Dunia Ibu
7 Juni 2024| | 26 CommentsIngatan kakak beradik itu belum mengenali perasaan tersebut, seperti mimpi buruk; dunia Ibu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Oleh: Happy Salma |
Seorang aktris, penulis, sutradara film pendek, dan produser teater. Happy memperoleh berbagai penghargaan nasional dan internasional untuk beragam perannya di film. Karya sastranya menjadi nominasi dalam Literary Khatulistiwa Award 2006. Tulisannya dimuat di berbagai media massa, juga diterbitkan menjadi buku.
TIDAK mungkin informasi itu salah. Bibi Yati memberi jawaban yang sama, baik kepada yang bertanya, maupun yang memaksa meminta jawaban. Bahkan, kata Bibi Yati, sekarang Ibu meminjam uang pada Ceu Medi, dan minggu lalu Ibu didatangi anak Uwak Yahya, juga untuk urusan hutang.
Jehan tidak hanya curiga, tetapi juga tidak habis pikir. Untuk apa Ibu meminjam-minjam uang ke banyak orang seperti itu? Kalau memang Ibu sangat membutuhkan uang, apa salahnya Ibu bicara padanya, atau pada Bang Reza kakaknya? Mereka memang tidak hidup berlebihan, tetapi setidaknya, ia dan kakaknya masih bisa diandalkan untuk menghadapi kesulitan Ibu.
Entah apa alasan Ibu melakukan hal yang bisa membuat orang menganggap Ibu tidak diperhatikan oleh anak-anaknya itu. Dalam soal keuangan, meski tidak besar, setiap bulan Jehan dan kakaknya tidak pernah lupa mengirimi Ibu uang, setidaknya cukup untuk kebutuhan Ibu sehari-hari.
Betul, Jehan tidak memungkiri. Setelah menikah setahun lalu, ia sibuk dengan hidup barunya. Pindah dan tinggal bersama suaminya di pusat kota. Sementara rumah Ibu letaknya di pinggiran kota dan jaraknya lumayan jauh. Pernikahan ternyata memang bukan soal yang mudah. Ia harus beradaptasi menyesuaikan perhatiannya antara suami dan Ibu.
Akan tetapi, Jehan merasa perhatiannya pada Ibu tak pernah berkurang. Walaupun suaminya sering meminta Jehan menemaninya di rumah pada hari-hari libur, tetapi setidaknya sebulan sekali ia dan suaminya mengunjungi Ibu. Juga tidak ada dalam sepekan Jehan tidak menelpon. Karena itu Jehan akan menolak jika dianggap ia tidak lagi memedulikan Ibu.
Juga seingat Jehan, Ibu tak pernah protes atau mengeluhkan sesuatu tentang keadaannya. Tidak ada yang mengkhawatirkan, begitu pula kesehatan Ibu. Jehan tahu betul, Ibu perempuan yang tak pernah ingin merepotkan siapa pun. Dalam kesendiriannya di rumah, Ibu biasa asyik dengan berbagai kesibukan. Pengajian, arisan, atau acara-acara reuni selalu semangat Ibu ikuti.
Sering Ibu menolak diajak menginap di rumah Jehan atau Bang Reza dengan alasan ini dan itu, atau tidak mau berlama-lama meninggalkan rumah. Ibu juga dekat dengan saudara-saudaranya yang tinggal tak berjauhan. Selain itu, melalui handphone, Ibu selalu asyik bersama kawan-kawannya, bertukar kabar, berbagi foto, dan video. Membicarakan apa saja yang jadi kesukaan kaum Ibu.
Jadi, begitulah, tidak ada yang janggal, semua baik-baik saja. Atau, jangan-jangan ada yang terlewatkan?
Jehan jadi menduga-duga. Barangkali setelah Ayah berpulang tujuh tahun lalu, menyusul kemudian ia menikah, sebenarnya Ibu merasa kesepian. Jehan bisa memaklumi bila memang Ibu tidak sepenuhnya merasa bahagia.
Akan tetapi, apakah itu lantas cukup jadi alasan sehingga Ibu bertingkah aneh? Apalagi setelah mendengar semua cerita Bibi Yati, Jehan seakan tidak percaya bahwa itu adalah Ibu yang sangat dikenalnya. Meminjam uang bukanlah kebiasaan Ibu, apalagi ke banyak orang. Ibu yang dikenalnya adalah perempuan yang pintar mengatur keuangan, tidak suka berspekulasi sembrono.
Jehan tidak sendirian memikirkan keanehan itu, tetapi juga Bang Reza. Ada banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Dan di tengah kebingungan mereka berdua, menyusul kabar dari Bibi Yati: Ibu masuk rumah sakit.
*
INI hari kedua Ibu di rumah sakit. Sejak kemarin ia ditunggui oleh Bibi Yati dan anak-anaknya. Hari ini mereka tidak bisa menunggui Ibu karena suatu keperluan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, diantar supir mertuanya, Jehan merasa bersalah. Seharusnya ia sudah menjenguk atau menemani Ibu sejak masuk ke rumah sakit kemarin, seandainya saja ia tidak harus mengurusi sebuah acara di kantor suaminya.
Begitu pula Bang Reza yang selama dua hari kemarin berada di luar kota untuk acara keluarga besar istrinya. Tapi sekarang, Bang Reza sudah pulang, bahkan sudah lebih dulu berada di rumah sakit. Jehan sedikit lega, ada yang menunggui Ibu setelah Bibi Yati dan sepupunya pulang.
Jehan menerawang. Jika saja belum menikah, tentu bisa ia mendampingi Ibu kapan saja, bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Dari kabar Bibi Yati, Jehan hanya tahu asam lambung Ibu naik, dan itulah yang membuatnya harus dirawat.
Tiba-tiba ponsel Jehan bergetar. Dari Bang Reza. Jehan cepat mengangkat, kaget dan cemas.
“Ya, Bang Reza?”
“Kamu di mana?” Suara kakaknya terdengar parau.
“Sebentar lagi tiba, 30 menit lagi Bang, sudah dekat. Ibu gimana?” Beberapa detik tak ada jawaban, sehingga Jehan harus mengulang, “Bang, Ibu gimana?”
“Ternyata betul, Ibu pinjam uang ke banyak orang.”
“Iya, buat apa, sih?”
“Kelihatannya Ibu juga sakit karena hal itu.”
“Tunggu! Buat apa yang uangnya, Bang?”
“Buat Thoriq.”
“Hah!? Thoriq siapa?”
“Cepat saja ke sini. Abang sudah enggak kuat, rasanya lemas mau pingsan!”
“Berapa total Ibu pinjam uang?”
“300-an juta! Itu yang ketahuan….”
*
MENDADAK Jehan merasa perjalanan begitu lambat. 30 menit seakan bertahun-tahun. Jehan rasanya ingin terbang ke masa depan, agar secepatnya semua jadi jelas. Aneh sekali menghadapi situasi di mana ada bagian dalam diri Ibu yang tak dikenalinya lagi. Bagian yang menyembunyikan sesuatu; mengapa ia harus meminjam uang sebanyak itu, dan siapakah Thoriq itu?
Turun di parkiran, Jehan setengah bergegas masuk ke kompleks rumah sakit. Agar lebih cepat, ia sengaja masuk melalui halaman belakang, melalui deretan pepohonan yang teduh. Bang Reza lunglai menyambut Jehan. Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon ketapang yang rindang. Adik kakak itu hanya terpaut jarak dua tahun, macam kembar, atau seperti seumuran.
Jehan kaget melihat kedua mata kakaknya sembab. Bang Reza menangis? Walaupun Bang Reza berhati lembut, seingat Jehan, kakaknya itu jarang menangis. Bahkan waktu Ayah berpulang, Bang Reza terlihat tegar dan kuat. Jehan makin bingung saat Bang Reza memeluknya dengan erat. Suaranya parau.
“Ini gila,” katanya, sorot matanya mengambang, seolah tak tertuju pada satu titik.
“Kenapa, Bang? Bagaimana keadaan Ibu?”
Kakaknya melepaskan pelukan. Lama terdiam, dan itu membuat perasaan Jehan semakin tak menentu.
“Di kamar. Sekarang dia tidur, dikasih obat penenang.”
“Lho, kok penenang?”
“Dia histeris.”
“Kenapa? Kok asam lambung bisa jadi histeris?” Jehan semakin penasaran dan tidak mengerti. Bang Reza masih saja diam. Lengang suasana rumah sakit siang hari.
“Jadi… Ibu punya pacar,” Bang Reza membuka mulut.
“Hah?!” Jehan mendadak mual. Apa lagi ini?
“Pacar khayalan,” sambung Bang Reza. Pikiran Jehan semrawut.
“Pacar macam apa maksudnya, sih?”
“Kamu jangan komentar dulu…” potong Kakaknya. Jehan menarik nafas, menenangkan diri.
“Jadi, dalam 5 bulan ini, Ibu punya sosmed…”
“Siapa yang buatin?”
“Gak tahu. Yang pasti Ibu punya, mungkin ada teman reuni SMA-nya buatin. Nah, di situ, Ibu punya banyak teman baru. Salah satunya adalah Thoriq. Dia tinggal di luar negeri katanya.”
“Tapi pernah ketemu?”
“Tidak pernah. Namanya pun pasti bohong, juga alamat dia sebetulnya. Tidak ada yang tahu!”
“Terus?”
“Yah terus mereka berkawan, si penipu itu mengaku bahwa dia masih keturunan Indonesia, mereka ngobrol lancar pakai bahasa indonesia, aktif mereka berhubungan, komunikasi, terus…” Bang Reza diam sebentar seperti perlu mengambil oksigen untuk paru-parunya agar kembali penuh, membuangnya pelan-pelan. “Yah, begitulah, laki-laki itu merayu, dan kemudian menjadi dekat, sangat dekat dan membuat Ibu ketergantungan. Ibu tak bisa lagi membedakan yang nyata dan yang bukan. Orang itu berjanji akan menemui Ibu, akan tetapi semua terhambat karena dia terlilit hutang di pekerjaannya, dan dia membuat cerita seolah hanya Ibulah yang bisa membantu dia keluar dari pekerjaannya untuk bertemu Ibu secepatnya.”
“Ibu percaya?”
“Yah, begitulah.”
Jehan dan kakaknya terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Dan ibu kasih pinjam?” Tanya Jehan.
“Betul.” Jawab Bang Reza, “Ibu meminjam-minjam uang dari orang, bahkan menjual juga perhiasannya.” Di Bagian ini suara kakaknya gemetar, “Perhiasan yang sebagian adalah kenang-kenangan dari ayah, semua sudah dijual!”
Jehan seperti limbung dan berusaha mencerna semua yang didengarnya ini dengan penuh kesadaran. Dia mencari pegangan, begitu pula kakaknya. Mereka berdua berpegangan saling menguatkan.
Semua seperti tidak masuk akal. Jehan telah sering mendengar berita-berita semacam itu. Kini terjadi pada Ibu. Ibu yang soleh, yang manis, tapi bisa begitu naif. Bahkan sampai menjual perhiasan dari Ayah yang begitu mereka sayangi. Terlintas banyak pertanyaan, apakah Ibu selama ini tidak mencintai Ayah? Pikiran mereka berkecamuk. Mereka merasa dikhianati.
“Abang ambil HP-nya saat ibu tibur,” Bang Reza berkata lagi. “Abang tahu semua obrolan mereka.” Suara kakaknya masih gemetar, lalu bertanya, “Apa salah kita, yah, Je?”
“Tidak tahu, Bang, ini memalukan.”
*
JEHAN dan Bang Reza memutuskan untuk mendatangi kamar Ibu. Mungkin Ibu sudah bangun, dan kalau suasananya tepat, mereka berharap bisa mendapatkan penjelasan.
Ya, agar rasa marah, sedih, kecewa serta kebingungan mereka tidak berlanjut jauh. Mungkin saja setelah membicarakannya dengan Ibu, ada sesuatu yang lebih pasti dari sekadar membaca semua pesan dari gawai. Karena semua masih juga menjadi pertanyaan.
Karena sebuah gawai, sepasang kakak beradik bisa melihat sebuah kenyataan baru tentang perempuan yang selama ini mereka kenal dan mereka cintai. Bahwa ibu mereka bisa menjelma menjadi seorang perempuan yang linglung. Seorang ibu yang mau saja meminjam-minjam uang, bahkan menjual perhiasan dari bekas suaminya yang telah pergi, untuk memberikannya kepada seorang lelaki yang tidak pernah ia temui.
Sesepi itukah hati dan jiwa Ibu?
Berkelebatan pertanyaan itu tanpa sedikit pun jawaban. Hingga akhirnya mereka bersama berada di kamar rumah sakit untuk meminta jawaban. Tetapi sejujurnya, Jehan dan Bang Reza tak tega hati setelah melihat langsung Ibu mereka yang duduk layu dengan senyum tipis nan bingung. Dia adalah korban. Mereka sadar itu, karenanya mereka tak membenci, setidaknya untuk saat ini.
“HP Ibu di mana, Bang?” Kata-kata yang ternyata pertama terdengar. Sungguh menyakitkan. Bukan membahas apa kabar anak-anaknya! Protes Jehan dalam hati.
“Ibu sudah baikan?”
“Masih pusing. HP Ibu di mana, Je?”
“Ibu kenapa pinjam uang?” Jehan tak bisa menguasai diri, dia kesal dengan pertanyaan Ibu saat pertama kali berjumpa. Jehan ingin protes! Mana ibunya yang bijaksana dan lugu itu? Dan mana ibu yang manis dan penuh cinta itu?
“Kembalikan dulu HP Ibu, agar ibu urus, dan uangnya bisa dikembalikan secepatnya.” Gemetar suara Ibu.
“Dikembalikan oleh siapa, Bu?” Bang Reza memotong. “Thoriq tidak ada, Bu. Dia penipu!”
Mendengar kalimat itu, Ibu meradang.
“Bang, kamu tega! Kamu membaca semua isi HP Ibu?”
“Ibu! Thoriq tidak ada!”
“Ada!!! Dia akan datang ke sini. Jangan khawatir, uang yang dipinjam akan dikembalikan!”
“Kata-kata dia semua bohong, Ibu!”
“Abang sudah cek semua. Ini sindikat dan banyak orang sudah tertipu, Bu!”
“Dia ada!” Ibu tambah meradang, tak mampu menguasai diri. “Kembalikan HP ibu!” Ibu meraung.
“Tidak ada, Bu!”
“Thoriq itu kepalsuan, yang dia katakan bohong semua, bohong! Sudah dilacak, penipu itu ada di Turki.”
Mendengar itu Ibu menangis tersedu-sedu.
“Tidak mungkin! Dia baik sekali, setiap hari dia temani Ibu, dia perhatian sama Ibu. Sampai Ibu mau tidur pun, dia selalu temani ibu lewat HP. Dia akan datang, dia pasti datang! Uang-uang pinjaman akan dikembalikan!” Ibu tersedu, seakan berbicara pada dirinya. Kalimat-kalimat sepi itu membuat hati Jehan dan Bang Reza terasa sakit.
Apakah Ibu kurang cinta dan perhatian dari anak-anaknya? Mengapa Ibu tak pernah berterus terang? Selalu saja bilang semua baik-baik saja, tak mau merepotkan. Begitu selalu Ibu bilang.
Tapi kini, ada rasa pedih pada hati Bang Reza. Dia menyadari sering dengan halus melarang Ibu berlama-lama di rumahnya, karena semata-mata menuruti keinginan istrinya. Ya, dia tidak ingin Ibu bertikai dengan menantunya, apalagi lebih dari sekali Ibu dan istrinya berselisih paham soal bagaimana memperlakukan anak mereka satu-satunya, sekaligus cucu Ibu satu-satunya.
Senyap. Jehan dan Bang Reza tidak tahu apa yang harus diucapkan. Selain diam dengan mata perlahan basah. Ibu mulai meradang. Berteriak meminta gawainya. Ia ingin membuka media sosialnya dan menghubungi orang yang bernama Thoriq. Orang yang tidak pernah ada. Iblis dan penipu yang telah memperdayanya dengan perhatian dan cinta.
Jehan dan Bang Reza sedih sekaligus marah. Hati mereka tidak karuan. Merasa bersalah kepada ibunya. Merasa marah kepada iblis yang bernama Thoriq. Suara ibu yang keras terdengar seperti sayup-sayup di telinga mereka.
“Kembalikan, Bang, kembalikan, Jehan! Kembalikan HP Ibu…”
“Ibu gak boleh dulu pakai HP dan tidak ada lagi boleh main sosmed, Bu, tidak baik juga buat kesehatan Ibu,” Jehan berkata.
“Nanti Jehan akan temani Ibu, sementara Jehan akan tinggal dengan Ibu,” Bang Reza membujuk. “Atau, Ibu mau di rumah saya, Bu? Miranti akan jaga Ibu. Kalau Ibu mau Abel juga pasti senang kalau neneknya datang.”
Tetapi Ibu tetap dengan pikirannya.
“Maaf, Bu, sudah tidak ada lagi sosmed Ibu. Itu ilusi, yang nyata dan yang bukan, bikin Ibu bingung.”
Mendengar kalimat itu, semakin marahlah Ibu, lalu ia mengguncang-guncang tubuh anaknya dengan frustasi, kemudian memukul-mukul dada anak lelakinya dengan tangisan.
“Tega sekali Abang, kenapa hapus sosmed ibu! Dia akan datang, dia sudah janji, sungguh! Uangnya akan kembali, Ibu pinjam itu uang, dia tidak mungkin jahat sama Ibu, dia akan kembalikan!” sedu sedan itu kemudian berubah menjadi tangisan sepi yang ganjil. “Dia akan datang…” isaknya.
Ada perasaan aneh mendengar tangisan Ibu. Ingatan kakak beradik itu belum mengenali perasaan tersebut, seperti mimpi buruk; dunia Ibu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Perawat masuk kamar, tergopoh-gopoh. Memastikan semua baik-baik saja. Dia khawatir karena mendengar teriakan Ibu. Setelah selesai dengan tugasnya, perawat itu pergi.
Hening, dan kembali hanya mereka bertiga dalam pikiran masing-masing. Dalam dunia Ibu yang masih belum mampu terjamah oleh kedua anaknya. Samar suara Ibu berbisik.
“Kembalikan HP Ibu… .”
[*]
Beberapa buku karya Happy Salma: kumpulan cerpen Pulang (2006), Telaga Fatamorgana (2008), antologi Titian: Antologi Cerita Pendek Kerakyatan (2008), Lobakan (2009), 24 Sauh (2009) dan Dari Murai Ke Sangkar Emas (2009). Dia juga menulis novel Hanya Salju dan Pisau Batu (2010), biografi kreatif Desak Nyoman Suarti The Warrior Daughter (2015) dan buku anak Cerita Kina (2022).
Ilustrasi: A Sad Girl (Carlos Saenz de Tejada), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Dessa dan Ibu Mertua
– Kang Tiyok Telah Menjual Semua Sapinya

Suka banget dengan ceritanya. Mengangkat fenomena penipuan lewat sosial media, bikin sadar kalau risiko ini ga cuman bisa terjadi ke anak2 muda tapi juga ke orang tua. Yah memang salah satu sasaran orang-orang yang kesepian ya.
Salut dengan Mba Happy Salma. Cantik, berbakat di acting, dan juga nulis.
Bagus cerpen ini saya sangat menyukai cerpen ini
Ceritanya bagus,terus ada pesan moral juga kalo kita harus berhati-hati agar tidak terkena penipuan.
Keren banget sukses terus ya, saya sangat suka apalagi saat melihat beliau di teater saat pentas di Taman Ismail Marzuki
INIIII BAGUSSS SEKALI CERPENNYAAAAA, aku suka sekali 💖
Pertama, saya heran ternyata penulisnya mba happy salma yang artis itu. Maksud heran disini wow! Ngga nyangka!
Kedua, logika ceritanya dapat. Dari pengenalan ibu yang seperti umumnya ibu pintar mengatur uang tiba-tiba menjadi berhutang sana-sini. Ini udah bahan cerita banget. Tadinya saya kira uangnya buat berobat si ibu, diam-diam sakit tidak mau merepotkan anaknya. Ternyata untuk pacar khayalan.
Ketiga, amanatnya ceritanya nyentuh sih. Walaupun ngga mungkin sih kalo di dunia nyata. Diceritanya juga dijelasin seperti tidak masuk akal.
Kesepian memang tidak enak. Tapi kesepian si ibu sampai berhutang dan menjual perhiasan suaminya yang sudah meninggal lagi, itu udah kesepian, ah kesepian macam apa itu.
Saya baru pertama masuk web ini, sedang ingin baca cerita. Ketemu cerita bagus. Terima kasih.
Salam sejahtera pembaca semua.
Membaca ‘ Dunia Ibu ” seperti saya berkaca pada diri saya pribadi, seperti kita seorang wonder women yang tidak mem butuhkan lali- laki dan bantuan dari anak maupun saudara terdekat. Akhirnya pada titik nadir yang terakhir membludak bagaikan balon atau panci yang terlalu penuh diisi, kita wanita sebenarnya hanya butuh tempat bersandar secara rilex tanpa amarah, tanpa alasan dan tanpa sebab, hanya butuh tempat mengobrol , hanya butuh tempat melepaskan penat sesaat,, kita tidak butuh materi berlebih hanya butuhkan sisakan waktumu, sisakan waktu kalian, sisakan duniamu sedikit untukku berkeluh kesah, bermanja, bercanda dan bersenda gurau, tanpa rasa takut dan sungkan, setelah wanita berumah tangga dan menjadi ibu dia lupa akan dirinya sendiri, dia lupa potensinya, dia lupakan hobinya, dia lupakan kesenangannya, dia lupakan kegilaanya, dia lupakan senyum dan tawa lepasnya.
bagus saya suka dengan cerpen nya, menarik banget saya yang ga suka baca tapi suka baca cerpen ini thanks yang sudah buat cerita nya seseru ini.
Ibu adalah sosok yang selalu memberi segalanya agar anak bisa hidup dengan layak dan bahagia namun terkadang anak sering lupa bahwa yang di butuhkan ibu bukanlah perhatian belaka tetapi kebersamaan bersama keluarga yang di cintai. beruntungnya orang orang yang masih memiliki ibu dan bisa memeluknya sepenuh hati
masih pagi sudah nangis sesenggukan 🙁
Terkadang anak pun merasa “saya lebih mengenal ibu saya di banding mereka/orang lain”. Tanpa di sadari, justru kadang kadang anak anak pasti belum terlalu mengenal/paham dengan orang tua mereka sendiri, apa lagi seorang ibu. Ibu itu adalah sosok yang tertutup, dan selalu menampakan sikap palsu nya sendiri di banding dengan sikap asli nya. Ia hanya menunjukkan sikap asli nya ketika sedang sendiri atau sedang merasa kebingungan dan penuh emosional, saya sebagai anak perempuan terakhir dan satu nya di 3 bersaudara, hanya saya yang dekat dengan ibu saya, tetapi saya pun belum terlalu memahami ibu saya sendiri, cerpen ini bisa mengajarkan kita agar lebih memahami lagi dan menjaga orang tua kita sebaik mungkin dengan teknologi zaman sekarang.
bagusssss ceritanya, penulis mencoba ngasih tau ‘dunia’ ibu yang mungkin tidak diketahui sama anak-anaknya.
cerita ini memiliki alur cerita yang lumayan mengejutkan juga bisa membuat kita greget akan ceritanya tetapi di sisi lain kita juga dapat melihat sudut pandang ibunya yang merasa kesepian yang lama ia pendam,ia ingin mengatakan kepada anak anaknya tapi rasanya itu hal yang susah tetapi orang yang bisa ia percayai dalam masalahnya itu adalah Toriq yang dimana ia mengira bahwa Toriq beridentitas penduduk indonesia asli.ia ditipu oleh orang tersebut tetapi ia tidak mempercayainya seolah olah ia percaya bahwa Toriq inilah penolongnya.tapi sayang ibunya tidak menduga bahwa orang yang menemani rasa kesepiannya itu telah pergi,memang ibunya gak bisa membedakan mana dunia Maya dan mana dunia nyata tapi ibunya sangat memerlukan kasih sayang apalagi dari pasangan hidupnya tapi pasangan hidupnya telah pergi meninggalkannya tetapi tidak sampai situ saja setelah kepergian sang suami tibalah anak yang sudah dilamar oleh orang lain sehingga hal itu membuat ibunya sangat kesepian apalagi abngnya Reza yang lebih memedulikan istri dibanding dengan ibunya.sehingga hal itulah yang membuat ibunya itu tertipudaya dari chat an bersama lawan jenis itu.tetapi dari sini kita juga bisa belajar bahwa sesibuk apapun kita jangan pernah lupa dengan ibu kita selagi beliau masih ditakdirkan untuk bertahan hidup di dunia ini
cerpen nya sangat bagus, bercerita tentang anak perempuan yang masih peduli terhadapnya ibunya walaupun sudah menikah. Dapat di ambil pelajaran untuk di dunia nyata
cerpen
cerpen nya sangat bagus, bercerita tentang anak perempuan yang masih peduli pada ibunya walaupun sudah menikah
paling gak bisa kalau sudah membahas sosok ibu, yang bagiku sangat berarti dihidupku..
Selalu cintai ibu mu karna kamu tidak akan ada yang lain “perasaan orang tua membawa hukuman 2 dunia “
Sangat Bagus
sedih bacanya, tak terbayang nanti di masa depan kami berempat bakal ada masa di mana harus fokus dengan masa depan, hingga nanti meninggalkan dua orang terkasih yang selama hidupnya mereka dedikasikan untuk melihat kami tumbuh kembang sebelum menghadapi dunia masa depan. ibu dan ayah mungkin kami anakmu ini belum bisa membahagiaan kalian tapi ingatlah kalau kami selalu ada untuk mu, walaupun kami sudah berkeluarga nantinya, kami tidak akan lupa atas jasa mu dalam membesarkan kami, dan dengan cerpen “dunia ibu” ini saya makin mendedikasikan hidup dan pekerjaan demi ibu. Mom i love you, and for kak happy salma thank you for bringing this masterpiece.
asik seru
cerpen yang sangat bagus 💐💐
mau bagaimana pun kamu, mau sejauh apapun kamu, mau sesibuk apapun kamu, jangan pernah melupakan ibu mu yg selama ini udah ngerawat kamu dari kecil hingga kamu mendapatkan kehidupan baru mu
Sangat bagus
Keren
Aku akhirnya paham kenapa judulnya harus “Dua Ibu” aku pikirnya tadi ceritanya antara dua orang wanita, ibu kandung dan ibu tiri yang memperebutkan hak asuh seorang anak. Namun, rupanya aku salah karena analogi judul ini mengindikasikan seorang ibu dari dua anak yang dari depan adalah tipikal perempuan penuh kasih tetapi di belakang dirinya adalah perempuan kesepian yang butuh untuk ditemani. Sedih sekali cerpen ini karena aku bisa merasakan bagaimana sepinya hati seorang ibu karena ditinggal anak-anaknya tapi di lain pihak gedek juga sama tingkah ibunya karena kecanduan ponsel. Kalau bisa diberi rating aku mau kasih bintang 4 untuk perjalanan ceritanya yang begitu pilu dan bintang 7 untuk akhir kisah yang membuatku sadar bahwa ibu, Perempuan yang mengandung dan melahirkan kita tentu harus kita prioritaskan dalam hidup kita terserah mau bujang, kerja, udah nikah dia adalah empunya surga