Menu
Menu

Boccaccio berada di Firenze ketika Wabah Hitam melanda pada 1348. Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Italia.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang telah terbit adalah “Dua Himne” karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan “Ecloga I” (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


Catatan Penerjemah:

Ketika Wabah Hitam melanda Firenze, tujuh pemudi dan tiga pemuda menyelamatkan diri dengan mengasingkan diri di sebuah vila tak dihuni di daerah Fiesole selama dua minggu. Untuk mengisi malam, setiap orang secara bergantian menyampaikan cerita untuk teman-teman lainnya. Cerita-cerita tersebut ditentukan oleh pemuda atau pemudi yang ditugaskan menjadi raja dan ratu. Pemuda atau pemudi yang ditugaskan menjadi raja dan ratu ini kemudian menentukan tema cerita yang akan dibawakan selama sehari tersebut.

Salah satu cerita yang disampaikan untuk mengisi malam-malam isolasi tersebut diterjemahkan untuk rubrik Terjemahan bulan ini.

Dalam Dekameron, latar belakang wabah penting untuk menggarisbawahi posisi sastra sebagai penghiburan di tengah mala dan potensi keputusasaan. Bahwa sastra dapat digunakan sebagai sarana resistensi manusia, bahwa cerita adalah bagian yang inheren dengan eksistensi manusiawi kita. Semangat inilah yang juga ingin diteruskan melalui penerjemahan versi Indonesia salah satu bagian dari karya Boccaccio yang paling terkenal ini.

Cerita berjudul “Mimpi, Istri dan Serigala” adalah terjemahan dari “Cerita Ketujuh, Hari Kesembilan” Dekameron.

***

Talano di Molese bermimpi bahwa seekor serigala mencabik-cabik leher dan wajah istrinya; ia meminta istrinya waspada; istrinya tak mematuhi, dan beginilah jadinya.

Ketika cerita Panfilo selesai, dan cakrawala pengetahuan sang perempuan dipuji oleh semua orang, Ratu meminta Pampinea untuk menceritakan kisahnya. Ia pun mulai:

Pada kesempatan lain, puan-puan yang menyenangkan, kita telah mendiskusikan betapa kebenaran dapat muncul lewat mimpi-mimpi, banyak yang tentu mengejeknya; dan meski sudah diketahui sebelumnya, tak akan kubiarkan hal ini berlalu tanpa menyampaikan kisah agak singkat yang terjadi pada tetanggaku, yang tak percaya pada mimpi suaminya, belum terlalu lama.

Aku tak tahu apakah kalian pernah mengenal Talano di Molese, lelaki yang sangat terhormat. Orang ini memiliki seorang istri yang masih muda bernama Margarita, yang tercantik di antara para wanita, tetapi juga yang lebih aneh, lebih cepat naik pitam dan tak puas, dan pada tingkat tertentu tak mau mendengarkan saran orang lain; dan tak ada yang dapat menyenangkannya; meski hal ini sangat sulit ditanggung oleh Talano, ia tak bisa apa-apa, dan pasrah menerimanya.

Nah, pada suatu malam, ketika Talano sedang tidur bersama Margarita dalam gubuknya, ia bermimpi melihat istrinya jalan-jalan dalam hutan yang sangat indah, tak jauh dari rumah mereka. Ketika istrinya sedang jalan-jalan, ia melihat dari salah satu sudut hutan seekor serigala besar dan ganas muncul dan sekejap menerkam sang istri di batang leher, dan menyeretnya. Si perempuan berteriak minta tolong, dan berusaha membebaskan dirinya. Ketika akhirnya lolos dari mulut serigala, leher dan wajahnya hancur. Karena itu, sesaat setelah bangun pagi, berkatalah Talano kepada istrinya:

“Istriku, meski kau masih tak mau menerima bahwa aku dapat memiliki hari indah bersamamu, aku akan bersedih jika hal buruk menimpamu; karena itulah, jika kau percaya saranku, hari ini jangan dulu keluar rumah.” Kenapa, tanya istrinya, dan ia pun mengisahkan mimpinya secara berurutan kepada sang istri.

Menepuk keningnya, sang istri berkata:

“Karena menghendaki yang buruk, kau pun memimpikannya. Kautunjukkan begitu banyak perhatian kepadaku, tapi kau memimpikan apa yang ingin kaulihat; dan tentu saja aku akan waspada, sekarang dan seterusnya. Aku tak mau menyenangkanmu dengan kemalanganku, baik yang ini, maupun yang lain.”

Lalu berkatalah Talano:

“Aku tahu kau akan berkata seperti itu, itulah cara berpikirmu. Percayailah apa yang kausukai. Tetapi aku mengatakannya demi kebaikan, dan sekali lagi aku menyarankanmu untuk tinggal di rumah hari ini, atau setidaknya, menjauhlah dari hutan kita.”

Kata sang istri:

“Baiklah, aku akan melakukannya,” dan kemudian ia mulai berkata pada dirinya sendiri: “Sudah kausaksikan betapa jahat dirinya. Dia pikir dia dapat membuatku takut untuk pergi ke hutan hari ini? Ia pasti sudah janjian dengan seorang perempuan sial, dan tak mau kupergoki. Ya ampun, ia berharap memiliki perjamuan yang menyenangkan dengan orang-orang buta,[1] dan betapa tololnya aku jika percaya padanya dan tidak mengetahui muslihatnya! Tetapi tentu saja ia tak akan berhasil: lebih baik aku saksikan, bahkan jika aku mesti berada sepanjang hari di sana, apa yang sekarang sedang dia rencanakan.”

Tak lama setelah bilang begitu, pergilah si suami dari sisi rumah yang satu, dan si istri dari sisi yang lain. Secepat mungkin, tanpa menunda, si istri masuk hutan, dan di sana, di bagian yang paling lebat, ia bersembunyi, mengawasi semua sisi, untuk mengetahui apakah ada orang yang datang.

Ketika ia sedang menunggu seperti itu, tanpa sekali pun curiga terhadap adanya seekor serigala, tiba-tiba dari bagian gelap dekat dirinya keluarlah seekor serigala yang besar dan buas. Saat melihat serigala, ia hanya bisa berbicara, terbata-bata, “Tuhan, tolonglah aku,” sebelum serigala menerkam lehernya, mencengkeram erat dengan taringnya, dan mulai menyeretnya seperti sedang membawa seekor anak domba yang masih sangat kecil.

Ia tak dapat berteriak atau menolong dirinya dengan cara lain, karena serigala mencengkeram lehernya sangat erat. Serigala akan terus membawanya dan mencengkeram batang lehernya tanpa ragu, jika tidak berpapasan dengan beberapa gembala, yang berteriak-teriak sehingga serigala melepaskan si perempuan. Para gembala yang mengenal perempuan malang dan sekarat itu kemudian membawanya ke rumah. Setelah lama dirawat oleh para dokter, ia membaik. Tetapi tidak sepenuhnya, karena leher dan sebagian wajahnya tidak sembuh seperti semula. Awalnya ia cantik, tetapi setelah itu ia selalu tersamar dan jelek. Ia malu menunjukkan diri, dan sering meratapi dengan sangat pilu keengganannya dan penolakannya, meski hal itu tak berarti apa pun bagi kebenaran sangat meyakinkan dari mimpi si suami.(*)

Catatan:

[1] Terjemahan harfiah dari “Avrebbe buon manicar co’ ciechi”. Artinya, karena makan dengan orang-orang buta, seseorang berhak makan sepuasnya dan memilih menu-menu terbaik, karena tak ada yang melihatnya (bandingkan catatan kaki nomor 4 dalam Boccaccio, 1952: 652).


Tentang Giovanni Boccaccio

Giovanni Boccaccio (1313-1375) adalah penulis, penyair dan salah satu humanis Italia terpenting dari zaman Renaisans. Dekameron adalah karyanya yang paling terkenal dan prosanya yang paling penting, yang sering disebut “komedi manusiawi”, sebagai perbandingan dengan karya Dante Divina Commedia. Boccaccio berada di Firenze ketika Wabah Hitam melanda pada 1348.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Italia oleh Mario F. Lawi, dari seri La Letteratura Italiana. Storie e testi. Volume 8. Giovanni Boccaccio: Decameron, Filocolo, Ameto, Fiammetta (Milano & Napoli, Riccardo Ricciardi, 1952: 651-653).


Ilustrasi: Photo by Oleg Magni from Pexels

Baca juga:
– Cerpen Antoninos Liberalis, “Empat Kisah tentang Asal Mula Burung-Burung”
– Cerpen Gabriel García Márquez, “Seseorang Telah Mengacak-acak Mawar-Mawar Ini”

Bagikan artikel ini ke: