Puisi-Puisi Irzi – Gema yang Memantul di Tulang Rusuk
20 April 2026| | 9 CommentsRadio yang dulu berteriak,/ menjadi gema yang memantul di tulang rusuk./ Dia mengiris udara dengan tangan telanjang,/ memotong transmisi …
Oleh: IRZI |
Penyair dan penulis asal Jakarta, nom de plume dari Ikhsan Risfandi. Ia memulai perjalanan kreatif sebagai gitaris jazz sebelum berfokus pada puisi dan cerpen. Karya-karyanya dimuat di berbagai media sastra dan arus utama. Buku puisinya Ruang Bicara terbit pada 2019, disusul Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Pada 2026, ia terpilih sebagai emerging writer Ubud Writers & Readers Festival. Karyanya dipengaruhi kultur pop, musik, sinema, teknologi digital, serta dinamika modernitas generasi Betawi pascareformasi.
Kepada O. Rusmini
Anakku, garis yang kau gores dulu
kini kubaca sebagai progresi.
Tiga pusat nada berputar diam—
B, G, Eb—
seperti surya yang gegas terbenam.
Dunia tiba-tiba berganti kunci.
Orang-orang menyebutnya sejarah,
aku menyebutnya berubah arah.
Di luar, menara-menara masih dibangun
via akor mayor utuh, jauh dari santun.
Namun di sela napas kota
ada pola tersembunyi:
siklus terts besar
melompat tanpa memberi aba-aba.
Begitulah hidup belajar berjalan—
seperti langkah gergasi,
melampaui jembatan dengan elegan.
Jika suatu hari kau menggambar lagi,
ingat:
garis adalah nada yang melesat
mencari rumahnya di telinga Shiva.
2026
.
Kepada D. Oktaviani
Bisakah puan bayangkan malam menjadi—
hitam hakiki, bergetar diam
di ujung jari piano kuno
nada disonans, terdengar pelan.
Gelap menjadi senyap jika gaung
apa adanya, tetap ada apanya
sepi membekap nada, tetap saja
malam membawa sipongangnya sendiri
& kumandang membawa kelam
kelam menjadi dengung, jarang terdengar
Itulah getar dari gema
kata muram lahir di lorong kota.
Penjaga memegang jelaga dalam kumandang
Gaung menjadi gema kembali
Malam-runyam dimainkan lagi
Seperti 230 senar baja bernapas.
Beta menahan diam
yang mengingatkan pada dara,
menahan sipongang yang patah
dari 88 bilah Steinway 1928.
Bisakah nona membayangkan gelap menawan
gegap & menjadi gegap itu sendiri?
kata sayu muncul untuk legam
dalam gaung, menanggung suwung.
Akhwat berhijab aswad tetap terlihat
lewat pikat penuh muslihat
& malam menjadi gemetar coda piano
serupa gentar gaungnya sendiri.
2026
.
Kepada C. Hariadi
Suatu hari Cica berjalan di pasir pantai.
Seekor Kokokan melompat dari batu ke batu, menukik.
Matanya, manis & sedikit sinis, menatap gerak acak.
Burung itu berputar, mengubah arah, serupa
frase kilat yang ditiup Charlie di antara akor F7, B♭7, D7.
Hari berikutnya, Cica duduk di dermaga kayu,
& melodi tiba-tiba muncul dari langit senja:
Ornithology—satu sayap mengawali yang lain,
saling menimpa, saling menantang, tiap
catatan melompat, seolah mengejar riak ombak.
“Apakah kau melihat itu?” pikirnya,
sebuah interval kecil, lalu interval besar,
& burung kembali mengulang motif di angin asin.
Tiap lompatan membawa Cica ke satu kesadaran:
bahwa gerakan kecil bisa membentuk musik yang melenakan.
Di musim semi, burung-burung & langkah kaki Cica
terbaring di pasir basah, berkilau di bawah matahari jingga,
sementara konjungsi gelombang berbisik: “Dan! Tapi!”
Namun senyum simpul Cica tetap hadir
di antara nada menghulu & menghilir.
Saat frase musik itu hilang di sela muara,
Cica tersenyum, tersihir oleh kerumitan sederhana:
satu gerak sayap, satu pantulan cahaya di air.
Satu detik improvisasi yang tak bisa diulang,
hingga seluruh pesisir menjadi panggung pelesir.
& aku, yang mengamati dari jauh, tertawan
dalam mata, telinga, tangan kecilnya—
terpesona oleh banyak gerak Kokokan,
yang tak akan pernah terelakkan
hingga seluruh bahasa kembali ke debu
& musik perlahan lesap ke dalam kalbu.
2026
.
Kepada D. R. Herliany
Antena di dada, tertanam—
gelap akor, berdentum via contrabass.
Dia mematikan siaran, satu per satu, perlahan
dari kanal yang menarik mata pejantan binal.
Di lorong dingin, jam berulang,
kata-kata seperti tunggul kayu terbakar:
“Setiap nada yang kau unggah,
akan kuubah jadi cegah.”
Sinar lampu melewati jendela bergetar,
hal-hal tak kasat menari di udara.
“Dari sini, aku membuat ritme sendiri,”
suara rendah, patah, seperti pola triplet ekatantri.
Radio yang dulu berteriak,
menjadi gema yang memantul di tulang rusuk.
Dia mengiris udara dengan tangan telanjang,
memotong transmisi, meredam gelombang.
Di halaman belakang pikiran,
kata “merdeka” berputar,
& bayangan pria yang tinggal
hanya mengulang motif minor usang.
Dia tersenyum, tanpa permisi,
“riangmu penuh angkuh, tapi aku lebih ampuh,”
seperti solo sax yang menolak akor,
melayang di masa sanggama tanpa asmara.
Di ruang kosong, antena redup
tapi musiknya terus hidup,
pola-pola kaki & nada bersitegang
mengubah udara berbau tembelang.
Tiap denyut, tiap degap,
menjadi jejak di tanah gelap,
& dunia lelaki di luar sana, hanya
gema sumbang dari ihwal haleluya.
Hanya Dorothea yang paham umpama
betapa mudah membungkam transmisi,
sementara diri melanjutkan improvisasi
di moda minor mol lima.
2026
.
Kepada Madam T. Heraty
Di Village Vanguard, senja luruh via jendela,
dia mendengar bass bergetar perlahan di udara,
lembayung angkasa meresap ke ruang kayu tua,
piano menyentuh akor minor seperti hati rawan,
Chandelier bergetar pada bayanganmu, & aku
berdiri di antara catatan sajak usang, menunggu
Blue in Green memeluk kota kala dini hari sekali.
Di studio Columbia, aku mencintai laut & langit,
tiap riak memantul seperti trumpet Miles, kenes
warna jingga bertabrakan dengan bayangan gedung tinggi,
dia menyusur tiap nada yang mengalir di antara birama,
melodi mayor membelah udara, berputar, & kembali,
mengubah petang menjadi ruang hampa nostalgi,
di mana rima & jeda melebur di hati kita, bertiga.
Di New York yang dingin, simpang & lampu bertemu di pikiran,
aku melangkah di trotoar yang basah, menggumam frase piano,
& tiap derap adalah interlude yang mustahil diulang,
seperti Blue in Green, lambat, menderu, mengambang,
malam merenggut petang, meninggalkan ruang untuk pulang,
& dia di sini, menyimak trumpet, contrabass serta snare drum
memberi waktu 12 birama agar kau leluasa mencumbu aku lalu waktu.
2026
Ilustrasi: Musical Instruments (Giorgione), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Gody Usnaat – Sahabat Anana Pedalaman
– Muhammad Aswar – Mencium Bau Mesiu di Sela Titik dan Koma
– Dhimas B. Shofyanto – Neraka yang Tak Menginginkan Tubuh-Tubuh Lagi

sangat berguna sekali
yang bagus di buat
hujan turun deras.
air jatuh perlahan
gpp
Bacaan ini sangat bermanfaat dan ada hikmah yg bermanfaat terkandung dalam puisi tersebut
sangat bagus
cukup bagus dalam penyairan nya dan sastra dalam puisi tersebut
menarik dan bermanfaat
sanggat menarik dan sanggat berguna