Menu
Menu

Banda Neira. Tempat ini berhasil mengantar saya menuju bayangan masa silam yang membekas bersama malam…


Oleh: Yusril Ihza F. A. |

Kerap menjadi sutradara di beberapa pentas teater. Buku Dramanya berjudul Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’. 


Catatan Perjalanan Residensi Banda Neira 2019

Berbicara sejarah kolonial kerap kali dianggap tidak milenial, akan tetapi bila milenial tidak tahu tentang kolonial, maka bersiaplah untuk jadi abnormal yang kehilangan akar kebudayaan yang mendasari akal pemikiran bangsa kita hari ini dan masa mendatang.

Belajar tentang sejarah peperangan di Surabaya telah mengantarkan saya ke hal-hal, yang bagi saya jauh melampaui batas pengetahuan dan keilmuan yang saya tekuni. Setiap hal tentang perang, pasti memiliki latar belakang yang rumit. Setiap perubahan zaman selalu ditandai dengan perang, entah dalam skala kecil maupun besar. Dari hal-hal demikian saya ingin menjelajah lebih jauh pada persoalan yang terjadi di balik adanya peperangan, mulai dari perdagangan, perbudakan, penjajahan, maupun politik kolonial, terkhusus pada persoalan pala di Kepulauan Banda.

Pada tahun 2019 lalu, selepas membaca sejarah kelam Kepulauan Banda, tidak afdol rasanya jika tidak melihat, berkunjung dan menginjakkan kaki langsung di tanah surga pala. Harapan itu muncul saat dibukanya program Residensi Penulis Indonesia oleh Komite Buku Nasional. Saya memilih Banda Neira sebab saya menemukan keganjilan pada pembacaan tentang Banda. Salah satunya, mengapa Upacara Cuci Perigi (Perigi Pusaka) harus diselenggarakan 10 tahun sekali?

Perigi dalam bahasa Banda berarti sumur. Hingga saat ini, masyarakat Banda melakukan upacara Cuci Perigi sebagai penghormatan untuk para leluhur yang menemukan sumber air di Lontor. Pun peristiwa itu tak lepas kaitannya dengan Hikayat Lontor yang ditulis oleh Radjali tentang suatu kelompok yang dipimpin oleh salah satu dari saudara Cilubintang (Penduduk Asli Pulau Andan yang menikah dengan Raden dari Jawa) sedang mencari sumber air. Kelompok itu kebetulan melihat seekor kucing keluar dari semak-semak dalam keadaan basah. Ketika memeriksa ke dalam semak-semak, mereka menemukan bahwa, ternyata kucing tersebut telah minum air dari sebuah kolam.

Sebagai hikayat yang diceritakan atas latar belakang upacara cuci perigi, adapun 33 orang yang menggali sumur (kolam sumber air) itu meninggal dunia karena terjadi musibah longsor dan jenazahnya harus dibungkus dengan 99 meter kain gaja. Namun, Bung Hatta dan beberapa peneliti yang pernah membaca hikayat tersebut tidak menyepakati jika hikayat tersebut mengandung kepastian sejarah, karena ditulis dalam huruf Jawi (Arab) atau Melayu Modern abad-20 bukan Melayu Kuno, sehingga masih dipertanyakan kebenarannya.

Di sisi lain, dalam buku Des Alwi diterangkan bahwa pada tahun 1621, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mengeksekusi 33 warga Lontor lalu memasukannya ke dalam sumur tersebut. Setelah 7 tahun, pada 1628, VOC menyuruh keluarga tereksekusi untuk mengeluarkan kerangka mayat-mayat tersebut dan membersihkan sumur. Mereka membungkus kerangka dengan kain sepanjang 99 meter sekaligus mencuci sumur.

Terdapat perbedaan dari kedua sumber atas riwayat lokal yang berkaitan dengan upacara adat Cuci Perigi. Hal inilah yang mengantarkan saya pada terkaan-terkaan atas apa yang terjadi di masa silam.

Di tengah hilir mudik perdagangan dan pariwisata Banda hari ini, banyak kisah sejarah tertimbun letusan api peradaban dan hanya menyisakan puing-puingnya saja, sehingga kisah tersebut menjadi potongan-potongan tanpa diketahui sumber kebenarannya secara pasti. Setiap hal yang ingin saya ketahui tentang Perigi malah jauh menggiring saya ke persoalan tentang Pala. Setiap hal yang ingin saya ketahui soal Pala malah jauh menggiring saya ke persoalan tentang perbudakan dan hubungan Banda dengan Jawa–tanah kelahiran saya. Seperti, pada kisah di Babad Tanah Jawa, ketika Raja Brawijaya V mengalami sakit kelamin dan obat penyembuhnya adalah menikah dengan salah satu selirnya yang berasal dari keturunan Andan. Setelah dirujuk dengan beberapa tinjauan, keturunan Andan itu adalah Cilubintang dari Banda–anak dari pasangan Andan dan Delima penghuni pertama pulau Banda. Di Jawa, Cilubintang bernama Putri Wandan Kuning atau Putri Wandan Sari, yang kemudian melahirkan seorang anak bernama Bondan Kejawen.

Selain kisah-kisah di atas, ada kisah menarik lainnya, seperti: kisah kerajaan islam pertama di Banda yang bernama Lewetaka, kisah tentang awal mula perdagangan rempah-rempah, kisah pembunuhan massal penduduk pulau Banda atas dasar balas dendam yang dilakukan Jan Pieteerszoon Coen–sekarang lebih dikenal dengan nama Perigi Rantai, lalu kisah perbudakan dan kuli kontrak perkebunan pala (perkeneirs), hingga kisah yang berujung pada pengasingan empat tokoh revolusi kemerdekaan; Iwa Kusumasoemantri, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Mochammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

Hingga saat ini, Banda masih memiliki potensi besar untuk digali lebih dalam. Selain potensi sumber daya alam, akulturasi pada masyarakat Banda telah menimbulkan kuatnya toleransi antarsesama (penduduk Banda adalah pendatang–entah di zaman setelah Pembantaian Massal, pra-kolonial, pasca-kolonial, modern, hingga hari ini). Bung Hatta bahkan pernah mencita-citakan masyarakat Indonesia seperti masyarakat yang ada di Banda.

Bagikan artikel ini ke: