Menu
Menu

Pada sesi Indigenous Language Gala, kami membacakan puisi-puisi dari bahasa asli dan terjemahan Inggris, bersama para penyair Maghribi, yang karyanya diterjemahkan secara puitis oleh para penyair Inggris berdasarkan terjemahan literal prosaik dalam bahasa Inggris.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah Elegidia: Elegi-Elegi Pendek karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan Puisi-Puisi Pilihan Catullus, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang akan terbit adalah Dua Himne karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan Ecloga I  (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik. Pada akhir September 2019, Mario berpartisipasi dalam Contains Strong Language Festival di Hull, Inggris.


Saya dan Jamil Massa tiba di London sekitar jam 8 pagi, 26 September 2019. Kami terpilih sebagai dua dari The Hull ’19 Poets yang mengikuti BBC Contains Strong Language Festival di Hull pada 27-29 September 2019. Festival ini didanai oleh Arts Council England dan British Council, serta didukung oleh sejumlah lembaga; BBC, Wrecking Ball Press, Makassar International Writers Festival, Hull City Council, University of Hull, dan lain-lain. Seharusnya kami tiba bersama Irma Agryanti, tetapi karena Irma baru saja melahirkan, ia tak jadi ikut ke Inggris. Kami dijemput oleh seorang sopir dari bandara Gatwick ke hotel Travelodge di Waterloo, dan tiba sekitar jam 10 di hotel. Ia seorang pendukung klub Liverpool, dan tentu saja sangat senang mengejek Jamil ketika tahu Jamil akan mengisi hari terakhirnya di Inggris dengan menonton pertandingan antara MU melawan Arsenal.

Dari London, kami akan menempuh perjalanan dengan kereta dari stasiun London Kings Cross ke stasiun Hull Paragon Interchange. Karena berangkat tanggal 27 siang, kami masih punya waktu untuk berkeliling kota London. Setelah makan siang, Harriet Williams dari British Council mengajak kami untuk melihat koleksi National Poetry Library di lantai 5 Royal Festival Hall, Southbank Centre. Chris McCabe, pustakawan dan penyair kelahiran Liverpool, memandu kami untuk melihat koleksi yang ada di perpustakaan tersebut. Semua hal yang memungkinkan sebagai medium pengarsipan puisi disimpan sebagai koleksi perpustakaan tersebut; buku-buku, majalah, jurnal, pamflet, buku suara, vinyl, hingga baju bertuliskan puisi. Koleksi perpustakaan, menurut Chris, adalah karya para penyair sejak awal abad ke-20. Meski demikian, mereka memiliki banyak koleksi karya para penyair dunia dari berbagai zaman yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan terbit sejak awal abad ke-20.

Beberapa koleksi yang dibanggakan oleh perpustakaan adalah patung dada penyair Dylan Thomas, dan perkamen bertanda tangan para penyair dari berbagai belahan dunia, yang negaranya berlaga di Olimpiade 2012, dan diundang ke London untuk membacakan dan mendiskusikan puisi mereka. Ada tanda tangan Seamus Heaney di situ, tanda tangan yang segera mengingatkan saya untuk mencari koleksi buku puisinya yang ingin saya miliki.

Banyak koleksi perpustakaan yang menyita perhatian saya, tetapi yang paling menyenangkan adalah ketika menemukan Nox, buku puisi Anne Carson. “Nox” adalah nomina bahasa Latin, berarti “malam.” Anne membuka buku puisi Nox dengan Catullus 101 (baca, puisi 101 karya Catullus). Anne menulis Nox untuk mengenang adik laki-lakinya yang telah meninggal. Alih-alih terjebak dalam Catullus 101, Anne justru membongkar puisi tersebut untuk menciptakan karya yang begitu modern. Dalam Nox, berbagai bukti hidup dan perjalanan adik dan keluarganya dibentangkan (prangko, faks, tulisan tangan, foto, sketsa, dll.). Halaman-halaman yang berisi bukti-bukti historis ditempatkan bersisian dengan penjelasan leksikal kata demi kata (dan tasrif) yang digunakan dalam Catullus 101. Kertasnya dibiarkan memanjang seperti akordeon, dan dari bentuk jilidannya kita bisa membaca sejarah sebagai sebuah untaian dari masa lalu yang terus terjalin dengan masa kini. Dalam Nox, kita dapat membaca dua karya dari semangat zaman yang berbeda: menafsirkan palimpsest modern yang ditumpuk di atas sebuah karya klasik.

Seperti Catullus, Anne menyampaikan salam perpisahan untuk saudaranya dengan begitu indah.

Atque in perpetuum frater ave atque vale.
Dan ke keabadian, Saudaraku, salam dan selamat jalan.

Diseret puisi ke hull dan london mario f lawi 1

| Buku puisi “Nox”


Setelah turun dari lantai 5, kami ke toko buku Foyles. Di situ, saya membeli beberapa buku, antara lain, versi Inggris epik Odysseia terjemahan Emily Wilson, yang dalam beberapa aspek mengingatkan saya pada Rosa Calzecchi Onesti, penerjemah karya-karya klasik Yunani dan Latin, terutama epik Ilias, Oddysseia dan Aeneis ke bahasa Italia. Dari Southbank, kami berangkat ke Poetry Translation Centre, membincangkan masalah penerjemahan dan puisi dengan Edward Doegar, Commissioning Editor of Poetry Translation Centre, dan Soe Tjen Marching, penulis dan penerjemah karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Sepanjang berjalan kaki ke stasiun, dapat kami lihat sungai Thames, yang diabadikan Milton dalam salah satu eleginya, dan sangat jelas terekam dalam ingatan saya:

Me tenet urbs reflua quam Thamesis alluit unda,
Meque nec invitum patria dulcis habet.

Kota, yang dibasuh ombak Thames yang mengalir, menahanku,
Kampung halaman terkasih pun menawan diriku yang enggan.

Ada banyak hal yang ingin saya lakukan di London, tetapi karena keterbatasan waktu, saya hanya mungkin mendahulukan hal-hal prioritas, termasuk mencari koleksi cetak Loeb Classical Library, seri buku-buku sastra Latin dan Yunani yang dicetak dwibahasa (Yunani Kuno-Inggris, dan Latin-Inggris), proyek modern berbahasa Inggris paling ambisius untuk mengarsipkan karya-karya sastra berbahasa Yunani Kuno dan Latin. Sebagian besar koleksi Loeb Classical Library hari ini bisa diperoleh dalam bentuk digital, bahkan ada beberapa situs yang sengaja mengarsipkannya untuk diunduh publik. Dari koleksi digital inilah, selama bertahun-tahun, saya membaca karya-karya sastra Latin dan Yunani. Kesempatan berada di London tidak saya sia-siakan untuk mengakses beberapa versi cetaknya, buku-buku yang saya anggap menyenangkan untuk menemani saya di atas kereta menuju Hull, bahkan di atas pesawat ketika kembali ke Indonesia.

Saya beruntung, sebelum makan malam, Harriet Williams membawa kami ke toko buku Hatchard, untuk membeli beberapa buku. Di Hatchard, saya membeli beberapa buku, dan menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencari koleksi Loeb Classical Library. Berkali-kali saya mencari di bagian “Klasik”, berdasarkan rujukan pengalaman di Roma bahwa buku-buku berbahasa Latin dan Yunani Kuno pastilah ditempatkan di rak “Klasik”. Ternyata saya salah. Saat hendak keluar toko bukulah saya baru menemukan dua rak berisi buku-buku koleksi Loeb Classical Library di bagian “Sejarah”. Dengan terburu-buru saya mengambil dua volume Metamorphoses karya Apuleius, antologi buku puisi elegi dan iambik karya penyair-penyair Yunani Kuno, dan salah satu kumpulan tulisan Latin Francesco Petrarca.

Kami berangkat dari Kings Cross Station pada pukul 11.45, 27 September 2019, dan tiba di Hull Paragon Interchange pukul 14.25. Kali ini, saya dan Jamil ditemani Rebecca Hart dari British Council. Di Hull Paragon Interchange, kami disambut patung Philip Larkin, seorang pustakawan dan sosok yang dianggap sebagai penyair Inggris terbesar pascaperang. Ada kutipan dari bait pertama puisi Larkin berjudul “Days” di salah satu ubin dekat patungnya. Saya pertama kali mengetahui Larkin dari buku puisi Seamus Heaney berjudul Seeing Things. Buku puisi tersebut dibuka dengan terjemahan Inggris dari 151 baris (baris 98-148) buku 6 epik Aeneis karya Vergilius yang diberi judul “The Golden Bough”, percakapan antara Aeneas, pahlawan utama dalam epik tersebut, dengan Deiphobe, seorang nabi perempuan, yang sering dikenal dengan sebutan Sybilla Cumae. Tepat setelah terjemahan Inggris tersebut, sosok arwah Larkin muncul di puisi berjudul “The Journey Back”, sambil mengutip terjemahan Inggris awal canto II Inferno karya Dante Alighieri.

Di Hull, Larkin menjadi contoh bagi dunia bagaimana kekayaan gagasan dan sejarah yang ditinggalkan seorang penyair selama hidup dapat jadi daya tarik wisata masa kini. Hull menyediakan paket wisata bernama The Larkin Trail. Dalam wisata ini, wisatawan diminta untuk mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan di sepanjang kota, berupa potongan-potongan puisi Larkin. Tujuan The Larkin Trail adalah untuk menapak tilas bangunan-bangunan, jalan-jalan dan taman-taman yang pernah ditinggali, dikunjungi, jadi tempat kerja dan inspirasi bagi puisi-puisi Larkin.

Ketika keluar dari Hull Paragon Interchange untuk berjalan kaki ke arah hotel Double Tree, sebuah puisi Larkin menggema dalam kepala saya:

From this day forward, may you find
All things more easy and more kind:
May happiness invade each day
And all contentment come to stay.
Remember, by this almanac,
You started giving long ago
Your unconsidered goodness: so
May the world now pay you back.

Selama festival, kami tampil di beberapa sesi, termasuk membacakan puisi-puisi kami dalam bahasa asal dan bahasa terjemahan, yang dimuat dalam antologi I am both stranger and of this place terbitan Wrecking Ball Press, Inggris. Proyek antologi ini bagian dari program lebih besar dipilihnya Indonesia sebagai Market Focus Country di London Book Fair 2019, disusun oleh British Council, Makassar International Writers Festival, Contains Strong Language, BBC dan Wrecking Ball Press, dan didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Bekraf, dan Komite Buku Nasional.

Di hotel, kami bertemu Rufus Mufasa, seorang penyair dan rapper asal Wales. Rufus, bersama Roseanne Watt dan William Wetford, adalah tiga penyair UK yang mengikuti program pertukaran penyair UK-Indonesia dan sebelumnya ada bersama-sama saya, Jamil dan Irma di Makassar International Writers Festival. Setelah makan malam di Hull College, saya, Jamil dan Rufus Mufasa diwawancarai oleh Joe Hakim dan Kofi Smiles dari BBC Radio. Wawancaranya berkisar seputar masalah bahasa, puisi dan penerjemahan. Rufus memiliki kesadaran bahwa bahasa dapat menjadi jembatan dan tembok sekaligus, dan kesadaran itu tercermin dengan baik dalam baris puisinya “I am both stranger and of this place” yang dipilih sebagai judul antologi kami.

Di hari kedua, 28 September 2019, kami memutuskan berkeliling kota sebentar sebelum mengisi sesi pembacaan puisi di Hull Truck Theatre. Hull adalah kota kecil, dan tempat-tempat penting di sana dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Karena hujan, Rebecca memutuskan untuk menyewa taksi untuk kami berempat. Atas rekomendasi pengemudi taksi, kami disarankan ke Kota Tua dan memulai semua perjalanan dari sana. Kami setuju. Salah satu tempat yang menyita perhatian kami di Kota Tua adalah Museum Wilberforce. Wilberforce House adalah rumah kelahiran William Wilberforce, seorang tokoh penghapus perbudakan. Di bekas rumahnya, kami melihat kilasan sejarah perbudakan di Inggris, termasuk catatan harian Wilberforce, rekaman-rekaman tanaman serta narasi-narasi personal.

Ketika kami hendak kembali ke hotel untuk mempersiapkan diri mengisi sesi, saya dan Jamil menyempatkan diri mampir ke sebuah charity shop di Kota Tua, membeli buku-buku yang dihargai 1 Pounds untuk setiap 5 buku. Pada pukul 14.00 hari itu, saya dan Jamil membacakan puisi di Hull Truck Theatre, bersama Joelle Taylor, penyair yang fotonya jadi latar sampul buku program dan kartu pengenal festival. Sebelum sesi kami bertiga, panitia memutar video pembacaan puisi Irma dalam bahasa Indonesia disertai takarir Inggris. Pada sesi itu, saya membacakan puisi-puisi yang saya tulis dalam bahasa Indonesia dan saya terjemahkan ke bahasa Inggris dari antologi I am both stranger and of this place.

Pada hari kedua, kami mengisi dua sesi di Hull Central Library, yakni Indonesian Poetry Exchange, dan Indigenous Language Gala. Billy dan Roseanne telah ada bersama kami. Mereka menanyakan Irma Agryanti dan kabarnya. Rebecca meyakinkan bahwa mereka akan mengusahakan untuk membawa Irma ke Inggris jika bayinya sudah cukup besar. Setelah sesi di perpustakaan, saya bilang kepada Rebecca dan kawan-kawan dari Inggris, jika mereka melakukannya di tahun depan, mereka tentu saja akan memiliki sesi dengan seorang penyair pemenang penghargaan puisi dari Indonesia. Ketika kami membicarakan Irma, buku puisinya Anjing Gunung baru saja masuk shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa, dan tentu saja jadi calon terkuat peraih penghargaan.

Sesi pertama di Hull Central Library adalah bincang-bincang tentang pengalaman selama di Indonesia yang dialami Roseanne Watt, William Letford, dan Rufus Mufasa ketika menjalani program pertukaran penyair di MIWF, dan pengalaman saya dan Jamil yang hidup di Indonesia sebagai negara multilingual dan multikultural. Bincang-bincang yang diselingi pembacaan puisi dalam bahasa asli dan bahasa terjemahan ini dipandu oleh penyair Steve Dearden. Sesi ini dihadiri pula oleh penyair Stewart Sanderson, yang kemudian tampil juga membacakan puisinya bersama kami di sesi Indigenous Language Gala, dan penyair Peter Knaggs, yang cuplikan puisi dari buku terbaru yang diluncurkannya di festival coba kami terjemahkan di akhir sesi, ke bahasa kami masing-masing.

Pada sesi Indigenous Language Gala, kami membacakan puisi-puisi dari bahasa asli dan terjemahan Inggris, bersama para penyair Maghribi, yang karyanya diterjemahkan secara puitis oleh para penyair Inggris berdasarkan terjemahan literal prosaik dalam bahasa Inggris. Para penyair yang membacakan puisinya di sesi ini selain kami berlima, yang telah tampil di sesi sebelumnya, adalah Adil Latefi dan Nassima Raoui dari Maroko, Fadhila Bechar dari Aljazair, dan Victoria Dukwei Bulley, Stewart Sanderson dan Adham Smart dari Inggris. Pembacaan puisi para penyair Maghribi tersebut merupakan rangkaian dari tur Inggris mereka yang didukung juga oleh Modern Poetry in Translation. Pada sesi ini saya membacakan beberapa puisi, termasuk satu puisi yang saya tulis dalam campuran bahasa Indonesia dan Sabu, yang juga saya terjemahkan sendiri ke dalam campuran bahasa Inggris dari antologi terbitan Wrecking Ball Press. Setelah pembacaan, Adil dan Nassima menghampiri saya dan Jamil, mengajak berkenalan dan mengobrol. Adil meminta saya mengulang membacakan terjemahan inggris puisi yang saya tulis dalam bahasa Sabu, dan bertanya apakah anak domba dalam puisi tersebut dapat diasosiasikan kepada anak domba dalam Alkitab. Bisa jadi, jawab saya.

Berdasarkan pengamatan saya, orang-orang tualah mayoritas peserta pembacaan dan diskusi selama festival. Ini tentu berbeda dari kenyataan di banyak acara pembacaan puisi di Indonesia yang dihadiri dan digerakkan oleh anak-anak muda.

Diseret puisi ke hull dan london (3)

| Berfoto bersama di depan kantor Poetry Translation Centre


Saya kembali sendirian ke London keesokan harinya, untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Pada hari yang sama Jamil Massa masih akan mampir ke Manchester, menonton pertandingan antara MU melawan Arsenal, sebuah pekerjaan yang sia-sia menurut saya, karena sejak awal saya yakin MU tidak akan menang dalam pertandingan tersebut, dan jika MU kalah, pengalaman pertama menonton langsung akan menjadi pengalaman traumatik buat Jamil. “Tidak apa-apa,” jawab Jamil, “yang penting nonton langsung.” Baiklah.

Di Hull Paragon Interchange, saya bertemu para penyair Maghribi dan Inggris yang akan melanjutkan tur puisi mereka di London. Stewart Sanderson menawari saya untuk menghadiri acara mereka. Sayang sekali, kata saya, saya hanya punya sangat sedikit waktu di London sebelum berangkat ke bandara, dan waktu tersebut akan saya pakai untuk pergi ke toko buku. Stewart menyarankan beberapa toko buku dekat stasiun.

Dari Kings Cross Station, saya berjalan kaki ke Judd Books, salah satu toko buku yang direkomendasikan beberapa orang teman Indonesia, tidak jauh dari Kings Cross, melewati St. Pancras dan British Library. Di Judd Books, saya membeli beberapa buku, terutama buku-buku puisi, yang dijual dengan harga lebih murah dari harga jual Hatchard. Beberapa koleksi Loeb Classical Library yang tidak saya temukan di Hatchard saya temukan di Judd Books, termasuk tiga volume kumpulan naskah komedi Plautus, untuk melengkapi kumpulan naskah komedinya (dwibahasa Latin-Italia) yang pernah saya beli di Roma pada 2017.(*)


Keterangan foto-foto: Featured image “Penyair Adil Latefi di depan patung Philip Larkin di Hull Paragon Interchange” dan Buku puisi “Nox” oleh Mario F. Lawi. Foto di depan kantor Poetry Translation Centre oleh Harriest Williams.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *