Menu
Menu

“Seseorang Telah Mengacak-acak Mawar-Mawar ini” adalah cerpen Gabriel García Márquez. Diterjemahkan dari buku “Innocent Eréndira and Other Stories” (Penguin, 1996: 171-176).


Oleh: Mario F. Lawi |

Buku-buku puisinya adalah “Memoria” (2013), “Ekaristi” (2014), “Lelaki Bukan Malaikat” (2015), “Mendengarkan Coldplay” (2016), “Keledai yang Mulia” (2019), dan buku puisi berbahasa Inggris: “Bui Ihi: The Cooling of the Harvest and Other Poems” (2019).September 2019, Mario akan berpartisipasi dalam Contains Strong Language Festival di Hull, Inggris.


***

Karena hari ini Minggu dan hujan telah berhenti, aku pikir akan kubawa sebuket mawar ke kuburanku. Mawar-mawar merah dan putih, jenis yang ia pelihara untuk menghiasi altar dan karangan bunga. Pagi telah dibikin sedih oleh musim dingin yang segan dan dahsyat yang membuatku mengingat bukit kecil tempat penduduk kota meninggalkan mayat-mayat mereka. Bukit kecil itu gundul dan tanpa pohon, hanya disapu oleh remah-remah takdir yang kembali setelah angin berlalu. Sekarang hujan telah berhenti dan matahari siang mungkin telah mengeraskan lereng licin itu, seharusnya bisa kucapai kuburan tempat jasad anakku berbaring, sekarang tercampur, hancur di antara siput dan akar.

Ia bersujud di hadapan para kudusnya. Ia tetap khusyuk sejak saat aku berhenti bergerak dalam ruangan, ketika dalam percobaan pertama aku gagal mencapai altar dan memilih mawar yang paling terang dan segar. Mungkin aku bisa melakukannya hari ini, tetapi lampu kecil itu berkedip dan ia, sadar dari ekstasinya, mengangkat kepalanya dan menatap ke sudut tempat kursi itu berada. Ia pasti berpikir: “Ini lagi-lagi karena angin,” karena memang benar sesuatu berderak di samping altar dan ruangan bergoyang sesaat, seolah-olah tingkat ingatan yang mandek di dalamnya sudah lama berganti. Lalu aku mengerti bahwa harus kutunggu kesempatan lain untuk mendapatkan mawar-mawar itu karena ia masih terjaga, menatap ke kursi, dan ia akan mendengar bunyi tanganku di samping wajahnya. Sekarang aku harus menunggu sampai ia meninggalkan ruangan sebentar dan pergi ke sebelah untuk menghabiskan tidur siang hari Minggu yang terukur dan tak berubah. Kemudian aku mungkin bisa pergi dengan mawar dan pulang sebelum ia kembali ke ruangan ini dan tetap menatap kursi.

Hari Minggu lalu lebih sulit. Aku harus menunggu hampir dua jam agar ia masuk dalam ekstasi. Ia tampak resah, khusyuk, seolah ia telah disiksa kepastian bahwa kesendiriannya di rumah tiba-tiba menjadi kurang intens. Ia mondar-mandir beberapa kali di sekitar ruangan dengan buket mawar sebelum meninggalkannya di altar. Ia kemudian keluar ke lorong, berbalik, dan pergi ke ruangan sebelah. Aku tahu bahwa ia sedang mencari lampu. Dan kemudian, ketika ia melewati pintu lagi dan kulihat ia dengan cahaya aula mengenakan jaket kecil gelap dan stoking merah mudanya, bagiku ia masih gadis yang bersandar di tempat tidurku empat puluh tahun lalu di ruangan yang sama dan berkata: “Sekarang setelah mereka memasang tusuk gigi, matamu terbuka dan keras.” Ia masih sama, seolah waktu belum berlalu sejak sore Agustus yang jauh itu ketika para wanita membawanya ke dalam ruangan dan menunjukkan padanya mayat itu dan berkata: “Menangislah, ia seperti saudara bagimu,” dan ia bersandar di dinding, menangis, patuh, masih basah kuyup oleh hujan.

Selama tiga atau empat hari Minggu aku berusaha untuk sampai ke tempat mawar-mawar itu berada, tetapi ia sudah waspada di depan altar, mengawasi mawar-mawar itu dengan ketekunan menakutkan yang tidak pernah kuketahui selama dua puluh tahun ia tinggal di rumah. Hari Minggu lalu, ketika ia pergi untuk mengambil lampu, aku berhasil merangkai sebuket bunga mawar terbaik. Tidak pernah aku berada lebih dekat untuk memenuhi keinginan-keinginanku. Namun ketika aku bersiap untuk kembali ke kursi, aku mendengar lagi langkahnya di koridor. Aku menata ulang bunga mawar di altar dengan cepat dan kemudian kulihat ia muncul di ambang pintu dengan lampu terangkat tinggi.

Ia mengenakan jaket kecil gelap dan stoking merah mudanya, tetapi di wajahnya ada sesuatu seperti pendaran cahaya wahyu. Ia tidak tampak akan jadi wanita yang selama dua puluh tahun memelihara bunga mawar di taman, melainkan anak yang sama yang pada sore Agustus itu dibawa ke ruang sebelah sehingga ia bisa mengganti pakaiannya dan yang sekarang kembali dengan lampu, gemuk dan menua, empat puluh tahun kemudian.

Masih ada lapisan keras tanah liat yang melekat di sepatuku sore itu terlepas dari kenyataan bahwa sepatuku telah mengering di samping kompor yang padam selama empat puluh tahun. Suatu hari aku pergi untuk mengambilnya. Kejadian itu terjadi setelah mereka menutup pintu, menurunkan roti dan setangkai lidah buaya dari pintu masuk, dan mengambil perabotan. Semua perabotan kecuali kursi di sudut yang telah melayaniku sebagai tempat duduk selama ini. Aku tahu bahwa sepatu telah dibiarkan kering dan mereka bahkan tidak mengingatnya ketika mereka meninggalkan rumah. Itu sebabnya aku pergi untuk mengambilnya.

Ia kembali bertahun-tahun kemudian. Begitu banyak waktu berlalu sehingga aroma kesturi di ruangan itu bercampur dengan bau debu, dengan napas yang kering dan kecil milik serangga-serangga. Aku sendirian di rumah, duduk di sudut, menunggu. Dan aku harus belajar untuk mengeluarkan bunyi kayu membusuk, kibasan udara menjadi tua di kamar-kamar tidur yang tertutup. Itu terjadi ketika ia datang. Ia berdiri di pintu dengan koper di tangannya, mengenakan topi hijau dan jaket katun kecil yang sama yang belum pernah ia lepas sejak saat itu. Ia masih seorang gadis. Ia belum mulai menggemuk dan pergelangan kakinya belum membengkak di dalam stokingnya seperti sekarang. Aku terselimuti debu dan sarang laba-laba ketika ia membuka pintu, dan, di suatu tempat dalam ruangan, jangkrik yang telah bernyanyi selama dua puluh tahun terdiam. Namun terlepas dari itu, terlepas dari sarang laba-laba dan debu, keengganan jangkrik yang tiba-tiba dan era baru dari kedatangan baru, dalam dirinya kukenali gadis yang pada sore Agustus yang berangin kencang itu pergi bersamaku mengumpulkan sarang di kandang kuda. Persis seperti ia yang dulu, berdiri di ambang pintu dengan koper di tangannya dan topi hijau di kepalanya, ia tampak seolah-olah akan tiba-tiba berteriak, mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan ketika mereka menemukanku menengadah di atas lantai kandang yang tertutup jerami masih memegang susuran tangga yang rusak. Ketika ia membuka pintu lebar-lebar, engselnya berderit dan debu dari langit-langit jatuh bergumpal, seakan seseorang mulai menggedor bubungan atap, lalu ia berhenti di ambang pintu, separuh jalan masuk ke ruangan sesudahnya, dan dengan suara seseorang yang memanggil orang yang sedang tidur ia berkata: “Nak! Nak!” Dan aku tetap bergeming di kursi, kaku, dengan kaki terentang.

Aku pikir ia datang hanya untuk melihat kamar, tetapi ia terus tinggal di rumah. Ia membiarkan udara masuk dan itu terjadi seolah telah ia buka kopernya dan aroma kesturi tuanya datang dari sana. Yang lain telah membawa pergi perabot dan pakaian dengan peti-peti. Ia hanya mengambil aroma ruangan itu, dan dua puluh tahun kemudian ia membawanya kembali, meletakkannya di tempatnya, dan membangun kembali altar kecil, seperti sebelumnya. Kehadirannya saja sudah cukup untuk mengembalikan apa yang telah dihancurkan oleh industri waktu yang keras. Sejak itu ia makan dan tidur di kamar sebelah, tetapi ia menghabiskan hari di sini, bercakap-cakap dalam diam dengan para kudus. Pada sore-sore hari ia duduk di kursi goyang di sebelah pintu dan menisik pakaian. Dan ketika seseorang datang untuk sebuket mawar, ia menaruh uangnya di sudut saputangan yang ia kaitkan ke ikat pinggangnya dan selalu berkata, “Pilih yang di sebelah kanan, yang di sebelah kiri untuk para kudus.”

Begitulah ia selama dua puluh tahun, di kursi goyang, menisik barang-barangnya, mengayun, memandangi kursi seolah-olah sekarang ia tidak merawat bocah yang dengannya ia berbagi sore-sore hari masa kecilnya melainkan cucu tidak sah yang telah duduk di sudut ini sejak neneknya berusia lima tahun.

Mungkin saja sekarang, ketika ia menundukkan kepalanya lagi, aku bisa mendekati mawar-mawar itu. Jika aku bisa melakukannya, aku akan pergi ke bukit kecil, meletakkannya di kuburan, dan kembali ke kursiku untuk menunggu hari ketika ia tidak akan kembali ke kamar dan bebunyian akan berakhir di semua ruangan.

Pada hari itu semua ini akan berubah, karena aku harus meninggalkan rumah lagi untuk memberi tahu seseorang bahwa perempuan mawar, orang yang tinggal di rumah yang hampir roboh, butuh empat orang pria untuk membawanya ke bukit kecil. Maka aku akan selamanya sendirian dalam kamar. Tetapi, di sisi lain, ia akan puas. Karena pada hari itu ia akan belajar bahwa bukan angin tak terlihat yang datang ke altarnya setiap hari Minggu dan mengacak-acak bunga-bunga mawar.

(1952)

***

Tentang Gabriel García Márquez

Lahir di Aracataca, Kolombia, pada tahun 1928. Ia belajar di Universitas Bogotá dan kemudian bekerja sebagai reporter untuk surat kabar Kolombia El Espectador dan sebagai koresponden asing di Roma, Paris, Barcelona, Caracas, dan New York. Ia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1982. Cerpen “Seseorang Telah Mengacak-acak Mawar-Mawar Ini” diterjemahkan Mario F. Lawi dari buku Innocent Eréndira and Other Stories (Penguin, 1996: 171-176). Terjemahan Inggris dikerjakan Gregory Rabassa dari bahasa Spanyol. Versi berbahasa Spanyol cerpen di atas bisa dibaca di sini.


Ilustrasi: Photo by Adonyi Gábor from Pexels

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *