Menu
Menu

Feminisme tidak serta-merta diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia. Ada pula yang kontra terhadap gerakan ini karena dianggap sebagai budaya barat yang menyalahi budaya ketimuran. Benarkah Feminisme selalu tentang hal-hal dari barat?


Oleh: Linda Tagie |

Bergiat di Lowewini dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Senang mempelajari Feminisme.


Identitas Buku

Judul: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan; April, 2012
Tebal Buku: VI + 301 Halaman
ISBN: 979-97312-11-6

***

Dalam buku kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang yang dihimpun oleh Mr. J. H. Abendanon, surat pertama yang Kartini tulis ditujukan kepada Estella Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899. Ini berarti bahwa, Kartini bertukar ide dengan sahabat-sahabat penanya hanya berlangsung enam tahun, sebab Kartini telah menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 13 September 1904. Empat hari setelah melahirkan putranya, Soesalit Djojoadiningrat, di Rembang, Jawa Tengah. Akan tetapi, Kartini sudah turut berjuang bersama rakyatnya sejak tahun-tahun sebelum ia menulis suratnya yang pertama. Meski tidak ada literatur yang akurat tentang kapan Kartini mulai menyumbangkan ide-idenya untuk kemajuan rakyat Jepara; mungkin 1891, saat ia mulai masuk pingitan, atau beberapa tahun kemudian. Namun demikian, Pameran karya Wanita di Den Haag pada 1898 yang diceritakan Kartini kepada Stella dalam suratnya bahwa Kartinilah yang menulis literatur tentang batik yang dipamerkan dalam pameran tersebut, membuktikan ia sudah berkarya sebelum bertemu sahabat-sahabat penanya.

Pram dan Kartini

Panggil Aku Kartini Saja merupakan permintaan Kartini sendiri kepada Stella dalam surat pertamanya. Kutipan surat tersebut kemudian diadopsi oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai judul bukunya yang berisi biografi Kartini. Pengantar dari Lentera Dipantara pada halaman 5 buku ini mengajak kita untuk: mengingat Kartini tapi bukan dari sudut pandang domestik rumah seperti ia adalah seorang gadis pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan lalu mati, melainkan bagaimana cara Kartini melawan itu semua, melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Sebuah pengantar yang menggiurkan.

Dalam Panggil Aku Kartini Saja, Pram mengulas biografi Kartini seutuhnya. Mulai dari silsilah keluarga Kartini, masa kecil, masa sekolah, masa pingitan, hingga kebebasannya dikembalikan. Dunia pribumi dari kacamata Kartini, Dunia Barat, seni budaya, sosial politik, feodalisme, agama, bahkan kondisi kejiwaan Kartini kala itu pun tidak luput dari buku ini. Sayangnya, buku yang seharusnya terdiri dari empat bagian ini, hanya dapat diterbitkan dua bagian saja (Jilid I & II), dua bagian lainnya raib tersita pada peristiwa di tahun 1965.

Dari dua jilid tersebut, kita kemudian dapat melihat sosok Kartini sebagai perempuan yang menginspirasi banyak orang. Bukan hanya bagi sesama kaumnya, melainkan juga bagi kaum pria.

Pertama, Kartini sebagai guru. Ia membuka sekolah gadis di rumahnya di Jepara. Setelah menikah, sekolah itu dikelola oleh adiknya, Roekmini. Sedang Kartini kembali membuka sekolah baru di Rembang, di rumah suaminya.

Kedua, Kartini yang tidak ingin menikah. Hal ini diceritakannya dalam salah satu suratnya yang tertanggal 6 November 1899 (Kartini menulis dua surat kepada Stella di tanggal yang sama) kepada Estella Zehandelaar; “Semua perbuatan yang menyebabkan semua manusia menderita, saya anggap sebagai dosa. Dan apakah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita wanita jika suaminya pulang bersama wanita lain yang harus diakuinya sebagai istri suaminya yang sah?”. Hal ini disebabkan oleh karena Kartini telah mengalami diskriminasi sejak kecil karena ibunya, Ngasirah, hanya seorang anak mandor pabrik gula Majong.

Di masa penjajahan Belanda yang didukung oleh feodalisme pribumi, wanita biasa dari kalangan rakyat jelata seperti ibu kandung Kartini tidak dianggap layak mendampingi seorang Bupati, selain karena kecantikan dan keindahan tubuhnya. Sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan, seorang feodal keturunan Ratu Madura. Kartini tumbuh dan merasakan langsung dampak dari poligami ayahnya. Meski akhirnya Kartini menikah, sebab‘perempuan yang tidak menikah merupakan pengkhianatan besar terhadap budaya kami’, ia menikah dengan laki-laki yang sudah mengenal budaya Eropa, mendukung cita-citanya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, istri tua suaminya sebelum Kartini pun meninggal dunia. Dalam surat-suratnya, ia menjelaskan bahwa ia menikah karena suaminya mendukung cita-citanya, dan menyetujui persyaratannya untuk menjunjung tinggi kesetaraan. Laki-laki tidak lebih tinggi derajatnya dari perempuan, juga yang tua dari yang muda. Prosesi wijikan (mencuci kaki suami) tidak dipakai dalam pernikahan Kartini.

Ketiga, Kartini yang mengalami diskriminasi ras di sekolah. “Orang-orang Belanda mengejek dan mentertawakan kebodohan kami, tapi kami berusaha maju. Kemudian mereka mengambil sikap menantang kepada kami. Kebanyakan guru tidak rela memberikan angka tertinggi pada anak Jawa, sekalipun si murid itu berhak menerimanya”. Demikianlah Kartini menulis kepada Stella pada tanggal 12 Januari 1900. Dalam surat ini pula ia menceritakan bahwa ia merupakan salah satu anak kesayangan guru-gurunya yang baik karena kecerdasannya.

Keempat, Kartini yang mahir berbahasa Belanda. Terbukti dari seluruh surat-suratnya yang berbahasa Belanda. Semua teman korespondensinya, seperti Estella Zeehandelaar, Ny. Ovink-Soer, Prof. Dr. G.K. Anton, keluarga Abendanon, bahkan Sri Ratu Wilhelmina memuji Bahasa Belandanya.

Kelima, Kartini yang adalah pemikir dan pengarang yang hebat. Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, kita bisa membaca pikiran Kartini. Ia tidak hanya memperjuangkan pendidikan, tapi juga ekonomi, seni budaya, bahkan sosial politik. Ia tidak segan-segan mengkritik feodalisme yang tidak berperikemanusiaan di zaman itu. Diskriminasi gender, relasi kuasa, dan konstruksi sosial yang timpang dibabat habis olehnya. Kartini juga menulis prosa, catatan harian, nota untuk pemerintah, hingga puisi. Kartini pernah menulis sebuah karangan antropologi tentang adat perkawinan golongan Koja di Jepara, karangan tersebut diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Ned-Indie. Tulisannya yang lain dimuat dalam De Echo dengan menggunakan nama samaran ‘Tiga Sudari’ berjudul Een Gouverneur-Generaalsdag. Tulisannya lainnya lagi pernah diterbitkan di De Nederlandsche Taal.

Keenam, Kartini sebagai seniman. Ia adalah seorang pembatik dan ahli batik. Sejak memasuki masa pingitan, ia belajar membatik dari Mbok Dullah, seorang pekerja di Kabupaten. Berangkat dari pengalamannya membatik, ia kemudian membuat studi, catatan-catatan, membuat pola-pola baru. Pameran Karya Wanita di Den Haag pada 1898 turut memamerkan berbagai contoh kerajinan dan hasil seni rakyat Hindia. Naskah tentang batik untuk pameran tersebut disusun oleh Kartini. Kartini juga membela seni rakyat lainnya seperti seni pahat penyu, kuningan, dan pandai emas perak, termasuk industri rumah tangga. Selain itu, Kartini juga adalah seorang pelukis. Dalam Meer licht over Kartini, Dr. H. Bouman mengisahkan bahwa Kartini pernah menghadiahinya sebuah lukisan karya Kartini sendiri. Kartini belajar melukis dari Ny. Ovink-Soer. Kartini juga bisa merenda, menjahit, dan menyulam.

Ketujuh, Kartini sebagai maecenas artis belakang gunung. Meski tidak turun langsung membuat ukiran kayu yang sekarang dikenal ukiran Jepara, Kartinilah yang gencar mempromosikan ukiran Jepara. Ia menulis sebuah prosa berjudul Van een Vergeten (Pojok yang Dilupakan) yang mendeskripsikan tentang seni ukir kayu Jepara. Ia juga mengirim contoh ukiran kayu kepada teman-temannya termasuk kepada Sri Ratu di Belanda. Sejak itulah, ukiran Jepara mulai dikenal hingga ke Eropa.

Kedelapan, Kartini adalah penikmat musik tradisional; Gamelan. Gamelan yang disukainya ialah Ginonjing. Ia pernah menulis kepada Stela tentang Ginonjing; itu adalah suara yang keluar dari jiwa manusia, yang bicara pada kami, sebentar mengeluh-ngeluh, kemudian meratap, dan kadang saja tertawa.

Kesembilan, Kartini adalah penghimpun dongeng, saga, nyanyian, dan permainan tradisional. Kepada Ny. Nelly van Kol, Pada tanggal 20 Agustus 1902, Kartini menulis; kala seorang inspektur pribumi meminta kepada kami menulis cerita-cerita kecil dari kehidupan kanak-kanak pribumi buat bacaan anak-anak pribumi, yang akan dihiasi dan diterbitkan seperti buku-buku bergambar ─ kami masih sibuk menghimpun dongeng-dongengan, saga-saga, permainan-permainan,dan nyanyian-nyanyian buat maksud itu.

Kesepuluh, Kartini yang pernah mendapat beasiswa ke Den Haag. Pada tanggal 19 April 1903, Kartini pernah menulis surat permohonan beasiswa ke Belanda kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. 7 Juli 1903, berdasarkan Putusan Gubernur, permohonan beasiswa Kartini dan Roekmini untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda diterima. Ayahnya pun mengizinkan. Akan tetapi, kepada Ny. Nelly van Kol, Kartini berkabar; tetapi kemudian datanglah Mr. Abendanon dan runtuhlah pendirian yang teguh. Abendanon membujuk Kartini untuk mengurungkan niatnya melanjutkan studi dengan alasan orang tua Kartini sudah tua, selain itu, Kartini akan dilupakan rakyatnya karena terlalu lama di Belanda. Alasan yang tidak masuk akal!

Kesebelas, Kartini memiliki kondisi kejiwaan yang sangat baik. Terbukti dari tulisannya ‘gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnnya’. Meski ia sempat terguncang karena batal melanjutkan studi ke Belanda, ia tetap kembali bangkit untuk melanjutkan perjuangannya.

Kartini dan Feminisme

Feminisme sebagai sebuah istilah diperkenalkan pertama kali oleh filsuf Perancis, Charles Fourier pada 1808. Kemudian, Konferensi Perempuan Pertama di Seneca Falls, New York, 1848, yang diinisiasi oleh Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony mulai menggunakan istilah Feminisme untuk sebuah gerakan yang mengusung hak-hak perempuan. Sedangkan Feminisme sebagai sebuah gerakan sudah ada sejak akhir abad ke-18 yang dikenal dengan istilah emansipasi. Kartini ialah salah satu pemikir kemerdekaan kaum perempuan kala itu yang dalam surat-suratnya menyebut emansipasi berkali-kali. Ini berarti Feminisme sebagai sebuah kesadaran harus lahir dari dalam diri setiap pribadi yang melihat, mengalami, dan merasakan ketidakadilan gender, dan ia sadar bahwa sudah saatnya ketidakadilan tersebut mesti dihentikan.

Feminisme tidak serta-merta diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia. Ada pula yang kontra terhadap gerakan ini karena dianggap sebagai budaya barat yang menyalahi budaya ketimuran. Benarkah Feminisme selalu tentang hal-hal dari Barat? Dalam surat pertamanya kepada Stella, Kartini menulis, “Jauh semenjak saya masih kanak-kanak, ketika kata ‘emansipasi’ belum ada bunyinya, belum ada artinya buat saya, tulisan dan karangan tentang hal itu jauh dari jangkauan saya, muncul dalam diri saya keinginan yang makin lama makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, dan berdiri sendiri. Kemudian, keadaan yang berlangsung di sekitar saya – yang mematahkan hati dan membuat saya menangis, membangkitkan kembali keinginan itu”. Ada kesadaran yang muncul dari dalam diri Kartini sendiri bahwa ia telah dilahirkan dan tumbuh dalam kungkungan budaya yang patriarkis, sehingga ia merasa perlu untuk mendobrak penjara tersebut. Kesadaran itu diperkuat dengan bacaan-bacaannya tentang emansipasi seperti kisah Pandita Ramabai dan buku Nyonya Goekoop tentang Hilda van Suylenburg.

Indonesia lahir dari pertukaran ide para pahlawan bangsa ini. Salah satunya Kartini. Soekarno, presiden pertama Indonesia baru lahir pada 6 Juni 1901. Sedangkan pada saat itu, Kartini sudah aktif berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya. Soekarno pun menghormati ide-ide cemerlang Kartini sehingga mengeluarkan Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional sekaligus menetapkan tanggal lahir Kartini, 21 April, untuk dirayakan secara nasional sebagai Hari Kartini.

Sayang sekali, hari kelahiran perempuan cerdas dan berani ini hingga kini hanya dirayakan dengan memamerkan busana dari berbagai daerah–apalagi di tengah situasi pandemi seperti saat ini, tidak banyak yang dapat dilakukan. Kartini hanya dikenang sebagai perempuan berkebaya. Selain Kartini, Lasminingrat, Dewi Sartika, Kardinah, Roekmini, Cut Nyak Dhien, Hj Rangkayo Rasuna Said, dan Maria Walanda Maramis merupakan tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang berjuang untuk emansipasi.

Pramoedya memang seorang pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Salah satu keunikannya adalah selalu menciptakan tokoh perempuan yang kuat. Perempuan-perempuan dalam karya-karya Pram selalu saja perempuan yang gagah berani. Sebut saja Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia, Gadis Pantai, Larasati, dan kemudian ia membuat biografi Kartini dengan judul Panggil Aku Kartini Saja. Tentu saja, Pram tidak sembarang memilih judul biografi ini, meski dalam sejarah Indonesia, Kartini dikenal sebagai Raden Ajeng Kartini, atau sejarah hidup Kartini yang kita tahu meninggal dunia sebagai Raden Ayu Djojo Adhiningrat. Pram memahami benar keinginan Kartini untuk dipanggil ‘Kartini Saja’. Sebab Raden Ajeng akan selalu terkait dengan jabatan ayahnya, dan Raden Ayu akan berhubungan dengan gelar suaminya, sedang nama Kartini sudah melambung sejak Kartini belum menikah. Biarlah perempuan dikenal karena prestasinya, bukan karena ia anak siapa atau istri siapa.

Selamat Hari Kartini! Mari berjuang bersama dengan tetap #dirumahsaja!

feminisme


Baca juga:
– Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang a la Parisienne
– “Kepulangan Seorang Martir”, Puisi-Puisi Boy Riza Utama


*Tulisan ini telah mengalami penyuntingan judul setelah redaksi menerima beberapa masukan dan saran. Penulis telah mendapat pemberitahuan terkait penyuntingan dimaksud. Terima kasih kepada para pembaca Bacapetra yang telah memberikan tanggapan, masukan, dan saran bagi perkembangan website ini.

Bagikan artikel ini ke: