Menu
Menu

Catullus menempatkan dirinya di pinggiran wacana populer yang menekankan bahwa lelaki itu harus kuat dan perkasa.


Oleh: Hans Hayon |

Berasal dari Flores Timur, NTT. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi UGM, Yogyakarta. Buku kumpulan cerpennya berjudul “Tuhan Mati di Biara” (Ende: Nusa Indah, 2016) dan buku kumpulan esai “Mencari yang Pintang, Menugur yang Terguncang” (Yogyakarta: Rua Aksara, 2019).


Identitas Buku:

Judul: Puisi-Puisi Pilihan Catullus
Penerjemah: Mario F. Lawi
Penerbit: Gambang Buku Budaya
Tahun: 2019
Tebal: 67 halaman; 13×19 cm

***

As we know, love needs re-inventing

—Arthur Rimbaud, A season in hell, Hallucinations 1.

Jika Yunani adalah bangsa yang pertama kali mendefinisikan cinta (hasrat), orang Romawilah yang menemukan apa itu sebuah hubungan.

Plato, dalam Symposisum, disebut pernah berbicara tentang Eros. Demikian pula Sappho, penyair perempuan Yunani Klasik, dalam puisinya yang berhasil diselamatkan membincangkan apa itu hasrat dan kerinduan (BBC Indonesia, 30 Januari 2014). Beberapa abad kemudian, Catullus, penyair Latin pertama menulis tentang kegembiraan dan keremukan hati dalam sebuah hubungan.

Sosok Catullus menarik dibahas bukan hanya karena ia menulis dari sudut pandang perempuan, tapi, sebagai misal, ciri ambivalensi yang melekat pada diri dan puisi-puisinya. Mario F Lawi dalam pengantarnya menegaskan ambivalensi ini: “Lesbia adalah tokoh yang dibenci dalam puisi yang satu, tetapi begitu dicintai dalam puisi yang lain; dipuja dalam puisi yang satu, tetapi diserapahi dalam puisi yang lain” (2019: x).

Memang, suara kaum perempuan cukup sulit ditemukan dalam literatur Romawi, kecuali syair lembut dari penulis bernama Sulpicia yang elegi-elegi pendeknya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Mario F. Lawi (Penerbit Rua Aksara, 2019). Namun, jangan salah sangka. Kelembutan Catullus, penyair yang dikutuk mencintai dan membenci Lesbia, pseudonim dari Clodia, istri Quintus Caecilius, adalah perkara kompleks jika didudukkan pada konteks zaman ia hidup.

Membaca Catullus dalam Konteks Zamannya

Bagi Foucault (The History of Sexuality, 1978) dan Butler (Gender Trouble, 1990), seksualitas merupakan hasil konstruksi historis dan gender bukan dilihat sebagai esensi melainkan arena pertunjukkan di mana individu-individu memerankan peran-peran gender yang dimandatkan dan diterima secara sosial.

Bertolak dari perspektif di atas, Elizabeth Manwell (2007) coba menganalisis kontradiksi paradigma maskulinitas dalam puisi-puisi Catullus. Dengan menerjemahkan kata uir (lelaki) bukan hanya sebagai ‘seorang pria’ melainkan juga ‘suami’, dan ‘tentara’, Manwell berargumen bahwa bukan hanya karena menikah dan terlibat dalam tugas militer secara inheren berkaitan dengan identitas lelaki, melainkan lanskap uir dalam dirinya menunjukkan bukan melulu seks tetapi juga gender.

Dengan demikian, seorang pria yang baik (uir bonus) dikenal melalui atribut tradisional, positif, dan khas yang dianggap secara normatif sebagai orang yang disiplin (disciplina), patuh (pietas), mampu mengendalikan diri (continentia), perkasa, dan unggul dalam perbuatan-perbuatan jantan (uirtus) (Manwell, 2007: 113).

Meskipun begitu, bagi orang Roma, kejantanan bukanlah predikat yang diterima secara taken for granted, melainkan harus diperjuangkan dan sewaktu-waktu bisa hilang. Disebut demikian karena predikat tersebut perlu diuji, dievaluasi, dan dikritik oleh khalayak ramai melalui gelanggang kompetisi tertentu. Konsekuensinya jelas. Bagi orang Roma, maskulinitas itu tidak pernah fixed.

Karena maskulinitas itu bersifat kontigen, terdapat dua kategori yang dapat digunakan sebagai ukuran yakni kekerasan dan kelembutan. Disebut demikian karena maskulinitas bagi orang Roma, mengandung sebuah demonstrasi kekerasan. Mereka yang gagal memamerkan ‘kekerasan’ yang diwajibkan, menanggung beban mollitia (kelembutan). Dituduh sebagai mollitia sering juga diterjemahkan sebagai cinaedus (lelaki yang lebih memilih ‘ditembusi’ dalam hubungan penetrasi seksual).

Differentia specifica antara kelembutan dan kekerasan (atau penanda-penanda seperti aktif-pasif, manis-brutal, dan uircinaedus atau pathicus) yang umum dianggap sebagai oposisi biner justru digunakan secara politis oleh Catullus. Pada bagian akhir puisi 11 yang sering dianggap sebagai pidato perpisahan Catullus kepada Lesbia, sebagaimana yang digambarkan T. P. Wiseman (1986:146), Catullus menyinggung salah satu puisi pernikahan karya Sappho di mana tindakan memetik bunga sebagai simbol direnggutnya keperawanan. “Implicit in the final stanza is the notion of rape, with Catullus’ love as the innocent victim”. Artinya, frasa “jatuh seperti bunga” dalam “Puisi 11” (selengkapnya dapat dibaca di tautan ini) memaksa kita untuk membaca Catullus sebagai seorang perempuan yang diperkosa oleh gadisnya (baca: Lesbia).

Puisi 11

Jangan menoleh kepada cintaku seperti sebelumnya,
Yang, karena kesalahannya, jatuh seperti bunga
Dari padang rumput terakhir, setelah disentuh
_____Bajak yang lewat.

Menarik bahwa kelembutan yang ditunjukkan dalam puisi Catullus bukan melulu merefleksikan keadaan tubuh seseorang atau preferensi seksual, melainkan sebagai metafora yang menunjukkan ruang simbolis di mana kritik politis dan kultural dijalankan.

Dengan membandingkan dirinya sebagai ‘bunga yang jatuh’, Catullus menempatkan dirinya di pinggiran wacana populer yang menekankan bahwa lelaki itu harus kuat dan perkasa, atau dalam konteks politis sebagai representasi dari sebuah populasi yang ditaklukkan prajurit Romawi. Dengan kata lain, Catullus memandang dirinya sebagai salah satu korban bajak yang tak terhindarkan, seperti pasukan Romawi yang melibas semua yang ada di jalurnya.

Tepat dalam konteks ini, puisi 11 lebih merupakan sebuah puisi tentang politik ekslusi Romawi yang membuat Catullus merasa begitu diasingkan. Itulah alasannya mengapa Manwell (2007:119) menulis bahwa kita dapat memikirkan puisi Catullus tentang Lesbia bukan sebagai puisi cinta, tetapi sebagai pernyataan pencabutan hak politik: “Penyair fokus pada hilangnya kepercayaannya kepada Lesbia dan bagaimana ia berupaya keluar dari situasi tanpa harapan, dapat dibaca sebagai sebuah pernyataan kekecewaan terhadap sistem politik yang serba miring”.

Melalui term mollitia, kita dapat memahami bahwa kekuasaan seks dan kekuasaan politik itu identik. Dari situ, Catullus menunjukkan bahwa kelembutan itu bukan sifat yang buruk tetapi lebih sebagai sarana yang melaluinya penyair dapat mengartikulasikan posisi politisnya berhadapan dengan kondisi masyarakat yang buruk.

Seksualitas sebagai Strategi Kritik

Dalam masyarakat Romawi, tidak ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan, antara bangsawan dan kampungan, antara orang bebas dan budak, dan lain-lain seperti dalam masyarakat modern. Hierarki sosial Romawi, sebagaimana yang tersurat dalam literatur klasik, secara intrinsik dihubungkan dengan hierarki seksual (Parrish Wright, 1980:97). Hierarki teratas ditempati oleh kaum laki-laki (uir) sebagai orang yang aktif dalam relasi seksual.

Meskipun demikian, orang Roma tidak mendefinisikan relasi seksual secara dikotomis seperti dalam masyarakat modern melalui term heteroseksual versus homoseksual, melainkan melalui term aktif versus pasif. Di sana, ada distingsi tegas antara pecinta aktif (amator) di satu sisi dan pecinta reseptif (amatus/a) di lain sisi.

Seseorang hanya akan menjadi lelaki jika ia bersikap aktif, mampu dalam hubungan seksual, dan perkasa. Jika ia bersikap lemah lembut, predikatnya sebagai seorang lelaki dipertanyakan. Menurut Parker, terdapat tiga hal yang dapat dilakukan secara seksual oleh seorang lelaki: ia dapat berpenetrasi (baik kepada perempuan maupun lelaki) dalam mulut, anus, atau vagina (1997:53). Jika seorang lelaki tampak reseptif dan lembut, ia otomatis dimeterai sebagai ‘keperempuan-perempuan-an’ dan dicela, atau dalam kacamata masyarakat Romawi, statusnya direduksi menjadi perempuan atau budak.

Cukup mengejutkan bahwa kelembutan sebagai sebuah sifat perempuan itu, menandai pria sebagai ‘keperempuan-perempuan-an’ dan bukan lelaki sejati. Artinya, mollis mas (lelaki lunak) adalah orang yang gagal mencapai status sebagai ‘lelaki sejati’, dan kegagalan ini dimaknai sebagai kegagalan seksual (Manwell, 2007:114). Namun kita harus hati-hati karena jika dialamatkan kepada perempuan, karakter reseptif dan kelembutan itu bukanlah ketidaksopanan atau sifat tercela. Oleh sebab itu, Catullus menggunakan karakteristik itu bukan untuk mengkritik kaum perempuan melainkan lelaki Roma pada umumnya.

Argumen ini dibuktikan dengan kecenderungan Catullus yang menyebut pseudonim Lesbia dalam puisi-puisinya bukan sebagai mulier (perempuan) melainkan sebagai puella (kekasih): sebuah predikat yang tentu saja mengandung anasir-anasir gender. Artinya, apa yang ingin disampaikan sekaligus menjadi landasan kritik Catullus adalah bahwa maskulinitas tidak identik dengan kaum lelaki, dan gender dapat ambivalen.

Kita bisa menjumpai hal ini dalam teks-teks Latin di mana perempuan yang birahi kepada perempuan lain, secara khas dilukiskan sebagai maskulin. Penyair lirik Romawi, Quintus Horatius Flaccus (Horace) misalnya, menunjuk Sappho, penyair perempuan Yunani Klasik, sebagai mascula (seperti lelaki, perkasa). Karena ekspresi-ekspresi kuat hasrat erotis Sappho bertentangan dengan ideal cinta tradisional di mana perempuan itu subordinat dan lelaki itu dominan, cukup masuk akal bagi penulis Latin untuk mengkategorikan Sappho sebagai orang yang mendobrak maskulinitas tradisional.

***

Cara Catullus menggunakan seksualitas sebagai strategi kritik sosial, politik, dan kultural, tampak dalam 22 (dari 30) puisi yang berbicara tentang Lesbia. Dalam puisi 7 misalnya, Catullus berbicara tentang gaya hidup materialistik yang berpatokan melulu pada kalkulasi melalui frasa “banyak ciuman” dan “….tak dapat orang melit hitung”.

“Kautanya berapa banyak, ciuman milikmu/Yang cukup, bahkan lebih, bagiku, Lesbia”? pada awal puisi 7 menunjukkan bahwa permintaan Lesbia tersebut simetris dengan pribadi materialistis dan pragmatis yang lazim dihidupi oleh lelaki Romawi yang Catullus cemooh. Bagi dia, sikap Lesbia tersebut justru “menguliti keturunan berjiwa besar dari Remus” (Puisi 58) sementara pecinta seperti dirinya justru didefinisikan sebagai “tidak maskulin”, terpaut pada gagasan tentang kecantikan, dan figur yang mendamba kepenuhan erotis yang justru ditolak oleh pandangan umum Roma.

Imbas dari dimensi kelembutan dalam puisi-puisinya (Puisi 5, Puisi 7, Puisi 79), Catullus dimeterai oleh Aurelius dan Furius sebagai bukan lelaki sejati. Terdapat hal yang menarik di sini yakni perlawanan Catullus terhadap cara pandang mereka justru dengan memosisikan seksualitas pada konteks yang lebih luas. Hal ini tampak pada kalimat awal puisi 16 yang disentil oleh Mario Lawi pada bagian keterangan buku ini: “Aku akan menyodomi dan memasukkan penisku ke dalam mulut kalian,/wahai Aurelius yang pasrah dan Furius pantat” (2019:64).

Dikatakan demikian karena pandangan antara orang Romawi dan masyarakat modern tentang apa itu maskulinitas merupakan dua hal yang berlainan. Bagi lelaki Roma, memasukkan penis ke dalam lubang anus pria lain adalah bentuk pernyataan tentang maskulinitas. Sedangkan tindakan dipenetrasi oleh lelaki lain adalah bentuk pengakuan akan status non-maskulin. Di sini, Catullus tidak sedang berbicara tentang homoseksualitas dalam arti modern melainkan maskulinitas dalam konteks Romawi yakni relasi sesama pria.

Rupanya perlawanan Catullus hanyalah sebuah teriakan kecil di hadapan begitu dominannya imperum Roma. Dalam puisi 8 yang ia tulis untuk dirinya sendiri, Catullus merenungi semua usahanya itu.

Catullus yang malang, semoga engkau berhenti berbuat konyol,
Dan terimalah sebagai binasa apa yang kaulihat lenyap.
Bersinar, suatu saat, hari-hari cerah bagimu,
Ketika engkau terus datang ke tempat kekasih menuntunmu
Tak seorang pun akan dicintai seperti ia kucintai.
…..
Sebaliknya, akan kausesali, saat tak seorang pun menanyakanmu.
Wanita durjana, kau, apa yang hidup tinggalkan bagimu?
Kini, siapa akan mengunjungimu? Untuk siapakah kau tampak manis?
Siapakah akan kaucintai kini? Engkau akan disebut punya siapa?
Siapakah akan kaucium? Bibir siapakah akan kaupagut?
Tapi engkau, Catullus, teguh hati, bersabarlah!

Akhirnya, Catullus berkata pada dirinya sendiri agar berhenti bersikap seperti keperempuan-perempuanan, yang lembut, yang reseptif, dan yang menjadi korban hasrat dan cinta. Hal ini terjadi juga dalam puisi 51―di mana rasa putus asa Catullus tidak beda jauh dengan Sappho dalam puisi 31, akal sehatnya dirampok habis-habisan ketika berjumpa kekasihnya Lesbia sebagai representasi dari kekuasaan yang jauh lebih besar: “Lesbia, telah kucermati, tiada apa pun tersisa padaku” (Ellen Greene, 2007:139).

Membaca dimensi kelembutan dalam puisi-puisi Catullus sebagai salah satu unsur seksualitas yang digunakan sebagai strategi kritik mengingatkan kita bahwa, figur Catullus adalah produk dari marginalisasi dan politik eksklusi yang dilakukan oleh kekuasaan Romawi. Meski menggunakan cinta dan hasrat dalam relasi seksual sebagai ‘sumber data’, Catullus pada akhirnya tak mampu berpartisipasi dalam dunia Romawi, karena relasi seksual telah dipolarisasi ke dalam dikotomi politis antara patuh dan buas, aktif dan pasif, lembut dan keras, dan seterusnya.

Membaca Catullus dalam konteks zamannya justru membuat kita menemukan teks masa kini. Di hadapan frasa seperti “usia ideal menikah”, “generasi muda”, “keluarga berencana”, dan “usia produktif” yang dititahkan oleh negara kepada masyarakat, puisi-puisi Catullus terasa relevan.(*)


Baca juga:
– SEMALAM CINTAKU (PUISI-PUISI JAHAN MALIK KATUN)
– SUARA KASSANDRA (ESAI ALBERTO MANGUEL)

Bagikan artikel ini ke: