Menu
Menu

Berbicara tidak hanya harus ada seninya, tetapi juga harus ada upahnya!


Oleh: Safar Nurhan |

Lahir di pulau kecil bernama Paisubebe, Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Selain sebagai penulis, ia juga editor. Buku kumpulan cerpen yang menjadi buku pertamanya telah diterbitkan oleh Penerbit Pojok Cerpen, “Nelayan Itu Berhenti Melaut” (2019). Tulisan-tulisannya kerap dimuat di media nasional, daring, dan lokal. Ia bergiat di Lembaga Kajian KUTUB Yogyakarta dan sempat aktif di Warung Arsip.


Saya telah berniat untuk tidak ribut perihal honor di dunia buku. Selain melelahkan, pun tidak berdampak signifikan bagi saya.

Saya masih hidup begini-begini saja: masih beli paket internet 1 GB; masih nongkrong di warung kopi yang kopinya seharga 5 ribu per cangkir; dan beli rokok kretek seharga 13 ribu rupiah per bungkus. Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebab itu semua sudah istimewa bagi saya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini saya terganggu, sangat terganggu dengan kabar yang saya dengar dari dunia buku. Yakni, tentang para penulis yang harus mengalami perlakuan “tidak dibayar dengan layak” saat menjadi pembicara di beberapa festival sastra dan buku yang banyak diadakan pada akhir-akhir ini—festival yang dibiayai pemerintah maupun swasta. Namun, tidak semua penulis mengalami demikian.

Saya mengenal beberapa penulis muda nan terkenal di Indonesia. Mereka sangat ketat perihal tarif saat mereka diundang di pergelaran sastra dan buku di daerah-daerah. Mereka mematok harga bila ada panitia mengundang, sebab mereka memiliki manajemen yang mesti diberi honor tiap bulan. Namun, mereka pun punya kesadaran bila pergelaran tersebut diselenggarakan oleh komunitas yang cara mengumpulkan dananya dengan patungan seadanya—karena tidak ada keterlibatan pemerintah atau donatur besar—maka pihak manajemen tidak akan tega mematok tarif. Cukuplah dibiayai anggaran transportasi, meski tak sedikit pula penulis yang akhirnya rela membiayai sendiri semua anggaran yang harus keluar untuk hadir di pergelaran tersebut.

Banyak alasan mengapa penulis demikian mau hadir dengan biaya sendiri, salah duanya: penulis itu kaya dan komunitas itu unik di mata penulis. Celakanya, ini langka kita temukan, sebab banyak penulis miskin dan banyak pula komunitas yang biasa saja.

Panitia pergelaran sastra dan buku pun sadar betul bila mengundang penulis muda nan terkenal itu di kegiatan mereka: membayar dengan tarif yang sudah ditentukan oleh pihak manajemen. Bila tarif tidak sesuai standar dari penulis muda nan terkenal itu maka dari manajemen menolak tawaran dari pihak panitia. Penulis muda nan terkenal itu pun sadar betul bahwa kerja mereka adalah pekerjaan profesional yang semestinya dibayar secara profesional. Apa salah para penulis muda nan terkenal itu mematok tarif? Menurut saya, tidak salah. Itu hak mereka dan semestinya, bagi saya, semua penulis harus tegas mengenai tarif. Jangan kerap ucap, “Masalah tarif, tabu untuk dibahas, Far. Aku terima aja apa yang dikasih oleh panitia alias ikhlas”.

Maaf! Jangan terlalu naif.

Justru sangat naif, bagi saya, bila sampai ada panitia pergelaran—yang punya bujet besar karena didukung oleh pemerintah ataupun swasta—tetapi tidak memberi tarif pantas bagi penulis yang memiliki rekam jejak baik di kancah kepenulisan di Indonesia. Dan, sekadar info, jika bukan dari honor mengisi acara-acara sebagai pembicara, banyak penulis yang cuma menggantungkan hidup dari honor tulisan dan royalti buku. Bayangkan, ke-ngilu-an macam apa yang akan dirasakan oleh para penulis tersebut ketika telah bersedia mengganti kesibukannya dengan menjadi pembicara, tapi malah dibayar tidak layak—bahkan tidak dibayar sama sekali kecuali ucapan terima kasih—oleh panitia?!

Saya bisa menyebut para penulis bernasib malang tersebut, tetapi saya tidak mungkin mencantumkan nama para penulis itu di tulisan ini. Bagi teman-teman yang bergelut di dunia buku pasti tahu kondisi ini. Saya yakin.

Ada yang lebih ironis, yakni kelas-kelas kepenulisan yang tidak membayar pengisinya dan pihak panitia belum/tidak ada kesepakatan awal mengenai tarif dengan pengisi.

“Bang, boleh mengisi kelas kepenulisan kreatif di acara kami?”

“Boleh. Kapan?”

“Tanggal …, bulan …, tahun ….”

“Siap.”

Ketika kelas kepenulisan kreatif itu selesai, si penulis balik ke kos atau kontrakan atau rumahnya, dan langsung mengeluh, “Kok, saya tidak dikasih upah dari panitia, ya?!”

Saya kerap mendengar keluhan macam itu dari penulis yang saya kenal. Sungguh, saya sangat dongkol mendengarnya. Mungkin, ada sebagian orang merespons macam begini: hidup ini tidak melulu mengenai uang, Bung. Oke. Saya sepakat pernyataan itu, tetapi penulis butuh makan; membiayai istri dan anak; dan tetek bengek lainnya. Apakah semua itu gratis? Tentu saja, tidak!

Kehadiran penulis di pergelaran sastra dan buku adalah kehadiran yang penting untuk berbagi ilmu kepada para pengunjung dan selain itu para penulis memantik banyak pembaca untuk hadir, lalu akan berdampak pada omzet penjualan buku. Bila kita sadar bahwa ilmu diraih dengan susah payah dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, semestinya profesi penulis pun bisa dihargai dengan upah yang layak—minimal si penulis kembali ke rumah dengan raut bahagia dan kuping saya tidak mendengar keluhan-keluhan itu semua.

Pengisi acara yang tidak diupah dengan layak bukan hanya penulis muda—yang hanya memiliki satu dan dua tulisan di media—tetapi penulis yang telah menulis banyak buku dan semestinya rentetan judul buku itu menjadi standar berapa tarif yang layak untuk penulis. Tidak asal kasih Rp200.000.00 (belum dipotong pajak). Atau, mengundang novelis dan penyair dan esais di pergelaran buku, dan banyak mengumpulkan omzet dari penjualan buku, tetapi novelis dan penyair dan esais hanya mendapat bingkisan yang berisi baju kaos bertulis nama festival, selain itu tidak ada. Sama sekali tak ada.

Festival-festival itu terlihat berjalan lancar dan tak ada masalah dengan para pengisinya.

Benar. Terlihat baik-baik saja. Sebab, para penulis yang tidak diupah dengan layak adalah penulis yang tidak berisik di meja gosip dan beranda media sosial. Mereka mengunci mulut dan merantai jari-jari mereka untuk tidak mengatakan dan menulis sesuatu yang telah menimpa mereka, dengan satu alasan: kehadiran festival sastra dan buku yang bertebaran di daerah-daerah adalah kabar baik untuk literasi Indonesia. Duh, sungguh mulia—dan betapa sedikit yang peduli dengan sikap itu.

Entah sebuah keberuntungan atau kesialan, kabar kondisi penulis—novel, puisi, dan esai—yang memilukan itu sampai harus di telinga lelaki berisik seperti saya. Dan, “kodrat” menjadi lelaki berisik tentu saja merasa tidak ada yang lebih penting selain menyampaikan ke semua orang, bahwa beginilah secuil masalah dunia perbukuan Indonesia. Barangkali banyak panitia yang lupa bahwa berbicara tidak hanya harus ada seninya, tetapi juga harus ada upahnya! (*)


Ilustrasi: Photo by Bich Tran from Pexels

Baca juga:
DISEMINASI GERAKAN LITERASI NASIONAL DI RUTENG, NTT
PENTAS CIPTA KARYA DAN EKOSISTEM TUMBUH BERSAMA PENONTON

Bagikan artikel ini ke: