Menu
Menu

Di panggung Maumerelogia IV, selama tiga malam, total ada delapan pertunjukan yang dipentaskan.


Oleh: Maria Pankratia |

Sedang berusaha untuk beralih profesi menjadi NOTULIS penuh waktu.


Pagi yang lengang, hanya beberapa orang yang tampak mondar-mandir di sekitar panggung dan aula terbuka RUJAB Bupati Kabupaten Sikka, tempat di mana Festival Teater Maumerelogia IV digelar.

Pagi itu, sedianya diskusi yang kedua dilaksanakan. Akan tetapi belum tampak satu pun peserta. Salah satu narasumbernya bahkan belum muncul. Saya menyibukkan diri melihat-lihat sekitar sembari memikirkan beberapa hal. Ini merupakan tahun kedua saya hadir di Maumerelogia, setelah tahun lalu ikut dalam perayaan Maumerelogia III. Di 2018, mengusung tema Tsunami! Tsunami!, Maumerelogia diselenggarakan di tepi pantai Lokaria, dengan panggung terbuka yang langsung menghadap ke laut.

Memasuki tahun yang keempat, sebagai tahun Refleksi, Renewal—sebuah kata yang bagi saya sendiri, masih asing belaka—diangkat menjadi tema. Panggung pertunjukan kali ini berada di tengah-tengah kebun singkong yang luas diselingi pohon-pohon mangga yang tengah berbuah lebat, di dalam kompleks Rumah Jabatan Bupati Sikka, di Jl. El Tari Maumere. Saya sempat mencicipi daging mangga arum manis tersebut selama tiga hari berada di lokasi festival. Sayang sekali, niat mencabut beberapa batang ubi batal, karena tidak ada yang mau bersekongkol melakukan pekerjaan itu di bawah terik matahari Maumere yang sungguh menyengat.

Ada tiga sub tema yang dirangkai oleh Komunitas KAHE pada perhelatan Maumerelogia IV ke dalam bentuk Bincang Tematik. Saya rangkum dalam catatan yang coba saya hadirkan dalam bentuk notulen dari hasil transkrip rekaman selama kurang lebih tujuh jam dari total keseluruhan diskusi yang berlangsung selama tiga hari tersebut (tidak termasuk diskusi pasca-pementasan).

Rangkaian diskusi ini sesungguhnya saling berkaitan satu. Saya akan memulainya dengan diskusi pada hari kedua, Maumerelogia dan Aktivasi Seni di Maumere (Yang Estetis, Yang Politis). Kemudian berlanjut ke hari ketiga, Festival sebagai Platform Bersama Pengembangan Seni Pertunjukan. Baru kemudian kembali ke hari pertama, Membaca Kembali Maumerelogia (melihat kegalauan Komunitas KAHE dari dekat).

Maumerelogia dan Aktivasi Seni di Maumere (Yang Estetis, Yang Politis)

Setelah menunggu beberapa saat, para peserta diskusi berdatangan, pembicaranya pun telah lengkap, diskusi hari kedua akhirnya dimulai. Bincang Tematik yang kedua di Maumerelogia IV ini mengajak para seniman yang juga adalah guru dan aktivis dalam keseharian mereka untuk berbagi pengalaman sebagai orang-orang yang merasakan dampak langsung dari kehadiran Maumerelogia, serta harapan-harapannya bagi perkembangan festival seni pertunjukan ini ke depannya.

Mereka adalah, Maria Ludvina Koli (Guru di SMAS JOHN PAUL II Maumere, sekaligus pendamping dan sutradara Teater Sekolah “Refrein”), Darno Desno (Guru Seni Budaya dan Seniman Musik), Linda Tagie (Seniman dan Penggiat di Komunitas Lowewini, Kupang), dan Gwen Lesmaister (Seniman Dramaturgi dan Penggiat di Theatre X-Berlin, Jerman).

Menurut Iin, Maumerelogia adalah sebuah sarana belajar bagi siswa/i yang sekalipun memiliki ekstrakulikuler di sekolah akan tetapi belum tentu belajar tentang manajemen produksi.

“Kita sering menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan pementasan, tetapi tidak mengambil hal-hal penting dari proses persiapan hingga pasca pementasan. Manajemen produksi membantu siswa/i, selain belajar berorganisasi, karakter mereka pun secara perlahan terbentuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,” ungkap Iin.

IIn menambahkan, kehadiran Maumerelogia secara tidak langsung menjelaskan kepada pelaku pendidikan yang lain bahwa teater sebagai seni pertunjukan adalah bidang kesenian yang paling lengkap dibandingkan bidang kesenian yang lain. “Membuat naskah melalui riset, latihan bersama, juga belajar tentang proses produksi. Sebagai media pendidikan, teater membantu membangkitkan kesadaran, bukan hanya kepada siswa/i tetapi juga bagi para pendamping/guru. Teater adalah jalan panjang untuk memahami isu sekitar sekaligus membangkitkan potensi diri. Secara politis dan estetis, Maumerelogia bekerja dengan sangat baik melalui teater dengan melibatkan sekolah-sekolah di Maumere di festival ini,” paparnya.

Sementara itu, bagi Desno, yang juga memiliki profesi sama dengan Iin, Maumerelogia memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi perkembangan teater di Maumere.

“Barangkali cukup sulit sebab teater tidak semenarik seni yang lain. Bagi anak-anak milenial khususnya. Akan tetapi di teater, meski hanya ada pada kapasitas tertentu, yang bisa jadi tidak sesuai harapan sutradara, setiap orang masih diberi kesempatan untuk mengambil  tanggung jawab lain. Entah itu di artistik, lighting, atau yang lainnya. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu melakukan sesuatu, dan itu sangat penting bagi generasi-generasi muda kita,” tutur Desno.

Bagian ini tentu sangat politis, bahwa secara tidak langsung, Maumerelogia telah memberikan pengaruh yang sedikit banyak mengubah cara berpikir kaum muda melalui teater.

Desno melanjutkan, sejak Maumerelogia I diselenggarakan pada tahun 2016 di Maumere, beberapa sekolah bahkan kampus mulai mengadakan giat teater. Baik sebagai ekstrakulikuler, maupun pementasan pada perayaan-perayaan tertentu. “Bahkan saat karnaval yang diselenggarakan dua tahun yang lalu, ada siswa/i Sekolah Dasar yang mementaskan teater di jalan,” ungkapnya.

Pendapat lain datang dari Linda Tagie. Linda melihat, selama empat tahun melangsungkan Maumerelogia, KAHE telah merangkul banyak sekali komunitas. Bahkan lintas daerah di Nusa Tenggara Timur. KAHE menjadi medium yang begitu cair, membicarakan isu pendidikan, politik, bahkan juga menjadi arsip budaya melalui berbagai macam riset dan pementasan. Selain itu, menurutnya, melalui kesenian, KAHE menyediakan media terapi yang baik bagi mereka yang sebenarnya mengalami tekanan tertentu di tengah masyarakat.

“Saya selalu melihat KAHE sebagai rumah kedua saya. Ketika ke Maumere selain berkesenian, saya merasa seperti pulang,” tutur Linda.

Di Maumerelogia II, KAHE yang sebelumnya di tahun pertama melaksanakan pertunjukan di Aula Biara Karmel Wairklau akhirnya turun ke kota, di Sikka Convention Center. Tahun ketiga, pertunjukan dilakukan di pinggir pantai, dan kini di tahun keempat, KAHE mendapat tempat di kompleks RUJAB Bupati SIKKA. Bagi Linda, KAHE telah berusaha dengan maksimal untuk masuk ke segala ranah, membangun banyak jaringan, dan memanfaatkan semua itu dengan sangat politis sekaligus estetis untuk menyuarakan kegelisahan-kegelisahan yang ada di sekitar lingkungan sosial kita.

Pada diskusi itu, hadir juga Yoseph Lazar. Seorang Pengawas Pendidikan, yang juga Seniman. Menurutnya, ada tiga kata kunci yang dibahas pada Bincang Tematik kedua ini: Teater, politik, estetis. “Seniman, adalah orang-orang yang komunikatif tetapi tidak konspiratif. Mereka sangat memegang teguh prinsip, tetapi di waktu bersamaan tidak bisa diajak berkompromi. Seniman tidak bisa melawan arus, tetapi harus bermain di dalam arus. Oposisi bukan berarti harus berada di luar arena,” tutur Yoseph.

Dari pengamatannya, KAHE, telah melakukan semua itu. Menjadi seniman yang juga memegang teguh prinsip. Hanya tinggal memikirkan kegiatan lain yang melibatkan lebih banyak orang-orang di dalam arus tersebut, sehingga tidak hanya KAHE yang kompetensinya terus ditingkatkan tetapi orang-orang di dalam arus tersebut juga ikut diselamatkan. Dalam hal ini, tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan yang memiliki posisi strategis dalam mengambil kebijakan, juga para pendidik yang menentukan masa depan peradaban kita melalui anak didiknya.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Gwen, yang membagikan pengalamannya sebagai Penggiat Teater di Berlin, Jerman. Kehadiran Gwen di Maumerelogia IV sebenarnya bertepatan dengan masa magangnya di Komunitas KAHE selama beberapa bulan ke depan. Ini dimulai akhir bulan Oktober lalu. Sangat kebetulan sebab akhirnya Gwen bisa membagikan pengalaman berteaternya kepada pada sesi diskusi Maumerelogia IV.

Gwen memulai Teater X sejak sepuluh tahun yang lalu bersama kawan-kawannya. Teater X sesungguhnya adalah tempat bagi mereka yang minoritas dan terpinggirkan, seperti para buruh migran, pengungsi yang mencari suaka di Jerman, maupun siswa/i yang hampir setiap hari mengalami tekanan atau penyiksaan oleh guru dan teman-temannya di sekolah.

Tujuan utama Gwen, dkk. membangun komunitas ini adalah, menggabungkan orang-orang yang didiskriminasi. Tidak seperti Komunitas KAHE yang sangat fokus pada teater tubuh, Teater X justru mengembangkan metode produksi dan sharing pengetahuan. Kerja teater mereka berbasis pada pengetahuan, pengalaman, dan cerita masing-masing anggota dengan perspektif yang berbeda-beda, yang kemudian dibagikan dan diolah ke dalam pertunjukan.

“Teater X menyediakan ruang untuk membicarakan sesuatu yang sangat pribadi. Sebagian besar anggota Teater X adalah imigran muslim yang setiap hari terpapar isu Islamofobic di Jerman, juga pengungsi yang tidak memiliki identitas, pekerjaan, dan sedang mencari suaka,” ungkap Gwen.

Kegiatan dan pergerakan mereka kadang dicurigai sebagai media perlawanan terhadap pemerintah. Namun, tak jarang juga, pemerintah Jerman memanfaatkan komunitas ini sebagai pencitraan kepada publik bahwa mereka merangkul kaum minoritas. Sangat dilematis, sebab bagi Gwen dan kawan-kawan sendiri, mereka memang tetap harus memenuhi kebutuhan finansial mereka dalam berkomunitas. Maka, mau tak mau untuk menyiasati hal-hal tersebut, beberapa demonstrasi yang mengkampanyekan isu tertentu, harus mereka hindari demi tetap medapatkan dukungan pemerintah setempat.

Hingga saat ini, Teater X telah memiliki panggung teater dan festival tahunan yang tidak hanya mengundang para pegiat seni pertunjukan, tetapi juga para akademisi dan penulis di Jerman.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *