Menu
Menu

Dalam pastoral literasi, pengabdian diri demi kepentingan sekolah dan demi perkembangan diri anak didik menjadi tujuan utama dari proses pendampingan.


Oleh: Giovanni A. L Arum |

Pegiat sastra di Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang. Pernah diundang dalam Festival Temu Penyair Asia Tenggara 2018 di Kota Padang Panjang. Puisi-puisinya pernah dimuat di Koran Tempo, Pos Kupang, Victory News, Bali Post.


Bagaimana budaya literasi hidup di SMPK St. Yoseph (SPEKSANYO) Naikoten Kupang? Berikut sepenggal catatan saya pasca-TOP di sekolah itu.

Refleksi ini berangkat dari pengalaman saya menjadi pendamping bidang pengembangan diri kreativitas membaca dan menulis para peserta didik di SEPKSANYO, dalam periode pastoral 2016-2018.

Budaya Literasi Sekolah; Api yang Mengobarkan Semangat

SPEKSANYO adalah salah satu lembaga pendidikan milik Yayasan Swasti Sari, Keuskupan Agung Kupang. Beberapa tahun terakhir ini, SPEKSANYO mulai dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki pelbagai prestasi, baik dalam tingkat daerah maupun nasional. Bahkan, SPEKSANYO telah dinobatkan dalam Education Award 2018 oleh International Human Resources Development Program (IHRDP) Foundation, sebagai Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional.

Animo masyarakat untuk memercayakan anak mereka di lembaga pendidikan ini juga kian meningkat. Hal ini dibuktikan dengan jumlah siswa yang terus bertambah beberapa tahun terakhir. Tentu pelbagai prestasi ini muncul dari proses pengelolaan iklim pendidikan yang matang, dengan kerja sama dari pelbagai pihak, baik pendidik, peserta didik, orang tua, masyarakat, yayasan, maupun pemerintah.

Ada banyak kegiatan pengembangan diri sebagai bentuk kegiatan ekstrakulikuler di SPEKSANYO. Kelompok Penelitian, Kelompok Olimpiade MIPA, Paduan Suara, Modern dan Traditional Dance, Drumband, Orkestra, Teater, Jurnalistik, Melukis, maupun English Course.

Kegiatan-kegiatan ini mulai dikembangkan dengan lebih optimal dan menjadi kekhasan program sekolah sejak kepemimpinan RD. Amanche Ninu. Sebagai orang yang memiliki naluri seni yang tinggi, juga minat yang besar dalam bidang tulis-menulis, Romo Kepala Sekolah memiliki semangat yang besar untuk menggiatkan pelbagai program pengembangan diri siswa.

Sebagai seorang Frater TOP, tentu mendampingi kegiatan-kegiatan ini adalah tugas pokok saya. Apalagi yang bersentuhan langsung dengan minat saya. Khusus di bidang literasi, saya banyak terlibat secara langsung dengan para peserta didik.

Di tahun pertama, berdasarkan instruksi dari Romo Kepala Sekolah, saya bersama anak-anak membuat kelompok menulis dengan agenda kegiatan awal yakni menulis dan menerbitkan puisi di koran-koran lokal, seperti Pos Kupang dan Timor Express. Selain itu, membantu mereka menulis dan mengisi rubrik milenial, yakni rubrik tentang tulisan remaja dengan bahasa populer di media Pos Kupang.

Pada awalnya, saya merekrut anak-anak yang memiliki minat dan bakat dalam hal menulis dengan pertimbangan Romo Kepala Sekolah, Guru Bahasa Indonesia, dan juga dengan membaca tulisan-tulisan mereka di Mading Sekolah.

Setelah perayaan pesta Emas sekolah yang dirayakan pada akhir bulan Agustus, saya dan siswa-siswi yang tergabung dalam kelompok menulis menerbitkan Majalah Sekolah dengan nama Columba (Lat.: Merpati) berdasarkan inisiatif dari Romo Amanche. Majalah ini diterbitkan sebanyak 4 kali dalam masa pastoral saya.

Karena siswa-siswi SMP adalah penulis pemula, maka butuh pendampingan yang optimal mulai dari membaca, merumuskan gagasan, menulis, hingga menyunting tulisan. Untuk itu, butuh waktu dan tenaga yang cukup banyak.

Kegiatan pengembangan diri menulis ini didukung dengan aktivitas sadar membaca yang sangat ditekankan oleh pihak sekolah. Untuk mendukung hal ini, disediakan fasilitas Taman Baca—selain perpustakaan, yang membantu peserta didik untuk mencintai kegiatan membaca dan mampu mengisi waktu luang di sekolah dengan membaca. Saya ditugaskan menjadi pengurus Taman Baca.

Budaya literasi di sekolah ini sejalan dengan arah kebijakan Kurikulum K-13 yang sangat menekankan keaktifan peserta didik untuk dapat bernalar secara tentatif dalam skema berpikir HOTS (High Order Thinking Skills). Habitus membaca adalah jalan yang relevan dan signifikan untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai kiblat pendidikan nasional ini.

Dalam menyusun RPP maupun dalam tindakan kelas, saya mengacu pada garis-garis kebijakan K-13 dengan mengintegrasikan dimensi literasi dalam proses pembelajaran di kelas. Pada tahun 2017, pihak sekolah juga mengintegrasikan program pembiasaan membaca 20 menit sebelum kegiatan pembelajaran.

Jadi, baik guru maupun siswa-siswi, sama-sama membaca untuk membangun habitus membaca yang baik di lingkungan sekolah.

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *