinkan kata-kata membentuk dan menamai realitas yang selalu ada dalam proses pembentukan. “Metode tak punya tempat dalam seni, ketololan lebih baik,” tulisnya dalam sepucuk surat kepada penyair Italia T. F. Marinetti, setelah Marinetti mengajukan, dalam surat kabar Figaro, 20 Februari 1909 bahwa seniman mengadopsi “metode futuris” untuk menerapkan keahlian mereka, melingkupi “tindakan, kekerasan, dan perubahan industrial.” “Jaga futurismemu,” Döblin memerintahkan koleganya yang tak dapat dikendalikan, “aku akan jaga Döblinismeku.” Namun, apa sebenarnya “Döblinisme” itu? Alfred Döblin pernah bekerja sebagai petugas kesehatan di angkatan bersenjata Jerman selama Perang Dunia Pertama sebelum membuka praktik sendiri di daerah kumuh di Jerman Timur, yang identitasnya ia gambarkan dalam novel terkenalnya, Berlin Alexanderplatz, tahun 1929. Ia seorang pria dengan kontradiksi-kontradiksi aneh: seorang Yahudi Prusia yang di akhir hidupnya menjadi bagian dari Revolusi Rusia, seorang psikiater yang mengagumi Freud tetapi meragukan dogma-dogma psikoanalisis, dan seorang pendukung sastra dengan semangat yang terus-menerus melanggar aturan-aturannya sendiri tetapi mencari mitologi dasar bagi karya fiksinya di dalam kitab-kitab tradisional Alkitab. Pokok persoalannya adalah identitas yang berubah dari dunia abad kedua puluh, tetapi pahlawannya adalah Ayub Perjanjian Lama yang jadi milik semua orang, menderita tetapi tidak lunak hati, bersuara tetapi tidak nyaring, teladan korban yang tak dapat dibenarkan. Pada 1933, di bawah ancaman rezim Nazi yang sedang bangkit, seperti kebanyakan intelektual Jerman lain, Döblin mencari suaka di Prancis bersama keluarganya dan, tujuh tahun kemudian, setelah pendudukan Paris, lolos ke Amerika Serikat lewat sebuah rute berbahaya melalui Spanyol dan Portugal. Di sana ia menerima tawaran sejumlah pekerjaan, termasuk menjadi penulis naskah di Hollywood: beberapa adegan dari Mrs. Miniver konon lahir dari tangannya. Namun Döblin merasakan begitu terkucil dalam keadaan eksilnya, tak dapat menemukan bahasa bersama di tempat penampungannya. Ketika seorang teman penulis yang tetap tinggal di Jerman selama tahun-tahun Nazi menuduh mereka yang keluar sebagai penikmat “kursi malas” emigrasi, Döblin menjawab: “Mengungsi dari satu negara ke negara lain – kehilangan semua yang Anda ketahui, semua yang merawat Anda, selalu mengungsi dan hidup bertahun-tahun sebagai pengemis ketika Anda masih kuat, tetapi Anda tinggal dalam keadaan eksil—seperti itulah “kursi malasku” tampak.”  Namun, bahkan dalam keterpencilan keadaan eksil, dalam kata-katanya sendiri, Döblin terus “dikekang oleh insting untuk menulis.”

Setelah perang, dari 1947-1956, Döblin menulis beberapa bukunya yang paling dahsyat tempat bahasa, bahasa Jerman yang nyeleneh, pada taraf tinggi, adalah protagonisnya: menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan bertingkat dalam bentuk das Dritte Reich melalui penyalahgunaan makna bertingkat di Republik Weimar, dalam November 1918; menggemakan kejahatan-kejahatan terkini imperialisme dalam kosa kata barok abad ketujuh belas, dalam Trilogi Amazon; dan bahkan membayangkan masyarakat masa depan yang disembuhkan dari luka-lukanya dengan bahasa kritis psikoanalisis dalam Hamlet atau Malam Panjang yang Tak Berujung. Sedihnya, karya Döblin, dengan pengecualian Berlin Alexanderplatz, telah, secara luas dan tak patut, dilupakan. Namun demikian, saya percaya gagasannya tentang bahasa sebagai instrumen yang baik untuk membentuk dan memahami realitas tetap berlaku hari ini. Bahasa, bagi Döblin, adalah makhluk hidup yang tidak “menceritakan kembali” masa lalu kita, tetapi “mewakilinya”; “bahasa memaksa realitas untuk memanifestasikan dirinya, menggali ke kedalamannya dan memunculkan situasi-situasi mendasar, baik kecil maupun besar, tentang kondisi manusia.” Bahasa membiarkan kita tahu, dalam kenyataan, alasan kita ada bersama. Sebagian besar fungsi-fungsi manusiawi kita bersifat tunggal: kita tidak membutuhkan orang lain untuk bernapas, berjalan, makan, atau tidur. Namun kita membutuhkan orang lain untuk berbicara dan merefleksikan kembali apa yang kita katakan. Bahasa, menurut Döblin, adalah bentuk cinta kepada orang lain.

Bahasa, ketika muncul dalam prasejarah kita yang jauh, mungkin sekitar lima puluh ribu tahun lalu, sebagai metode komunikasi sadar, menuntut jadi instrumen bersama berdasarkan representasi umum dan konvensional dunia yang meminjamkan keyakinan pada sekelompok orang, betapa pun tidak pasti dalam buktinya, bahwa titik rujukan mereka sama dan bahwa ucapan mereka menerjemahkan realitas yang dipersepsikan sama.

Realitas dunia yang disulap melalui bahasa, kata para paleontolog, pertama kali disampaikan kepada kesadaran kita sebagai sesuatu yang ajaib: pada mulanya, kata-kata muncul ke hadapan kita dengan menguasai tidak hanya waktu tetapi juga tempat, seperti air atau awan. Psikolog Amerika, Julian Jaynes, berpendapat bahwa jauh setelah perkembangan bahasa, ketika tulisan ditemukan sekitar lima ribu tahun yang lalu, penafsiran tanda-tanda tertulis yang diproduksi dalam otak manusia merupakan persepsi aural atas teks, sehingga kata-kata yang dibaca masuk ke dalam kesadaran kita sebagai kehadiran fisik. Menurut Jaynes, “karena itu, membaca pada milenium ketiga SM mungkin merupakan masalah mendengarkan huruf paku, yaitu, mengkhayalkan ujaran dengan melihat simbol-gambarnya, daripada membaca suku kata secara visual seperti dalam pemahaman kita.” Bahasa, seperti pernah kita tahu, tidak hanya berupa nama tetapi juga menghadirkan realitas: sihir yang dicapai melalui kata-kata, dan melalui catatan kejadian-kejadian realitas yang kita sebut cerita.

Cerita, menurut Döblin, adalah cara kita merekam pengalaman kita tentang dunia, tentang diri kita, dan tentang orang lain. Ketika Ayub dalam penderitaannya mengingat hari-hari ketika cahaya Tuhan masih bersinar atasnya, dan menyatakan bahwa, dalam kondisi sehat, “Akulah mata bagi si buta dan kaki bagi si lumpuh,” ingatan yang dikisahkan kembali itu tak cukup: Ayub berharap dapat menempatkan pengalamannya sebagai sebuah cerita, sebagai kesaksian iman. “Oh, sekarang kata-kataku ditulis!” katanya dalam ratapan, “oh, kata-kataku dicetak dalam buku!” Seperti Ayub, dan penulis Kitab Ayub, tahu, cerita menyaring pembelajaran kita dan meminjamkannya bentuk naratif, sehingga melalui variasi nada dan gaya dan anekdot kita dapat mencoba tidak melupakan apa yang telah kita pelajari. Cerita adalah ingatan kita, perpustakaan adalah ruang penyimpanan ingatan itu, dan membaca adalah keterampilan yang dengannya kita dapat menciptakan kembali ingatan itu dengan membaca dan mengusapnya, dengan menerjemahkannya kembali ke dalam pengalaman kita sendiri, dengan membiarkan diri kita membangun hal-hal di atasnya yang menurut generasi sebelumnya cocok untuk dilestarikan. Pada pertengahan abad kedelapan belas, Rabi Uri dari Strelisk bertanya: “Daud adalah orang berbakat, mampu menciptakan mazmur. Aku? Apa yang dapat kulakukan?” Jawabannya: “Aku dapat membacanya.” Membaca adalah tugas ingatan di mana cerita memungkinkan kita menikmati pengalaman masa lalu orang lain seolah itu pengalaman kita.

Dalam keadaan tertentu, cerita dapat membantu kita. Cerita kadang dapat menyembuhkan kita, menerangi kita, menunjukkan jalan kepada kita. Di atas segalanya, cerita dapat mengingatkan kita tentang keadaan kita, menerobos penampilan hal-hal dangkal, dan membuat kita sadar akan arus dan kedalaman yang mendasarinya. Cerita dapat mengasupkan makanan bagi kesadaran kita, yang dapat mengarahkan pada kemampuan mengetahui, jika bukan siapa kita, setidaknya bahwa kita ada, kesadaran penting yang berkembang melalui konfrontasi dengan suara orang lain. Jika harus dirasakan, seperti Rabi Uri yang terkenal itu, Uskup Berkley, mengatakan (dan terlepas dari semua upaya untuk mereduksi pengamatannya sebagai hal absurd, hal itu tetaplah kebenaran yang dialami setiap hari), maka mengetahui bahwa kita ada membutuhkan pengetahuan tentang orang lain yang kita persepsikan dan memersepsikan kita. Beberapa metode lebih cocok untuk tugas saling memersepsikan ini daripada metode bercerita.

Memimpikan cerita, bercerita, mengubah cerita jadi tulisan, membaca cerita, adalah seni pelengkap yang meminjamkan kata-kata bagi kesadaran kita terhadap realitas, dan dapat bertindak sebagai pembelajaran yang mewakili, sebagai transmisi ingatan, sebagai instruksi atau peringatan. Dalam bahasa Anglo-Saxon kuno, kata untuk penyair adalah “maker” (pencipta), istilah yang menggabungkan makna menenun kata-kata dengan membangun dunia material. Definisi tersebut punya akar biblikal. Menurut bab 2 Kitab Kejadian, setelah menciptakan Adam dari debu, Tuhan menciptakan unggas di udara dan binatang-binatang di padang, dan membawa mereka kepada Adam untuk mengetahui ia akan memanggil mereka apa, “dan panggilan apa pun yang dikeluarkan Adam kepada setiap makhluk hidup, itulah nama mereka.” Karunia penamaan ini ambigu. Apakah Adam harus menemukan nama untuk setiap makhluk, atau ia harus mengetahui nama mereka dan meneriakkannya, seperti seorang anak kecil memanggil seekor anjing atau burung untuk pertama kalinya? Para komentator Talmud belakangan memadukan kedua anggapan tersebut menjadi satu. Mereka berpendapat bahwa Adam adalah penemu tulisan, dan dengan keahliannya ia menciptakan nama-nama yang ia ucapkan, tidak berdasarkan keinginannya melainkan berdasarkan sifat asli setiap makhluk, seperti para penyair yang menemukan kata-kata yang tepat untuk apa yang ingin mereka gambarkan. Menurut para komentator Talmud, begitulah kekuatan karunia kata-kata sehingga Adam tidak hanya meminjamkan hewan-hewan konfirmasi tentang keberadaan mereka dengan menamai mereka, tetapi juga jadi orang pertama yang menamai kelompok manusia. “Tuhan menunjukkan seluruh bumi kepada Adam,” bunyi sebuah keterangan Alkitab awal, “dan Adam menentukan tempat apa yang kemudian akan dihuni, dan tempat mana yang tetap diabaikan.” Döblin menambahkan komentar terhadap refleksi kuno ini: “Adam adalah jumlah total manusia yang bergerak melintasi waktu dan berkembang di dalamnya.” Kata-kata Adam, kata-kata kita, memberikan kita tempat dalam ruang dan waktu. “Kadang,” tulis penyair Eric Ormsby, “aku merasa bahwa kata-kata mengelola sendiri kehidupan pribadi mereka, terpisah dari kita, dan ketika kita berbicara atau menulis, khususnya dalam keadaan-keadaan dengan emosi kuat, kita melakukan agak lebih banyak dari sekadar menumpang pada suku kata yang penurut atau frasa yang akomodatif.”

Kata-kata tidak hanya memberikan kita kenyataan; mereka juga mempertahankannya untuk kita. Di Abad Pertengahan, para penyair Irlandia harus dapat melindungi ladang-ladang gandum dan serealia dari hama dengan “menyajakkan tikus sampai mati” yakni dengan membacakan puisi di ladang tempat tikus bersarang. Pada abad keenam belas, Tulsi Das, penyair India terbesar, pengarang salah satu versi Ramayana yang terdapat epik Hanuman dan pasukan monyetnya, Ramacaritamanasa, dihukum oleh sang raja untuk dikurung dalam sebuah menara batu. Sendiri di dalam penjaranya, Tulsi Das mengucapkan puisinya keras-keras dan dari pengucapan itu Hanuman dan pasukannya bangkit, menyerbu menara dan membebaskan pencipta mereka. Pada 1940, enam belas tahun setelah kematian Kafka, Milena, wanita yang sangat ia cintai, dirampas oleh Nazi dan dikirim ke kamp konsentrasi. Hidupnya sekejap jadi terbalik: bukan kematian, yang adalah kesimpulan, melainkan keadaan yang gila dan tak berarti dari sebuah penderitaan yang mengerikan, dihasilkan lewat kesalahan tak jelas dan menyuguhkan akhir tak tampak. Mencoba selamat dari mimpi buruk itu, seorang teman Milena merancang sebuah metode: dia akan mengunjungi buku-buku yang telah ia baca dan secara tak sadar tersimpan dalam ingatannya. Salah satu yang diingatnya adalah “Seorang Pria Telah Lahir” karya Maxim Gorki. Cerita itu berkisah tentang bagaimana si narator, seorang bocah, suatu hari berjalan-jalan di suatu tempat di sepanjang pantai Laut Hitam, bertemu seorang wanita kampung yang menjerit kesakitan. Wanita itu sedang hamil; ia melarikan diri dari kelaparan di kampung halamannya, dan sekarang, ketakutan dan sendirian, ia akan melahirkan. Terlepas dari protesnya, si bocah membantunya. Si bocah memandikan si bayi merah di laut, membuat api, dan menyiapkan teh. Di akhir cerita, si bocah dan si ibu mengikuti sekelompok orang kampung: dengan satu tangan, si bocah menopang si ibu; dengan tangan lain, ia menggendong si bayi. Bagi teman Milena, cerita Gorki menjadi suaka kecil dan aman tempat ia bisa menarik diri dari kengerian sehari-hari. Cerita itu tidak meminjamkan makna bagi penderitaannya, tidak menjelaskan atau membenarkannya; bahkan tidak menawarkan harapan akan masa depan. Cerita itu hanya hadir sebagai titik keseimbangan, mengingatkannya akan cahaya di saat bencana gelap, membantunya untuk bertahan. Saya percaya, seperti itulah kekuatan cerita.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *