Menu
Menu

Kisah-kisah metamorfosis tentang asal mula burung-burung berikut ini ditulis Antoninos Liberalis dalam bahasa Yunani Koine.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang telah terbit adalah “Dua Himne” karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan “Ecloga I” (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


Ktesylla

Dari buku ketiga Nicander tentang Perubahan Bentuk

Ktesylla, keturunan Ioulis, kelahiran pulau Keos, putri Alkhidamas. Hermokhares orang Athena melihatnya menari di altar Apollon di Karthaia (sebuah kota di Keos) saat festival Pythia, lalu jatuh cinta kepadanya. Ia menulis sumpah di buah apel. “Sumpah demi Artemis sang perawan, aku akan menikahi Hermokhares dari Athena.” Ia membuang apel itu ke kuil Artemis. Ktesylla memungut dan membacanya. Ia mencampakkan apel yang ditulisi sumpah dengan rasa malu, dan berpasrah dalam hatinya, seperti Kydippe ditipu oleh Akonthios. Alkhidamas pun terdesak oleh Hermokhares yang ingin menikah, dan bersumpah kepada Apollon sambil memegang pohon dafnah. Tetapi setelah festival Pythia, sumpah dilupakan. Alkhidamas mempertunangkan putrinya dengan orang lain. Ketika Ktesylla menjalankan upacara suci di kuil Artemis, Hermokhares yang marah karena kegagalan menerobos ke dalam kuil. Melihatnya, Ktesylla jatuh cinta padanya, sesuai kehendak ilahi. Dengan bantuan pengasuhnya, ia berlayar pada malam hari ke Athena di luar pengetahuan ayahnya, dan pernikahan dengan Hermokhares berjalan lancar. Ketika hendak melahirkan, Ktesylla tidak ditangani dengan baik, dan meninggal atas kehendak dewa karena sumpah palsu sang ayah. Saat jenazahnya dibawa ke kubur, seekor merpati terbang dari dalam peti, dan jasad Ktesylla lenyap. Hermokhares berkonsultasi dengan peramal. Menurut jawaban dewa, ia harus membangun sebuah kuil suci di Ioulis untuk Aphrodite Ktesylla. Hal yang sama disampaikan kepada orang-orang Keos. Sampai sekarang, saat mereka mempersembahkan kurban untuk Aphrodite, mereka juga mempersembahkan untuk Ktesylla, julukannya yang lain adalah Ktesylla Hekaerge.

Hierax

Dari buku Boios tentang asal mula burung-burung, atau Ornithogonia

Di tanah Mariandynia hiduplah Hierax, seorang pria yang adil dan luhur. Ia mendirikan kuil untuk Demeter dan menerima panen berlimpah dari sang dewi. Tetapi setelah orang-orang Troia tidak memberikan kurban kepada Poseidon tepat waktu, dan kemudian mengabaikannya, Poseidon yang ditolak menghancurkan panenan mereka, mengirim monster raksasa dari laut untuk mereka. Orang-orang Troia, dengan monster dan kelaparan yang tak mampu mereka hadapi, memohon kepada Hierax mengirim bantuan yang mereka butuhkan untuk mengatasi kelaparan. Hierax pun mengirim gandum dan makanan lainnya. Marah karena hal tersebut membuat kemuliaannya dilecehkan, Poseidon mengubah Hierax menjadi burung yang disebut “hierax” dalam bahasa Yunani, “accipiter” dalam bahasa Latin, atau elang. Karakternya juga seketika berubah: ia yang paling dicintai di antara manusia, berubah jadi yang paling dibenci di antara burung-burung: ia yang dulu menyelamatkan banyak manusia dari kematian, menjadi pembunuh banyak burung.

Emathides

Nicander mengisahkannya di buku IV tentang Perubahan Bentuk

Zeus, sebagaimana dikisahkan, bercinta di Pieria dengan Mnemosyne, dan menjadi orang tua Musa. Pada masa itu Pieros menjadi raja di Emathia yang menyedihkan, dan ia memiliki sembilan putri yang membentuk kor untuk menandingi para Musa. Lomba musik pun diadakan di Helikon. Ketika putri-putri Pieros menyanyi, semua benda diselimuti kegelapan, dan tak ada yang mendengarkan mereka. Ketika para Musa menyanyi, langit, bintang, laut, dan sungai berhenti bergerak. Dan Helikon, yang terselimuti kegembiraan, bertambah tinggi sampai ke langit. Atas kehendak Poseidon, Pegasus berhenti, menusuk puncak gunung itu dengan kakinya. Karena para makhluk fana itu menantang para dewi berlomba, para Musa mengubah mereka menjadi burung-burung berjumlah sembilan ekor, yang sekarang orang-orang sebut sebagai colymbas, jynx, cenchris, cissa, chloris, acalanthis, nessa, pipo dan dracontis.

Aeropos

Dari buku kedua Boios tentang asal mula burung-burung

Di Thebai (kota di Boiothia), tinggallah Eumelos putra Eugnotos. Eumelos memiliki seorang putra bernama Botres. Sang ayah adalah pemuja Apollon yang mempersembahkan banyak kurban. Suatu saat, ketika ia sedang melakukan upacara pemujaan, Botres memakan otak hewan kurban sebelum kurban tersebut dipersembahkan di altar. Dengan marah, sang ayah mengambil kayu dari altar, menghantamnya ke kepala si anak. Bersama mengalirnya darah, si anak kejang-kejang dan terjatuh. Ibu dan ayah dan para pelayan yang melihat hal ini mengalami dukacita yang begitu hebat. Namun Apollon, yang dihormati sang ayah, berbelaskasih, mengubah sang anak menjadi burung kirik-kirik (aeropos/bee-eater): yang hari ini bertelur di tanah, dan pada akhirnya selalu berusaha terbang.


Tentang Antoninos Liberalis

Antoninos Liberalis adalah penulis dan ahli tata bahasa Yunani Kuno. Sangat sedikit hal yang bisa diketahui tentang hidupnya. Ia diperkirakan hidup antara tahun 100-300 Masehi, merupakan seorang terpelajar dan instruktur retorika. Kisah-kisah metamorfosis di atas ditulis dalam bahasa Yunani Koine. Keempat cerita di atas diterjemahkan Mario F. Lawi dari versi Latin Wilhelm Xylander dalam buku dwibahasa Yunani Koine-Latin Μεταμορφώσεων Συναγωγή (Koleksi Metamorfosis, 1568) yang telah didigitalisasi. Μεταμορφώσεων Συναγωγή berisi 41 prosa pendek tentang metamorfosis. Sejak publikasi terjemahan Xylander, beberapa halaman manuskrip asli yang berisi kisah-kisah Antoninos Liberalis telah hilang. Versi Yunani dalam terjemahan Xylander adalah sumber tertua dan paling otoritatif sampai saat ini yang dirujuk oleh para penerjemah dan editor karya-karya Antoninos Liberalis.


Ilustrasi: Photo by Adrianna Calvo from Pexels

Baca juga:
– ESAI UMBERTO ECO – ANTARA LA MANCHA DAN BABEL
– PUISI-PUISI SALVATORE QUASIOMODO – LAUDE

Bagikan artikel ini ke: