Menu
Menu

“Di Timur Matahari” hendak mengisahkan problematika Papua yang berkaitan dengan pendidikan dan perdamaian.


Oleh: Bernardus T. Beding |

Koordinator UKM Literasi Sastra, UNIKA Santu Paulus Ruteng.


Sebuah daerah perbukitan, pemandangan alam yang indah, seorang anak mengenakan seragam merah putih berdiri di atas bukit, menanti datangnya seorang guru pengganti.

Saat dilihatnya bahwa guru itu tak datang, Mazmur (Simson Sikoway) mengajak kawan-kawannya bernyanyi. Mereka melantunkan lagu “Hymne Guru” dengan penuh semangat. Mazmur memiliki empat orang sahabat yang selalu bersama dan biasa bermain bersamanya. Nama sahabat-sahabatnya itu, Thomas (Abetnego Yogibalom), Agnes, Suryani, dan Yoakim.

Konflik bemula saat Blasius, Ayah Mazmur, menerima uang palsu hasil penjualan burung merpati. Ia pun batal membelikan kaos sepak bola untuk anak dan keponakannya,Thomas. Tidak terima atas kejadian uang palsu itu, Blasius memukul orang yang menjadi perantara dalam perdagangan tersebut. Setelah pemukulan, Blasius mengajak Mazmur ke suatu tempat.

Dalam perjalanan Blasius berpesan, menjadi anak laki-laki itu harus berani dan tidak takut pada apa pun. Saat hendak melewati jembatan, dua orang laki-laki sudah berada di tengah jembatan menghadang mereka. Mazmur mengajak Ayahnya untuk mencari jalan lain tetapi Blasius enggan dan memilih untuk menghadapi dua orang tersebut. Belum sempat berbuat apa-apa, seorang dari mereka, yang adalah ayah Suryani, meluncurkan panah tepat mengenai punggung Blasius. Mazmur menangis sambil berteriak-teriak memanggil-manggil Ayahnya yang telah roboh dan tak berdaya. Beruntung Mazmur dapat melarikan diri dengan menceburkan diri ke sungai saat dua orang tersebut hendak membunuhnya juga.

Kesedihan melingkupi keluarga Mazmur dan juga seluruh warga di kampung itu. Michael (Michael Jakarimenia) dan Vina (Laura Basuki) akhirnya tiba di Papua dan turut serta dalam upacara pemakaman. Alex (Paul Korwa), adik Blasius dan Michael, hendak membalas kematian kakaknya itu tetapi Bapak Pendeta, Michael dan istri Blasius, tidak menyetujuinya. Perdebatan pun terjadi.

Tak lama setelah kematian Blasius, rumah warga diserbu oleh suku lain, dibakar dan dirampas harta bendanya. Hal ini membuat Alex semakin nekat membalas dendam. Ia membakar rumah suku lain yang menyerang kampung halamannya. Dari sinilah peperangan antarsuku terjadi.

Film yang diprakarsai Ari Sihasale beserta istrinya, Nia Zulkarnaen ini, hendak mengisahkan problematika Papua yang berkaitan dengan pendidikan dan perdamaian. Selain itu, panorama alamnya yang indah, sekaligus hendak memperkenalkan Papua melalui film ini. Ia mengambil latar desa perbukitan Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Papua sebagai lokasi syuting.

Di tengah akses pendidikan yang masih minim, sering pula terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pertikaian. Permasalahan antarpribadi, seringkali menjadi persoalan kelompok. Penyelesaian pun tidak hanya dalam ranah hukum secara formal, melainkan juga secara adat-istiadat, tradisi yang telah lama dipegang teguh. Hal semacam ini, menjadi kekuatan tersendiri bagi generasi muda Papua yang tercermin dalam diri Mazmur dan kawan-kawannya. Mereka ingin sekolah, mereka ingin belajar.

Terlihat pula perbedaan pola pikir antara orang yang berpendidikan dengan yang tidak. Mereka yang berpendidikan ada dalam penokohan karakter seperti Pendeta Samuel, Michael, dan Dokter Fatima. Dalam menyelesaikan masalah, mereka cenderung memikirkan duduk permasalahannya terlebih dahulu, untuk kemudian diselesaikan secara kekeluargaan.

Hal ini pula yang menjadi perdebatan antar tokoh Alex dengan Pendeta Samuel. Dari sudut pandang agama, kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan kasih. Bagi hukum adat, membalas adalah hal yang sah sebagai bentuk mempertahankan harga diri.

Dari segi kostum pemain, masyarakat Papua digambarkan telah mengenakan ‘pakaian modern’ (baju, celana,rok). Hal ini berbeda dengan keadaan sesungguhnya masyarakat di sana, tidak semua orang Tiom mengenakan pakaian seperti itu. Sementara untuk tempat tinggal, dalam film ini digambarkan, masyarakatnya masih menggunakan honai, rumah adat Papua. Padahal rumah-rumah di Tiom sudah banyak yang menggunakan papan atau batu bata.

Selain itu, orang asli Papua dikisahkan sebagai masyarakat yang sulit diajak berkomunikasi dengan baik. Hampir segala masalah diselesaikan dengan adu fisik atau perang. Hal ini bertolak belakang dengan bagian akhir cerita, di mana dua kelompok yang sedang berperang dengan mudahnya dihentikan oleh nyanyian seorang anak kecil.

Terlepas dari kekurangan yang ada, tokoh anak-anak dalam film ini, memberikan sudut pandang lain tentang keluguan dan kepolosan mereka, yang memberi warna indah di tengah kehidupan orang dewasa Papua.

Sebelum film ini, Ari Sihasale juga pernah mengangkat kehidupan anak-anak Papua melalui film “Denias”. Berbeda dengan Denias, “Di Timur Matahari” lebih mengarah ke permasalahan yang lebih luas, yaitu pendidikan dan perdamaian yang menjadi masalah, baik untuk orang dewasa maupun bagi anak-anak. Tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan. Semua tergantung bagaimana cara kita mengatasinya saja. Demikian gambaran realitas kehidupan suku di Papua melalui film Di Timur Matahari dari Alinea Pictures ini.(*)

Di Timur Matahari

Sutradara: Ari Sihasale
Produser: Ari Sihasale
Pemeran: Laura Basuki, Lukman Sardi, Ririn Ekawati, Ringgo Agus Rahman, Michael Jakarimilena, Putri Nere, Lucky Martin, Simson Sikoway, Abetnego Yogibalom
Distributor: Alenia Pictures
Tanggal rilis: 14 Juni 2012


Baca juga:
– TEMAN-TEMAN SAYA DALAM NOVEL KAMBING DAN HUJAN
– RUMPLEY: PALA, PUISI, DAN KAMPUNG HALAMAN

Bagikan artikel ini ke: