Menu
Menu

Cerpen Pilihan Kompas 2018 dibahas di agenda bulanan Klub Buku Petra.


Oleh: Maria Pankratia |

Koordinator Program di Yayasan Klub Buku Petra. Sekretaris Redaksi Bacapetra.co. Pustakawan di Perpustakaan Klub Buku Petra. Moderator dan Notulis Bincang Buku Klub Buku Petra.


Dari GoKill yang Sosiopat ke Cerpen yang Serenyah Rengginang

Beberapa waktu lalu, saat saya menyodorkan salah satu cerpen saya kepada salah seorang kawan baik untuk membacanya, ia menyarankan sesuatu yang menarik, “jangan jadikan tokoh hanya sebagai pelengkap cerita, tokoh bisa menjadi metafora yang menginterpretasikan banyak hal dari cerita yang ingin kita sampaikan.”

Ketika membaca Cerpen Pilihan Kompas 2018 dan membincangkannya bersama kawan-kawan Klub Buku Petra pada tanggal 21 Desember 2019, pembahasan tersebut muncul lagi. Ada sembilan peserta yang hadir malam itu untuk menyampaikan hasil pembacaannya terhadap 23 cerpen yang dipilih oleh Myrna Ratna, Frans Sartono, Nur Hidayati, Sarie Febriane, dan M. Hilmi Faiq selaku Juri Cerpen Pilihan Kompas 2018.

Cerpen Pilihan Kompas kali ini dikirim oleh para penulis yang berasal dari beragam latar budaya, dengan lanskap yang berasal dari latar belakang ranah kultural masing-masing. Keberagaman lanskap budaya inilah yang ikut mewarnai cerpen Kompas dari masa ke masa. (bdk. Pengantar Juri Cerpen Pilihan Kompas 2018).

Yuan Jonta sebagai pemantik malam itu berkomentar, ada beberapa cerpen yang menurutnya terlalu biasa dan cenderung mencurahkan isi hatinya, seperti cerpen Ahmad Tohari, Lelaki yang Menderita Bila Dipuji. Ada juga yang sangat emosional, seperti cerpen Saat Ayah Meninggal karya Djenar Mahesa Ayu. Ia kemudian memilih empat cerpen yang menurutnya menjadi favorit dari sekian cerpen yang telah ia baca, di antaranya: Aroma Doa Bilal Jawad, Cara-Cara Klise Berumah Tangga, GoKill, dan Ayat Kopi.

Bagi Yuan, Aroma Doa Bilal Jawad yang ditulis oleh Raudal Tanjung Banua ini, membuatnya teringat dengan tradisi masyarakat Manggarai ketika liburan sekolah atau saat pergantian tahun tiba. “Biasanya, ada satu bapa tua, yang keliling dari rumah ke rumah untuk mendoakan hal-hal baik yang diharapkan keluarga terjadi sepanjang tahun tersebut,” tutur Yuan.

Cerpen kedua yang menurut Yuan paling berkesan, Cara-Cara Klise Berumah Tangga karya Novka Kuaranita. Bagi Yuan, cerpen ini sarat dengan teka-teki sejak awal. “Beberapa bagian tricky sekali, saya sempat menduga, apa mungkin kedua tokoh ini adalah duda dan janda yang baru bertemu dan terlibat hubungan asmara. Ternyata, dia akhir cerita baru diketahui bahwa tokoh wanita adalah seorang agen dari Family Romance, yang sesekali menerima pekerjaan mendampingi klien untuk mengatasi kebosanan. Banyak kejutan-kejutan yang saya temukan sepanjang saya membaca cerita ini,” jelas Yuan.

Cerpen ketiga yang tak kalah menariknya adalah cerpen Seno Gumira Ajidarma, GoKill. Ada bagian-bagian dalam cerpen ini, di mana tokohnya begitu sangat meyakinkan dan benar-benar memanipulasi pembaca. Bagian-bagian tersebut yang membuat Yuan kemudian menyimpulkan bahwa tokoh cerita adalah benar-benar seorang sosiopat.

Yuan lalu menjelaskan, perbedaan antara sosiopat dan psikopat: jika psikopat masuk dalam gangguan kepribadian sosial karena fungsi empati di otaknya sudah tidak berfungsi, maka sosiopat mengarah pada keyakinan atau nilai-nilai yang ingin dibangun oleh seseorang di dalam dirinya. Menurut Yuan, cerpen ini semakin menarik karena bercerita tentang seorang penjahat yang membuat kita sebagai pembaca ingin menjadi seperti penjahat ini. “Ketika membaca cerpen ini, saya mampu mengidentifikasi tokoh penjahat ini dan senang dengannya, sekalipun dia adalah seorang penjahat. Di titik ini, saya merasa kemampuan narasi penulisnya sangat luar biasa,” jelas Yuan.

Cerpen berikut yang juga dijagokan oleh Yuan adalah, Ayat Kopi yang ditulis Joko Pinurbo. Yuan menuturkan: “cerpen ini sangat sederhana dan renyah, seperti makan rengginang sambil ngopi tetapi tidak pakai kentut.”

Setelah Yuan membuka malam itu dengan menyampaikan hasil pembacaannya, giliran selanjutnya adalah Armin Bell. Satu kebiasaannya ketika mulai membaca Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas adalah melihat profil penulis. Armin akan memilih nama-nama baru, dan lebih seringnya cerpen yang difavoritkan berasal dari penulis-penulis baru tersebut.

Pada Cerpen Pilihan Kompas 2018 ini, cerpen yang disukainya justru datang dari penulis paling muda yakni Meutia Swarna Maharani yang berjudul Baruna. Menurut Armin, cerpen tersebut ditulis oleh seorang penulis yang memang energinya sedang baik. Selain itu, beberapa waktu lalu, ketika menangani proses kurasi Lomba Cerpen ODGJ yang dilaksanakan oleh Yayasan Klub Buku Petra dan Yayasan Karya Bakti Ruteng dalam rangka Lustrum Klinik Jiwa Renceng Mose, Armin berharap bisa menemukan cerpen serupa dari para peserta lomba. “Ketika membaca Baruna, saya seperti menemukan hal yang saya cari dari cerpen-cerpen yang saya kurasi, yang tidak sempat saya temui saat melakukan proses seleksi tersebut,” ungkap Armin.

Hermin, peserta lain yang juga hadir malam itu untuk menyampaikan hasil pembacaannya, memilih dua cerpen yang sama sekali berbeda.

Dua cerpen tersebut adalah: Si Pengarang Muda dan Durian Ayah. Hermin mengaku, ia suka membaca sesuatu yang langsung ia pahami sehingga kemudian ia mampu menilai dan menarik kesimpulan yang hendak disampaikan cerita tersebut. Cerpen Si Pengarang Muda karya Sungging Raga, menurut Hermin, bukan sekadar bercerita tentang kehidupan seorang pengarang. Di kehidupan nyata, sepengamatan Hermin dan beberapa kali ia alami juga; terkadang kita memang harus menjadi orang lain agar bisa diterima dan didengar oleh keluarga atau teman-teman kita.

Sementara itu, cerpen Durian Ayah karya Rizki Turama, memberikan kesan yang mendalam bagi Hermin. “Mungkin benar juga, pohon itu, kalau mau berbuah, ia harus disakiti dahulu agar merasa terancam dan mau berbuah. Barangkali seperti juga kita manusia, ketika telah berada di zona yang sangat nyaman, kita perlu dilecuti sesekali oleh orang-orang di sekitar kita untuk menjadi lebih berani dalam mengambil keputusan,” tutur Hermin.

Bagi Hermin, Durian Ayah memiliki akhir cerita yang sulit untuk dilupakan. Sepakat dengan Hermin, Armin Bell menyampaikan, peristiwa tersebut, merupakan pilihan yang sangat bagus untuk mengakhiri cerita.

Giliran selanjutnya adalah Cici, yang hadir malam itu untuk menyampaikan hasil pembacaannya terhadap empat cerpen yang paling menarik menurutnya. Empat cerpen tersebut adalah: Kapotjes dan Batu yang Terapung, Aroma Doa Bilal Jawad, Durian Ayah, dan Pemesan Batik.

Bagi Cici, Kapotjes dan Batu yang Terapung karya Faisal Oddang yang juga menjadi cerpen terbaik kompas 2018 bersama cerpen Raudal Tanjung Banua itu, memiliki gaya bertutur yang berbeda dari cerpen-cerpen lain yang pernah ia baca. “Saya sempat bingung ketika membaca cerpen ini. Setiap berganti karakter, maka berganti pula naratornya. Setiap karakter bercerita tentang dirinya sendiri. Saat tiba di paragraf terakhir, saya juga mendapatkan kejutan yang luar biasa. Saya suka sekali cerpen ini,” demikian tutur Cici.

Sedangkan cerpen terbaik lainnya, Aroma Doa Bilal Jawad, bagi Cici dibuka oleh sang penulis dengan sangat baik: “penulis memulai dengan memperkenalkan tokoh, yang kemudian membuat saya menduga-duga sekaligus menanti-nantikan kelanjutan cerpen ini. Meskipun berakhir sedih, saya senang membaca cerpen ini.”

Menanggapi hasil pembacaan Cici dan juga Yuan—yang sebelumnya memilih cerpen ini sebagai salah satu favoritnya, Armin Bell kemudian menyampaikan komentar tambahan. Menurut Armin, terlepas dari situasi politik dan fenomena lain yang terjadi di Indonesia, Aroma Doa Bilal Jawad seperti hendak menunjukkan pesan tersirat bahwa, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Demikian yang terjadi di dalam cerita, Bilal Jawad akhirnya tersisihkan atau menyisihkan diri karena tidak diperkenankan membakar kemenyan saat berdoa setelah Ustaz Baihaqi diangkat menjadi Imam Khatib yang baru.

Sementara itu, seperti Hermin yang mendapatkan kesan mendalam dari cerpen Durian Ayah, Cici sendiri mendapatkan dirinya bertanya-tanya di akhir cerita. “Kapan tepatnya Ayah meninggal? Sebelum atau setelah Lebaran?” Sebab sebagaimana diceritakan, Ayah memiliki kepercayaan bahwa jika pohon durian tersebut tetap tidak berbuah, beliau akan menanam ulang pohon durian yang lain setelah Lebaran, sebab seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.

Cerpen keempat pilihan Cici adalah, Pemesan Batik yang ditulis oleh Muna Masyari. Cici menyukai gaya bertutur sang penulis, yang juga berusaha membawa budayanya ke dalam cerita. Selain itu, cerpen ini ditutup dengan pesan yang sempurna tentang hidup berbahagia tanpa menyimpan rasa dendam.

Saya yang mendapatkan kesempatan selanjutnya untuk berbicara, langsung menanggapi hasil pembacaan Cici terhadap cerpen Pemesan Batik yang juga merupakan salah satu cerpen favorit saya di Cerpen Pilihan Kompas 2018, selain dua cerpen lainnya, yaitu; Opera Sekar Jagad dan GoKill.

Setelah membaca cerpen Muna Masyari ini, saya menduga sebelum menulis cerita tersebut, penulis melakukan riset yang sangat mendalam terkait batik yang menjadi ide cerita Pemesan Batik. Dari sisi literasi budaya, saya pikir Muna berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga ketika membaca cerpennya, kita tidak hanya menikmati cerita akan tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru.

Armin Bell ikut berkomentar, cerpen Pemesan Batik berbicara tentang bagaimana seorang seniman berkarya. Sudah jarang kita temui, seorang seniman menciptakan sesuatu berdasarkan karakter pemesannya, karya tersebut dihasilkan dengan sungguh-sungguh dan hanya cocok dikenakan oleh pemesannya, sehingga ketika kita mengenakannya atau memamerkannya, karya tersebut benar-benar menunjukkan siapa kita. Ini juga yang sebenarnya yang sedang berusaha dilawan oleh para seniman yaitu, melawan hegemoni perusahaan-perusahaan besar yang mampu mencetak apa saja dan memaksa kita untuk mengenakannya tanpa memahami prosesnya.

Hermin kemudian turut menanggapi. Baginya, cerpen Pemesan Batik terbaca sangat emosional sehingga memunculkan pertanyaan, apakah seorang seniman akan tetap berlaku profesional jika pemesan datang dan memintanya mengerjakan sesuatu yang justru memicu emosi tertentu akibat terkenang akan hal lain yang pernah ia alami? Bagaimana ia mencoba menuangkan perasaan dan keinginan pemesan tersebut ke dalam karya seninya sembari melewati pergumulan yang sedang coba dikendalikan? Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Hermin ini, barangkali jika bertemu seorang seniman di suatu tempat, salah satu dari kami yang hadir akan menanyakannya.

Saya akhirnya mendapatkan kembali kesempatan untuk berbicara setelah diskusi hangat terkait proses berkarya di atas selesai. Melanjutkan hasil pembacaan terhadap Opera Sekar Jagad, saya melihat cerita ini begitu menarik karena mengisahkan tentang pencarian seorang istri terhadap suaminya—yang merantau lalu menghilang begitu saja—dengan mengikuti jejak kain batik Sekar Jagad yang pernah ia berikan. Kain tersebut justru ia temukan di laundry, tempat ia bekerja. Pada akhirnya, meski telah melewati perjalanan yang panjang, tokoh kita tetap tidak bisa menemukan suaminya. Ironi sekali.

Yang terakhir, sebagaimana komentar Yuan tentang GoKill, saya sepakat bahwa cerpen ini luar biasa. Penulis begitu lihai menuliskan sesuatu yang membikin pembaca terkejut luar biasa di akhir cerita.

Bagikan artikel ini ke: