Menu
Menu

Kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional ini dilaksanakan di STKIP Ruteng.


Oleh: Maria Pankratia |

Bergiat di Yayasan Klub Buku Petra, mengelola Pustaka Bergerak dan agenda bulanan Bincang Buku Klub Buku Petra. Cerpen-cerpennya disiarkan di Bali Post, Jurnal Sastra Santarang, Pos Kupang, dan beberapa antologi bersama.


Sabtu, 23 Maret 2019 lalu Kantor Bahasa Provinsi NTT bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Sastra dan Bahasa Indoensia (PBSI) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng, menyelenggarakan Kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Daerah.

Bertempat di Aula Keuskupan Ruteng, kegiatan yang dirangkai dengan agenda Pelantikan Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komisariat Ruteng ini, dibuka secara resmi oleh Ketua STKIP St. Paulus Ruteng, Rm. Dr. Yohanes Servatius Lon, M.A..

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi terkait Kebijakan & Tupoksi Kantor Bahasa NTT dalam Gerakan Literasi Nasional yang disampaikan oleh Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Tanate, S.Pd. dan perwakilan Badan Pengurus HISKI Pusat, Prof. Dr. Suwardi Endaswara, M.Hum yang membawakan tentang teknik pembelajaran sastra dalam komunitas: Teks Sastra yang Tepat dalam Wadah Komunitas.

Profesor Suwardi menjelaskan bahwa bahasa dan sastra adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk menghasilkan karya sastra, kita harus tetap menggunakan bahasa. Sementara, sastra mestilah tumbuh dari hasil imajinasi yang kreatif dan indah. Yang simbolik dan bermakna. “Untuk menghasilkan karya sastra, kita harus lebih sering memperhatikan sesuatu yang belum pernah diamati orang lain,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Suwardi juga menjelaskan tentang Botasi Sastra. “Botani Sastra merupakan salah satu gaya penulisan sastra yang tengah dikembangkan saat ini. Pembelajaran ini membutuhkan strategi khusus, minimal kita mengetahui konteks yang ingin kita bahas; tentang tumbuhan. Gaya ini dikembangkan dengan model etnokreatif botani sastra (model transdisipliner). Gabungan antara sastra, etnologi, dan botani,” tambahnya.

Lebih lanjut, Profesor Suwardi memberikan contoh. “Silakan mulai dari mengamati pohon palem, daunnya, batangnya, akarnya. Lalu kita kaitkan dengan hal-hal seperti sejarah, atau mitos yang berkembang di lingkungan kita. Bukan tidak mungkin, itu bisa menjadi salah satu karya sastra yang akan sangat menarik nantinya jika dikerjakan dengan serius,” paparnya.

Peran Komunitas dalam Mendukung GLN

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 – 16.30 Wita itu diselingi juga dengan hiburan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh UKM Litera PBSI STKIP Santu Paulus Ruteng. Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi seputar peran komunitas dalam mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN). Ada dua komunitas yang disasar, yakni kampus dan masyarakat umum.

Materi ini dibawakan oleh dua narasumber yakni Dekan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Santu Paulus Ruteng, Rm. Bone Rampung, S.Fil., M.Pd. yang berbicara tentang gerakan literasi di kampus, dan Armin Bell dari Komunitas Saeh Go Lino membahas komunitas literasi di luar kampus.

Menurut Romo Bone, yang diperlukan saat ini adalah kesadaran bersama bahwa upaya menjadikan satu masyarakat sebagai komunitas yang cerdas literasi membutuhkan perjuangan yang panjang, serta menuntut sinergi kesabaran demi menjadikan literasi sebagai sebuah habitus. Menurutnya, “Gerakan literasi membutuhkan (banyak) waktu agar dapat menjadi sebuah kebiasaan baru.”

Sementara itu, Armin Bell berpandangan bahwa mewujudkan masyarakat yang memiliki kecerdasan literasi adalah tanggung jawab bersama. “Biasanya, ini yang menjadi alasan utama dibentuknya sebuah komunitas. Namun yang harus disadari adalah, sebelum komunitas tersebut bergerak, kapasitas personal para (calon) anggota harus dilakukan. Yang harus cerdas literasi terlebih dahulu adalah anggota dan para calon anggota komunitas. Baru ke lingkungan yang lebih luas,” tutur anggota Klub Buku Petra, Ruteng ini.

Dirinya juga menjelaskan masalah utama yang kerap dihadapi oleh komunitas-komunitas literasi di berbagai tempat. “Soal utama kita adalah konsistensi. Banyak pegiat komunitas yang merasa puas karena telah memulai tapi tidak tahu bagaimana melanjutkannya,” jelas Armin. Untuk itu, menurutnya, yang harus dilakukan pertama kali adalah meletakkan dasar yang kuat serta visi dan misi yang jelas. “Semangat berkomunitas itu baik, tetapi semangat saja tidak cukup. Membentuk komunitas (literasi) harus dilakukan dengan kesadaran penuh tentang target capaian, alat ukur, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional ini ditutup oleh Ardy Pangkul dari Kantor Bahasa Provinsi NTT, yang menjelaskan tentang pemetaan literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Para mahasiswa dan utusan komunitas yang hadir dan menjadi peserta kegiatan tersebut tampak terlibat secara aktif pada sesi diskusi. (*)


Foto: Febhy Irene

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *