Menu
Menu

“Antara La Mancha dan Babel” adalah versi revisi naskah yang dibawakan pada 22 Mei 1997 di Universitas Castilla-La Mancha untuk penerimaan gelar Honoris Causa.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang telah terbit adalah “Dua Himne” karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan “Ecloga I” (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


Saya berterima kasih kepada universitas ini untuk kehormatan yang dilimpahkan kepada saya, bahwa ritual ini diselenggarakan di La Mancha pada hari-hari ketika Jorge Luis Borges dirayakan. Karena pernah ada dan mungkin masih ada, di sebuah negeri di wilayah ini, yang namanya tidak diinginkan, sebuah perpustakaan. Perpustakaan ini, yang hanya dipenuhi novel-novel petualangan, adalah perpustakaan yang punya jalan keluar. Demikianlah, kisah-kisah menakjubkan Don Quijote bermula tepat ketika pahlawan kita memutuskan meninggalkan tempat fantasi-fantasi kepustakaannya untuk bertualang ke tengah kehidupan. Namun dia melakukannya karena pada dasarnya dia yakin telah menemukan kebenaran dalam buku-buku itu, dia cukup meniru mereka, mereproduksi perbuatan-perbuatan mereka.

Tiga ratus lima puluh tahun kemudian, Borges akan mengisahkan cerita sebuah perpustakaan yang tak punya jalan keluar, tempat pencarian kata sejati tidak berakhir dan tanpa harapan.

Ada analogi mendalam antara dua perpustakaan ini: Don Quijote mencari fakta-fakta, petualangan-petualangan, wanita-wanita yang dijanjikan perpustakaannya; dan karena itulah dia ingin dan percaya bahwa semesta sama seperti perpustakaannya. Borges, kurang idealistis, memutuskan bahwa perpustakaannya ada seperti semesta – dan karena itu jelaslah mengapa ia tidak merasa perlu untuk keluar dari sana. Sama seperti seseorang tidak bisa bilang, “Hentikan dunia, saya mau turun,” demikianlah juga dia tidak mungkin meninggalkan perpustakaan.

Ada banyak cerita tentang perpustakaan, ada perpustakaan-perpustakaan yang lenyap, seperti di Aleksandria, dan ada perpustakaan-perpustakaan yang dimasuki dan ditinggalkan secepat mungkin, karena sadar bahwa mereka hanya berisi kisah-kisah dan gagasan-gagasan absurd. Seperti perpustakaan Saint-Victor yang dimasuki Pantagruel, beberapa dekade sebelum Quijote lahir, ia puas dengan ratusan jilid yang dijanjikan kebijaksanaan zaman, tetapi sejauh yang kita tahu ia segera meninggalkannya untuk melakukan hal lain. Ia hanya meninggalkan bagi kita keingintahuan dan nostalgia untuk mengetahui apa yang disampaikan oleh jilid-jilid tersebut, dan kesenangan mengulangi nama-nama tersebut seperti litani: Bragheta juris, De babuinis et scimiis cum commento Dorbellis, Ars honeste petandi in societate, Formicarum Artium, de modo cacandi, De differentiis zupparum, De optimitate tripparum, Quaestio subtilissima utrum chimera bombinans in vacuo possit comedere secundas intentiones, De baloccamentis principum, Baloccatorium Sorboniformium, Campi clysteriorum, Antiodotarium animae, De patria diabolorum…

Dari perpustakaan Rabelais, seperti dari perpustakaan Cervantes, kita dapat mengutip judul-judul, karena mereka adalah perpustakaan-perpustakaan berujung, dibatasi oleh semesta yang mereka bicarakan sendiri; yang satu tentang Roncesvalles dan yang lain tentang Sorbonne. Kita tak dapat mengutip judul-judul dari perpustakaan Borges karena jumlah buku-bukunya tak terbatas dan karena, lebih dari sekadar subjek buku-buku, hal itu berkaitan dengan format perpustakaan.

Perpustakaan Babel dibayangkan bahkan sebelum Borges. Salah satu fasilitas perpustakaan Borges tidak hanya berisi jilid-jilid yang tak terbatas dengan ruang tak berujung dan berkala, tetapi juga dapat menampilkan jilid-jilid yang terdiri atas kombinasi-kombinasi dua puluh lima huruf abjad, sehingga tak ada yang bisa membayangkan kombinasi-kombinasi karakter apa pun yang tak lebih dahulu ditunjukkan perpustakaan.

Itulah mimpi kuno para Kabbalis, karena hanya dengan mengombinasikan secara tak terbatas rangkaian huruf terbatas, seseorang dapat berharap pada suatu ketika merumuskan nama rahasia Allah. Dan jika saya tidak menyebut, seperti yang mungkin kalian semua harapkan, roda kombinasi Raimundus Lullus, karena meski ia ingin memproduksi sejumlah proposisi-proposisi astronomis, niatnya adalah untuk menyelamatkan hanya bagian-bagian yang benar, dan menolak lainnya. Namun, dengan menempatkan roda Lullus dan utopia kombinatorial para Kabbalis, pada abad ketujuh belas, selain nama Allah, orang-orang berharap juga dapat menamai setiap individu di dunia dan menghindari kutukan bahasa, yang mendorong kita untuk merujuk individu-individu dengan term-term umum, haeccitates dengan quidditates, selalu meninggalkan bagi kita—sebagaimana terjadi pada Abad Pertengahan—rasa pahit di mulut karena penuria nominum.

Karena alasan inilah, Harsdöfer dalam Matematische und philosophische Erquickstunden (1651) mengusulkan untuk menyusun di atas lima roda 264 unit (prefiks, sufiks, huruf dan silabel) untuk menghasilkan kombinasi 97.209.600 kata-kata bahasa Jerman, termasuk kata-kata yang tak ada. Clavius (In Spheram Ioannis de Sacro Bosco, 1607) menghitung berapa banyak term yang yang dapat diproduksi dengan dua puluh tiga huruf abjad Latin, mengombinasikannya dua dengan dua, tiga dengan tiga, dan seterusnya, mempertimbangkan banyaknya kata dari dua puluh tiga huruf Latin. Pierre Guldin (Problema arithmeticum de rerum combinationibus, 1622), dengan menghitung semua term yang dapat diproduksi dengan abjad, dari dua sampai dua puluh tiga huruf, mencapai bentuk tiga puluh sekstiliun kata—untuk mencatat semua ini dalam buku dengan seribu halaman, 100 baris per halaman dan 60 karakter per baris, akan membutuhkan 8.052.122.350 perpustakaan, masing-masing berukuran 432 kaki per sisi.

Mersene (Harmonie universelle, 1636), mempertimbangkan tidak hanya kata-kata, tetapi juga “lagu-lagu” (baca, sekuens-sekuens musikal), mencatat bahwa lagu-lagu yang dapat dihasilkan dengan dua puluh dua catatan sekitar dua belas sekstiliun (jika semuanya harus ditulis, seribu sehari, butuh hampir dua puluh tiga kuintiliun tahun).

Untuk mengolok-olok mimpi-mimpi kombinatorial inilah Swift mengusulkan antiperpustakaannya, atau bahasa sempurna, ilmiah dan universal, di mana tak akan lagi ada kebutuhan terhadap buku-buku, kata-kata atau simbol-simbol alfabetis:

We next went to the School of Languages, where three Professors sat in Consultation upon improving that of their own country.
The first project was to shorten Discourse by cutting Polysyllables into one, and leaving out Verbs and participles; because in Reality all things imaginable are but Nouns.
The other, was a Scheme for entirely abolishing all Words whatsoever: And this was urged as a great Advantage in Point of Health as well as Brevity. For, it is plain, that every word speak is in some Degree a Diminution of our Lungs by Corrosion; and consequently contributes to the shortning of our Lives. And Expedient was therefore offered, that since Words are only Names for Things, it would be more convenient for all Men to carry about them, such Things as were necessary to express the particular Business they are to discourse on. And this Invention would certainly have taken place, to the great Ease as well as Health of the Subject, if the Women in Conjunction with the Vulgar and Illiterate had not threatened to raise a Rebellion, unless they might be allowed the Liberty to speak with their Tongues, after the Manner of their Forefathers: Such constant irreconcilable Enemies to Science are the common People. However, many of the most Learned and Wise adhere to the new Scheme of expressing themselves by Things; which hath only this Inconvenience attending it; that if a Man’s Business be very great, and of various Kinds, he must be obliged in Proportion to carry a greater Bundle of Things upon his Back, unless he can afford one or two strong Servants to attend him. I have often beheld two of these Sages almost sinking under the weight of their Packs, like Pedlars among us, who when they met in the Streets, would lay down their Loads, open their Sacks, and hold Conversation for an Hour together; then put up their Implements, help each other to resume their Burthens, and take their Leave. (Gulliver’s Travels, III, 5).

Perhatikan, bahkan Swift pun tidak dapat mengelak menghasilkan sesuatu yang mirip Perpustakaan Babel. Karena untuk dapat menamai semua hal di semesta, manusia butuh kamus yang terbuat dari hal-hal, dan perluasan kamus ini akan sama dengan perluasan seluruh semesta. Sekali lagi, tak akan ada beda antara Perpustakaan dan semesta. Dengan proyek Swift kita akan berada di perpustakaan, bahkan jadi bagian perpustakaan sendiri, dan tak bisa keluar, tetapi kita tak bisa membicarakannya karena, seperti di Perpustakaan Babel kau dapat berada hanya dalam satu heksagon sekali, di dunia tempat kita tinggal kita hanya dapat membicarakan apa yang mengelilingi kita sesuai tempat kita berada, menunjuk dengan jari apa yang mengelilingi kita.[nextpage title=”Namun, mari kita anggap bahwa…”]

Namun, mari kita anggap bahwa proyek Swift berjaya dan manusia tak lagi berbicara. Meski demikian, Borges memperingatkan kita, perpustakaan akan berisi autobiografi para malaikat agung dan sejarah terperinci masa depan. Dan tepat dengan menarik inspirasi dari gambaran Borgesian inilah, Thomas Pavel, dalam bukunya Fictional Worlds, mengajak kita ke eksperimen berpikir yang memesona.[1]  Kita andaikan sesosok makhluk mahatahu dapat menulis atau membaca sebuah Magnum Opus, yang mengandung semua pernyataan sejati baik dalam dunia nyata maupun dalam semua dunia mungkin. Secara alamiah, karena seseorang dapat berbicara tentang semesta dengan bahasa-bahasa berbeda, dan setiap bahasa mendefinisikannya dalam cara berbeda, mestinya ada sebuah Magna Opera. Anggaplah sekarang Tuhan menugaskan sejumlah malaikat menulis Buku-Buku Harian bagi setiap manusia, tempat mereka merekam semua ujaran (tentang dunia-dunia mungkin dari keinginan atau harapan dan dunia nyata dari aksi-aksinya) yang sesuai dengan pernyataan sejati dalam salah satu buku yang membentuk Magna Opera. Koleksi Buku-Buku Harian setiap individu mesti dipamerkan pada Hari Penghakiman, bersama Buku-Buku yang menilai kehidupan keluarga, suku dan bangsa.

Namun, malaikat yang menulis buku harian tidak hanya mencatat pernyataan-pernyataan benar: ia menghubungkannya, menilainya, membangunnya dalam sistem. Dan karena pada Hari Penghakiman individu-individu dan kelompok-kelompok akan memiliki satu malaikat pembela, para pembela akan menulis ulang untuk setiap mereka satu seri astronomis Buku-Buku Harian tempat pernyataan-pernyataan yang sama akan dihubungkan secara berbeda, dan dibandingkan secara berbeda dengan pernyataan-pernyataan dalam salah satu dari Magna Opera.

Karena setiap Magna Opera tak terbatas berisi dunia-dunia alternatif tak terhingga, para malaikat akan menulis Buku-Buku Harian tak terhingga tempat pernyataan-pernyataan bercampur, yang benar di satu dunia dan salah di dunia lain. Jika kita berpikir bahwa beberapa malaikat tak terlatih, dan mereka mencampur pernyataan yang dicatat satu Magnum Opus bertentangan satu sama lain, kita akan memperoleh satu seri Compendia, Miscellanea, compendia fragmen-fragmen miscellanea, yang akan meleburkan lapisan-lapisan buku-buku dari asal-muasal berbeda, dan pada titik tersebut, akan sulit untuk mengatakan buku mana yang benar dan mana yang fiktif, dan berhubungan dengan buku asal yang mana. Kita akan memiliki ketakterhinggaan astronomis buku-buku, yang setiapnya menunggangi dunia-dunia berbeda, dan kita akan kebetulan menganggap kisah-kisah, yang oleh orang lain dianggap benar, sebagai fiktif.

Pavel menulis hal-hal ini untuk membuat kita mengerti bahwa kita sudah tinggal di semesta semacam itu, kecuali bahwa alih-alih oleh para malaikat agung, buku-buku ditulis oleh kita, dari Homeros sampai Borges; dan ia menyiratkan bahwa ontologi brengsek fiksi bukan pengecualian terhadap ontologi “murni” buku-buku yang berbicara tentang dunia nyata. Ia menganjurkan bahwa legenda yang ia kisahkan menggambarkan situasi kita dengan baik berhadapan dengan semesta pernyataan yang kita terima sebagai “benar”. Maka, getaran yang dengannya kita merasakan batas-batas ambigu antara fiksi dan kenyataan tidak hanya sama dengan yang meringkus kita di hadapan buku-buku yang ditulis para malaikat, tetapi juga sama dengan yang mesti meringkus kita ketika berhadapan dengan seri buku-buku yang merepresentasikan, dengan otoritas, dunia nyata.

Gagasan tentang Perpustakaan Babel sekarang berkaitan dengan gagasan memusingkan serupa tentang kemajemukan Dunia-Dunia Mungkin, dan imajinasi Borges telah menginspirasi secara khusus kalkulus formal para logikawan modal. Tidak hanya itu, Perpustakaan yang dilukiskan oleh Pavel, yang juga secara alami dibentuk oleh karya-karya Borges, termasuk ceritanya tentang Perpustakaan, tampaknya menyerupai perpustakaan Don Quijote, yang merupakan perpustakaan kisah-kisah mustahil terjadi di dunia-dunia mungkin, di mana para pembaca kehilangan kepekaan terhadap batas antara fiksi dan kenyataan.

Ada satu cerita lain yang, ditemukan oleh seorang seniman, telah juga memengaruhi imajinasi para ilmuwan, jika tidak para logikawan, tentu saja para fisikawan dan kosmolog, dan itulah Finnegans Wake karya James Joyce. Joyce tidak membayangkan sebuah perpustakaan yang mungkin: ia mempraktikkan apa yang akan Borges sarankan pada akhirnya. Ia menggunakan 23 simbol abjad bahasa Inggris untuk menghasilkan hutan kata-kata yang tak ada sebelumnya dengan beragam makna, ia tentu mengajukan bukunya sebagai model semesta, dan ia tentu meniatkan pembacaan atasnya mesti tak terbatas dan periodik, sedemikian banyaknya sehingga ia mengharapkan bagi karyanya ideal reader affected by an ideal insomnia.

Mengapa saya mengutip Joyce? Barangkali dan di atas segalanya karena, bersama Borges, Joyce adalah salah satu dari dua penulis kontemporer yang paling saya cintai, yang pengaruhnya kepada saya begitu besar. Namun juga karena telah tiba saatnya kita mesti menanyai diri kita tentang kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara kedua penulis yang telah menjadikan bahasa dan kebudayaaan universal sebagai taman bermain mereka.

Saya ingin menempatkan Borges dalam konteks eksperimentalisme kontemporer, yang, menurut banyak orang, didefinisikan sebagai sastra yang mempertanyakan bahasanya sendiri, atau bahasa bersama, dan mempertanyakannya dengan membongkarnya hingga ke akar-akar terdalamnya. Karena itulah jika seseorang memikirkan tentang eksperimentalisme, ia memikirkan Joyce, dan Finnegans Wake, tempat bukan hanya bahasa Inggris, melainkan juga bahasa semua orang, diturunkan hingga ke pusaran fragmen-fragmen bebas, disusun ulang dan sekali lagi dihancurkan dalam putaran monster-monster leksikal baru, yang mengentalkan sekejap untuk kemudian menguraikan sekali lagi, seperti dalam tarian kosmik atom-atom, di mana tulisan dipecahkan hingga ke etimnya—dan bukan kebetulan jika analogi fonik antara etim dan atomlah yang membujuk Joyce untuk berbicara tentang karyanya sebagai abnihilation of the etym.

Begitu jelas bahwa Borges tidak menempatkan bahasa dalam krisis. Cukup membaca prosa-prosa lembut dari esai-esainya, cerita-ceritanya yang strukturnya tradisional secara gramatikal, keluasan puisi-puisinya yang sederhana dan mudah dipahami. Dalam hal ini Borges sangat berbeda dari Joyce.

Tentu saja, seperti setiap penulis yang baik, Borges memperbaharui dan menghidupkan bahasa yang ia gunakan, tetapi ia tak menampilkan cara menghancurkannya. Jika eksperimen linguistik Joyce dianggap revolusioner, Borges harus dianggap konservatif, arsiparis sinting sebuah kebudayaan yang ia klaim ia jaga dengan hormat. Sinting, saya bilang, tetapi juga seorang arsiparis konservatif. Namun tepat oksimoron inilah (“arsiparis sinting”) yang menyediakan kunci bagi kita untuk membicarakan eksperimentalisme Borges.

Proyek Joycian adalah untuk menjadikan semesta sebuah taman bermain. Nah, inilah juga proyek Borges. Jika pada 1925 Borges menunjukkan sejumlah kesulitan dalam membaca Ulysses (lihat Inquisiciones) dan pada 1939 (dalam Sur, terbitan November) memandang calembours Joycian dengan kuriositas yang waspada—meski menurut Emil Rodriguez Monegal pada tahun-tahun tersebut, Borges sendiri menyusun setidaknya salah satu kata Joycian yang mengagumkan, whateverano (“what a summer” dan “whatever is summer”), dalam setidaknya dua puisinya yang belakangan (dalam kumpulan Elogio de la sombra) ia menyatakan kekaguman dan utang budinya pada Joyce:

Que importa mi perdida generación
ese vago espejo
si tus libros la justifican.
Yo soy los otros. Yo soy de todos aquellos
que ha rescatado tu obstinado rigor.
Soy los que no conosces y los que salvas.

Apakah yang kemudian menghubungkan kedua penulis yang sama-sama memilih kebudayaan universal sebagai taman bermain, untuk penebusan maupun penghukuman?

Saya percaya bahwa eksperimentalisme sastra bekerja di ruang tempat kita tinggal, yakni bahasa. Namun sebuah bahasa, seperti yang diketahui para linguis, memiliki dua sisi. Penanda di satu sisi, petanda di sisi lain. Penanda mengatur bunyi-bunyi, petanda mengatur gagasan-gagasan. Dan organisasi gagasan-gagasan, yang mengandung bentuk kebudayaan tertentu, tidak bebas dari bahasa, karena kita mengetahui sebuah kebudayaan hanya melalui jalan tempat bahasa telah mengatur data-data yang belum berbentuk tentang hubungan kita dengan continuum dunia. Tanpa bahasa tak akan ada gagasan-gagasan, yang ada hanya aliran pengalaman yang tak diproses dan tak dipikirkan.

Bekerja secara eksperimental terhadap bahasa, dan terhadap kebudayaan yang diangkutnya, dengan demikian berarti berbicara tentang pekerjaan dalam dua bidang: di bidang penanda, bermain dengan kata-kata (dan melalui destruksi dan penyusunan ulang kata-kata, gagasan-gagasan disusun ulang); dan bermain dengan gagasan-gagasan, dan mendorong kata-kata untuk menyentuh cakrawala-cakrawala baru dan tak terbayangkan.

Joyce bermain dengan kata-kata, Borges dengan gagasan. Dan pada titik inilah terlihat perbedaan gagasan tentang segmentabilitas tak terbatas objek manipulasi.

Unsur-unsur atomik dari kata-kata adalah stem, silabel dan fonem. Seseorang dapat, pada batas maksimum, mengombinasikan ulang bebunyian, dan menghasilkan pun atau neologisme, atau mengombinasikan ulang huruf-huruf dan menghasilkan anagram, sebuah prosedur kabbalistik yang diketahui dengan baik oleh Borges.

Unsur-unsur atomik gagasan-gagasan, atau petanda-petanda, adalah selalu gagasan atau petanda lain. Seseorang dapat menguraikan pria menjadi “hewan manusia jantan” dan mawar menjadi “bunga dengan petal-petal daging”, seseorang dapat merangkai gagasan-gagasan untuk menginterpretasi gagasan-gagasan lain, tetapi ia tak dapat melangkah di bawahnya.

Kita dapat mengatakan bahwa pengerjaan penanda berada pada level subatomik, sedangkan pengerjaan petanda berada pada tataran atom-atom, yang tak dapat diuraikan lebih kecil untuk disusun menjadi molekul-molekul baru.[nextpage title=”Borges menempuh pilihan kedua…”]

Borges menempuh pilihan kedua ini, yang bukan rute Joyce, tetapi sama-sama tepat, pasti, dan mengarah ke batas-batas dari apa yang mungkin dan terpikirkan. Ia memiliki teladan-teladan dalam hal ini, dan ia umumkan (dan lihatlah bahwa kutipan-kutipan yang tampaknya berlebihan yang saya hasilkan beberapa waktu lalu bukannya tidak tepat). Salah satunya adalah Raimundus Lullus dengan karyanya Ars Magna, melaluinya Borges dengan tepat meramalkan ilmu komputer modern. Yang lain, kurang dikenal, adalah John Wilkins, yang dalam esainya Essay Towards a Real Character, 1668, berusaha mewujudkan bahasa sempurna yang dicari oleh Mersene, Guldin, dan penulis-penulis lain dari abadnya, kecuali bahwa Wilkins tidak berharap mengombinasikan huruf-huruf tanpa bermaksud untuk memberikan nama pada setiap individu, tetapi ingin mengombinasikan apa yang disebutnya “karakter-karakter nyata” yang diinspirasi oleh ideogram Cina, tempat setiap tanda elementer mengacu pada sebuah gagasan, sehingga dengan mengombinasikan tanda-tanda tersebut untuk menamai benda-benda, nama itu dapat memanifestasikan sifat-sifat alamiah dari benda tersebut.

Proyek tersebut tidak berhasil, dan saya telah berusaha menjelaskan hal ini dalam buku saya La ricerca della lingua perfetta.[2] Yang menarik adalah bahwa Borges tidak pernah membaca Wilkins, tetapi memperoleh informasi tangan kedua hanya melalui Encyclopaedia Britannica dan beberapa buku lain, seperti pengakuannya dalam esainya “Bahasa Analitik John Wilkins” (Otras inquisiciones); Boges dapat menyarikan esensi pemikirannya dan mengidentifikasi kelemahan proyeknya lebih baik dari banyak sarjana lain yang telah menghabiskan banyak waktu mereka untuk membaca sejumlah besar halaman folio dari 1668. Tidak hanya itu, dalam mendiskusikan gagasan-gagasannya, Borges menyadari bahwa diskursus Wilkins memiliki hal yang sama dengan tokoh-tokoh abad ketujuh belas yang lain yang telah bergulat dengan kombinasi-kombinasi alfabetik.

Borges, yang puas dengan bahasa-bahasa lain yang universal dan rahasia, tahu betul bahwa proyek Wilkins mustahil, karena mengisyaratkan peninjauan semua objek dunia dan gagasan-gagasan ke mana mereka merujuk dan sebuah kriteria uniter penyusunan gagasan-gagasan atomik kita. Dan inilah yang menjatuhkan semua utopis yang menginginkan sebuah bahasa universal. Tetapi marilah kita lihat bagian yang Borges gambarkan dari pertimbangan ini.

Sekali ia mengerti dan menyatakan bahwa seseorang tak dapat sampai pada klasifikasi uniter semesta, Borges terpukau pada oposisi dari proyek ini: menghancurkan dan menggandakan semua klasifikasi. Tepat dalam esai tentang Wilkins dapat ditemukan kutipan tentang ensiklopedia mustahil Cina (Emporium Langit dari Pengetahuan Baik), tempat kita temukan model paling menakjubkan dari klasifikasi yang tak terkategorikan dan tak kongruen (yang mungkin kemudian menginspirasi Michel Foucault di pembuka Les mots et les choses).

Kesimpulan yang ditarik Borges dari kegagalan klasifikasi adalah bahwa kita tak tahu apa itu semesta. Lebih jauh lagi, ia mengatakan bahwa “seseorang dapat curiga bahwa tak ada semesta dalam arti organik dan menyatukan yang kata ambisius ini miliki.” Tetapi tepat setelahnya ia segera menunjukkan bahwa “ketakmungkinan untuk menembus desain ilahi semesta tak bisa, bagaimana pun, menghalangi kita mencoba mencari desain-desain manusiawi.” Borges tahu bahwa sejumlah desain, seperti milik Wilkins dan banyak lainnya dalam sains, berusaha menjangkau susunan yang sementara dan parsial. Ia memilih jalur oposisi: jika ada banyak atom pengetahuan, permainan penyair terjadi dengan memutar dan mengombinasikan ulang mereka tak terhingga, kombinasi tak terhingga bukan hanya etim-etim linguistik, tetapi juga gagasan-gagasan. Jutaan ensiklopedia Cina yang baru, tentang Pengetahuan Baik, yang totalnya tak pernah dicapai, adalah yang membentuk Perpustakaan Babel. Perpustakaan yang Borges temukan sebagai penyimpanan budaya berbagai milenium dan buku-buku harian setiap malaikat agung, tetapi ia tidak terbatas pada eksplorasi: ia memainkan dengan menghubungkan heksagon-heksagon satu sama lain, dengan menyisipkan halaman-halaman dari satu buku ke halaman-halaman buku-buku lain (atau setidaknya menemukan buku-buku yang memungkinkan ketakteraturan ini terjadi).

Banyak hal yang disampaikan berkaitan dengan bentuk terakhir eksperimentalisme kontemporer, postmodernisme, tentang permainan intertekstualitas. Namun Borges telah melampaui intertekstualitas untuk mengantisipasi zaman hipertekstualitas, di mana satu buku tidak hanya berbicara tentang yang lain, melainkan seseorang dapat memasuki satu buku dari dalam yang lain. Dengan tidak hanya merancang bentuk perpustakaannya tetapi juga menulis di setiap halamannya bagaimana seseorang mesti membacanya dengan teliti, Borges telah merancang World Wide Web jauh lebih dahulu.

Borges mesti memilih antara mendedikasikan hidupnya untuk mencari idiom rahasia Allah (pencarian yang ia ceritakan) atau merayakan semesta milenial pengetahuan seperti tarian atom, jalinan kutipan-kutipan, peleburan gagasan-gagasan untuk menghasilkan tidak hanya segala hal yang ada dan pernah ada tetapi juga yang akan atau bisa ada, layaknya tugas dan potensi para pustakawan Babel.

Hanya dalam terang eksperimentalisme Borgesian inilah (tentang gagasan, bukan tentang kata-kata), seseorang dapat memahami poetika Aleph, tempat dengan sekilas pandang objek-objek terpisah dan tak terbatas yang membentuk populasi semesta dapat dilihat. Seseorang harus dapat melihat semuanya serentak, dan dapat mengubah kriteria penghubung dan melihat hal lainnya, berubah di setiap sudut pandang Emporium Langit.

Di titik ini, pertanyaan apakah Perpustakaan tak terbatas atau memiliki ukuran tak tentu, dan apakah jumlah buku di dalamnya terbatas atau tak terbatas, merupakan urusan kedua. Pahlawan sejati dari Perpustakaan Babel bukanlah Perpustakaan itu sendiri, tetapi Pembacanya, Don Quijote yang baru, yang terus bergerak, pemberani, selalu gelisah untuk menemukan, peramu alkimia, dapat menguasai kincir angin yang diputarnya selamanya.

Untuk Pembaca seperti inilah Borges mengajukan doa dan perbuatan iman, dan dengan tepat termaktub dalam satu puisi lain yang dipersembahkan untuk Joyce:

Entre el alba y la noche está la historia
universal. Desde la noche veo
a mis pies los caminos del hebreo,
Cartago aniquilada, Infierno y Gloria.
Dame, Señor, coraje y alegría
para escalar la cumbre de este día.

Catatan Kaki:

[1]Thomas Pavel, Fictional Worlds, Cambridge: Harvard U.P., 1986 (terjemahan Italia: Mondi di invenzione, Torino: Einaudi, 1992).

[2] Roma: Laterza, 1993.

***

Tentang Umberto Eco

Adalah seorang filsuf, semiolog, novelis, poliglot dan polimath asal Italia. Novel pertamanya, Il nome della rosa, meraih penghargaan Premio Strega, salah satu penghargaan sastra bergengsi di Italia. Versi terjemahan Indonesia esai ini dikerjakan Mario F. Lawi dari esai berjudul “Tra La Mancha e Babele” dalam buku Sulla letteratura (Bompiani, 2016: 114-127).


Image Jose Luis Borges diambil dari Boston Review: Borges ont the Right.

Baca juga:
ESAI ALBERTO MANGUEL – SUARA KASSANDRA
ESAI JHUMPA LAHIRI – EKSIL

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *