Menu
Menu

Bidan Marta bukan berasal dari daerah itu. Ia berasal dari sebuah kota di pinggiran laut Flores, dan dulu berkuliah di Universitas Respati Yogyakarta.


Oleh: Elvan de Porres |

Lahir di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Menulis esai, cerpen dan feature pada sejumlah media. Buku kumpulan esainya yang telah terbit berjudul “Menggaris Dari Pinggir” (2017).


Tanpa menimbulkan bunyi apa pun, Klaudius masuk ke dalam kamar, mengunci pintu rapat-rapat, dan sambil berbaring dia melantunkan lagu sedih, Dalam Kerinduan, karya Betharia Sonata.

Ketika itu di luar rumah baru saja gerimis dan matanya sendu seakan-akan musibah besar siap menghancurleburkan tubuhnya. Mulutnya penuh bau tuak dan mukanya pucat pasi. Di tempat tidur dia membentangkan kaki perlahan-lahan, berharap tak ada sendi yang remuk redam.

Nona Marta, seorang bidan di kampung itu, baru saja menolak cintanya. Klaudius merasa riwayatnya tamat sebagai pemuda tangguh, pemburu babi hutan sekali panah yang selama ini sangat dikagumi orang-orang kampung, terlebih saat musim panen tiba dan darah babi segar simbol rasa syukur dibutuhkan di mana-mana.

Ia pasti menerima cinta saya, begitulah Klaudius menanamkan semangat, sebelum datang bertemu di depan tangga Puskesmas. Waktu dia datang, Bidan Marta mengenakan seragam putihnya, dengan aroma parfum casablanca yang sedikit menyengat, menyaingi bau obat-obatan.

“Kau ini kenapa, Klaudius?” tanya bidan Marta.

“Saya suka kau,” Klaudius membalas.

“Kau sakit?”

“Tidak, saya baik-baik saja.”

“Pulanglah saja! Jangan bikin malu di sini!”

Tentu saja Klaudius pulang dengan membawa malu. Di depan Puskesmas beberapa  anak muda yang lagi nongkrong melemparkan tatapan aneh. Ketika dia berjalan sudah agak jauh, kerumunan itu mengeluarkan tawa panjang. Mukanya memerah dan dia mengumpat, “Anjing! Anjing!” Begitu kembali ke rumah, dia sudah mabuk parah, entah minum di mana, dan di dalam kamar sayup-sayup terdengar potongan lagu Betharia Sonata versi kerukan pasir, “…dalam kerinduan, kumenanti sayang, dalam kerinduan, hatiku….”

Bidan Marta bukan berasal dari daerah itu. Ia berasal dari sebuah kota di pinggiran laut Flores, dan dulu berkuliah di Universitas Respati Yogyakarta. Pemerintah daerah membiayai kuliahnya karena ayahnya berkerabat dekat dengan bupati, tetapi usai tamat ia harus pulang untuk mengabdi di perkampungan. Seminggu baru menginjakkan kaki di tempat itu, kecantikannya – meski kemungkinan besar karena hasil perawatan waktu di Jawa – langsung menjadi buah bibir di antara orang-orang kampung.

“Kami rasa ada baiknya kau mendekati bidan Marta dan mencari waktu yang tepat untuk berbincang-bincang. Mungkin kau bisa mendapatkan cintanya, dan ibumu tak lagi menggerutu panjang lebar,” kata ayah Klaudius setelah pemuda itu baru kembali dari pos ronda di tengah kampung.

Beberapa minggu belakangan ibunya memang sering mengingatkan dia agar segera punya istri. Ibunya sudah tak tahan melihat putra tunggalnya itu keluyuran tak jelas padahal usianya sudah kepala tiga.

“Dius, ibu selalu mendoakanmu dan mengharapkan cucu,” begitu katanya.

Klaudius akan membalas, “Ya, tenang saja. Mungkin saya akan beristrikan Narti atau Anyel atau anak gadis guru Markus.”

Klaudius dan si ibu biasanya duduk di dipan kayu dekat dapur dan perempuan itu kadangkala bercerita bagaimana seni membangun rumah tangga. Beberapa kali dia tertidur sebelum petuah-petuah diselesaikan dan pada kesempatan lain, kalau sudah jengkel, ibunya akan menghajarnya dengan pertanyaan, kau pikir babi hutan bisa memberimu anak?

Namun, pada suatu malam waktu perkawinan anak kepala desa, Klaudius melihat bidan Marta lebih dekat. Gadis itu sedang duduk dengan kawan-kawan bidannya di pojok kanan tempat acara di bawah pancaran lampu neon yang membuat kulitnya semakin bersinar terang. Saat itu juga Klaudius merasa bahwa doa ibunya perlahan-lahan dikabulkan Bunda Maria. Sekembali dari tempat pesta, sepanjang malam, Klaudius terus-menerus mengingat kecantikan bidan itu, tak bisa tidur lelap dan baru nyenyak pukul empat dini hari.

***

Klaudius bukannya patah arang. Sudah tiga kali dia mendekati bidan Marta meski semuanya berujung pada penolakan belaka. Yang pertama ketika perempuan itu baru pulang dari Pasar Kamis – Klaudius mengikuti sampai di depan rumahnya.

“Kau siapa?” bidan Marta terkaget dan menggelondongkan pertanyaan.

Klaudius menyebutkan nama.

“Ada apa?”

“Saya kagum dengan kecantikan kamu, Nona,” katanya, “saya ingin kita saling mengenal.”

Ucapannya itu terdengar dungu. Bidan Marta tak berkata sepatah pun dan segera masuk ke rumah cepat-cepat.

Yang kedua lewat sebuah surat yang dia titipkan ke seorang teman karibnya. Namun, si karib malah pulang, mengembalikan surat itu dan mengeluh, “Lupakan saja, Dius, kalau kau tak sanggup membayar belis puluhan ekor kuda.”

Yang terakhir itulah kejadian di Puskesmas. Dia akhirnya terbangun tengah malam dan perutnya mengeluarkan seonggok muntahan kering berbau masam. “Tak apa-apa kalau dia memang mabuk tuak karena cinta,” demikian kata ibunya, meramu daun merungge1 penawar racun, kemudian menggenggam rosario erat-erat.

Hampir tiga hari Klaudius hanya duduk termangu di dalam rumah. Baru pada hari keempat, dia keluar mengikuti ajakan temannya. Di kios kecil di samping tempat sabung ayam, mereka mampir untuk membeli rokok. Di situlah dia bertemu seorang peramal yang baru pulang merantau dari Brunei Darussalam.

“Kau kelihatan tidak senang, Bung,” orang itu membuka percakapan, logat Melayunya masih sedikit terasa.

Kladius mengangguk, tidak terlalu menaruh simpati.

“Mungkin kau butuh panduan mendapatkan cinta sejati,” peramal itu melanjutkan.

Raut wajah Klaudius menjadi berbinar seketika. Dia sungguh membutuhkan panduan.

Setelah pertemuan itu, mengikuti panduan si peramal, Klaudius pergi ke bukit lamtoro yang letaknya di batas kampung untukmencari akar tanaman kaliandra. Dia memang harus mencari di bukit itu agar tak mendapat curiga dari orang-orang kampung. Dia begitu mematuhi pesan yang sangat dia percayai; Dengan air rebusan akar kaliandra itu, niatmu bukanlah lagi sekadar mimpi siang bolong. Kelaminmu akan besar seperti punya kuda dan akan tiba waktu yang tepat bagimu untuk menunjukkan itu ke orang yang kau kejar. Tapi, rencana ini harus berjalan tanpa sepengetahuan seorang pun.

Dia sempat berpikir keras apa manfaat punya kelamin yang besar seperti punya kuda, tapi toh akhirnya ikut saja demi panduan mendapatkan cinta sejati.

Kini akar-akar kaliandra itu senantiasa berjejer rapi di dekat perapian di belakang rumah. Ibunya, dengan tabiat anggota KUB2 yang kadar kesalehannya tak perlu diragukan, merebus akar-akar itu sambil berdoa dan memberinya peringatan bahwa punya istri bidan, apalagi yang pernah berkuliah di Jawa, akan menaikkan status sosial keluarga mereka. “Kalau kau diam saja, kau akan disangka tidak laku, Dius,” katanya, berharap ramuan itu akan memberikan aura segar bagi putranya, dan bukan untuk membesarkan kelamin.

***

“Saya merasa berdosa telah menipu ibu. Saya ingin meminta maaf kepadanya. Ia orang yang paling berharap agar saya segera menikah dan percaya pada semua hal yang telah saya lakukan,” Klaudius mengatakan itu kepada temannya yang lain, setelah seminggu lebih keluar dari rumah dan tak mendapatkan efek apa-apa dari ramuan kaliandra.

“Sepertinya kau telah melakukan ketololan,” kata temannya itu.

“Saya tahu pesan si peramal sangat menggelikan. Tapi saya memang benar-benar jatuh hati pada bidan itu.”

“Hanya saja, kau tak punya modal apa-apa.”

“Apa perlu saya mendekatinya kembali?”

“Mungkin perlu. Tapi, jika ia tak bisa menerimamu, berarti kau memang tak masuk dalam daftar seleranya.”

Dulu Klaudius memang tak pernah peduli pada perempuan. Dia akan merasa nasibnya buntung jika harus mengejar mereka, tapi sekarang kondisinya berbalik sembilan puluh derajat. Saat usianya masuk kepala tiga, saat ibunya tak henti-hentinya berharap dan melafaskan doa siang dan malam.

Akhirnya dia kembali ke rumah. Malam itu dikatupkannya kelopak matanya dan berusaha untuk tidur dengan tenang. Namun, karena tak bisa tidur, dia malah kembali menenggak tuak; diambilnya dari gentong simpanan ayahnya dan duduk di tempat dia dan si ibu biasanya bercerita.

Lima sloki digilir dan kali ini tak ada nyanyian bernada terenyuh. Saya akan pergi dari kampung ini, dia hanya membatin, saya akan bekerja di kebun sawit di Kalimantan dan bila telah cukup harta benda, saya akan datang kembali untuk melamar bidan itu.

Sesudah itu, setelah kepalanya mulai berat, dia berbaring dan melihat bintang-bintang. Bintang-bintang berkedip seperti mengejek padanya.“Atau, sebaiknya saya pergi saja ke tempat tinggal bidan itu sekarang,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kelamin yang gagal besar ini tak boleh tersesat pada lembah yang salah.”

Keesokan harinya, lelaki itu ditemukan mati di pinggiran kali dekat perkampungan. Orang-orang menghajarnya tanpa beban setelah mendengar teriakan histeris si bidan pada malam tersebut. Mereka membiarkannya sempoyongan bersungkur tanah, dengan darah segar yang terus mengalir dan perlahan-lahan membeku di tengah lolong anjing hutan dan dingin angin malam. (*)

Maumere, Mei 2019

Catatan:

1) Merungge: Moringa oleifera; kelor

2) KUB: Kelompok Umat Basis, gabungan/persekutuan doa terkecil dalam lingkup Gereja Katolik. Juga dikenal dengan nama KBG: Komunitas Basis Gerejawi.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Gemar membaca? Ceritakan pengalaman Anda di rubrik SAYA DAN BUKU. Puisi, cerpen, dan esai terjemahan dapat disimak di rubrik TERJEMAHAN.

Bagikan artikel ini ke:

1 thought on “Klaudius Jatuh Cinta pada Bidan Marta dan Bertemu Seorang Peramal”

  1. Klimaks dan Kaladius kalah dengan nafsu birahinya. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *