Menu
Menu

“Antara La Mancha dan Babel” adalah versi revisi naskah yang dibawakan pada 22 Mei 1997 di Universitas Castilla-La Mancha untuk penerimaan gelar Honoris Causa.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang telah terbit adalah “Dua Himne” karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan “Ecloga I” (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


Saya berterima kasih kepada universitas ini untuk kehormatan yang dilimpahkan kepada saya, bahwa ritual ini diselenggarakan di La Mancha pada hari-hari ketika Jorge Luis Borges dirayakan. Karena pernah ada dan mungkin masih ada, di sebuah negeri di wilayah ini, yang namanya tidak diinginkan, sebuah perpustakaan. Perpustakaan ini, yang hanya dipenuhi novel-novel petualangan, adalah perpustakaan yang punya jalan keluar. Demikianlah, kisah-kisah menakjubkan Don Quijote bermula tepat ketika pahlawan kita memutuskan meninggalkan tempat fantasi-fantasi kepustakaannya untuk bertualang ke tengah kehidupan. Namun dia melakukannya karena pada dasarnya dia yakin telah menemukan kebenaran dalam buku-buku itu, dia cukup meniru mereka, mereproduksi perbuatan-perbuatan mereka.

Tiga ratus lima puluh tahun kemudian, Borges akan mengisahkan cerita sebuah perpustakaan yang tak punya jalan keluar, tempat pencarian kata sejati tidak berakhir dan tanpa harapan.

Ada analogi mendalam antara dua perpustakaan ini: Don Quijote mencari fakta-fakta, petualangan-petualangan, wanita-wanita yang dijanjikan perpustakaannya; dan karena itulah dia ingin dan percaya bahwa semesta sama seperti perpustakaannya. Borges, kurang idealistis, memutuskan bahwa perpustakaannya ada seperti semesta – dan karena itu jelaslah mengapa ia tidak merasa perlu untuk keluar dari sana. Sama seperti seseorang tidak bisa bilang, “Hentikan dunia, saya mau turun,” demikianlah juga dia tidak mungkin meninggalkan perpustakaan.

Ada banyak cerita tentang perpustakaan, ada perpustakaan-perpustakaan yang lenyap, seperti di Aleksandria, dan ada perpustakaan-perpustakaan yang dimasuki dan ditinggalkan secepat mungkin, karena sadar bahwa mereka hanya berisi kisah-kisah dan gagasan-gagasan absurd. Seperti perpustakaan Saint-Victor yang dimasuki Pantagruel, beberapa dekade sebelum Quijote lahir, ia puas dengan ratusan jilid yang dijanjikan kebijaksanaan zaman, tetapi sejauh yang kita tahu ia segera meninggalkannya untuk melakukan hal lain. Ia hanya meninggalkan bagi kita keingintahuan dan nostalgia untuk mengetahui apa yang disampaikan oleh jilid-jilid tersebut, dan kesenangan mengulangi nama-nama tersebut seperti litani: Bragheta juris, De babuinis et scimiis cum commento Dorbellis, Ars honeste petandi in societate, Formicarum Artium, de modo cacandi, De differentiis zupparum, De optimitate tripparum, Quaestio subtilissima utrum chimera bombinans in vacuo possit comedere secundas intentiones, De baloccamentis principum, Baloccatorium Sorboniformium, Campi clysteriorum, Antiodotarium animae, De patria diabolorum…

Dari perpustakaan Rabelais, seperti dari perpustakaan Cervantes, kita dapat mengutip judul-judul, karena mereka adalah perpustakaan-perpustakaan berujung, dibatasi oleh semesta yang mereka bicarakan sendiri; yang satu tentang Roncesvalles dan yang lain tentang Sorbonne. Kita tak dapat mengutip judul-judul dari perpustakaan Borges karena jumlah buku-bukunya tak terbatas dan karena, lebih dari sekadar subjek buku-buku, hal itu berkaitan dengan format perpustakaan.

Perpustakaan Babel dibayangkan bahkan sebelum Borges. Salah satu fasilitas perpustakaan Borges tidak hanya berisi jilid-jilid yang tak terbatas dengan ruang tak berujung dan berkala, tetapi juga dapat menampilkan jilid-jilid yang terdiri atas kombinasi-kombinasi dua puluh lima huruf abjad, sehingga tak ada yang bisa membayangkan kombinasi-kombinasi karakter apa pun yang tak lebih dahulu ditunjukkan perpustakaan.

Itulah mimpi kuno para Kabbalis, karena hanya dengan mengombinasikan secara tak terbatas rangkaian huruf terbatas, seseorang dapat berharap pada suatu ketika merumuskan nama rahasia Allah. Dan jika saya tidak menyebut, seperti yang mungkin kalian semua harapkan, roda kombinasi Raimundus Lullus, karena meski ia ingin memproduksi sejumlah proposisi-proposisi astronomis, niatnya adalah untuk menyelamatkan hanya bagian-bagian yang benar, dan menolak lainnya. Namun, dengan menempatkan roda Lullus dan utopia kombinatorial para Kabbalis, pada abad ketujuh belas, selain nama Allah, orang-orang berharap juga dapat menamai setiap individu di dunia dan menghindari kutukan bahasa, yang mendorong kita untuk merujuk individu-individu dengan term-term umum, haeccitates dengan quidditates, selalu meninggalkan bagi kita—sebagaimana terjadi pada Abad Pertengahan—rasa pahit di mulut karena penuria nominum.

Karena alasan inilah, Harsdöfer dalam Matematische und philosophische Erquickstunden (1651) mengusulkan untuk menyusun di atas lima roda 264 unit (prefiks, sufiks, huruf dan silabel) untuk menghasilkan kombinasi 97.209.600 kata-kata bahasa Jerman, termasuk kata-kata yang tak ada. Clavius (In Spheram Ioannis de Sacro Bosco, 1607) menghitung berapa banyak term yang yang dapat diproduksi dengan dua puluh tiga huruf abjad Latin, mengombinasikannya dua dengan dua, tiga dengan tiga, dan seterusnya, mempertimbangkan banyaknya kata dari dua puluh tiga huruf Latin. Pierre Guldin (Problema arithmeticum de rerum combinationibus, 1622), dengan menghitung semua term yang dapat diproduksi dengan abjad, dari dua sampai dua puluh tiga huruf, mencapai bentuk tiga puluh sekstiliun kata—untuk mencatat semua ini dalam buku dengan seribu halaman, 100 baris per halaman dan 60 karakter per baris, akan membutuhkan 8.052.122.350 perpustakaan, masing-masing berukuran 432 kaki per sisi.

Mersene (Harmonie universelle, 1636), mempertimbangkan tidak hanya kata-kata, tetapi juga “lagu-lagu” (baca, sekuens-sekuens musikal), mencatat bahwa lagu-lagu yang dapat dihasilkan dengan dua puluh dua catatan sekitar dua belas sekstiliun (jika semuanya harus ditulis, seribu sehari, butuh hampir dua puluh tiga kuintiliun tahun).

Untuk mengolok-olok mimpi-mimpi kombinatorial inilah Swift mengusulkan antiperpustakaannya, atau bahasa sempurna, ilmiah dan universal, di mana tak akan lagi ada kebutuhan terhadap buku-buku, kata-kata atau simbol-simbol alfabetis:

We next went to the School of Languages, where three Professors sat in Consultation upon improving that of their own country.
The first project was to shorten Discourse by cutting Polysyllables into one, and leaving out Verbs and participles; because in Reality all things imaginable are but Nouns.
The other, was a Scheme for entirely abolishing all Words whatsoever: And this was urged as a great Advantage in Point of Health as well as Brevity. For, it is plain, that every word speak is in some Degree a Diminution of our Lungs by Corrosion; and consequently contributes to the shortning of our Lives. And Expedient was therefore offered, that since Words are only Names for Things, it would be more convenient for all Men to carry about them, such Things as were necessary to express the particular Business they are to discourse on. And this Invention would certainly have taken place, to the great Ease as well as Health of the Subject, if the Women in Conjunction with the Vulgar and Illiterate had not threatened to raise a Rebellion, unless they might be allowed the Liberty to speak with their Tongues, after the Manner of their Forefathers: Such constant irreconcilable Enemies to Science are the common People. However, many of the most Learned and Wise adhere to the new Scheme of expressing themselves by Things; which hath only this Inconvenience attending it; that if a Man’s Business be very great, and of various Kinds, he must be obliged in Proportion to carry a greater Bundle of Things upon his Back, unless he can afford one or two strong Servants to attend him. I have often beheld two of these Sages almost sinking under the weight of their Packs, like Pedlars among us, who when they met in the Streets, would lay down their Loads, open their Sacks, and hold Conversation for an Hour together; then put up their Implements, help each other to resume their Burthens, and take their Leave. (Gulliver’s Travels, III, 5).

Perhatikan, bahkan Swift pun tidak dapat mengelak menghasilkan sesuatu yang mirip Perpustakaan Babel. Karena untuk dapat menamai semua hal di semesta, manusia butuh kamus yang terbuat dari hal-hal, dan perluasan kamus ini akan sama dengan perluasan seluruh semesta. Sekali lagi, tak akan ada beda antara Perpustakaan dan semesta. Dengan proyek Swift kita akan berada di perpustakaan, bahkan jadi bagian perpustakaan sendiri, dan tak bisa keluar, tetapi kita tak bisa membicarakannya karena, seperti di Perpustakaan Babel kau dapat berada hanya dalam satu heksagon sekali, di dunia tempat kita tinggal kita hanya dapat membicarakan apa yang mengelilingi kita sesuai tempat kita berada, menunjuk dengan jari apa yang mengelilingi kita.

Bagikan artikel ini ke: