Menu
Menu

Cara Lain Membaca Sajak Cinta …berbahagialah/ akhirnya ada satu penderitaan/ yang bisa kaupilih sendiri.


Oleh: M. Aan Mansyur |

Lahir di Bone, Sulawesi Selatan. Dia bekerja sebagai pustakawan di Katakerja, sebuah ruang sosial dan ruang kreatif, di Makassar. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: “Aku Hendak Pindah Rumah” (2008) dan “Melihat Api Bekerja” (2015). Bisa ditemui melalui @hurufkecil di Twitter.


Cara Lain Membaca Sajak Cinta

di belakang bising kata-kata
            ada ruang
lapang yang lengang.
kekosongan yang tidak
mampu dikatakan
kata. ke sana

kaudatang

berteriak (berteriak
hingga kau adalah suaramu)

meluapkan airmata
melupakan airmata
menerima
menertawai
merawat
melayat
diri
sendiri

meyakini yang lain (puisi
tempat belajar percaya
karena puisi tidak pernah
meminta percaya)
meragukan (di luar puisi
semua perkara memaksamu
meyakini sesuatu. meragukan
adalah melawan
adalah menghidupkan
hidup)

bertemu masa kecilmu,
berteman sekali lagi
(masa kecil satu-satunya
cita-citamu kini. dengan kata
lain: ketidakmungkinan)

membiarkan kekosongan itu
memasukimu, membiarkan
kekosongan mengosongkan
penuhmu

cuma sedikit, di tengah kenyataan
melimpah & berengsek ini, bisa
kaugunakan bertahan

namun, kaupaham,
adakalanya cuma & cukup
adalah dua kata yang sama
& apabila di sana kautemukan
cinta, di antara seluruh penderitaan
yang menimpa hidupmu, berbahagialah
akhirnya ada satu penderitaan

yang bisa kaupilih sendiri.

.

Pelajaran Menulis Puisi dari Ibuku

setiap pagi
lukislah satu luka dunia
yang kautemukan di tanganmu
& di mata istrimu.

malam hari
pinjamlah krayon
& mimpi anak-anakmu
untuk mewarnainya.

.

Tuhan di Kedai Kopi

tiap pagi aku ke kedai kopi dekat rumah
mencuri dengar kenyataan berhamburan
dari pikiran yang lebam & belum berhenti
mencari

“semalam di dalam mimpi aku bertemu tuhan
untuk aku sembah. dia bernama sakit yang tidak
mau sembuh.”

“aku meragukan tuhan. tetapi aku punya istri
& dua anak perempuan & ibuku semakin sering
diserang keinginan menghindar dari kata-kata
& negara tidak berhenti membunuh kita.”

“segelas kopi yang kugenggam sembari mengenang
hidupku yang terhapus adalah tuhan yang hangat.”

“aku sendiri. tuhan sendiri. aku masih berharap
dia mau berteman baik denganku.”

“apakah tuhan lebih dekat dari hidupku atau matiku?”

kerap kubayangkan diriku penyair. misalnya, pagi ini:
aku memungut mayat-mayat tuhan yang berjatuhan
di antara gelas-gelas kopi & aku ingin menulis puisi

            tetapi menulis puisi berarti mengubah
setumpuk abu jadi hutan; berarti merebut bahasa
yang telah lama kembali ke mulut tuhan.

.

Pukul 7.15 Sehelai Daun Jatuh
di Kaki Jendela Sebuah Dusun

jika aku menulis pagi, yang kaulihat
cuma langit & kesemrawutan di jalan.

jika aku menulis pohon, kauluput
bertanya tentang burung yang mati
di rantingnya, atau api & gergaji
pura-pura mencintai batangnya.

jika aku menulis rumah, selain dinding
& atap & pintu & kehilangan, apa lagi
yang kautangkap?

jika aku menulis negara, puisi ini penuh
orang jakarta berusaha sembuh dari diri
mereka sendiri.

.

Menjemput Anak dari Sekolah

       “When education is not liberating, the dream
       of the oppressed is to become the oppressor.”

                   — Paulo Freire

anak-anak keluar dari mimpi hijau
mereka yang tidak bertepi menyusuri
jalanan riuh & keruh menuju sekolah
agar kelak mau menaburkan serpihanserpihan jiwa mereka di atas bangkai
bunga-bunga.

maksud kami: anak-anak memasukkan
tubuh ke sekolah agar mereka bisa
bebas berkembang & tidak perlu ada
bunga-bunga yang mati.

.

Aku Tidak Ingin Bangun, Tetapi
Aku Tidak Ingin Terus Bermimpi

katanya sebelum sarapan & berangkat
      ke jalan & mati tertembak polisi.

cerita ini mestinya telah selesai sebelum
      tiba di bait singkat ini, tetapi

darahnya menginginkan ingatan
      yang panjang

& kau mungkin butuh tempat
      untuk merasakan merahnya
      lebih lama—

.

Kehilangan

udara september penuh
      berisi bensin & kita
      hanya punya korek api.

banyak kawan mati tertembak.
      mereka terlalu indah untuk dunia
      yang bangsat. sekarang kita tidak
      memiliki pilihan banyak: temukan
      tempat yang hangat buat menangis
      & meledak & merawat segala

      yang tersisa.

kita kehilangan dunia
      setiap kali kehilangan satu orang
      yang kita cinta. apabila kita kehilangan
      satu orang lagi, kita kehilangan dunia
      yang sudah hilang.

.

Pertanyaan-Pertanyaan

apakah hatiku mangkuk kecil yang pecah —
yang alangkah mudah diisi, namun mustahil

penuh? apakah mencintai diri sendiri berarti
menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas

tanpa dasar? mengapa darah lebih api daripada api?
mengapa luka tidak memaafkan pisau — & mata

pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin?
mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan

untuk bisa memahami betapa sedikit pengetahuan
kita? mengapa orang kota bersandar pada humor

untuk bisa bertahan hidup & mengapa orang desa
harus bertahan hidup untuk bisa tertawa? mengapa

usia seseorang tidak dihitung dari seberapa dekat
dia dari kematian? bukankah manusia sudah terlalu

tua sekarang? (seperti puisi ini, tidakkah hidupmu
sudah dituliskan — & ditafsirkan orang lain, bahkan

sebelum kamu bisa membacanya?)

.

Dan

1.

                  di puisi ini aku masih
memikirkan dan
ada, kata ibuku, yang selalu ingin mencuri dan
            dari setiap kata
            dari setiap waktu
            dari setiap benda
            dari setiap aku
                  pertahankan dan-

dan itu. ada ratusan kota dihuni ratusan ribu dan
di mata ibuku. ibuku menjaga kampung-kampung
yang damai penuh dan
            di kepalanya
            di pikirannya
            di nyanyiannya
            di rahasianya

ada negeri berisi ratusan juta dan
tumbuh di tubuh ibuku. ada kehidupan yang rindang
            (dan tak henti-hentinya berbunga;
            dan selalu berbuah) di dalam
            ibuku.
dari sana ibuku melahirkan ribuan aku.

dalam masing-masing aku ada ribuan dan.

2.

istriku: orang lain / orang lain favoritku / pacar lama
yang baru setiap kali kusebut namanya / rumah kami
yang tidak mampu aku beli / selimut lusuh selalu butuh
mesin cuci / matahari pagi / matahari malam hari / mata
waktu yang menolak berhenti berjaga
            pekarangan ditumbuhi bunga-bunga
liar dari hutan hujan api / dirinya sendiri yang tidak
kenal namaku / perasaan berpendar-pendar / lampu
disko di dadaku / kemauannya / ketidakmampuanku
mengendalikan diri / kata yang tidak bisa kulepaskan
dari sunyi / lidah yang merindukan setetes lautan /
kebebasan bumi / hidup yang kupertaruhkan
demi senyum di wajah anak-anak kami—

anak-anak kami: apotek 24 jam / jam rehat panjang /
telaga di ruang tengah / kehidupan yang datang
ke depan kami memohon maaf / petuah-petuah
pendiam / pertikaian yang selalu mampu tidak
terjadi

      pikiran-pikiran di luar waktu / perpustakaan
tua yang ramai / jalan raya yang ramah / kota yang tidak
mengenal kata mereka / mimpi indah tentang negara
yang sungguh baik hati / ketelanjangan yang menutupi
tubuhku / agama yang selalu baru / pasar yang berlomba
memasuki kami / kesedihan yang lain / kesedihan
yang selalu lain / hidup yang kami pertaruhkan
demi senyum di wajah bumi—

3.

atau, seperti tapi,
adalah dan yang telah tercuri

4.

di belakang setiap kata yang bising
di puisi ini ada ribuan ibuku bekerja
membuka kekosongan baru

            yang lapang bagi ribuan dan
            yang akan datang

berbahagialah, kata ibuku. di dalam setiap tetes
kesedihan senantiasa tersedia milyaran matahari

            berwarna-warni
            yang bisa membasuh
            menghangatkan basahnya

            sendiri.
kepada dirimu ucapkan selamat tahun baru
            setiap hari. bangkitlah
            berjalan menuju keberanian

            hidup.

kita butuh mengalami ketakutan lain, selain ketakutan

kepada orang lain               kepada diri sendiri.

kita butuh ketakutan: kehilangan dan
            di antara keduanya
            di dalam keduanya
            di antara perkara-perkara
            di dalam keduanya

            yang banyak
            yang selalu tidak
            tampak itu.


Baca juga:
– PUISI CINTA JAHAN MALIK KATUN
– JANGKA: MASA-MASA EMAS
– CERPEN: KLAUDIUS JATUH CINTA PADA BIDAN MARTA…

llustrasi: Koleksi foto Oliva Sarimustika Nagung

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *