Puisi-Puisi Dhimas Bima Shofyanto – Neraka yang Tak Menginginkan Tubuh-Tubuh Lagi
20 November 2025| | 7 Commentstulang-tulang ringkih yang diubah jadi arang terakhir penahan golak api. neraka yang tak menginginkan tubuh-tubuh lagi.
Oleh: Dhimas Bima Shofyanto |
Lahir di Jombang, 12 November 2002. Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergiat di Jejak Imaji. Menulis prosa dan puisi. Dapat dihubungi melalui akun Instagram @dhimasbimash.
Rumput Putih
kuhitung kembali liar rumput
putih pada kepala yang gemar
kau siangi tiap kali
mendung menahan pagi.
telunjukmu mengetuk pinggir dahi
memikirkan mimik maut
yang menggelayut pada gemerincing
kaca-kaca obat di alas besi.
tanganmu membutuhkan
seberkas
surat kepemilikan senjata.
di meja tergeletak jasad
kertas tagihan hutang &
tolakan pencairan asuransi.
pupilmu memutar
mulutmu merapal
sepotong rintihan
tanpa nama tuhan.
lengang putih ruangan
tetiba terasa
lebih mati
dari mati.
2025
.
Mengasuh Lidah Api
mencintaimu adalah melonggarkan juntai kabel listrik sedunia. hubunganmu dengan hembus kepak kecoak terbang patut diselidiki. juga lamunanmu akan geletar sayap laron tanpa cahaya. kau telah membiarkan seseorang mati. di ruang putih di mana buku-buku tak memiliki sedikit tempat. mencoba menebus rasa bersalah dengan sajak-sajak tak seberapa. kau tau kata-kata bukan air. tubuhnya sesekali oksigen yang merawat api seperti timangan malaikat zabaniyah.
2025
.
Melapukkan Permulaan
kakimu berayun sampai matahari
mereplika ledakan mula-mula
dan banjir keringat menelagakan
belas lubang ubun-ubunmu.
bekas tetakan kecil geraham
rayap yang mengikis rangka dapur
dan mengudar simpul tali suci
selayak serangga pemanggil sedu
setan dan jin puluh kafilah
lewat lubang-lubang kecil
tongkat sulaiman di suatu masa.
2025
.
Menimbun Batu Api
ketika bayi-bayi lain dunia
hangus oleh tatapan kosong
orang dewasa, kau baru
menyadari hidup seekor gagak
pencengkeram batu dalam dirimu.
gagak itu hanya mampu
mengeja beberapa huruf.
gagap
melontarkan
satu kalimat utuh.
anakmu mengajarinya dengan
menunjuk nama bangkai-bangkai
hewan di halaman belakang.
yang dapat diejanya
ha-nya
a-larm
ke-mati-an.
tiap sore cakarnya mengumpulkan
amarah saudaramu yang terselip
di tiap jengkal tanah hitam
sebidang lahan warisan
yang kau campakkan dua tahun penuh:
batu-batu yang akan beterbangan
selayak titik-titik gerimis
pengundang uap panas.
sekawanan burung
yang dilepas dari retak neraka
ketika malammu mendadak
menjelma lorong
kedap tanpa gema.
2025
.
Memindahkan Kutukan
tubuhmu terselip di antara bau tanah dan debu buku terbitan lama. ada yang selalu ingin kau lupa. selain dapur dan keinginanmu dalam membangun kembali puing-puingnya: perajangan atas huruf-huruf surga, nama-nama tuhan, kisah-kisah nabi di atas mezbah.
mimpimu tulang-tulang ringkih yang diubah jadi arang terakhir penahan golak api. neraka yang tak menginginkan tubuh-tubuh lagi.
2025
Ilustrasi: Untitled (Columns of Fire) (Theodoros Stamos), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Galeh Pramudianto – Parseltongue
– Puisi-Puisi Dian Hardiana – Cinta dalam Matematika
– Puisi-Puisi Husni Nasution – Kita Bukan Tersesat Setelah Lupa Mau ke Mana

ceritaa nyaa cukup menarikk dengan bahasa yang bakuu bagusss bangettt
lumayan seru baca cerita nya
Keren.. menyenangkan untuk mengambarkan moment peristiwa yang ada
bagus banget
keren banget
Cerita nya bagus dan menarik
Bagusss bangettt