Kupu-Kupu yang Kau Lihat di Ujung Jalan
12 Juni 2024| | 9 CommentsPaul bilang, yang dia cari dari kegiatannya berkelana adalah perjalanan itu sendiri. Bukan tempat, bukan manusia. Tetapi perjalanan.
Oleh: Armin Bell |
Setelah menerbitkan kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam pada tahun 2018 silam, buku terbarunya akan segera terbit: Keluarga Oriente.
1
Saya bertemu Paul di Denge. Denge adalah kampung terakhir menuju Waerebo, destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Manggarai. Tahun 2012 silam Waerebo, yang kerap ditulis terpisah (Wae Rebo), oleh UNESCO dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia. Kabar yang tersebar di seluruh dunia tentang betapa indahnya kampung itulah yang membuat Paul jauh-jauh datang dari Prancis.
Di Denge, kami beristirahat di penginapan yang sama, sebuah homestay ramah yang dikelola oleh Blasius Monta bersama keluarganya, sebelum keesokan hari ‘naik’ ke kampung yang terletak di ketinggian 1200-an meter di atas permukaan laut.
Paul datang sendiri. Dia menyukai ‘jalan-jalan sendiri’: lebih mudah, tidak repot, lebih reflektif. Yang terakhir disampaikannya dengan penjelasan kecil bahwa wisatanya ke tempat-tempat yang jauh sesungguhnya adalah bagian dari usahanya mengenal diri. Saya tersenyum. Paul masih muda, di akhir 20-an. Mendengarkannya bicara tentang makna perjalanan seperti itu rasanya menyenangkan.
Sebelum bertemu Paul, saya mengenal seorang yang lebih muda lagi dari Prancis. Bukan. Dia dari luar angkasa. Seorang pangeran. Pangeran Kecil, yang berkelana melintasi banyak tempat di jagat raya dan akhirnya tiba di bumi. Di bumi dia bertemu banyak hal: pilot yang berjuang memperbaiki pesawatnya yang rusak, ular yang membuatnya tahu kita bisa merasa semakin sepi di tengah ramai manusia, rubah yang mengatakan kalimat ini padanya: “Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting tidak terlihat oleh mata.”
Hubungan si Pangeran Kecil ini dengan Prancis adalah orang yang melahirkannya. Pangeran Kecil adalah anak rohani dari Antoine de Saint-Exupéry, penulis asal Prancis yang juga seorang pilot. Pilot yang suatu ketika hendak terbang ke Borgo di Corsica dan tak pernah kembali lagi. Dia hilang dalam penerbangan di Mediterania. Hilang dalam perjalanan.
“Tidak takut?”
Paul tertawa. Saya ikut tertawa. Pertanyaan saya itu tentu saja aneh sebab sebelumnya Paul telah bercerita tentang perjalanannya ke puluhan negara, rekreasinya di ratusan tempat, pertemuannya dengan ribuan kemungkinan ketakutan, dan kini tiba di Denge. Dengan selamat. Dan bahagia.
Dia lalu pamit tidur; besok pagi akan berangkat lebih awal ke Waerebo. Sendirian. Om Blasius sudah lebih dahulu tidur. Saya ke kamar, mengambil buku yang saya bawa sebagai bekal sebab kampung ini susah sinyal dan kau tidak bisa berselancar. Le Petit Prince. The Little Prince. Pangeran Kecil. Buku yang dengan senang hati selalu saya baca ulang sebab saya suka dongeng dan Saint-Exupéry mendongeng dengan sangat baik. Ada kalimat ini di dalam buku itu: Semua orang dewasa pernah menjadi anak-anak, tetapi hanya sedikit dari mereka yang mengingatnya.
2
Sebelum berangkat tidur, Om Blasius berkisah tentang masa kecilnya yang jauh dari hiruk-pikuk pariwisata. Bersekolah di Denge, tetapi setiap akhir pekan akan pulang ke Waerebo. Kampungnya. Berjalan di dalam hutan, mendaki selama hampir dua jam, menempuh jarak sekitar lima kilometer, menikmati akhir pekannya bersama keluarganya di kampung yang didirikan oleh Empo Maro itu.
“Nenek moyang kami itu orang Minangkabau,” katanya. “Tetapi saya belum pernah ke sana,” sambungnya lalu tertawa. Entah untuk bagian yang mana tawa itu.
Dahulu kala, Empo Maro menempuh perjalanan laut dari kampung asalnya, merapat di pesisir barat Labuan Bajo, di Waraloka. Dia melanjutkan pengembaraannya, menempuh perjalanan darat, memilih tempat yang cocok untuk menetap. Nanga Pa’ang, Todo, Popo, Liho, Modo, Golo Ponto, Ndara Golo, Golo Damu. Wae Rebo jadi tempat pilihan terakhirnya setelah mendapat petunjuk melalui mimpi. Sampai akhir hayat. Empo Maro tak pulang ke Minang.
…
Seperti itukah wajah perjalanan? Kita menjadi baru. “No volvere, no quiere recordan!” Kata Gypsy Kings, “Saya tidak akan pulang, saya tidak mau mengingatnya.” Tidak ada jalan kembali.
Paul bilang, yang dia cari dari kegiatannya berkelana adalah perjalanan itu sendiri. Bukan tempat, bukan manusia. Tetapi perjalanan. Dia tidak peduli akan berakhir di mana, tidak juga takut tidak akan menjumpai sesuatu yang hebat di tujuan-tujuannya. Sebab yang dia cintai adalah perjalanan. Betulkah itu?
Pangeran Kecil dipatuk ular di akhir cerita. Empo Maro tidak pernah pulang ke Minang. Dan kita telah tahu bagaimana nasib Saint-Exupéry di Mediterania. Kita juga tahu apa yang telah mereka tinggalkan bagi kita jauh setelah mereka menyelesaikan perjalanannya. Legacy.
3
Saya menikmati perjalanan ke Waerebo. Mendengar Ngkiong bernyanyi: Kancilan Flores, burung 1001 kicauan. Mereka bernyanyi merdu sekali. Ini yang Paul cari barangkali. Suara-suara di sepanjang perjalanan—yang tidak datang dari manusia—yang membuatnya menjadi manusia baru. Yang bahagia, saya kira begitu.
“Langsung pulang?” Tanya saya ketika kami berpapasan. Dia berangkat lebih pagi ke Waerebo dan saat saya berjuang menyelesaikan tanjakan terakhir dengan napas yang sudah mulai berat, Paul hendak turun. Ke Denge, lalu akan ke tempat-tempat yang lain.
“Saya bahagia sekali,” katanya tanpa usaha menjawab pertanyaan saya. Dia tahu saya tahu jawabannya untuk basa-basi itu. “Ini perjalanan yang luar biasa,” katanya lagi.
“Luar biasa melelahkan,” saya bilang begitu. Paul tertawa. Saya juga tertawa. Gembira saja. Bahagia saja. Itu yang ingin kita temukan di ujung perjalanan, Paul! Bukankah kita, meminjam Pangeran Kecil, harus bertahan dengan kehadiran beberapa ulat jika ingin berkenalan dengan kupu-kupu?
“Sebelum seterkenal sekarang,” Om Blasius bercerita setelah saya tiba lagi di Denge, “Waerebo dulu itu tempat yang susah sekali. Terpencil, jauh dari segalanya, ekonomi sulit. Waktu telah membuatnya seperti sekarang ini, dicintai banyak orang.”
Saya kira saya tahu maksudnya. Perjalanan, seberat apa pun itu, akan membawamu kepada sesuatu yang hebat, sesuatu yang tidak kau ketahui tetapi akan membuatmu terpana.
Pangeran kecil bilang, gurun itu indah karena di suatu tempat di sana tersembunyi sebuah sumur.
4
Ada kupu-kupu terbang di halaman homestay. Kupu-kupu yang tak ada di kota. [*]
Gambar: Monumen peringatan untuk Antoine de Saint-Exupéry di Tarfaya, Cape Juby, Maroko. Diambil dari sini.
Baca juga:
– Di Timur Matahari, dari Papua untuk Indonesia
– Mengapa Orang-Orang Hilang dari Sebuah Cerita?

Cerpen yang baik dan realisasi aja
cerpennya baguss
Cerpen yg menarik,tetapi tanda baca masih berantakan. Sepeti pemggunaan tanda titik (.) , tanda koma (,) disetiap kalimatnya tidak tepat.
Semoga semakin baik lagi cerpennya,terimaksih.
apakah mencari kupu-kupu yang seperti itu memang harus keluar rumah dulu ya? saya malas beranjak.
cerita yang sangat bagus, namun pengunaan bahasa yang sulit di mengerti sehingga pembaca sulit untuk memahami
Perjalanan selalu memberikan warna indah .
Cerpen tersebut sangat bagus bagi pembaca dengan gaya nada kata yang baik dan lembut
ceritanya sangat bagus dan juga menarik untuk dibaca tapi sedikit kurang bisa untuk dimengerti
Cerpen yang sangat menyentuh hati