Menu
Menu

Terhadap novela Surat-Surat Habel dan Veronika, Romo Beben Gaguk menyampaikan hasil pembacaannya, bahwa dalam novela itu dirinya menemukan gaya baru pastoral konseling.


Oleh: Maria Pankratia |

Koordinator Program di Yayasan Klub Buku Petra. Sekretaris Redaksi Bacapetra.co. Pustakawan di Perpustakaan Klub Buku Petra. Moderator dan Notulis Bincang Buku Klub Buku Petra.


Pada suatu malam, seorang perempuan, sebut saja Veronika. Bermimpi kaki kirinya dipatuk ular. Ular itu tiba-tiba berubah menjadi sosok Romo Habel, yang sebulan lalu melakukan ciuman canggung dengannya.

Dalam mimpinya itu darah mengucur deras dan Veronika bisa merasakan kakinya kesakitan bukan main. Rasa sakitnya begitu nyata hingga Veronika yakin ia akan mati. Ketika ular itu berubah menjadi Romo Habel, sakit yang dirasakan Veronika tiba-tiba menghilang, dan Romo Habel dengan liar menarik Veronika ke dalam pelukannya lalu mereka berciuman.

Paragraf di atas bukan hanya membuka Notulen Bincang Buku XI ini, tetapi juga merupakan bagian yang membuka bab pertama novela Surat-Surat Habel dan Veronika (Basabasi, 2019) karya Ajen Anjelina. Sayang sekali, Ajen yang merupakan salah satu anggota Klub Buku Petra, tidak dapat hadir malam itu. Dia masih berada di Jakarta.

Sepuluh peserta hadir pada bincang buku kesebelas yang diadakan di Perpustakaan Klub Buku Petra, Kamis 26 November 2019. Pemantik diskusi kali ini adalah Romo Beben Gaguk, anggota awal Klub Buku Petra, seorang imam di Keuskupan Ruteng yang baru saja kembali dari masa belajarnya di Jerman.

Pastoral Konseling

Terhadap novela Surat-Surat Habel dan Veronika, Romo Beben menyampaikan hasil pembacaannya, bahwa dalam novela itu dirinya menemukan gaya baru pastoral konseling—menghubungkannya dengan gagasan Carl Rogers, salah satu tokoh penting dalam teori humanistik dengan pendekatan konseling yang berpusat pada klien atau lebih dikenal dengan person-centered therapy. Merujuk Rogers, Romo Beben menjelaskan bahwa semua manusia memiliki potensi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri melalui konseling, yang salah satu bentuknya adalah melalui surat, sebagaimana yang terjadi dalam Surat-Surat Habel dan Veronika; klien dipersilakan menulis seluruh isi hati, pengalaman hidup, permasalahan yang sedang ia hadapi, dan lain sebagainya.

Romo Beben menuturkan, Ajen Angelina, melalui novela ini seperti ingin menunjukkan bahwa gaya konseling pastor zaman sekarang ini masih keliru. Hampir semua pastor ketika didatangi umat yang mengeluh, selalu menyarankan untuk berdoa dan berpasrah—bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambanya yang kesusahan—lalu selesai. “Ajen seperti sedang mengkritik sekaligus menawarkan model pendekatan yang baru, melalui surat-menyurat. Kebetulan, saya juga mempelajari hal yang sama saat berada di Jerman. Kita menolong orang lain, karena kita yakin ia bisa membantu dirinya sendiri. Maka tugas konselor adalah, menghidupkan kemampuan klien untuk menyembuhkan dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Habel kepada Veronika di dalam novela ini, saling bersurat,” jelas Romo Beben.

Tiga sikap penting dari metode konseling berbasis orang yang telah dilakukan Habel di dalam Surat-Surat Veronika dan Habel, antara lain: (1) Empati. Habel berempati ketika dia mengatakan bahwa ia paham apa yang dialami Veronika dan kemudian menceritakan pengalaman yang juga pernah ia alami; (2) Penghargaan. Habel menghargai pandangan-pandangan Veronika yang ia sampaikan melalui surat-surat balasannya; dan (3) Jujur. Keduanya saling terbuka tentang apa yang mereka rasakan, membagikan pengalaman-pengalaman mereka sekaligus pemikiran mereka terhadap sesuatu yang sama-sama mereka ketahui.

Unsur pastoral yang kemudian muncul dari surat-surat antara Habel dan Veronika ini adalah, Habel selalu menyelipkan pembicaraan tentang Yesus, ajaran Kristen, juga ayat-ayat Kitab Suci yang ia pelajari dan ia pahami sebagai seorang imam. Pastoral konseling ini kemudian memberikan perubahan kepada Veronika, yang menjadi lebih reflektif dan mengakui merasa lebih tenang setelah membaca surat-surat balasan Romo Habel (hal. 55).

Ciuman Habel dan Veronika

CIUMAN adalah perkara paling banyak yang dibahas pada Bincang Buku Petra malam itu. Selain novela ini memang dibuka dengan pernyataan Veronika tentang ciumannya bersama Romo Habel yang canggung di surat pertama, ciuman juga menjadi awal mula Veronika akhirnya mengirimkan surat kepada Romo Habel. Karena membahas ciuman tersebut, Romo Habel akhirnya membalas surat Veronika, dan berlanjut pada pembahasan mereka tentang pengalaman serta perasaan beserta teori-teori psikologi dan filsafat yang berkembang begitu saja memenuhi lembar demi lembar novela ini.

Namun kemudian pertanyaan lain muncul, bagaimana Habel dan Veronika dapat berciuman? Apakah perjumpaan yang hanya sekali, saat Veronika mengikuti perayaan ekaristi lalu berpapasan di depan ruang OMK, bisa menyebabkan mereka berciuman saat tahun baru?

Sebagian peserta bincang buku mengakui, awal mula membaca novela ini karena ingin mengetahui alasan hingga Romo Habel dan Veronika berciuman dan kelanjutan hubungan mereka. Rio Hamu, salah satu peserta bincang buku, bahkan mengira Habel dan Veronika akan menikah dan mempunyai anak. Demikian juga Romo Beben yang kemudian menyampaikan pendapatnya dari sisi seorang imam.

“Siapa yang bisa memberi garansi bahwa Habel tidak akan berciuman lagi setelah tidak berhubungan dengan Veronika? Mungkin dengan perempuan lain? Karena kalau sekedar sekali ciuman, barangkali tidak masalah. Tetapi kemudian mereka bertemu lagi di saat-saat terakhir ketika Habel akan pulang ke Flores, dan mereka berciuman lagi di mobil. Kita dapat menyimpulkan bahwa Habel menikmati itu. Anjuran saya, Habel harus dengan berani menyatakan diri untuk berhenti menjadi seorang imam. Keluar dan melanjutkan hubungannya dengan Veronika. Atau minus malum, Habel ke tempat pengakuan, di sana ada sesal, niat dan pertobatan! Saya yakin, ada ruang untuk berubah, karena melalui sakramen pertobatan, rahmat Allah bekerja di situ. Jika dosa kecil tidak diakui, maka dosa kecil yang diabaikan akan menjadi rahim bagi lahirnya dosa besar. Novela ini tidak menggambarkan penyelesaian yang jelas,” tutur Romo Beben.

Romo Beben kemudian melanjutkan, seandainya tidak ada ciuman, Surat-Surat Romo Habel dan Veronika bukanlah hal yang luar biasa. Surat-surat tersebut seperti juga surat-surat antara Santo Benedictus dan Santo Scholastika; hal yang lumrah ketika dua orang saling bertukar kabar dan membagikan pikiran mereka melalui surat. Tetapi ketika ada romantisme di situ, yaitu ciuman, yang bila kita temukan di dalam novela ini disebutkan cukup sering oleh penulis, maka boleh dikatakan penulis sebenarnya ingin menghadirkan sisi manusiawi dari seorang pastor melalui tokoh Romo Habel. Pertanyaannya adalah, mengapa perempuan yang harus selalu bertanggung jawab untuk memanusiakan seorang pastor?

Febry Djenadut, salah satu peserta bincang buku yang mengakui hidup di tengah masyarakat yang selalu memandang pastor adalah seseorang memiliki kepribadian yang bijaksana, yang selalu siap melayani umatnya, yang tidak boleh bergaul dengan perempuan dan sebagainya, melihat Veronika di dalam novela ini sebagai perempuan penggoda yang menggunakan berbagai macam alasan untuk menulis surat kepada Romo Habel. Oleh karenanya novela ini terasa melelahkan, terutama karena Veronika yang terlalu ngotot membalas surat-surat Romo Habel dan membahas ciuman yang telah mereka lakukan; bikin jengah.

Peseta Bincang Buku yang lain, Cici Ndiwa, menduga, kata ciuman di dalam novela ini digunakan penulis ketika mulai kehilangan ide untuk melanjutkan cerita. Sebagai pemantik. Cici mengaku cukup menikmati novela ini, meskipun beberapa isi surat sulit untuk dipahami. Di setiap halaman baru, ia menemukan pertanyaan-pertanyaan yang ia harapkan dapat ditemukan jawabannya di halaman selanjutnya. Di awal-awal pembacaan, ia bahkan berlaku sebagai Habel yang membalas surat-surat Veronika; sembari membaca, ia menduga-duga apa kira-kira isi surat yang akan dibalas Habel kepada Veronika.

Kegagalan-Kegagalan dalam Novela Surat-Surat Habel dan Veronika

Menurut Yoan Lambo, peserta bincang buku lainnya, kisah di dalam buku ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah cinta lainnya. Jika kita melihat Habel sama seperti laki-laki kebanyakan, bukan seorang pastor, maka novela ini hanya mengisahkan tentang perempuan yang jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang sebenarnya memiliki perasaan yang sama tetapi terus menarik ulur. Mereka menghabiskan waktu saling menggoda satu sama lain melalui surat-surat yang membahas teori-teori psikologi dan filsafat. Klise.

Malam itu, hadir juga Yuan Jonta yang menanggapi dengan sangat serius novela ini. Sebagai seorang lulusan psikologi, menurut Yuan, buku ini “cukup berbahaya”. Novela ini unik karena ada banyak teori yang digunakan penulis untuk menghidupkan cerita. Di sisi lain, oleh karena terlalu banyak teori itulah, penulis gagal mengelaborasi setiap teori dengan tepat. Yuan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan di dalam Surat-Surat Habel dan Veronika. Penulis terlihat berusaha menciptakan gesekan antara teori Sigmund Freud dan Alfred Adler, padahal akan lebih tepat jika Freud dipertemukan dengan Rogers—sebagaimana yang telah dijelaskan Romo Beben di awal—karena memang pembahasan teori mereka sama sekali berbeda.

Selain itu, dari buku ini kita tahu bahwa Romo Habel banyak sekali membaca karena itulah ia mengetahui banyak hal, tetapi Habel sendiri justru gagal dalam proses pembacaan itu. Habel masih melihat teori-teori tersebut sebagai milik para pemikir (filsuf), ia tidak memproduksi hal baru dari teori-teori yang ia baca. Ia hanya mengutip lalu mencocokkannya dengan peristiwa-peristiwa yang sedang dibahas di dalam suratnya kepada Veronika. Menurut Yuan, penulis seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan riset terkait teori-teori tersebut sehingga ketika dipadukan ke dalam cerita, karakter tokoh akan terasa lebih kuat dan meyakinkan pembaca.

“Saya pikir, karena terlalu banyak teori yang digunakan, dengan novel setebal ini (hanya 128 halaman), penulis mengalami keterbatasan dalam menggunakan bahasa. Penulis juga sepertinya belum terlalu yakin tentang konsep yang ingin ia sampaikan. Beberapa yang belum akurat (tidak tepat sasaran) adalah konsep tentang paradoks dan kecemasan,” papar Yuan. Ketakutannya adalah, jika buku ini dilihat sebagai referensi, sebagai jalan masuk mempelajari tentang ideal diri, nilai dan tujuan hidup, dan lain sebagainya, beberapa orang yang tidak pernah belajar tentang psikologi dan filsafat lalu malas mencari tahu lebih banyak, akan terjerumus kepada keyakinan yang keliru.

Indah Baharun, yang malam itu untuk pertama kalinya hadir pada Bincang Buku Petra, menyampaikan kekecewaannya pada novela pertama Ajen Angelina ini. Sebagai orang yang mengikuti kisah Habel dan Veronika sejak 2012 (Indah mengikuti kisah ini melalui blog pribadi penulis), ia melihat Ajen jauh lebih jujur dan menggebu-gebu ketika menuliskan kisah ini di blognya. Di buku terbitan Basabasi ini, Ajen seakan-akan ingin menampilkan diri sebagai penulis yang juga belajar tentang kejiwaan. Indah akhirnya tidak selesai membacanya, karena sama seperti Febry yang melihat aktivitas membaca sebagai hal yang menyenangkan, Indah juga merasa kelelahan ketika berusaha menyelesaikan novela ini.

Armin Bell mendapatkan kesempatan selanjutnya untuk bicara. Armin memfokuskan hasil pembacaannya pada penokohan yang gagal digarap dengan baik, yang berpengaruh pada konflik dan leraian yang tidak terlampau jelas. “Tidak ada konflik di dalam novela ini. Datar begitu saja. Jika kita membuka novela ini secara acak, kita tidak akan menemukan hal yang berbeda dari surat Habel atau surat Veronika. Surat-surat tersebut seperti ditulis oleh satu orang saja,” ungkap Armin.

Selain tidak berhasil membuat penokohan yang kuat di dalam cerita ini, menurut Armin, penulis juga gagal membangun peristiwa yang mendukung satu kejadian atau menjalankan seluruh cerita. “Tidak dijelaskan kenapa mereka akhirnya berciuman padahal kau harus punya alasan untuk mencium seseorang. Kau harus punya alasan untuk terlibat dalam ciuman yang heboh, bahkan jika itu alkohol sekalipun. Perilaku harus dibangun oleh hal-hal lain, kita tidak lahir sebagai manusia spontan, terutama dalam hal mencium,” jelas Armin. Meski demikian, menurutnya, sebagai karya pertama, buku ini—yang kualitasnya menurun dibandingkan draf-draf awal—adalah kesempatan Ajen Angelina untuk belajar banyak hal, terutama yang diperolehnya dari hasil pembacaan orang lain. 

peserta bincang buku petra surat habel dan veronika

Saya sendiri, yang mendapat kesempatan terakhir bicara pada Bincang Buku Petra malam itu, menyayangkan kerja penyuntingan novela ini yang terkesan tidak serius. Novela ini dibuat begitu terburu-buru. Selain itu, yang menjadi catatan penting adalah, dalam proses kreatif, penulis seharusnya sudah bisa membayangkan siapa yang akan membaca novelnya. Jika ingin mengadakan cetakan kedua dan seterusnya, novela ini membutuhkan kerja ekstra proof reader dan saran penyuntingan yang ketat. Bukan hanya kesalahan pengetikan, kekeliruan penggunaan kata, logika cerita yang kacau, masih banyak hal lain yang seharusnya menjadi perhatian serius editor.

Pada akhirnya, peserta bincang buku kesebelas menyematkan BINTANG TIGA untuk novela pertama Ajen Anjelina ini, Surat-Surat Habel dan Veronika. Bincang buku terakhir tahun ini akan diadakan pada hari Kamis, 19 Desember 2019 di Perpustakaan Klub Buku Petra. Buku yang dibahas pada bincang buku kedua belas nanti, Cerpen Pilihan Kompas 2018. Sampai jumpa! (*)


Baca juga: PASTORAL LITERASI DI LINGKUNGAN SEKOLAH. Tulisan Ajen Angelina di bacapetra.co ada di tautan ini.

Bagikan artikel ini ke: