Menu
Menu

Menulis sedikit lagi, lima enam kata, sudah. Kiranya catatan penutup pulkam lebaran ini cukup.


Oleh: Shah Priyanka Aziz |

Pernah kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar. Kini menetap di Makassar.


“Itu apa?” dagunya menunjuk.

“Tiang infus.”

Itu barang terbungkus, dililit lakban krem. “Oh, saya kira tongkat pincang. Ini dos, berapa total?”

“Cuma ini dua.”

Sepertinya keringatnya akan keluar lebih banyak. Dipikirnya hanya akan terkuras untuk mengantri. Ditambah beban dos ini, punggung kaosnya pasti basah total nanti. Harus ganti baju berarti. Hanya ganti baju, ia tak suka berepot-repot mandi di kamar mandi kapal.

***

Gerutunya bertambah. Yang kosong hanya dek 4 bagian belakang, yang sialnya, pendinginnya rusak. Pengapnya minta ampun. Keringat di punggungnya membanjir lebih.

Toilet di dekat situ pun tidak bersih-bersih amat. Kesetnya hanya karton yang dilapis tumpuk, serta beberapa bilik mandi yang agak pampat. Jadilah toilet itu menggenang. Tanpa keburukan-keburukan itu pun ia enggan mandi, apalagi begitu.

Samar-samar ia ingat dua cerita tentang kapal yang buruk. Pertama, dari seorang tahanan politik yang dibuang ke pulau dekat Ambon sana. Dari ceritanya, bahkan konon tahi meluber sampai ke dek-dek.

Sedang yang kedua, dari sekelompok pelawan yang dikirim ke negeri jauh yang hampir beku. Melintasi laut berombak tinggi, awak kapal yang tidak bersahabat, cuaca dingin, makanan dan selimut yang dijatah secara tak layak, dek-dek yang tak terurus, bikin derita mereka tak berhenti di sekadar mabuk laut.

“Kalian pernah dengar? Kalau dek ini kapal kotor, terus mau dibersihkan, yang membersihkan konon harus telanjang memasuki dek-dek ini, saking panasnya,” seloroh Riki, laki-laki yang membawa tiang infus.

Yang lain mengangguk-angguk. Itu satu pengetahuan baru.

Info yang Riki bagi tadi dipahami Sapri sebagai upaya menghibur dan melapangkan hati mereka serombongan. Bahwa pengapnya dek ini tak seberapa, bersabarlah.

Tapi tidak, Sapri sama sekali tak terhibur. Kaosnya yang sudah basah muka belakang segera ditukarnya dengan yang kering. Ia mengambil buku, dan pamit ke dek paling atas untuk berangin.

Horison biru, burung laut, juga lumba-lumba. Angin sering sekali meniup balik lembar-lembar yang belum usai dibacanya. Sesekali seperti ada cipratan air mendarat di pipinya. Mungkin tetesan dari sekoci di atas kepalanya.

Sapri jarang sekali turun ke dek bawah. Ia memilih tidur di musala yang memang sejuk. Beberapa kali turun mengecek barang, Riki dan kawan lainnya masih setia di situ. Bukan main, pikirnya. Bisa juga mereka tahan di dek pengap ini. Wira dilihatnya hanya bersarung setengah telanjang.

***

Disambut bau laut, bau garam. Bau pengganti dek-dek yang pengap. Kargo bertumpuk-tumpuk, berbaris berderet. Tanah kuning timbunan yang menerbangkan debu. Serasa sesak, kering. Akhirnya tiba. Pelabuhan yang sedang giat dibangun ternyata.

Diiringi selaan-selaan “ojek ojek?”, “mobil kah, bos?”, “becak becak?”, “bentor, bos?” bersahut-sahutan, dos yang diangkat Sapri terasa semakin berat. Selaan menyambung napas dari mereka, ia sadari benar itu.

Dos yang dibopongnya pun pelan-pelan ia sadari adalah juga untuk menyambung napas. Isinya berbotol-botol obat cair untuk Om Idam yang baru saja dioperasi.

“Taruh di situ saja,” Riki mengarahkan. Riki memilih pulang dengan bentor. Dengan dua dos berat-penuh dan tiang infus, mustahil naik ojek. “Kau naik apa pulang?”

“Ojek saja.”

“Terima kasih, bro.” Mereka berjabat, bentor Riki jalan duluan.

Sapri, sudah kebiasaannya, tidak langsung naik ojek di depan pelabuhan. Ia suka berjalan sekian meter lagi ke barat. Sekadar melepaskan diri dari padat ramainya pelabuhan.

Sepanjang jalan pulang, gedung-gedung yang dulunya besar kini terasa begitu kecil. Bank yang dulu tempat ia menabung, kini tak ada lagi, berganti kantor instansi lain. Langgar depan pasar, penjual kembang api sudah ramai.

Dilihatnya lagi lorong-lorong pasar yang dulu. Tempatnya biasa berlarian ketika pulang sekolah. Sambil mengisap es gelas, menekuri mainan, mencuri komik-komik lusuh, mengagumi kartu bergambar pemain smack down. Nostalgik.

Tak terlalu mengejutkan bagaimana waktu bergerak hingga akhirnya sampai ke yang sekarang. Gerak waktu yang menambah tinggi badan mereka, mengasah mental mereka, perangai, kebiasaan-kebiasaan. Tak mengejutkan, tepatnya: tak terasa.

Lain dengan itu, iuran ojek sekali jalan sudah jadi sepuluh ribu. Membuatnya berpikir, dulu segelas kopi susu tiga ribu lima ratus, sekarang sudah lima ribu.

Rumah masih seperti dulu. Tanaman-tanaman rimbun di halaman yang kerap membuat iri siapa pun yang berkunjung, letak lemari dan televisi yang tidak berubah, sprei tempat tidur yang masih sama.

Tidak mengecewakan, tidak pula membanggakan. Kecuali komputer dan UPS yang sudah rusak, itu saja yang mengecewakan.

Obrolan di meja makan terasa sedikit berbeda. Mama yang menyesalkan sakit-sakitnya. Adik yang ternyata bermasalah paru-paru. Bapak? Tak punya masalah sepertinya. Masih dengan rutinitasnya: bulu tangkis dan bersepeda.

Tapi itu hanya sepertinya. Ia memang seorang yang handal menyembunyikan kegelisahan, walaupun sesekali kentara mengintip. Di meja makan itu, serasa cuma Sapri yang sentosa, walau ia tahu itu juga tak benar penuh.

Selain keluarga, kawan-kawan lama pun tak lupa disambangi. Bertemu dengan orang-orang di masa lalu seperti juga ikut melemparnya ke belakang, jadi terbelakang, kekanak-kanakan. Kawan yang dulu sangat berantakan kini sudah mengkilat halus seperti ukiran kayu pasca amplas-pernis.

***

“Ada Nenek di kamar?” tanyaku pada Ai.

“Ada.”

“Siapa ini?” mata yang sudah berkabut itu menerawang. Tangannya juga meraba pergelangan tanganku, menyapu bolak-balik sejak siku. Sepertinya itu membantu ia mengenali kami.

“Sapri, Nek.” Ah, sudah tua sekali beliau.

“Kau mau panimpa?”

“Iye.”

Kamar yang temaram, masih berkelambu. Bau khas orang tua. Perpaduan bedak dulu, sabun yang lain dengan kami, dan barangkali tawas. Bekas ember cat tepat berdampingan dengan kaki ranjang. Aku tahu itu untuk apa.

Nenek batuk berturut-turut, dengan kecenderungan mengeras di ujung bunyi. Meski kutahu beliau tak merokok, batuk itu persis batuk Om Nade dulu, seperti mau memuntahkan asbak.

Beliau menarik ember dan meludah pelan. Eww. Aku sedikit jijik. Juga kasihan. Barangkali pernah pula darah turut di situ.

Acap kali masuk kamar ini aku selalu ingat ceritanya tentang almarhum Kakek yang sesekali datang mengunjunginya. Melayang seperti mengapung di langit-langit, di bawah kelambu. Tepat bersitatap dengannya yang telentang.

Beliau konon jadi tak bisa bergerak kalau kakek datang seperti itu. Entah apa yang mereka bicarakan, beliau tak pernah cerita. Aku suka cerita-ceritanya yang jenis ini. Yang lain misalnya, saat beliau bertemu sosok putih bikin silau di sumur belakang ketika sedang berwudu subuh.

Cerita-cerita jenis itu jauh sekali levelnya dibanding cerita-cerita receh ala Bapak, yang mengaku masa kecilnya konon ditemani kangguru-kangguru. Hewan yang kini dikira umum khas Australia itu, akunya, dulu banyak hidup di belakang rumah Nenek. Heh? Apa iya hewan itu dulu juga pernah hidup di tenggara Sulawesi ini?

Kamar ini seperti klinik. Kata bercetak miring di atas, panimpa, adalah semacam check-up. Kami datang menyetor diri ke Nenek bila perasaan tiba-tiba tidak enak, menguap terus-terusan, dan daun telinga teraba dingin.

Nenek mulai meniupi telapak tangan kanannya, setelah sebelumnya berkecumik mungkin mantra, barangkali doa. Kemudian menyapukannya dari bahu sampai lengan bawahku. Empat kali sapuan, ia berhenti, seperti ada yang minta keluar dari tenggorokannya. Hampir muntah beliau. Beberapa kali begitu.

“Kau ditegur Nenek-di-Loteng. Kau naik siram kubur kemarin?”

Aku mengangguk. Beliau mengulang lagi. Meniupi telapak tangannya kemudian menyapukannya ke lenganku. Kali ini dia hendak muntah lebih keras. Dia terpaksa meludah.

“Kakekmu ini.”

Dua yang disebutnya itu sudah lama meninggal. Panimpa memang berguna untuk itu, mengenali kerabat kami yang menegur dari atas sana. Sebabnya macam-macam: kenakalan, tak pernah siram kubur, malas bertamu ke rumah mereka, dan silap-silap lain.

Setelah dipastikannya tak ada lagi yang menegur, beliau menutup ritual pengobatannya dengan meniupiku, tentu, setelah mengucap doa-doanya.

Ini seperti meniup pergi teguran-teguran. Seakan memberi tahu pada para penegur, “Sudah, sudah. Anak ini sudah kunasihati.” Jika saja syaratnya bukan mesti perempuan, sudah lama aku minta diajari, panimpa ini.

Karena kenal panimpa ini sejak kecil, begitu besar aku jadi benci obat-obatan. Bukannya menolak modernitas dan melanggengkan yang kolot, hanya saja, yah, kita tahulah bagaimana industri obat dan farmasi bekerja, kan?

Kerja tubuh kita pun. Bila hari ini kau sakit kepala dan butuh satu tablet obat sakit kepala untuk meredakannya, begitu juga besok, lusa, atau hari-hari depan lainnya, maka beberapa bulan ke depan satu tablet tak lagi cukup. Kau musti menenggak dua, dan tahun depan mungkin jadi tiga. Paham maksudku?

Karena itu aku benci obat-obatan. Lagipula, mengetahui bahwa tubuh kita sakit—diagnosa dokter, adalah kenyataan yang lebih menyakitkan daripada sakit itu sendiri.

“Kapan kau berangkat lagi?”

“Lusa kapalku.”

Beliau berdiri. Meraba sesuatu di atas lemari. Oh, gerakannya sudah sangat lambat.

“Apa Nenek cari?” tanyaku.

“Ai.. Ai..,” teriaknya memanggil, “di mana kuncinya ini lemari?”

“Di atas lemari sebelahnya,” jawab Ai pelan sekali kedengaran. Suara televisi terlalu keras.

Beliau mengeluarkan kaleng dari lemarinya. Aku tahu ini akan ke mana.

“Untuk beli pulsa,” dia menjejalkan dua lembar uang biru ke tanganku. Bahkan sampai sekarang, nominal yang diberikannya selalu lebih besar dibanding Om dan Tanteku yang lain.

Aku menatap wajahnya. Menciumi punggung tangannya yang bau bedak. Beliau menghadapku, tapi pasti tak jelas lagi aku dilihatnya. Kuamati tiap lipit keriputnya. Mudanya bisa jadi mirip Ikuta Erika.

***

“Ih, kau belum kasih masuk di tas itu laptopmu?”

“Gampang saja ini. Tinggal ditusuk masuk saja di situ,” bilangnya ke Mama.

“Eh, itu satu saja kantong kuning. Isinya botol air, kue, sama keripik pisang. Kalau terlalu banyak, kasih saja teman-temanmu.” Entah sudah berapa kali Mama mengulang pesannya ini.

Kata orang-orang, pesan yang diulang-ulangi orang tua menjelang keberangkatan anaknya, adalah ungkapan khawatir. Ia seperti kecemasan dan ketakrelaan melepas. Serasa ada yang memburu-buru di dada mereka.

Menulis sedikit lagi, lima enam kata, sudah. Kiranya catatan penutup pulkam lebaran ini cukup.

Dua Jumat di sini, tempat ini, kota ini, di mana masih banyak kutemui sedekap salat dengan siku menjorok berlebih ke kiri; di mana masih banyak yang membalik atau membuka telapak tangan kanan—yang semestinya  tertangkup—saat mengucap salam penutup salat; dan keunikan lain yang jarang kudapati di tempat lain, di sinilah sepertinya saya harus berpulang. Harus, mesti, semoga.

Sapri membaca dan memandang-mandang ulang paragraf terakhir itu. Oke, cukup.

Sayup-sayup stom kapal terdengar. Dua kali? Sekali? Barangkali kapal sudah mau berangkat. Ditusuknya laptop masuk ransel. (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Bagi tulisan ini via:

1 thought on “Pulkam Lebaran”

  1. Bahasa yang khas sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *