Menu
Menu

Sang pandai besi belum menentukan pada tangan siapa pedang terhebat itu akan dia percayakan.


Oleh: Rio Johan |

Kumpulan cerpennya berjudul “Aksara Amananunna” (2014) terpilih sebagai Buku Prosa Pilihan Tempo 2014. Novelnya berjudul “Ibu Susu” (2017) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 untuk kategori Karya Pertama dan Kedua.


PADA SALAH SATU HARI PALING BIRU DI MUSIM PANAS, sang pandai besi paling hebat dan tersohor di penjuru pegunungan mendapati tanda-tanda bahwa ruhnya tak lama lagi akan dikirim Dewa Tengri ke dunia bawah sana, dan dia pun memutuskan akan menempa satu karya terakhir, satu pedang terakhir: pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat yang pernah dia buat sebelumnya.

Betul memang, ingatan dan kesehatan sang pandai besi sudah mulai menurun, meski demikian belum ada yang menandingi kepiawaian menempanya di wilayah tersebut; terbukti sampai sekarang sudah puluhan senjata ditempanya untuk puluhan khan, baik yang sudah berada di alam bawah maupun yang masih di alam ini, entah sudah berapa permintaan “pedang terhebat” yang sudah dikabulkannya, sang pandai besi kini tidak yakin lagi; dan ketika kabar karya terakhir ini tersebar di seluruh penjuru wilayah, menjalar dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, dari suku ke suku, dalam waktu singkat saja para khan dari berbagai suku sudah melesat memacu kuda menuju tenda sang pandai besi, berharap bisa memiliki pedang.

Yang pertama kali tiba adalah Khongkhai Khan, yang wilayah kekuasaan sukunya kebetulan tepat di balik salah satu bukit di dekat tenda sang pandai besi. Setelah menyerahkan segala macam hadiah dan persembahan—diberikan oleh para kaki tangan sang khan dan diterima oleh satu-satunya pembantu sang pandai besi—tanpa basa-basi Khongkhai Khan menyampaikan maksud kedatangannya: “Saya menginginkan pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat yang akan lahir dari tanganmu.”

“Ah, ya, tuanku Khongkhai, begini, kalau saya tidak salah, belum sampai dua tahun yang lalu rasanya saya buatkan satu pedang terhebat—atau tiga tahun yang lalu? Masa engkau mau minta lagi sekarang ini?”

Yang selanjutnya muncul adalah Tomorbaatar Khan, yang datang dari bukit berlawanan dari tamu pertama. Khan yang satu ini juga menyampaikan keinginan serupa, “Sudilah kiranya engkau, Sang Pandai Besi Hebat yang saya hormati, memercayakan pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat yang akan kau buat pada hamba?”

“Ohohoho, Tomorbaatar Khan yang baik nan budiman, sudah dua kali engkau datang padaku: pertama kau meminta pedang terhebat, kedua kau minta pedang terhebat dari pedang terhebat yang kau minta sebelumnya, dan sekarang kau minta pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat pula? Tunggu dulu, yang datang dua kali itu kau atau Sukhbataar Khan ya? Sebentar, sebentar …”

Yang ketiga tiba adalah Naimanzuunnadintsetseg Khan, yang telah melalui perjalanan menembus tiga lembah, dua puncak, tiga padang rumput, dan empat belantara hutan untuk tiba di hadapan sang pandai besi. “Tabik untukmu, Sang Pandai Besi Tersohor di Seluruh Penjuru Gunung-Gemunung, kedatanganku kali ini tiada lain dan tiada bukan membawa harapan untuk memiliki pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat yang konon akan jadi karya terakhirmu.”

“Walah, walah, Naimanzuunnadintsetseg Khan, bukankah kau sudah pernah kubuatkan pedang terhebat? Coba kuingat-ingat dulu persisnya permintaanmu ketika mendatangiku: kau memintaku membuatkan pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat yang pernah kubuatkan baik untukmu maupun untuk lawan-lawanmu, begitu bukan? Dan kalau aku tak salah dengar dengan pedang itu kau berhasil menaklukkan musuh bebuyutanmu, Nugai Khan, yang pedangnya juga ditempa olehku sendiri, atau Nekhii Khan? Tunggu dulu, musuh bebuyutanmu bukannya Oktai Khan ya?”

Selanjutnya muncul Mongolekhorniiugluu Khan, lalu Ulagan Khan, dan besoknya paginya datang Turgen Khan, dilanjut dengan Khunbish Khan, lalu Batbayar Khan dan Batjargal Khan menghadap secara bersamaan dan terjadi adu mulut sengit yang andai saja tak segera dihentikan sang pandai besi pastilah akan berujung pada pertumpahan darah, setelahnya Timicin Khan, Medekhgui Khan, Batuhan Khan, Naranbaatar Khan, Dzhambul Khan, Batzorig Khan, dan begitulah secara bergiliran para khan dari tiap-tiap suku di pegunungan tersebut mendatangi tenda sang pandai besi membawa misi yang sama dan keluar dengan harapan yang sama. Kenyataannya, sang pandai besi belum menentukan pada tangan siapa karya terakhirnya ini akan dia percayakan dan dia pun tidak mau segera ambil pusing memikirkannya juga.

Hari demi hari sang pandai besi dengan giat dan cermat menempa karya terakhirnya; lantas tahu-tahu, suatu pagi di awal musim gugur, sang pelayan memasuki tenda kerja sang pandai besi dan menemukan tuannya terbaring di samping sebilah pedang. Dia menduga tuannya tertidur selagi bekerja dan mencoba membangunkan; dia salah. Dia temukan kertas wasiat di dekat tubuh tuannya dan selanjutnya kabar bahwa sang pandai besi meninggal setelah berhasil merampungkan karya terakhirnya pun tersebar di penjuru pegunungan.

Para khan pun berduyun-duyun melaju menuju tenda sang pandai besi, yang satu tak mau kalah cepat memacu kuda dari yang lainnya, dan dalam hitungan hari saja tenda tersebut sudah dikerumuni orang-orang, pemimpin dari berbagai macam suku yang siap menyatakan kepemilikan pedang terakhir apa pun taruhannya. Pelayan mendiang pandai besi mengumpulkan semua khan masuk ke tenda, mempersilakan mereka menghangatkan diri mengelilingi perapian, dan pada mereka dia sampaikan wasiat terakhir tuannya: “Tabik, tuan-tuan para Khan sekalian, sepanjang hidup saya kalian silih berganti mendatangi saya meminta dibuatkan ‘pedang terhebat’: ‘lebih hebat daripada yang saya buatkan untuk saingan-saingan kalian’ atau ‘lebih hebat daripada yang saya buatkan sebelumnya’. Pada akhir nyawa saya, kalian berebutan menemui saya, meminta saya untuk menyerahkan pedang terakhir yang saya buat, ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’—begitulah julukannya—untuk kalian. Tapi saya tidak bisa menentukan tangan siapa yang pantas menyingsing pedang terakhir ini; satu dari kalian datang meyakinkan saya bahwa dialah yang paling tangguh dan perkasa, satu lagi dialah yang paling berani dan berkuasa, satu yang lain dialah yang paling bijak dan bajik, dan yang lain datang dengan cara-cara yang lain, tapi tetap saja mustahil bagi saya menentukan.”

“Saya renungkan masalah ini sembari mengerjakan pedang terakhir saya, dan satu pikiran melintasi benak saya: kalian semua tahu, sebagai seorang pandai besi, saya selalu mencoba melampaui apa yang pernah saya buat sebelumnya, tidak pernah sekalipun saya menempa pedang yang lebih lemah daripada pedang sebelumnya, begitulah saya bekerja dan begitulah saya meraih reputasi saya. Tapi saya sudah tua dan mulai lupa-lupa: saya mulai lupa-lupa banyak hal termasuk urutan pedang-pedang yang saya buat, saya tidak bisa mengingat pedang mana dari yang kalian punya yang saya buatkan lebih dulu dari yang mana, dan catatan yang saya buat begitu kacau dan tak beraturan, malah membuat saya tambah bingung dan pikun ketika membacanya. Maka dari itu, saya pun memantapkan keputusan bahwa ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ saya ini akan jatuh ke tangan khan yang memegang ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ sebelumnya, atau boleh juga dibilang ‘pedang terakhir sebelum pedang ini’. Demikianlah, para khan yang saya hormati, semoga karya terakhir tangan ini jatuh dan bisa berguna di tangan yang tepat. Tabik.”

Semua khan yang hadir bergeming beberapa saat setelah mendengar sang pelayan membacakan. Lantas, sekonyong-konyong saja Ganbataar Khan yang duduk di tengah-tengah berseru, “Maafkan aku tuan-tuan kalau aku lancang, tapi satu hal yang aku yakini: akulah yang memegang pedang terakhir sebelum pedang terakhir itu.” Mendengar ini Lkhagvasüren Khan tidak terima dan spontan membantah, “Dengan segala hormat, Ganbataar, tapi seingatku anak buahku pernah melaporkan bahwa pedangmu ditempa pada musim panas empat tahun lalu sementara pedangku dibuat dua tahun selanjutnya: nah, kau pikirkanlah mana yang lebih terakhir dari keduanya.” Giliran Otgonbayar Khan yang tidak terima dengan pengakuan barusan, kemudian disambut oleh Arban Khan ikut-ikutan mengakui sebagai pemegang pedang terakhir sebelum pedang terakhir, lalu Gantulga Khan, lalu Bat-Erdene Khan, lalu Oyuunchimeg Khan, dan sekejap saja tenda sang pandai besi sudah gaduh oleh seruan klain-mengklaim para Khan.

“Tuan-tuan para Khan sekalian, mohon dengar,” pelayan mendiang pandai besi berteriak kencang, dan setelah gaduh menyusut menjadi hening, dia melanjutkan, “Mohon izinkan saya bicara. Sudikanlah saya mengajukan usul, tuan-tuan para Khan sekalian, bagaimana kalau pedang masing-masing kalian diujikan langsung saja, dipertandingkan, atau katakanlah semacam sayembara merebut ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ ini?”

“Engkau mau kami semua saling bantai, begitu?” Qutlugh Khan memotong.

“Bukan, bukan demikian, tuanku, tidak perlu ada pertarungan pertumpahan darah untuk menguji mana pedang yang paling hebat di antara pedang-pedang yang kalian punya, cukup tandingkan saja masing-masing daun pedangnya, bukan kemampuan orangnya: cukup diadu, dihantamkan satu sama lain, berkali-kali kalau perlu, sampai salah satunya retak atau patah, maka dialah yang kalah.”

Para khan yang hadir kemudian berbisik-bisik, berkasak-kusuk satu sama lain, lantas bermusyawarah dalam satu kerumunan besar, mempertimbangkan usul tersebut berdasarkan tiap-tiap kelemahan dan keuntungan, kelebihan dan kekurangan, dan beberapa saat kemudian, mereka pun satu suara menyetujui pertandingan tersebut.

Mereka turun ke lembah terdekat dan di tengah-tengah satu padang rumput luas pertandingan tersebut dilaksanakan. Yang pertama terpilih dari undian acak adalah Qadan Khan melawan Ulagan Khan; keduanya sudah memasang posisi dan pegangan tangan, keduanya sudah memantapkan konsentrasi dan kuda-kuda untuk mengayunkan pedang, keduanya memacu napas menunggu hitungan mundur dari salah satu khan yang ditunjuk untuk menengahi pertarungan: satu … dua … tiga … trang! Kedua pedang masih bertahan. Satu … dua … tiga … trang! Sekalipun bunyinya makin kencang dan menggema, tetap saja belum ada yang tumbang. Satu … dua … tiga … trang! Satu … dua … tiga … dan setelah total enam kali beradu, pedang Qadan Khan pun patah, ujungnya terpental ke belakang, hampir mengenai anak buah salah satu khan yang untungnya bisa cukup gesit mengelak. Setelah itu Batbayar Khan dan Chaghatai Khan berhadap-hadapan, pada hantaman ketujuh, muncul retak pada pedang Batbayar Khan, dan pada hantaman kedelapan retak tersebut semakin besar dan dinyatakan kalah; kemudian giliran Dzhambul Khan dan Chuluun Khan, dan pedang milik yang pertama hancur lebur oleh yang kedua; lalu pedang Ganbaatar Khan menaklukkan milik Erden Khan; lalu Gansukh Khan menghancurkan Gantulga Khan; lalu pertarungan sengit antara Naranbaatar Khan dan Mongolekhorniiugluu Khan yang berakhir dengan pedang keduanya patah bersamaan; lalu Ogtbish Khan membuat pedang Terbish Khan seakan-akan selembek kayu lapuk setelah patah dalam satu hantaman saja; lalu Chuluunbold Khan berhadap-hadapan dengan musuh bebuyutannya Timicin Khan dan hampir saja keduanya saling penggal kalau-kalau tidak diperingatkan oleh Nekhii Khan sebagai penengah; Oyuunchimeg Khan menumbangkan Turgen Khan, Oktai Khan mematahkan pedang Nugai Khan, Lkhagvasüren Khan menundukkan Batjargal Khan … begitulah selama beberapa hari pertarungan tersebut berlangsung, dan satu per satu khan berjatuhan bersamaan dengan retaknya, patahnya, hancurnya pedang yang sempat mereka percayai “pedang terhebat di antara pedang-pedang khan lainnya”. Pada akhirnya cuma dua khan atau dua pedang yang tersisa, milik Naimanzuunnadintsetseg Khan dan milik Lkhagvasüren Khan: keduanya siap, mata mereka awas dan tajam, pegangan tangan mereka kokoh, satu … dua … tiga … trang!, satu … dua … tiga … trang! trang!, trang!, pedang keduanya beradu kencang, trang!, trang!, trang!, bunyinya menggemai lembah-lembah dan gunung-gemunung, trang! trang! trang!, tiap kali kedua tangan mereka mulai mengayunkan, mata-mata yang menonton menahan kedip, hidung-hidung menahan napas, trang! trang! trang!, entah sudah babak keberapa keduanya beradu, trang! trang! trang!, dan udara di sekitar mereka pun bagai turut terbelah, trang!, muncul retak pada bilah pedang milik Lkhagvasüren Khan, trang!, retaknya melebar!, trang!, pedang itu pun tak mampu lagi menahan, dan Naimanzuunnadintsetseg Khan pun dengan penuh kebanggaan diri menjunjung pedangnya tinggi-tinggi, mulutnya meraungkan teriakan panjang kemenangan. Namun, ketika kemudian dengan begitu girang dia ayun-ayunkan pedangnya, pedang yang ternyata sudah tak mampu menahan itu menyebarkan retak di seluruh penjuru bilahnya, sisi tajamnya pun pecah di sana-sini, dan Naimanzuunnadintsetseg Khan pun kehilangan pedangnya.

Betapapun, setelah perundingan panjang dan sengit para khan, Naimanzuunnadintsetseg Khan tetap dinobatkan sebagai pemenang.

Singkat cerita saja, mereka kembali ke tenda dan pelayan mendiang pandai besi pun menyerahkan karya terakhir tuannya pada sang pemenang. Dengan mata berbinar-binar Naimanzuunnadintsetseg Khan membuka bungkusan kulit kerbau yang melilit pedang tersebut, dan tersibaklah ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ yang ditunggu-tunggu, para khan yang hadir bergeming melototi senjata tersebut, menyimak detil demi detilnya, bilahnya, keseimbangan dimensinya, kemantapan genggamannya, runcing matanya, ukiran-ukiran pada badannya, dan tidak bisa tidak mereka merasakan kagum sekaligus cemburu menderas dalam benak mereka.

Naimanzuunnadintsetseg Khan menyingsing pedang tersebut keluar, mengacungkan tinggi-tinggi, menyapukan tangannya pelan-pelan dari pangkal ke ujung, dari sisi ke sisi, mencoba merasakan padat dan kokoh besinya pada kulit jemarinya, menggerak-gerakknya ke kanan dan ke kiri seakan tengah menguji berat dan titik imbangnya, memasang kuda-kuda mencari keharmonian antara senjata dan telapak tangannya, dan dia pun tak kuasa menahan untuk menguji pedang itu: dia ayunkan pedangnya ke sekeliling tubuhnya, lantas dia lihat di dekatnya satu gelondongan kayu, dia tebas sasaran tersebut: putus sempurna menjadi dua. Tapi wajar saja, kayu sasarannya sudah mumuk dan kempuh. Matanya berkeliling mencari sasaran lain, dan dia temukan satu bongkah batu besar setinggi dadanya, dia yakin hantaman pedang barunya mampu menimbulkan rengkah yang lumayan pada batu tersebut. Maka, dia ayun-ayunkan kembali pedangnya sebagai pemanasan, dia pasang kuda-kuda lagi, dan … trang!, muncul retak yang kemudian menjalar, melebar menjadi rekahan, tapi bukan pada batu, melainkan pada pedang barunya: ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ itu kalah dan pecah oleh batu.

Naimanzuunnadintsetseg Khan tidak percaya apa yang baru saja terjadi di depan matanya, para khan yang lain juga terkaget-kaget dan tergugu-gugu menyaksikan, dalam benak mereka serempak muncul satu pertanyaan serupa: kenapa bisa karya pamungkas sang pandai besi paling piawai bisa kalah oleh batu dalam satu tebasan?

Berduyun-duyun para khan memasuki kembali tenda dengan niatan menuntut satu-satunya orang yang dipercaya memegang jawaban macam-macam pertanyaan mereka, tapi orang yang dicari tak ditemukan di sudut atau kolong manapun: pelayan mendiang sang pandai besi sudah lenyap, kabur. Para khan memerintahkan bawahan mereka untuk menyisiri lembah, gunung, padang, dan hutan sekitar, tapi percuma saja, sang pelayan tak bisa ditemukan.

Malam sebelum mereka berpisah dan kembali ke wilayah masing-masing, para khan kembali berkumpul dan bermusyawarah di dalam tenda sang pandai besi, mencoba memecahkan misteri yang baru saja menimpa mereka. Hasilnya, dua kemungkinan mereka tarik: pertama, bahwa sang pandai besi betulan sudah begitu tuanya dan begitu pikunnya sampai-sampai kehilangan semua kepiawaiannya ketika mengerjakan karya terakhirnya, dan alih-alih ‘pedang terhebat dari pedang-pedang terhebat’ yang dihasilkannya justru ‘pedang terlemah’, dan kedua, bahwa ada maksud lain di balik semua ini, ada kesengajaan, ada kehendak misterius, yang membuat sang pandai besi sengaja menghasilkan pedang yang begitu lemahnya dan membuat mereka merebutkan pedang tersebut seakan-akan itulah senjata terakhir dan terhebat yang ditempa tangan-tangan terampilnya … apa niatan di balik semua itu, mereka tak bisa menebak atau membayangkan. Satu hal yang bisa mereka kagumi kalau memang kemungkinan kedua yang benar: kemampuan sang pandai besi menipu mereka dengan menempa senjata yang sekilas begitu hebat tapi ternyata begitu lemah.

Pada akhirnya para khan tersebut pulang, kembali ke suku masing-masing membawa kekecewaan dan pedang yang sudah hancur. Para khan kemudian disibukkan memburu pandai besi piawai yang mampu membuatkan ‘pedang terhebat’ baru untuk mereka, dengan kata lain untuk sementara tak ada perang atau pertarungan di penjuru pegunungan tersebut, sebab pemimpin mana yang tak malu tak maju di garis depan menyinging pedang ketika berperang? (*)

Tonnerre, 16 Agustus 2019


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *