Puisi-Puisi Muhammad Aswar – Mencium Bau Mesiu di Sela Titik dan Koma
10 Juli 2025| | 4 CommentsPuisi-Puisi Muhammad Aswar – Mencium Bau Mesiu di Sela Titik dan Koma
Oleh: Muhammad Aswar |
Penerjemah dan editor lepas, alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (2021).
Simurgh Tidak Datang
Kami menunggu burung agung itu,
sayapnya dari hikmah, paruhnya dari kesabaran.
Tapi langit hanya mengirim rudal.
Kami panggil ia dari halaman belakang masjid,
dari dahi yang mencium tanah retak,
dari doa yang tak dijawab.
Tapi Simurgh tidak datang.
Hanya asap, dan nama-nama
yang hilang
dari daftar pemakaman.
.
Shiraz dalam Surat Terakhir
Aku menulis padamu dari kota yang tak bisa kulihat,
hanya reruntuhan angin dan wewangian safron
yang menyisakan sedikit dari cinta.
Di antara puing buku dan pecahan teko,
aku temukan selembar puisi Saadi,
terbakar sebagian,
namun masih berkata:
“Manusia itu satu tubuh.”
Tapi tubuh siapa yang masih utuh hari ini?
.
Qom dalam Waktu yang Terpotong
Kota suci tidak menyala malam ini.
Jalan-jalan dilipat seperti sajadah tua.
Anak-anak berhenti menghafal surah,
sebab suara azan
terpotong ledakan sebelum mencapai langit.
Di madrasah, seorang guru berkata:
“Ini bukan akhir zaman,
hanya dunia yang bosan berputar.”
.
Guci dari Nishapur
Di pasar gelap reruntuhan,
seseorang menjual guci dari Nishapur.
Katanya, dulu pernah berisi puisi.
Tapi sekarang hanya serpih debu
dan huruf-huruf yang tak bisa dibaca lagi.
Seorang bocah memegang guci itu
seperti peluk tubuh terakhir ibunya.
.
Surat dari Kota yang Hilang
Ini surat dari kota yang hilang.
Tidak ada perang dalam kata-kata ini,
tapi kau akan mencium bau mesiu
di sela titik dan koma.
Kami menulis dengan tangan gemetar,
bukan karena takut,
tapi karena terlalu banyak
yang ingin diingat.
.
Rumah Hafez, Tanpa Puisi
Di halaman rumah Hafez,
tak ada syair yang digantung malam ini.
Hanya sehelai karpet yang robek,
dan seekor kucing yang mengendus darah
di dasar guci pecah.
Aku duduk di sana,
menyimak hening yang dulu puisi,
kini hanya bunyi langit yang runtuh.
.
Isfahan Tidak Menyala Lagi
Kubah-kubah biru kini menghitam,
tak ada gema langkah di jembatan Si-o-se Pol.
Seseorang pernah menyanyikan syair Hafez di sini,
tapi sekarang hanya burung-burung mati
yang menjatuhkan bayangannya ke sungai.
Isfahan, kota keindahan,
apakah engkau masih percaya pada cahaya?
.
Mimpi yang Tersesat
Malam itu aku bermimpi:
aku naik bus ke Shiraz,
membaca puisi Rumi di lorong jalanan,
dan mendengar seseorang tertawa
di balik tembok taman.
Tapi ketika aku bangun,
hanya sirene.
Dan serpihan kaca.
Mimpi itu tak tahu jalan pulang.
Ilustrasi: Smoke Me (Paula Klien), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Imam Budiman – Mencatat Kegamangan Lain
– Puisi-Puisi Dian Hardiana – Cinta dalam Matematika
– Puisi-Puisi Royyan Julian – Ratapan Hantu Nipah

Puisi yang mendewasakan wawasan.saluut.
cerita sangat menarik dan nyambung ini juga sangat jelas tidak belibet cerita nya
sangat bagus dan juga menarik
itu sangat menghanyutkan
aku merasa terenyuh saat membaca nya
terhanyut suasana didalamnya