Menu
Menu

Felix K. Nesi, penulis novel “Orang-Orang Oetimu” dan kumpulan cerpen “Usaha Membunuh Sepi” berkunjung ke Ruteng.


Oleh: Armin Bell |

Tinggal di Ruteng. Buku kumpulan cerpennya “Telinga” (2011) dan “Perjalanan Mencari Ayam” (2018).


Klub Buku Petra mengundang Felix K. Nesi ke Ruteng. Memberinya dua pilihan: menginap di hotel atau di rumahnya Kak Armin saja?

Felix memilih yang kedua dan jadilah saya yang ditugaskan menjemputnya. Pagi-pagi. Dan kau tahu ini Ruteng. GNFI pernah menulis, ini adalah satu dari lima kota paling dingin di Indonesia.

Dan saya, bagaimanapun besarnya rasa cinta pada kota ini, tetap saja bukan penggemar Ruteng pada pagi hari. Felix? Meski bisa saja tidak terlalu mencintai kegiatan bangun pagi-pagi sekali, tetapi untuk tiba di kota kami ini, di Kupang dia harus bangun lebih pagi lagi agar tidak terlambat tiba di El Tari, bandara keberangkatannya hari itu.

Begitulah. Rabu, 21 Agustus 2019 rasanya berlangsung kurang enak tetapi kami tak punya pilihan lain seumpama “ambil penerbangan siang saja”. Di Ruteng, pesawat hanya sekali sehari datangnya. Pagi pukul tujuh. Bisa bayangkan kesibukan di titik berangkat?

Ada juga hari-hari tertentu dalam pekan, landasan kami yang dahulunya adalah lautan alang-alang—demikianlah dulu nama bandar udara itu adalah Satar Tacik—didatangi dua pesawat terbang. Tetapi pada jam yang masih dingin-dingin juga.

Kami akhirnya bertemu di Frans Sales Lega. Itu nama bandara kami sekarang. Pukul 07.25 Wita. Felix K. Nesi pakai jaket tebal dan bawa tas tipis, berbasa-basi sejenak, kami meluncur ke rumah.

Felix datang karena diundang untuk berbagi cerita tentang novel “Orang-Orang Oetimu” yang jadi buku pilihan Klub Buku Petra untuk kegiatan Bincang Buku edisi Agustus.

Ini pertemuan kami yang ketiga, dan Felix sama saja. Maksud saya, setelah Orang-Orang Oetimu menang di DKJ dan dengan segera menjadi percakapan luas setelah diterbitkan oleh Marjin Kiri, Felix bisa saja “lebih artis”. Bukankah banyak yang begitu—tulisannya disiarkan di beberapa media dan merasa telah boleh membuka kelas menulis sendiri? Oh! Mereka tidak salah. Hanya mungkin terlampau berani. Apa sih?

Yang saya maksud dengan Felix K. Nesi tidak lebih artis tadi adalah, alih-alih bertanya tentang jadwal kegiatannya selama di Ruteng atau berbasa-basi menyebut tempat-tempat yang ingin dikunjunginya (dan kau tahu basa-basi tamu yang kau undang secara resmi dapat berarti ‘dia ingin berkunjung’) dia malah tanpa basa-basi minta nasi sebab dia lapar dan kompiang bukan tipe sarapan favoritnya.

Begini. Saya luruskan saja dulu. Saya pernah mendengar beberapa teman mengeluhkan sikap ‘orang-orang yang diundang’ yang agak berlebihan. Dalam percakapan soal kerepotan itu, mereka kerap bilang: su macam urus artis saja tah. See?

Mereka tentu berpikir bahwa repot sekali berkoordinasi dengan pihak hotel tentang warna handuk favorit artis itu, atau air dalam pH berapa yang wajib disiapkan agar tak ternoda wajah orang itu. Padahal kan tidak serepot itu juga jika dibandingkan dengan mengurus seseorang yang kau undang dengan harapan akan berceramah tentang kemanusiaan tetapi malah berujung penistaan; misalkan ada yang begitu. Iya to?

Aduh, malah ke sana dan ke sini saya ini! Padahal seharusnya saya cerita saja tentang Felix yang santai itu. Yang sepanjang hari pertamanya di kota kami, ikut ke mana saja orang-orang bacapetra.co membawanya karena dia juga orang bacapetra. Berkunjung ke Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose, ke Rumah Baca Aksara, lalu balik ke rumah.

Saya tidak ikut pada kunjungan tak terjadwal itu karena telah punya jadwal kegiatan yang lain. Daeng Irman, dr. Ronald Susilo, dan Maria Pankratia yang menemaninya. Dan itu tidak merepotkan mereka.

Kami baru berkumpul lagi pada malam hari, tim bacapetra.co yang lain yakni Marcelus Ungkang akhirnya bisa bergabung, dan minum-minum dan makan-makan dan cerita-cerita. Felix tetap tidak berhasil menjadi ‘artis’ dan anak-anak Saeh Go Lino yang ikut kumpul-kumpul di rumah sempat kasak-kusuk soal itu; biasa-biasa saja dia im.

Mereka barangkali telah cukup sering melihat seorang yang cukup terkenal selalu gemar menasihati atau bercerita panjang lebar tentang dirinya, lantas terheran-heran karena tak kunjung terdengar percakapan seperti itu malam itu.

Saya sendiri berharap Felix K. Nesi berbagi cara praktis menulis novel juara. Tetapi selama di Ruteng dia malah berkisah tentang “Orang-Orang Oetimu” yang berulang kali dirombak.

“Tahun 2016 saya tulis. Kirim ke Sayembara Novel DKJ. Hanya sampai di tiga puluh besar. Setelah saya lihat lagi, memang jelek sekali. Saya perbaiki lagi lalu print dan minta beberapa teman baca, mereka kasi masukan, saya ubah lagi, sampai akhirnya jadi juara,” cerita Felix dalam sesi Bincang Buku Klub Buku Petra.

Bincang Buku itu terjadi pada hari Kamis, 22 Agustus 2019. Berlangsung mulai pukul tujuh malam. Salah satu ruangan di klinik baru Dokter Ronald disulap jadi tempat ngobrol dan Felix K. Nesi memilih menikmati seluruh obrolan dengan santai.

Sesekali bercerita tentang peran orang lain yang sangat penting dalam proses penciptaannya, Felix juga melihat karyanya itu berpindah medium.

Dapur Am Siki, tempat Laura menikmati makanan layaknya yang pertama setelah berlari menghindari kematian (cerita ini ada di halaman 46), diubah menjadi panggung Bincang Buku oleh pasukan Saeh Go Lino. Oliva Sarimustika Nagung, ilustrator bacapetra.co, menjadi dirigen pada alih medium ini setelah mendiskusikan konsepnya dengan penggemar Am Siki bernama Febry Djenadut.

Teater Saja memilih menampilkan kisah Linus dalam bentuk dramatic reading, sebuah alih medium yang asyik. Elgi, Vian, Rini, dan Indah melakukannya dengan hati riang.

Selain itu, malam Bincang Buku edisi khusus ini juga diisi percakapan tentang bagaimana Orang-Orang Oetimu di mata para pembaca. Dokter Ronald, Marcelus Ungkang, dan Ajen Angelina menjadi tiga orang yang ditunjuk melakukan pembacaan secara mendalam. Peserta lain mendapat kesempatan memberi komentar-komentar singkat. Rumah Baca Aksara tampil dengan musik akustik. Saeh Go Lino sebagai organizer mengatur banyak hal.

Felix, saya pikir, melihat bahwa semuanya itu baik. Karena itulah dia tidak lekas mengantuk. Barangkali juga karena Kaka Ited, fotografer andalan kami itu, menjadikan suasana lebih semarak oleh cerita-ceritanya yang penuh semangat tentang Timor Leste yang dia tahu.

bertemu felix nesi

| Tim bacapetra.co kurang tiga


Malam itu, setelah selesai seluruh kegiatan di gedung baru Klinik Wae Laku itu, saya dan Felix dan Daeng dan Maria menghabiskan seluruh malam untuk ngobrol sana-sini. Seluruh malam dalam arti sebenar-benarnya: tidak tidur sampai pagi.

Felix sempat tidur. Saya yang memintanya tidur tiga puluh menit menjelang pukul enam pagi karena tak kunjung mendengar nasihatnya tentang cara menulis yang baik dan memukau.

Kami bertiga berjaga agar bisa membangunkannya karena dia harus diantar ke bandara. Sungguh cara yang pintar agar tidak terlambat si Felix ini check in di Frans Sales Lega. Saya merasa kami telah menjadi seperti lima gadis bijaksana yang membawa pelita lengkap dengan minyak dalam buli-buli mereka, kecuali bahwa yang gadis di antara kami hanya Maria seorang.

Sampai selesai tugas ‘memulangkan’ Felix ke Kupang, saya tetap tidak menangkap kesan ‘artis’ pada penulis muda itu. Dia tetap seperti Felix yang pada pertemuan pertama menemani saya makan nasi goreng pada suatu dini hari di Kupang dan pada pertemuan kedua memilih tidak tidur lelap agar bisa mengantar saya pagi-pagi ke El Tari.

“Bagaimana Felix, Ma?” Tanya saya pada istri saya beberapa waktu setelahnya. “Asyik. Tidak merepotkan,” katanya lalu tertawa saat saya bilang bahwa yang agak kerepotan mungkin Rana dan Lino karena Felix menguasai sofa kesayangan mereka.

Tetapi tidak juga. Dua anak saya itu senang bermain dengan Om Felix karena Om Felix mendongeng dengan memanfaatkan boneka-boneka dan robot-robot sebagai alat peraga. Saya punya videonya. Bisa kau bayangkan boneka dan robot membangun lingkungan hidup yang sama? “Lagi! Lagi! Lagi!” pinta Lino setiap kali tampak gejala bahwa Om Felix akan mengakhiri cerita.

Ah, iya! Ternyata Felix yang kerepotan. Oleh karena itukah dia tak sempat menyampaikan nasihat-nasihat seumpama orang-orang terkenal itu? Atau karena memang tak perlu begitu. Yang harusnya diperbincangkan adalah karya. Bukan kita. Bukan pewartaan diri yang lebi-lebi.

Aduh! Kenapa saya tiba-tiba ingat seseorang bernama Livi ketika sampai di bagian ini? Ini catatan apa, Bernardo? (*)


Foto: Kaka Ited

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *