Menu
Menu

Uskup Ruteng yang baru, Mgr. Siprianus Hormat, tiba di Ruteng hari ini, Sabtu, 29 Februari 2020.


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi. Tulisannya yang lain dapat dilihat di ranalino.id.


Ketika The Academy of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS) sebagai penyelenggara ajang Academy Awards ke-92 atau Piala Oscar 2020 mengumumkan para nomine pada hari Senin, 13 Januari 2020 silam, saya bersukacita.

Baru dua pekan sebelumnya saya nonton The Two Popes, sehingga masuknya Jonathan Pryce di nominasi Best Actor dan Anthony Hopkins di nominasi Best Supporting Actor dalam daftar nomine itu terasa sangat menggembirakan.

Saya sadar bahwa peluang Pryce memenangkan penghargaan itu sangat berat (sebab mesti bersaing dengan Joaquin Phoenix yang, kalian tahulah, memukau di Joker), tetapi saya senang bahwa seorang pemain utama dari sebuah film yang berisi dialog-dialog panjang dapat masuk dalam daftar nominasi.

Soal Anthony Hopkins? Saya berharap dia menang. Di film itu Hopkins sangat bagus menunjukkan ‘situasi batin’ Paus Benediktus XVI. Menjadi lebih bagus sebab penampilannya itu berhasil mengusir ketakutan saya setiap kali mendengar namanya; senyumnya yang menakutkan ketika dia jadi Dr. Hannibal Lecter.

Hasil penilaian atas para nomine akhirnya diumumkan pada hari Minggu, 9 Februari 2020 malam di Dolby Theatre, Los Angeles. Di Indonesia, sudah hari Senin pagi ketika itu. Tanggal 10 Februari. “Parasite” menyabet Best Pictures. Pemenang setiap kategori juga diumumkan ke seluruh dunia. Pryce dan Hopkins tidak ada dalam daftar itu.

Meski telah menduga, ada rasa kecewa juga. Kalau Pryce tidak, minimal Hopkins lah. Hanya saja, panitia tentu merasa bahwa Brad Pitt, yang memang tampil fit di Once Upon a Time in Hollywood, berada di atas Hopkins dan nomine lainnya; dan itu sungguh fair—saya senang Pitt dapat Oscar-nya yang pertama.

Uskup Ruteng dan Dialog

“The Two Popes”, sebuah drama yang dibintangi oleh Anthony Hopkins dan Jonathan Pryce, mengeksplorasi perjuangan internal Gereja Katolik untuk menyeimbangkan sudut pandang tradisional dan progresif. Film ini, yang berdasar kisah nyata, menampilkan beberapa peristiwa yang melibatkan Joseph Ratzinger dan Jorge Bergoglio.

Ratzinger adalah Kardinal asal Jerman, dikenal dengan pandangannya yang konservatif; kemudian terpilih dan menjadi Paus Benediktus XIV. Bergoglio adalah Kardinal yang dikenal progresif, berasal dari Argentina; kemudian menjadi Paus Fransiskus. Keduanya pernah ‘bersaing’ dalam pemilihan pengganti Paus Yohanes Paulus II. Kita semua tahu, ‘pemenang’ saat itu adalah Ratzinger.

Pasca-pemilihan itu, Bergoglio ingin mundur sebagai pejabat Kardinal di Argentina dan menjadi penggembala umat biasa. Surat pengunduran diri dikirimnya ke Roma, yang didapatnya kemudian adalah panggilan menghadap Paus Benediktus XVI.

Pertemuan keduanya, yang berisi dialog-dialog panjang, membuka pengetahuan kita tentang situasi internal gereja Katolik; yang konservatif dan yang moderat (sering disebut progresif)—dialog-dialog yang mewakili sekaligus menjawab apa yang menjadi percakapan antarumat selama ini.

Tentu saja dialog-dialog tersebut akan membosankan jika yang memerankannya bukan Pryce dan Hopkins. Namun berkat mereka (dan pilihan The Academy of Motion Pictures Arts and Sciences memasukkan keduanya dalam daftar nominasi) dialog-dialog tersebut mendunia sebab orang-orang, sebagaimana kita semua, selalu berniat menonton film-film yang masuk nominasi Oscar. Saya senang. Ya! Karena dengan demikian kita dapat mengakses sendiri (sedikit) jawaban tentang situasi/tantangan gereja di zaman modern ini dan serentak menyadari bahwa kehidupan gereja Katolik diwarnai (sebut saja) perbedaan internal yang seru. Keberhasilan menyelesaikan konflik itu dengan dialog yang sungguh-sungguh, membuatnya bertahan menembus segala zaman.

Usai menonton The Two Popes dengan dialog-dialog yang penuh pengertian itu, saya lalu ingat kotbah Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, pada tahun pertama ditunjuk sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng. “Berkali-kali gereja jatuh dalam skandal, namun berkali-kali pula bangkit lagi. Bertahan menembus dua ribuan tahun. Itu adalah bukti karya Allah Roh Kudus. Marilah kita membiarkan diri kita terbuka terhadap karya Roh Kudus.” Begitu (yang saya ingat) kata Mgr. San ketika dirinya memimpin Misa Pentekosta pada bulan Mei 2018, di Paroki St. Klaus, Kuwu.

Lebih dari setahun setelahnya, tepatnya tanggal 13 November 2019, Tahta Suci Vatikan mengumumkan bahwa Uskup Ruteng yang baru telah diputuskan. Rm. Siprianus Hormat, Pr. akan memimpin keuskupan ini (setelah ditahbiskan pada 19 Maret 2020), menggantikan Mgr. Hubertus Leteng yang mengundurkan diri–menyusul ‘satu-dua situasi’ pada masa dia memimpin.

19 Maret juga berarti tugas Mgr. San di Ruteng segera berakhir. Meski demikian, kotbahnya pada bulan Mei tahun 2018 silam, rasanya tidak akan hilang begitu saja dari ingatan. Saya, paling tidak. Ya: tidak ada kehidupan yang tumbuh mulus-mulus saja.

Mgr. Siprianus Hormat bisa saja akan mengalami situasi ‘tidak mulus’ itu di padang penggembalaan bernama Nuca Lalé ini. Umatnya bisa saja berada pada perbedaan-perbedaan pandangan yang keras. Kehadiran Mgr. Sipri mestilah mampu menyuburkan benih-benih dialog—yang panjang tapi manis seperti yang The Two Popes tunjukkan—agar setiap niat baik yang melatari perbedaan-perbedaan pandangan itu berujung pada kebaikan bersama.

Hari ini, Sabtu, 29 Februari 2020, Mgr. Siprianus Hormat tiba di Ruteng. Kami menyambutnya dengan penuh sukacita. Juga harapan-harapan. Dan kerinduan-kerinduan. Di samping doa-doa sebagai yang terutama, tentu saja. Semoga kehadirannya meneguhkan iman kami, membawa kami ke padang yang berumput hijau dan mata air yang tenang, menyegarkan jiwa kami; membuat kami lebih senang membaca sebelum bicara—menjadi toleran.

Salam


Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Baca juga:
– TEMAN-TEMAN SAYA DALAM NOVEL KAMBING DAN HUJAN
– DEMONSTRASI DAN PERTANYAAN-PERTANYAAN

Bagikan artikel ini ke: