Menu
Menu

Sikap Komunitas Lima Gunung yang membiayai festival sebagai swasembada petani dari kelima gunung, membuat mereka memiliki kebebasan …


Oleh: Afrizal Malna |

Dikenal luas sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator, penyair, dan penulis. Telah meraih sejumlah penghargaan, seperti Kusala Sastra Khatulistiwa dan S.E.A Award Write Award. Buku-bukunya nya antara lain: Promotheus Pinball (202), Morning Slanting to the Right (2021), Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (2023), Performance Art (dan Medan Pasca Seni) (2023), Revisi Telur Dadar Mentah (2023).


Kita akan memulai pembicaraan ini melalui sebuah video pertunjukan Komunitas Lima Gunung. Video ini merupakan bagian dari acara “5 Tahun Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Asian People’s Dialogue 2”, berlangsung di Cibubur 19 September 2002. Mari kita lihat video mereka.

Yang paling menggoda kita dalam video ini adalah “energi”. Musik dan gerak mendistribusi energi ke berbagai arah, seperti gelombang yang saling menyambut dan berpelukan. Pertunjukan ini memang dirancang berlangsung di atas bangunan dua lantai dengan pipa besi (scaffolding), berdiri hampir pada bagian tengah kolam yang terdapat di Cibubur. Jadi, pertunjukan bisa disaksikan dari berbagai arah. Pada arah mana pun kita menyaksikan, energi itu terus datang bergulung-gulung, menciptakan semacam aura mistis: seluruh yang berada dalam area pertunjukan seolah-olah masuk ke dalam sebuah ikatan bersama dalam energi magnetis itu. Sutanto sebagai dirigen pertunjukan, melakukan perannya sambil berlari-lari ke berbagai arah, juga menjadi sebuah pertunjukan tersendiri: liar, panas, mendidih, transenden, dan katarsis berlangsung sebagai semacam pengalaman purba.

Tahun itu, 2002, usia Festival Lima Gunung baru 2 tahun. Mereka mulai hadir pertama kali pada tahun 2000. Sejak awal saya sudah mengikutinya bersama Mualim M. Sukethi, seorang pekerja film lulusan IKJ, yang kini sudah almarhum. Keluarga Mualim tinggal di lereng Tidar, Kabupaten Magelang. Jadi berbagai mitos tentang gunung-gunung yang melingkari Magelang (Gunung Sumbing, Andong, Merbabu, Merapi, Menoreh) bersama dengan candi Borobudur, dilihat sebagai konsep mandala dalam ruang Jawa. Ini semua saya dengar melalui Mualim. Hormat saya kepadamu.

Judul pertunjukan di Cibubur itu mungkin akan membuat kita terhentak, kemudian terdiam, kemudian entah apa lagi yang akan terjadi, yaitu: “Topeng Kontol Trias Politika”. Nama dari kemaluan lelaki ini bisa hadir dalam lingkaran istilah-istilah bocor lainnya seperti “asu”, “celeng”, “taek” dalam pergaulan dengan anak-anak gunung. Spektrum tabu yang bisa menghangatkan pembekuan norma-norma etis. Transformasi ungkapan-ungkapan yang tidak direstui oleh lembaga moral kita sebenarnya berhamburan di mana-mana, seperti “anjing deh lo”. Dan kini menjadi lebih halus sebagai “anjir” oleh kalangan milenial, generasi Z, maupun generasi Alpha. Menyebar antara kota dan desa melalui transportasi media sosial. Lalu kenapa ada “Trias Politika” dalam judul itu? Sebuah bola liar yang diredam melalui kondom, kalau kita mau menariknya ke bagaimana kita membangun budaya demokrasi dalam bayangan laten feodalisme, otoritarianisme, dan bayangan kelam Orde Baru.

Pertunjukan yang di antaranya menggunakan tradisi Topeng Ireng dari Warangan, Merbabu ini, hidung pada masing-masing topeng mereka dibungkus dengan kondom yang menjuntai. Menurut saya inilah inti dari kesenian rakyat. Seni yang tidak bertujuan pada kesempurnaan, keindahan, keagungan. Melainkan pada kebersamaan, saling menggoda untuk saling terlibat, cair, tidak berjarak, komunikatif, dan menghasilkan persepsi sebagai gravitasi kolektif yang inklusif. Pelumeran individu dari ilusi kompetitifnya kemudian bergeser sebagai momen kolektivitas.

Komunitas Lima Gunung tidak semata-mata tumbuh dalam budaya agraris, lebih dari itu mereka tumbuh dalam budaya gunung, dan tidak cuma satu gunung, melainkan lima gunung. Gunung-gunung di Jawa Tengah ini saling beririsan antara Kabupaten Magelang dengan Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Wonosobo.

Gunung-gunung di Jawa Tengah, karya lithografi Franz Wilhelm Junghuhn 1809-1864, Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam. Foto Afrizal Malna dari pameran Biennale Berlin 2014

Setelah kemerdekaan, keberadaan petani-petani Lima Gunung ini kian menjauh dari teritori kuasa Kraton Yogyakarta (di samping Raja juga bertugas sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta – bukan Jawa Tengah). Kesenian mereka yang berbasis ritual, dan terhubung dengan bumi, gunung, hutan, sungai, sumber air, panen, perkawinan, kelahiran, kematian, tumbuh bebas bersama dengan perubahan yang berlangsung di desa atau dusun mereka. Dalam pertumbuhan ini kita bisa melihat praktik-praktik lintas budaya berlangsung sebagai bagian dari denyut kehidupan petani. Apa yang terjadi pada Festival Lima Gunung, sejak tahun 2000 hingga kini, adalah produksi pengetahuan lokal yang kaya dari budaya gunung, yang usianya menjelang 25 tahun. Gunung merupakan kosmologi yang mengikat dan menjadi ikatan identitas kultural yang diusung oleh Festival Lima Gunung.

Gunung merupakan kenyataan geohistoris kita,[1] terutama Jawa yang dihuni oleh banyak gunung berapi aktif, dan yang terus memperbaharui kenyataan geohistoris ini melalui letusannya. Kata-kata seksis, seperti “kontol” tadi, merupakan bagian literasi budaya gunung. Dalam kitab “Tantu Panggelaran” yang ditulis sebagai kidung pada masa Majapahit, dan merupakan bagian dari literasi asal-usul peradaban Jawa, kita bisa bertemu dengan kisah bagaimana nama-nama gunung dibuat.

Festival Lima Gunung 2 artikel afrizal malna di sumbing

Pagi di sebuah dusun di Sumbing, 3 April 2012. Foto: Afrizal Malna

Suatu saat, dalam bagian kitab “Tantu Panggelaran”, Bhatara Guru menguji kesetiaan Bhatari Uma. Ia menyamar menjadi seorang gembala yang tampan dan mulai menggoda Uma. Bathari Uma tergoda oleh susu lembu betina hitam yang dimiliki sang gembala. Bujuk rayu untuk mendapatkan susu itu membuat Uma kemudian terpaksa jalan berpasangan dengan sang gembala. Kegundahan hati Uma terhubung dengan nama sebuah gunung: “Gunung Wirih Ati”.

Akhirnya Uma dan gembala bersenggama, tapi Uma hanya memberikan betis pada lipatan lututnya yang menyerupai vagina, dan sang gembala tidak tahu trik ini. Kisah ini terhubung dengan nama sebuah gunung: “Gunung Persenggamaan”. Air mani sang gembala yang tercecer, ditimbun oleh Uma dengan tanah, dan jadilah Gunung Merapi. Sementara susu lembu betina hitam kemudian dituang ke tanah, dan menjadi mata air.[2]

Suatu hari di sebuah dusun, mungkin di Sumbing, mungkin di Merbabu, hujan dan kabut tebal menyelimuti tubuh dusun. Warga tetap biasa pergi ke ladang atau mencari pangan ternak dengan mengenakan mantel hujan, menembus hujan dan kabut. Tua, muda, perempuan, lelaki, menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Setelah hujan mereda, saya sempat menyaksikan ritual seorang anak yang mulai belajar berdiri. Telapak kakinya, dalam ritual itu, mulai diajari untuk menyentuh tanah. Kita bisa tahu, di balik ritual ini, sang anak sebenarnya sedang diperkenalkan dengan tekstur yang berbeda antara tanah dan lantai rumah. Kemudian telapak kaki anak itu juga mulai diperkenalkan dengan anak-anak tangga dari bambu yang membawa tekstur berbeda lagi. Membawanya ke pengalaman multisensori dalam konteks alam dan manusia gunung.

Berbagai ritual dalam budaya gunung dan kehidupan sehari-hari mereka, merupakan bentuk budaya performatif bersama dengan lanskap visual alam pegunungan. Budaya performatif dimana keindahan hidup berdampingan dengan bencana. Menurut Bronislaw Malinowski, ritual yang berhubungan dengan lingkungan, akan meningkat sejalan dengan tingkat risiko yang dihadapi manusia dalam menghadapi lingkungannya[3]. Teori determinisme lingkungan ini membuat garis tebal bahwa alamlah yang menentukan kebudayaan. Dalam kitab “Nitisastra”, kitab yang diperkirakan dibuat pada masa akhir Majapahit dalam bahasa Jawa Kuno, determinisme ini tampak pada metafor hubungan antara singa dan hutan. “Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa meninggalkan hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang. Singa yang lari, bersembunyi di dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu orang dan dibinasakan.”[4] Dan dalam konteks budaya Bali, Ida Bagus Dharmika melihat:

“Gunung dan hutan telah membesarkannya, menyuapinya, memberinya tugas, mengarahkan pikirannya, mempertemukannya dengan kesulitan-kesulitan. Hutan merasuki tulang dan jaringannya, benak, dan jiwanya. Di gunung-gunung, tanah memberikannya otot kaki yang membaja untuk mendaki lereng.”

Pandangan determinisme lingkungan itu tidak semata terhubung dengan tubuh gunung, melainkan juga spiritualitas gunung dalam tradisi bagaimana model sekolah gunung berlangsung sejak seorang anak belajar berdiri dan kemudian mulai menari melalui tradisi Jathilan maupun Topeng Ireng. Dalam Festival Lima Gunung, kalau kita melihat instalasi kursi tinggi seperti menara pengawas, dan terbuat dari bambu, instalasi ini merupakan bagian dari inspirasi ritual anak mulai menyentuh tanah.

Festival Lima Gunung 3 artikel afrizal malna komunitas lima gunung

Komunitas Lima Gunung, Sumbing, 2012. Foto: Afrizal Malna

Salah satu dari instalasi kursi bambu ini kita temukan dalam Festival Lima Gunung tahun 2020, pada masa covid-19, dan diselenggarakan di daerah ditemukannya candi baru di Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo, lereng Merapi. Ini merupakan festival yang khas, karena sebagian acara berlangsung di atap rumah, sebagai respons pembatasan ruang gerak sosial karena pandemi. Dan mengusung tema “Donga Slamet, Waspada Virus Dunia”.

Menjauhnya relasi kuasa Kraton Yogyakarta dalam konteks transformasi budaya gunung, bisa kita tatap sebagai evaluasi atas pengaruh Indianisasi yang berlangsung hampir di seluruh sejarah kerajaan di Jawa setelah berakhirnya Sriwijaya. Dalam salah satu bukunya, Tim Hannigan menulis:

“Mengingat bahwa sebagian besar wilayah Kepulauan kemudian berada di bawah pengaruh dua atau bahkan tiga agama besar dunia, mudah untuk berasumsi bahwa tidak ada jejak dari apa yang terjadi sebelumnya yang mungkin tersisa. Namun, lihatlah Indonesia dalam cahaya yang tepat dan garis besar aslinya masih terlihat hingga saat ini—tempat-tempat di mana segelintir orang yang teguh hati masih berpegang teguh pada sebutan agama yang tidak sah sebagai ‘yang lain’.”[6]

Saya membawa wacana Tim Hannigan ke dalam tulisan ini, dalam bayangan samar Kapitayan, agama kuno di Jawa, untuk membuka perspektif skala perubahan antara masyarakat pesisir dan masyarakat gunung yang berbeda. Gunung dalam literasi kita hampir selalu diposisikan dalam konteks budaya agraris. Sementara saya melihat gunung lebih spesifik daripada dilihat sebagai model budaya agraris. Mungkin karena itu juga gunung tidak banyak hadir dalam praktek-praktek seni rupa, seni pertunjukan, maupun sastra. Dan Festival Lima Gunung merupakan pelopor untuk bagaimana kita menatap ulang budaya gunung. Di bagian Timur Jawa, terutama mandala yang berpusat pada gunung Pawitra (gunung Penanggungan di Mojokerto), gunung ini dalam kitab Tantu Panggelaran merupakan rumah para dewa. Sementara di Jawa Tengah, terutama Merapi, gunung merupakan keraton untuk makhluk-makhluk spiritual.

Lukisan Raden Saleh tentang erupsi gunung merapi pada malam hari

Raden Saleh: “The eruption of mount Merapi at night”, 1866. Koleksi National Gallery Singapore

Makhluk-makhluk ini, yang juga disebut sebagai Dhanhyang, yang mendiami tempat-tempat strategis seperti gunung, sumber mata air, sungai, desa, mata angin, atau bukit. Makhluk-makhluk kramat ini bisa kita temui dalam berbagai nama: Kyai Sapu Jagad, “kyai Merapi”, “Empu Rama dan Permadi”, “Kyai Petruk”, “Nyai Gadung Melati”, “Eyang Antaboga”, “Kyai Branjang Kawat”, dan lain-lain.[7] Nama-nama makhluk spiritual ini merupakan bagian dari pengetahuan lokal Jawa yang disebut sebagai “Titen”. Sebuah istilah dengan spektrum pengetahuan maupun pengalaman lokal untuk mengamati fenomena alam, termasuk menandai bencana gempa atau letusan gunung yang akan terjadi sebagai mitigasi lokal. Titen sebagai pengamatan atas perilaku hewan di gunung, perubahan tanaman, suara gemuruh gunung, udara panas sebagai penanda bahaya erupsi akan terjadi.[8]

Konsep Titen dalam budaya gunung dan tradisi Jawa, tampak dalam polemik menghadapi sikap pembangkangan Mbah Maridjan yang menolak dievakuasi walau telah diperintahkan oleh Raja (Hamengkubuwono X) menjelang meletusnya Merapi tahun 2010. Sebagai Juru Kunci Gunung Merapi, dan bertanggung jawab menjalankan Titen untuk komunitas Merapi, meninggalkan Merapi sama dengan mengingkari dirinya sebagai bagian dari tubuh gunung. Konsep tubuh gunung inilah yang dipertahankannya hingga ia disapu awan panas pada erupsi Merapi, 26 Oktober 2010.[9]

Merapi sebagai laboratorium pengetahuan bersama bagaimana Titen dipraktikkan, mulai menjadi tatapan baru setelah kematian Mbah Maridjan. Usia gunung Merapi yang diperkirakan sekitar 400.000 tahun, sebenarnya merupakan gunung paling intens mendapat perhatian para pengamat, karena siklus letusannya yang berlanjut. Tepat 200 tahun pada tahun 2020, pemerintah Belanda baru mendekati Gunung Merapi tahun 1820, setelah meletusnya Tambora (1815). Yaitu melalui pendakian HG Nahuijs bersama S. van de Graaf, P. Merkus en H. MacGillavry hingga ke puncaknya. Media Bataviasche courant baru memberitakan letusan Merapi pada erupsi tahun 1823. Kemudian setelah memetakan gunung-gunung di Sumatera, Junghuhn mulai melakukan pemetaan gunung-gunung di Jawa.[10]

Titen sebagai mitigasi lokal, praktiknya dapat kita temui pada bagaimana perubahan musim dicatat dalam “Pranata Mangsa” sebagai kalender Jawa yang menjadi acuan petani untuk menanam. Kalender ini disusun sangat puitis dengan berbagai metafor. Musim Saka sebagai musim pertama (22 Juni – 2 Agustus), misalnya, ditandai dengan daun-daun mulai berguguran, kayu mengering, belalang masuk ke dalam tanah. Tanda yang diungkapkan dengan metafor “permata lepas dari cincin pengikatnya”.[11] Pranata Mangsa kini berhadapan dengan perubahan musim yang ekstrim, hingga perlu diperbarui bersama peran petani yang juga bertindak sebagai pengamat perubahan musim melalui lingkungan pertanian di sekitarnya.[12]

Konsep Titen dalam Festival Lima Gunung diarahkan sebagai reaksi terhadap situasi sosial-politik yang berlangsung. Juga sebagai edukasi terjadinya pertemuan lintas budaya dan lintas disiplin antara budaya gunung dengan berbagai pakar yang tertarik pada festival ini; kemudian terbukanya jaringan-jaringan baru. Sikap Komunitas Lima Gunung yang membiayai festival sebagai swasembada petani dari kelima gunung, membuat mereka memiliki kebebasan untuk menjadikan Festival Lima Gunung sebagai medan pertemuan kreatif dan kritis dalam menghadapi dunia bersama. Terutama mengajak kita masuk ke dalam dunia gunung melalui produksi kesenian mereka, dan mengusungnya sebagai dialog politik identitas.

Claire Holt melihat gunung sebagai identitas dasar:

“Kehidupan sehari-hari dipimpin oleh roh-roh nenek-moyang yang telah mati yang dipercaya tinggal di gunung-gunung. Mereka itulah yang tinggal di sumber-sumber sungai yang tersembunyi yang tanpa air, tak ada padi yang tumbuh. Mereka adalah pendiri dari komunitas desa, mereka telah menegakkan adat-kebiasaan serta menjaga pertumbuhannya. Nenek-moyang ini juga mengatur sumber-sumber kekuatan hidup magis, kekuatan yang menyebabkan bukan saja hidup manusia, tetapi juga hidup binatang, dan tumbuh-tumbuhan, bahkan komunitas manusia – Fluidum misterius yang tanpa ia, tak bakal mungkin ada kemakmuran”.[13]

Energi yang kita bicarakan setelah kita melihat salah satu video pertunjukan Komunitas Lima Gunung pada awal pembicaraan ini, mungkin bisa kita sebut sebagai “fluidum”[14], seperti yang dimaksud Claire Holt dalam tulisannya di atas. Semacam cairan hidup akan gambaran virus yang bisa menembus batas-batas, membongkar kultur blok, sebuah medan pertemuan antara yang kasat mata dan yang gaib. Dalam budaya Timur, konsep di sekitar fluidum memiliki nama yang beragam dan semuanya berada di bawah payung spiritualitas Timur. Salah satu di antaranya konsep “Qi” dalam Konfusianisme. Sebuah kekuatan yang tidak diketahui, tersembunyi. Dan kita harus diam, karena konsep ini bersemayam di luar jangkauan verbal.[15]

Festival Lima Gunung tahun 2016, yang berlangsung di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Magelang, mengusung tema “Pala Kependhem”.[16] Istilah ini merepresentasi bagaimana komunitas gunung memandang gunung sebagai kekayaan terpendam. Tema yang diusung untuk merespons krisis pangan. Pala kependhem terkait langsung dengan sumber makanan yang tidak terlihat, yang terpendam di bawah tanah: ubi, singkong, gembili, kentang. Adalah metafora gunung yang menyembunyikan bencana melalui tubuhnya yang subur dan menjulang indah. Tempat bertahta matahari terbit dan terbenam, lalu menyisakan tebaran waktu sebagai lanskap pengetahuan dan peradaban yang tidak pernah putus.

festival lima gunung forum penyair internasional afrizal malna

Komunitas Lima Gunung, Sumbing, dalam Forum Penyair Internasional Indonesia, April 2012

Material yang digunakan sebagai instalasi yang dibuat hampir pada setiap festival, salah satu yang ditunggu-tunggu ketika Festival Lima Gunung akan berlangsung. Material ini antara lain menggunakan jerami padi (damen), kulit jagung (klobot), pohon jagung yang sudah mengering (tebon) dan juga pohon cabai yang telah mati. Pada Festival Gunung tahun 2019, yang berlangsung di dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Dukun, lereng Merapi, Kabupaten Magelang, mengusung instalasi burung Garuda raksasa yang menjadi panggung utama mereka. Instalasi ini dibuat oleh pematung terkemuka dari Merapi, Ismanto, yang sehari-hari bekerja membuat patung dari batu gunung.

Seluruh instalasi dan berbagai pernak-pernik festival dikerjakan oleh petani bersama-sama sebagai bagian prinsip “gugur gunung” dari konsep gotong royong masyarakat gunung di Jawa. Konsep yang bisa kita hubungkan dengan nilai pada makna “seneng lan kemringet” dalam bekerja sama.[17]

Musik Trunthung merupakan nyawa yang membuat kita mendapat tatapan vernakular dalam menyadari pentingnya sirkulasi pengetahuan lokal berbasis budaya gunung. Menurut Fajry Sub’haan Syah Sinaga, musik Trunthung muncul tahun 2002 di Dusun Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang yang dipelopori oleh Eko Sunyoto, Sutanto Mendut, dan Handoko sebagai ketua Sanggar Warangan Merbabu. Musik ini dimainkan oleh 80 orang, berlangsung dalam pembukaan Galeri Langgeng Kabupaten Magelang. Trunthung merupakan salah satu struktur yang terdapat dalam Tari Soreng, sebagai jenis tarian keprajuritan. Tari yang harus ada dalam pelaksanaan ritual Nyadran Kali sebagai salah satu syarat ritual. Musik Trunthung sendiri merupakan perpaduan antara terbangan yang dipukul dengan stik bambu dan gamelan, dan dianggap sebagai pertemuan dua alat musik berbeda yang unik.[18]

Beberapa seni tradisi yang lain dalam Festival Lima Gunung, di antaranya Soreng Perempuan, Warok, Topeng Ireng, Jatilan, yang melibatkan banyak sanggar dan seniman dari lima gunung di Kabupaten Magelang. Kita bisa menemukan berbagai kreasi baru, mahluk-mahluk aneh dengan warna-warna mencolok melalui tarian Topeng Ireng, sebagai bentuk dialog yang terus berlangsung dengan kenyataan masa kini. Menghubungkan berbagai topeng di Jawa, Kalimantan, dan Bali, Claire Holt melihat topeng sebagai evolusi yang terus berlangsung hingga kini:

“Kita perlu mempertimbangkan gagasan-gagasan lama, bahwa kepala adalah bagian yang paling penting dari tubuh manusia, yaitu tempat kekuatan paling besar dari daya hidup berpusat. Kita harus mengingat kembali bahwa konsep ini mendasari adat (…) figur-figur bertopeng memainkan bagian yang sangat penting. Seperti halnya pada masa Prasejarah, topeng mungkin telah berperan bagi perwujudan roh leluhur dan lainnya, yang kita dapatkan saat ini di sejumlah daerah yang dihubungkan erat dengan ritus-ritus kematian dan kesuburan.”[19]

Praktik penciptaan seperti ini, dalam tradisi topeng sebagai personifikasi yang ilahiah, yang dilakukan oleh petani gunung, membuat tradisi hadir sebagai ekspresi masa kini. Melepaskan diri dari pembekuan kaidah-kaidah konvensional dalam memandang seni tradisi umumnya. Festival Lima Gunung, pada gilirannya bisa dikatakan sebagai satu-satunya platform berbasis ekosistem gunung yang bertahan hingga usia komunitas ini menjelang 25 tahun. Platform yang unik, karena juga berperan sebagai “tuan rumah” yang terbuka menerima siapa pun boleh ikut mengisinya.[*]

Catatan kaki:

[1] Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono menyatakan bahwa Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, atau Indonesia memiliki jumlah gunung api terbanyak di dunia. (MTKRI. (2012, 10 9). Indonesia Memiliki 127 Gunung Api Aktif. Retrieved 02 11, 2015, from Media Kajian Informasi Tata Ruang Indonesia: http://www.tataruangindonesia.com/fullpost/pemukiman/1349786866/indonesiamemiliki-127-gunung-api-aktif.html
[2] Dwi Ratna Nurhajarini, Suyami: “Kajian Mitos Dan Nilai Budaya Dalam Tantu Panggelaran”, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta Direktorat sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999
[3] Lucas Sasongko Triyoga: “Manusia Jawa dan Gunung Berapi. Persepsi dan Kepercayaannya”, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1991
[4] “Nitisastra” disalin oleh Padmodihardjo dan Resowidjojo, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1978.
[5] Ida Bagus Dharmika, “Hutan Dan Gunung : Rona Lingkungan Religius Magis”, VIDYA WRETTA VOLUME XI No 2 Oktober 2005
[6] Tim Hannigan: “A brief history of Indonesia: sultans, spices, and tsunamis : the incredible story of Southeast Asia’s largest nation”, Tuttle Publishing, 2015
[7] Dylan Walsh: “Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung”, Malang, 2000; Eko Teguh Paripurno (ed.), “Pembangkang Dari G. Merapi. Seputar Pengalaman Belajar Bersama Komunitas Lereng Merapi”, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2015; Sumadi: “Gunung Merapi dalam Budaya Jawa”. Ornamen Jurnal Seni Rupa STSI Surakarta Vol. I, 2 Juli 2004; 1
[8] Gunawan: “Kearifan Masyarakat Lereng Merapi Bagian Selatan, Kabupaten Sleman – Daerah Istimewa Yogyakarta”, Sosio Informa Vol. 1, No. 02, Mei – Agustus, Tahun 2015.
[9] Lihat Elizabeth D. Inandiak, Heri Dono: “Merapi Omahku”, Babad Alas, 2011
[10] Akhir Matua Harahap: “Sejarah Yogyakarta (5): Gunung Merapi dan Daftar Panjang Letusan; Ekspedisi Pertama 1820 oleh Nahuijs dan Merkus (Junghuhn)”, Postaha Depok, http://poestahadepok.blogspot.com/search/label/Sejarah%20Yogyakarta
[11] Dr. Agus Sutono, S.Fil., M.Phil.: “Pranata Mangsa. Kearifan Lokal Tentang Lingkungan Hidup dalam Tinjauan Filsafat”, Universitas PGRI Semarang Press, Semarang, 2018. Lihat juga: Rejo Wagiman: “Harmonisasi Ilmu Kuno (Pranata Mangsa) dengan Ilmu Zaman “Now” (Sistem Informasi Geografis”, https://www.kompasiana.com/rejowagiman3011/5b9d920cab12ae21b52…ranata-mangsa-dengan-ilmu-zaman-now-sistem-informasi-geografis
[12] Salah satu tema yang diangkat pertunjukan Studio Klampisan ““Repertoar Fenologi: Mangsa Iklim Mendidih”, dusun Gumukrejo, Purwoharjo, Banyuwangi, April 2025. https://borobudurwriters.id/seni-pertunjukan/pulanglah-anakku-sini-ada-nasi-dan-ikan-dari-pertunjukan-studio-klampisan-gumukrejo/
[13] Claire Holt: “Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia”, alih bahasa oleh Prof. Dr. RM Soedarsono, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2000
[14] Lihat “Contagium vivum fluidum”: https://id.wikipedia.org/wiki/Contagium_vivum_fluidum
[15] Karen Armstrong: “Sacred Nature. Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam”, terjemahan Yuliani Liputo, Mizan, Bandung, 2022
[16] Yudha Manggala P Putra: “Festival Lima Gunung Gali Kearifan Lokal”, https://news.republika.co.id/berita/oar01s284/festival-lima-gunung-gali-kearifan-lokal
[17] Joko Asmwoyo, Rustopo, Lono Lastoro Simatupang, Drajat Tri Kartono: “Makna ‘Seneng lan Kemringet’ dalam Festival Lima Gunung”, Program Pasca Sarjana Institut Seni Surakarta, https://ojs.isbi.ac.id/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/v…%2Findex.php%2Fpanggung%2Farticle%2Fdownload%2F500%2Fpdf%2F1247
[18] Fajry Sub’haan Syah Sinaga: “Musik Trunthung Sebagai Wujud Kearifan Lokal Dalam Konteks Pendidikan Seni” Tonika Vol. 3 No. 1 Mei 2020
[19] Claire Holt, 2000, ibid

Catatan: Tulisan ini –yang dikembangkan– pernah digunakan sebagai pengantar pemberian “Penghargaan Akademi Jakarta” untuk Komunitas Lima Gunung, Jakarta, September 2024).


Baca juga:
Mendengar dengan Jujur, Menulis dengan Hormat
Mempersenjatai Orang Lokal: Siapa Berhak Menulis Apa?


 

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

28 thoughts on “Komunitas Lima Gunung: Titen, Energi Fluidum, dan Manusia Gunung”

  1. Morgan Williams berkata:

    dari cerita di atas mengajarkan tentang budaya demokrasi namun masih ada dalam bayangan laten feodalisme,otoritarianisme,dan bayangn kelam orde baru contoh seperti tradisi topeng ireng dari warangan .
    dan inti dari seni bukan hanya keindaha n tapi kebersamaan

  2. 085212128131 berkata:

    dari cerita diatas dapat dipahami tentang berbagai macam budaya dan tradisi yang bermacam-macam dan pastinya akan ada terus menerus, jangan sampai budaya di Indonesia ini punah dan terus lestarikan dengan baik.

  3. Reyanza Rayyan Fahlevy berkata:

    Komunitas Lima Gunung menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki nilai yang sangat penting di era modern. Konsep titen, energi fluidum, dan manusia gunung menjadi bukti bahwa hubungan antara manusia, alam, dan budaya dapat menciptakan kehidupan yang seimbang.

  4. Avinata Zanju berkata:

    cukup dipahami!cerita yang menarik,bagus dan mengandung budaya, dan makna yang tersirat.

  5. Tulisan Afrizal Malna ini tidak sekadar mendokumentasikan Komunitas Lima Gunung sebagai fenomena seni rakyat, tetapi menempatkannya sebagai ruang produksi pengetahuan kultural yang hidup, cair, dan terus bergerak. Yang paling kuat terasa adalah cara penulis mengajak pembaca memahami “energi” bukan sebagai metafora kosong, melainkan sebagai pengalaman kolektif yang nyata mengalir melalui tubuh, ruang, bunyi, dan relasi sosial. Pertunjukan Lima Gunung dihadirkan bukan untuk ditonton secara estetis semata, tetapi untuk dialami sebagai peristiwa bersama.Keberanian Afrizal dalam membaca ungkapan-ungkapan tabu seperti “kontol” sebagai bagian dari literasi budaya gunung justru membuka lapisan penting tentang bagaimana kesenian rakyat bekerja: ia tidak tunduk pada moral formal, melainkan pada logika kebersamaan, kelonggaran, dan komunikasi langsung antar tubuh. Di titik ini, seni rakyat tidak lagi berada dalam posisi “rendah” atau “tradisional”, tetapi tampil sebagai medan kritik yang cerdas terhadap demokrasi semu, feodalisme laten, dan warisan otoritarianisme.Tulisan ini juga menarik karena menempatkan gunung bukan sekadar latar geografis, melainkan subjek kosmologis yang membentuk tubuh, ritual, spiritualitas, dan cara berpikir manusia. Relasi manusia gunung dibaca secara performatif, dari ritual anak belajar berdiri hingga festival di masa pandemi. Semua itu menunjukkan bahwa kebudayaan gunung bukan nostalgia masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus beradaptasi tanpa kehilangan akar.Secara keseluruhan, esai ini memperkaya cara kita memandang seni, ritual, dan pengetahuan lokal. Ia menantang pembaca kota dan juga dunia akademik untuk menurunkan jarak, membuka tubuh, dan bersedia “terlibat” dalam energi kolektif yang selama ini kerap disisihkan. Sebuah tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga menggerakkan cara pandang.

  6. Andy berkata:

    bagus dari cerita ini kita bisa untuk menambahkan wawasan tentang budaya yg ada di Indonesia sekaligus menjaga kelestarian budaya

  7. Putih969 berkata:

    Dari cerita ini kita dapet tau beberapa budaya yang ada di Indonesia dan juga bisa menambahkan sedikit pengetahuan tentang budaya yang ada di Indonesia. Sangat bagus dan keren

  8. hani berkata:

    good sekali ceritanya, membuat kita agar terus melestarikan budaya kita agar tidak tertelan oleh jaman, Beruntungnya dengan membuat cerita seperti ini kita akan terus mengingat budaya” kita

  9. JHON FREZER berkata:

    Artikel ini membuka wawasan saya tentang bagaimana Komunitas Lima Gunung menjaga tradisi sekaligus menciptakan ruang ekspresi yang penuh energi. Menarik sekali melihat bagaimana seni, petani, dan alam bisa berpadu menjadi kekuatan kebersamaan. Terima kasih atas ulasan yang inspiratif!”

    Contoh komentar santai:
    “Wah keren banget ya Komunitas Lima Gunung ini. Nggak cuma ngadain festival, tapi juga nunjukin energi kebersamaan yang kuat banget. Salut sama semangat mereka menjaga tradisi sambil tetap kreatif!”

    Mau saya buatkan lebih dari dua versi dengan gaya singkat, puitis, atau kritis juga biar ada pilihan?

  10. Buku ini sangat cocok untuk di baca karena kita bisa tahu bahwa kita harus melestarikan budaya.

    1. Auliya berkata:

      Suatu karya yang memiliki kesederhanaan namun diliputi aura mistis yang menjadi perpaduan yang membuat seseorang tertarik bagaimana kesederhanaan ini memiliki aura mistis yang kuat sehingga terdapat aura liar dan panas namun tetap terdapat kesederhanaan yang sangat menarik

    2. Auliya berkata:

      karya yang memiliki kesederhanaan dental aura mistis menjadi hal yang membuat seseorang tertarik bagaimana kesederhanaan ini memiliki aura mistis yang kuat sehingga terdapat aura liar dan panas namun tetap terdapat kesederhanaan yang sangat menarik

  11. Antonius Banusu berkata:

    sangat menarik

  12. Myasa Poetika berkata:

    terimakasih sudah mention Ayah Mualim, sehingga saya bisa melihat tulisan ini dari search bar di google. sedikit banyak mengobati rasa rindu saya ke Ayah Mualim dan jiwa seninya Ayah.

  13. Stephanus Riyo Harsandi berkata:

    Budaya dan tradisi saling berpengaruh dalam kehidupan sehari -hari dan tidak akan berhenti. Perjalanan hidup manusia dari zaman dulu kala sudah ada, tinggal memastikan saja budaya yang sesuai untuk kita dan berpengaruh ke arah positif maka kita ambil. Semua harus ada batasan supaya budaya/tradisi lain tidak masuk sembarangan, tinggal kita bagaimana dalam mengelolanya dengan baik.

  14. ELSYA GIYANTORO PUTRI berkata:

    Esai ini padat, berlapis, dan membuka mata kita bahwa seni rakyat bukan “hiburan pinggiran”, melainkan bentuk pengetahuan hidup. Namun, untuk pembaca umum, butuh “peta kecil” agar tidak tersesat dalam belantara referensinya.

  15. Relly berkata:

    Bagusss

    1. haikal berkata:

      Its really hard

  16. ayu berkata:

    bangga jika bisa melestarikan dan menjaga budaya yg ada dinegara kita, karena hal itu sudah ada pada zaman dahulu sehingga kita harus bs menjaganya

  17. Yuna berkata:

    Kita sebagai generasi muda harus menjaga dan melestarikan budaya yang ada dari zaman nenek moyang kita jangan sampai terlupakan karena adanya teknologi dan budaya asing

  18. Yuna berkata:

    Kita harus menjaga dan melestarikan budaya yang ada dari zaman nenek moyang kita

  19. Bayu segara berkata:

    Saya setuju bagi beberapa orang yang berpendapat pada info tersebut,Namun menurut saya mungkin kita harus melestarikan budaya Indonesia contohnya seperti di atas,

  20. Anggun widia putri berkata:

    budaya adalah salah satu identitas negara, maka kita sebagi generasi muda harus melestarikanya agartetap terjaga di era gempuran budaya asing dan teknologi

  21. Anggun widia putri berkata:

    kita sebagai generasi muda harus tetap melestarikan budaya di era gempuran teknologi dan budaya luar yang sedang menggerus negeri ini, agar kelestarian budaya yang sudah terbentuk dari nenek moyang sebagi warisan budaya yang harus kita lestarikan

  22. murnia berkata:

    kita harus menghormati dan melestarikan budaya yang sudah dibangun dari zaman nenek moyang kita

  23. thoughtfuldelightfullycc6f3532a1 berkata:

    Energi yang kita bicarakan setelah kita melihat salah satu video pertunjukan Komunitas Lima Gunung pada awal pembicaraan ini, mungkin bisa kita sebut sebagai “fluidum”[14], seperti yang dimaksud Claire Holt dalam tulisannya di atas

    1. boltan berkata:

      mntp sekali ceritanya tentang festival lima gunung,mudah dipahami dan festival tersebut harus tepat dilestarikan biar tidak hilang karna perubahan zaman yg semakin modern.

    2. Andree berkata:

      Secara keseluruhan, Festival Lima Gunung adalah contoh nyata bagaimana budaya rakyat dapat dirayakan dengan penuh martabat tanpa kehilangan akar. Festival ini mengajarkan bahwa seni tidak harus mewah untuk bermakna—cukup jujur, hidup, dan berpihak pada masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *