Menu
Menu

Eksil adalah esai Jhumpa Lahiri yang diterjemahkan dari buku “In altre parole”.


Oleh: Mario F. Lawi |

Buku-buku puisinya adalah “Memoria” (2013), “Ekaristi” (2014), “Lelaki Bukan Malaikat” (2015), “Mendengarkan Coldplay” (2016), “Keledai yang Mulia” (2019), dan buku puisi berbahasa Inggris: “Bui Ihi: The Cooling of the Harvest and Other Poems” (2019). September 2019, Mario akan berpartisipasi dalam Contains Strong Language Festival di Hull, Inggris.


Hubunganku dengan bahasa Italia berlangsung dalam keadaan eksil, sebuah keadaan keterpisahan.

Setiap bahasa adalah milik tempat yang spesifik. Ia dapat berpindah, dapat menyebar. Namun biasanya terikat dengan wilayah geografis, sebuah negara. Bahasa Italia pada umumnya milik Italia, sedangkan aku tinggal di benua lain, tempat tak seorang pun dapat mengaksesnya dengan mudah.

Aku memikirkan Dante, yang menunggu sembilan tahun sebelum berbicara kepada Beatrice. Aku memikirkan Ovidius, diusir dari Roma ke sebuah tempat terpencil. Ke daerah terluar bahasa, dikelilingi oleh bunyi-bunyi yang asing.

Aku memikirkan ibuku, yang menulis puisi dalam bahasa Bengali, di Amerika. Beliau tak dapat menemukan, hampir lima puluh tahun setelah pindah ke sana, sebuah buku yang ditulis dalam bahasanya.

Dalam arti tertentu aku mengalami sejenis keadaan eksil linguistik. Bahasa ibuku, bahasa Bengali, adalah bahasa asing di Amerika. Ketika kau tinggal di sebuah negara tempat bahasamu sendiri dianggap asing, kau dapat mengalami sebuah perasaan pengasingan terus-menerus. Kau berbicara sebuah bahasa rahasia, tak diketahui, tanpa korespondensi dengan lingkungan. Sebuah kekosongan yang menciptakan jarak dalam dirimu.

Dalam kasusku ada jarak lain, skisma lain. Aku tak tahu bahasa Bengali secara sempurna. Aku tak dapat membacanya, atau menuliskannya. Aku berbicara dengan aksen, tanpa otoritas, karena itu aku selalu merasa ada keterputusan antara bahasa Bengali dan diriku. Sebagai konsekuensi aku menganggap bahasa ibuku, secara paradoksal, juga sebagai bahasa asing.

Dalam bahasa Italia, keadaan eksil memiliki aspek berbeda. Tak lama setelah kami saling mengenal, aku dan bahasa Italia terpisah. Kerinduanku tampak omong kosong. Meski aku merasakannya.

Bagaimana mungkin aku merasa tereksil dari sebuah bahasa yang bukan milikku? Yang tak kuketahui? Mungkin karena aku adalah seorang penulis yang tidak menjadi milik bahasa apa pun.

Aku membeli sebuah buku. Judulnya “Teach Yourself Italian”. Sebuah judul yang meneguhkan, penuh harapan dan kemungkinan. Sebagaimana engkau mungkin mempelajarinya sendiri.

Karena telah belajar bahasa Latin selama bertahun-tahun, aku menemukan bahwa bab-bab awal dari buku ini cukup mudah. Aku dapat mengingat beberapa konjugasi, mengerjakan latihan-latihan. Namun aku tak menyukai kesunyian, keterisolasian proses autotidak. Tampak terpisah dan salah. Seperti mempelajari alat musik, tanpa pernah memainkannya.

Di universitas, kuputuskan untuk menulis disertasi tentang pengaruh arsitektur Italia terhadap beberapa penulis naskah drama Inggris abad ketujuh belas. Aku bertanya-tanya mengapa sejumlah penulis naskah Inggris memutuskan untuk menempatkan tragedi-tragedi yang ditulis dalam bahasa Inggris dalam istana-istana Italia. Disertasi tersebut akan mendiskusikan skisma yang lain antara bahasa dan lingkungan.Temanya memberiku alasan kedua untuk belajar bahasa Italia.

Kuhadiri kursus-kursus dasar. Guru pertamaku adalah seorang wanita Milan yang tinggal di Boston. Kukerjakan tugas-tugas, aku lulus tes-tes. Namun setelah dua tahun belajar, ketika kucoba membaca novel La ciociara karya Alberto Moravia, aku susah memahaminya. Aku menggarisbawahi hampir setiap kata di setiap halaman. Aku terus-menerus menggunakan kamus.

Pada musim semi tahun 2000 aku pergi ke Venezia, enam tahun setelah perjalananku ke Firenze. Selain kamus, aku membawa sebuah buku catatan, di halaman terakhirnya aku menulis frasa-frasa yang mungkin berguna: Saprebbe dirmi? Dove si trova? Come si fa per andare? Aku mengingat perbedaan antara buono dan bello. Aku merasa sudah siap. Kenyataannya, di Venezia aku nyaris tak bisa meminta petunjuk jalan, alarm di hotel. Aku dapat memesan di sebuah restoran dan bertukar dua kata dengan pelayan perempuan. Selebihnya tak ada. Meski kembali ke Italia, aku masih merasa tereksil dari bahasanya.

Beberapa bulan kemudian aku menerima undangan ke festival sastra di Mantua. Di sana aku bertemu penerbit-penerbit Italiaku yang pertama. Salah satu dari mereka adalah penerjemahku. Penerbit mereka namanya Marcos y Marcos. Mereka orang Italia. Nama mereka Marco dan Claudia.

Aku harus melakukan semua wawancara dan presentasiku dalam bahasa Inggris. Selalu ada penerjemah di sampingku. Aku dapat mengikuti bahasa Italianya sedikit-sedikit, tetapi aku tak dapat menyatakannya dan menjelaskannya sendiri tanpa bahasa Inggris. Aku merasa terbatas. Apa yang kupelajari dalam kelas di Amerika tidak cukup. Pemahamanku sangat sedikit sehingga, di sini, di Italia, ia tak menolongku. Bahasa tersebut tampak seperti gerbang tertutup. Aku ada di ambang, dapat melihat ke dalam, tetapi gerbangnya tak terbuka.

Marco dan Claudia memberiku kunci. Ketika aku menyinggung bahwa aku pernah belajar sedikit bahasa Italia, dan ingin memperdalamnya, mereka berhenti berbicara bahasa Inggris kepadaku. Mereka menggunakan bahasa mereka, meski aku dapat menjawabnya hanya secara sederhana. Terlepas dari semua kesalahanku, meski aku tak dapat sepenuhnya memahami apa yang mereka sampaikan. Terlepas dari fakta bahwa mereka berbicara bahasa Inggris jauh lebih baik dari aku berbicara bahasa Italia.

Mereka memahami kesalahan-kesalahanku. Mereka mengoreksiku, memberanikanku, menyediakan bagiku kata-kata yang aku butuhkan. Mereka berbicara dengan jelas dan sabar. Seperti orang tua kepada anak-anaknya. Seperti cara seseorang belajar bahasa ibu. Aku sadar bahwa aku tidak belajar bahasa Inggris dengan cara ini.

Claudia dan Marco, yang menerjemahkan dan menerbitkan buku pertamaku dalam bahasa Italia, dan yang menjamuku di Italia ketika pertama kali aku ke sana sebagai penulis, memberiku titik balik ini. Di Mantua, terima kasih kepada mereka, akhirnya kutemukan diriku di dalam bahasa. Karena pada akhirnya untuk mempelajari sebuah bahasa, untuk merasakan terhubung dengannya, seseorang mesti berdialog, betapa pun kekanak-kanakan, betapa pun tak sempurna.

***

Tentang Jhumpa Lahiri

Jhumpa Lahiri adalah seorang penulis yang telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk Pulitzer Prize; PEN/Hemingway Award, Frank O’Connor International Short Story Award; Premio Gregor von Rezzori, the DSC Prize for South Asian Literature, 2004 National Humanities Medal dari Presiden Barack Obama. In altre parole, buku pertama yang ditulis Jhumpa Lahiri dalam bahasa Italia, yang memuat esai berjudul “L’esilio” yang diterjemahkan ini, meraih penghargaan Premio Internazionale Viareggio-Versilia. Esai ini diterjemahkan Mario F. Lawi dari bahasa Italia.

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *