Puisi-Puisi Dody Kristianto – Perkara Menunggu
20 September 2019| | 0 CommentsPerkara Menunggu. Persiapkan dirimu. Siapkan badanmu
paling utuh. Ada yang tiba dari negeri jauh.
Oleh: Dody Kristianto |
Lahir di Surabaya, 3 April 1986. Saat ini tinggal dan bekerja di Serang. Bergiat bersama Komunitas Kabe Gulbeg.
Siasat Mandi Besar
Memasuki mandi ini
jangan sembarang
mengucap jampi.
Sebab telah turut perkara
yang tidak-tidak.
Ikut pula diam-diam
sawan sehabis berkubang
semalaman.
Perkara tak kasat yang
bersarang di penjuru
badan.
Kuman-kuman kurang ajar
yang sembunyi
di lubang-lubang.
Awas pula terkuar
salah ucap. Salah-salah
yang tegak tak menggelegak.
Yang biasa berhasrat tak lagi
berlunjak-lunjak.
Maka masuki mandi ini
bersama langgam lengang.
Tingkah perlahan.
Syair sayup ketenangan.
Biar gerak memegang
gayung selalu tenang,
tak gampang gamang.
Pun tingkah menyebar
air semakin dekat laku
sabar.
(2018)
Ini Muslihat Mengelak
Di sudut kanan kau terpuruk
didera percakapan tajam. Kata-kata
seketika bakal berubah satu gasakan
kilat bila terkuar salah ucap.
Lalu ancangan apa yang kautata
bila kiat menata kaki saja tak kau
tanam benar ke dalam badan.
Maka bersilatmu balik pada itikad
sederhana, semenjana belaka dipandang
kaum yang tak punya hati gentar.
Pertama,
kerik lidahmu hingga keluar kata pemutar
makna. Biar yang diterima radar dengar
mereka tafsirnya gampang gamang ke kiri
kanan. Biar yang sedia berkuda-kuda
menyurutkan segala upaya. Dan tak lepas
satu sapuan yang sia-sia saja menyapa
dadamu.
Kedua,
lidah yang biasa itu wajib berbisa, harus
mengerti kapan menggebuk tanpa harus
menindak, sekaligus mengalihkan yang
bersedia dalam langkah serangkian terulur
dari kuda-kudanya. Putar pula keparat
di depan dengan kabar angin dari seberang.
Sapu pula ia dengan kosakata bersayap,
kalimat paling sesat, amsal-amsal yang tak
dicatat kitab, serta ensiklopedi yang berisi
sekadar buih kata.
(2018)
Buih Kata
Kata-katamu cuma buih
di tengah samudra.
Bisa pecah dalam
satu sapuan ombak.
Kata-katamu tak
berbunyi. Ia menguar
tapi tak hinggap
ke telinga sejarak
semili saja.
Kata-katamu tembok dingin.
Gelap yang menandangi
tubuh pesakitan yang
menggigil didera hunjam.
Tak ada yang kucatat
dari kata-katamu.
Ia kabur dari kitab.
Ia bebal dari pengetahuan.
Ia melata dari semua pustaka.
Gentanya tak singgah pada
inti perlawanan.
(2018)
Perkara Menunggu
Persiapkan dirimu. Siapkan badanmu
paling utuh. Ada yang tiba dari negeri jauh.
Jangan sampai ia berupa teluh. Asap bergulung
yang merenggut malam-malammu. Tuba tiba-tiba
yang menyelinap di bawah bantal. Bersiaga.Tenangkan
semua gejolak menunggu. Tenang saja. Demi kejutan yang
akan terterima. Jangan terburu meninggalkan bangku. Jangan
tertipu gema yang datang serampangan. Bisa saja genta anjing
tetangga yang terlepas tanpa duga. Bergeming saja di depan televisi.
Naga yang keluar dari layar kaca adalah teman setia membunuh sepi.
Nikmati jam-jam menunggu. Yang kamu nantikan kepulangan yang tiba-tiba
berjarak semili saja.
(2018)
Penyintas
Kau tahu, ia yang
mengerti badannya
sebatas noktah biasa
dari semesta air
yang meluap.
Telah lupa ia
bagaimana tekstur dara
dan daratan sedepa
di depan sana.
Pemandangan di hadapan
ialah tinta gurita
yang halus membirukan
mata.
Kapal-kapal menyatu
dalam diri. Bisa pula
kau kata ia merentang,
tangannya mengepak
setelah penerbangan
dari Havana tak menemu
terang suar. Ia cuma
berenang dan berenang.
Sebagaimana kabar hilang
dari seberang
sekadar melayang
tak tiba di pendengaran
(2018)
Ilustrasi: Photo by Emre Can from Pexels

Puisi berjudul “Siasat Mandi Besar” ini mengandung tema tentang kehati-hatian dan kewaspadaan dalam menjalani sebuah proses atau ritual. Mandi besar dalam puisi ini bisa diartikan secara harfiah sebagai ritual bersuci, namun juga dapat diinterpretasikan sebagai metafora untuk proses yang lebih mendalam mungkin berupa pembersihan batin atau persiapan untuk sesuatu yang lebih besar.
Melalui penggunaan bahasa yang penuh simbol dan kiasan, penulis menekankan pentingnya ketenangan, kehati-hatian, dan perhitungan dalam menjalani proses tersebut. Frasa seperti “jangan sembarang mengucap jampi” dan “ikut pula diam-diam” menunjukkan adanya kekhawatiran akan akibat buruk jika tidak berhati-hati.
Di sisi lain, ada juga unsur humor satir dalam penggambaran “kuman-kuman kurang ajar” yang sembunyi di tubuh, mengimplikasikan bahwa ancaman atau gangguan tidak selalu kasat mata dan bisa datang dari hal-hal kecil yang tak terduga. Kesan ini diperkuat dengan peringatan tentang kesalahan dalam bertindak, seperti pada bagian “salah ucap” yang bisa membawa malapetaka.
Penutup puisi ini menawarkan solusi dalam bentuk ketenangan. Penulis menyarankan untuk menghadapi proses ini dengan sikap yang lembut dan penuh ketenangan, seperti gerakan memegang gayung yang “selalu tenang, tak gampang gamang.” Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan pesan tentang pentingnya ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi proses yang tidak selalu jelas atau mudah, dengan tetap waspada terhadap hal-hal kecil yang bisa menggagalkan usaha kita.
Secara estetis, penggunaan aliterasi dan bunyi-bunyian yang lembut turut mendukung suasana hening dan damai yang ingin disampaikan dalam puisi ini, membuatnya terasa reflektif dan penuh perenungan.