Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta
10 Februari 2020| | 0 CommentCara Lain Membaca Sajak Cinta …berbahagialah/ akhirnya ada satu penderitaan/ yang bisa kaupilih sendiri.
Oleh: M. Aan Mansyur |
Lahir di Bone, Sulawesi Selatan. Dia bekerja sebagai pustakawan di Katakerja, sebuah ruang sosial dan ruang kreatif, di Makassar. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: “Aku Hendak Pindah Rumah” (2008) dan “Melihat Api Bekerja” (2015). Bisa ditemui melalui @hurufkecil di Twitter.
Cara Lain Membaca Sajak Cinta
di belakang bising kata-kata
ada ruang
lapang yang lengang.
kekosongan yang tidak
mampu dikatakan
kata. ke sana
kaudatang
berteriak (berteriak
hingga kau adalah suaramu)
meluapkan airmata
melupakan airmata
menerima
menertawai
merawat
melayat
diri
sendiri
meyakini yang lain (puisi
tempat belajar percaya
karena puisi tidak pernah
meminta percaya)
meragukan (di luar puisi
semua perkara memaksamu
meyakini sesuatu. meragukan
adalah melawan
adalah menghidupkan
hidup)
bertemu masa kecilmu,
berteman sekali lagi
(masa kecil satu-satunya
cita-citamu kini. dengan kata
lain: ketidakmungkinan)
membiarkan kekosongan itu
memasukimu, membiarkan
kekosongan mengosongkan
penuhmu
cuma sedikit, di tengah kenyataan
melimpah & berengsek ini, bisa
kaugunakan bertahan
namun, kaupaham,
adakalanya cuma & cukup
adalah dua kata yang sama
& apabila di sana kautemukan
cinta, di antara seluruh penderitaan
yang menimpa hidupmu, berbahagialah
akhirnya ada satu penderitaan
yang bisa kaupilih sendiri.
.
Pelajaran Menulis Puisi dari Ibuku
setiap pagi
lukislah satu luka dunia
yang kautemukan di tanganmu
& di mata istrimu.
malam hari
pinjamlah krayon
& mimpi anak-anakmu
untuk mewarnainya.
.
Tuhan di Kedai Kopi
tiap pagi aku ke kedai kopi dekat rumah
mencuri dengar kenyataan berhamburan
dari pikiran yang lebam & belum berhenti
mencari
“semalam di dalam mimpi aku bertemu tuhan
untuk aku sembah. dia bernama sakit yang tidak
mau sembuh.”
“aku meragukan tuhan. tetapi aku punya istri
& dua anak perempuan & ibuku semakin sering
diserang keinginan menghindar dari kata-kata
& negara tidak berhenti membunuh kita.”
“segelas kopi yang kugenggam sembari mengenang
hidupku yang terhapus adalah tuhan yang hangat.”
“aku sendiri. tuhan sendiri. aku masih berharap
dia mau berteman baik denganku.”
“apakah tuhan lebih dekat dari hidupku atau matiku?”
kerap kubayangkan diriku penyair. misalnya, pagi ini:
aku memungut mayat-mayat tuhan yang berjatuhan
di antara gelas-gelas kopi & aku ingin menulis puisi
tetapi menulis puisi berarti mengubah
setumpuk abu jadi hutan; berarti merebut bahasa
yang telah lama kembali ke mulut tuhan.
.
Pukul 7.15 Sehelai Daun Jatuh
di Kaki Jendela Sebuah Dusun
jika aku menulis pagi, yang kaulihat
cuma langit & kesemrawutan di jalan.
jika aku menulis pohon, kauluput
bertanya tentang burung yang mati
di rantingnya, atau api & gergaji
pura-pura mencintai batangnya.
jika aku menulis rumah, selain dinding
& atap & pintu & kehilangan, apa lagi
yang kautangkap?
jika aku menulis negara, puisi ini penuh
orang jakarta berusaha sembuh dari diri
mereka sendiri.
.
Menjemput Anak dari Sekolah
“When education is not liberating, the dream
of the oppressed is to become the oppressor.”
— Paulo Freire
anak-anak keluar dari mimpi hijau
mereka yang tidak bertepi menyusuri
jalanan riuh & keruh menuju sekolah
agar kelak mau menaburkan serpihanserpihan jiwa mereka di atas bangkai
bunga-bunga.
maksud kami: anak-anak memasukkan
tubuh ke sekolah agar mereka bisa
bebas berkembang & tidak perlu ada
bunga-bunga yang mati.
.
Aku Tidak Ingin Bangun, Tetapi
Aku Tidak Ingin Terus Bermimpi
katanya sebelum sarapan & berangkat
ke jalan & mati tertembak polisi.
cerita ini mestinya telah selesai sebelum
tiba di bait singkat ini, tetapi
darahnya menginginkan ingatan
yang panjang
& kau mungkin butuh tempat
untuk merasakan merahnya
lebih lama—
.
Kehilangan
udara september penuh
berisi bensin & kita
hanya punya korek api.
banyak kawan mati tertembak.
mereka terlalu indah untuk dunia
yang bangsat. sekarang kita tidak
memiliki pilihan banyak: temukan
tempat yang hangat buat menangis
& meledak & merawat segala
yang tersisa.
kita kehilangan dunia
setiap kali kehilangan satu orang
yang kita cinta. apabila kita kehilangan
satu orang lagi, kita kehilangan dunia
yang sudah hilang.
.
Pertanyaan-Pertanyaan
apakah hatiku mangkuk kecil yang pecah —
yang alangkah mudah diisi, namun mustahil
penuh? apakah mencintai diri sendiri berarti
menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas
tanpa dasar? mengapa darah lebih api daripada api?
mengapa luka tidak memaafkan pisau — & mata
pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin?
mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan
untuk bisa memahami betapa sedikit pengetahuan
kita? mengapa orang kota bersandar pada humor
untuk bisa bertahan hidup & mengapa orang desa
harus bertahan hidup untuk bisa tertawa? mengapa
usia seseorang tidak dihitung dari seberapa dekat
dia dari kematian? bukankah manusia sudah terlalu
tua sekarang? (seperti puisi ini, tidakkah hidupmu
sudah dituliskan — & ditafsirkan orang lain, bahkan
sebelum kamu bisa membacanya?)
.
Dan
1.
di puisi ini aku masih
memikirkan dan
ada, kata ibuku, yang selalu ingin mencuri dan
dari setiap kata
dari setiap waktu
dari setiap benda
dari setiap aku
pertahankan dan-
dan itu. ada ratusan kota dihuni ratusan ribu dan
di mata ibuku. ibuku menjaga kampung-kampung
yang damai penuh dan
di kepalanya
di pikirannya
di nyanyiannya
di rahasianya
ada negeri berisi ratusan juta dan
tumbuh di tubuh ibuku. ada kehidupan yang rindang
(dan tak henti-hentinya berbunga;
dan selalu berbuah) di dalam
ibuku.
dari sana ibuku melahirkan ribuan aku.
dalam masing-masing aku ada ribuan dan.
2.
istriku: orang lain / orang lain favoritku / pacar lama
yang baru setiap kali kusebut namanya / rumah kami
yang tidak mampu aku beli / selimut lusuh selalu butuh
mesin cuci / matahari pagi / matahari malam hari / mata
waktu yang menolak berhenti berjaga
pekarangan ditumbuhi bunga-bunga
liar dari hutan hujan api / dirinya sendiri yang tidak
kenal namaku / perasaan berpendar-pendar / lampu
disko di dadaku / kemauannya / ketidakmampuanku
mengendalikan diri / kata yang tidak bisa kulepaskan
dari sunyi / lidah yang merindukan setetes lautan /
kebebasan bumi / hidup yang kupertaruhkan
demi senyum di wajah anak-anak kami—
anak-anak kami: apotek 24 jam / jam rehat panjang /
telaga di ruang tengah / kehidupan yang datang
ke depan kami memohon maaf / petuah-petuah
pendiam / pertikaian yang selalu mampu tidak
terjadi
pikiran-pikiran di luar waktu / perpustakaan
tua yang ramai / jalan raya yang ramah / kota yang tidak
mengenal kata mereka / mimpi indah tentang negara
yang sungguh baik hati / ketelanjangan yang menutupi
tubuhku / agama yang selalu baru / pasar yang berlomba
memasuki kami / kesedihan yang lain / kesedihan
yang selalu lain / hidup yang kami pertaruhkan
demi senyum di wajah bumi—
3.
atau, seperti tapi,
adalah dan yang telah tercuri
4.
di belakang setiap kata yang bising
di puisi ini ada ribuan ibuku bekerja
membuka kekosongan baru
yang lapang bagi ribuan dan
yang akan datang
berbahagialah, kata ibuku. di dalam setiap tetes
kesedihan senantiasa tersedia milyaran matahari
berwarna-warni
yang bisa membasuh
menghangatkan basahnya
sendiri.
kepada dirimu ucapkan selamat tahun baru
setiap hari. bangkitlah
berjalan menuju keberanian
hidup.
kita butuh mengalami ketakutan lain, selain ketakutan
kepada orang lain kepada diri sendiri.
kita butuh ketakutan: kehilangan dan
di antara keduanya
di dalam keduanya
di antara perkara-perkara
di dalam keduanya
yang banyak
yang selalu tidak
tampak itu.
Baca juga:
– PUISI CINTA JAHAN MALIK KATUN
– JANGKA: MASA-MASA EMAS
– CERPEN: KLAUDIUS JATUH CINTA PADA BIDAN MARTA…
llustrasi: Koleksi foto Oliva Sarimustika Nagung
