Menu
Menu

Konon, pohon itu adalah tongkat seorang nabi yang ditancapkan di situ menjelang sang nabi lenyap ke langit. Tidak ada apa pun yang ia dapatkan.


Oleh: Arianto Adipurwanto |

Lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Tahun 2017 diundang mengikuti Literature & Ideas Festival (LIFE’s) di Salihara, Jakarta. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019.


Maq Kono berjalan dengan susah-payah. Puq Bunguq yang tengah sekarat melekat di punggungnya. Kedua tangan kurus laki-laki tua itu melingkar di lehernya.

Dari mulutnya keluar terus-menerus air liur berbau menyengat, campuran antara bau tuak, gayas, bau penyakit yang tengah mencekiknya, dan juga bau kematian.

Di belakangnya puluhan laki-laki berjalan tersandung-sandung. Wajah mereka tegang. Takut. Mulut mereka merapalkan mantra apa saja yang mereka ketahui. Kaki mereka beberapa kali menendang bebatuan, hampir tersungkur dan jatuh ke dasar jurang, menghantam bebatuan besar, yang menunggu bagai kutukan.

Satu-dua meringis, membayangkan rasa sakit yang dihadapi Puq Bunguq. Sepanjang jalan Puq Bunguq melenguh. Merintih. Melancarkan kutukan demi kutukan. Doa-doa supaya siapa pun mencabut nyawanya secepatnya.

Jalan setapak yang mereka lewati menembus lembah, harus melewati sela-sela bebatuan dan melewati sebatang pohon dadap yang tumbang belum lama ini. Dari puncak bukit sesekali terdengar gemuruh seperti akan ada sebongkah batu terlepas, bergelinding, menghantam mereka sampai terpental hancur ke jurang dalam. Jauh di bawah mereka, sungai Popo bergemuruh.

Tadi mereka bersusah-payah melewati sungai itu. Sungai yang tengah meluap. Batu-batu lenyap. Sebentar-sebentar gelondongan kayu hanyut terbawa arus. Dan dari arah hutan terdengar jeritan. Jeritan hantu penunggu hutan kata mereka.

Puq Bunguq menjerit-jerit menyadari di mana ia berada. Kedua kakinya menendang-nendang lemah. Jari-jari kakinya tumbuh dengan arah tidak normal. Ibu jari dan telunjuk jari kaki tumbuh ke arah berbeda dengan jari-jari yang lain. Berlawanan. Sepasang kaki itu mirip dua ranting kering yang dengan segera menyala begitu dimasukkan ke dalam tungku.

Selain harus menghadapi goncangan dari beban yang ia bawa, Maq Kono juga harus menghadapi arus yang menghantam tubuhnya dengan keras, terus menerus. Beberapa warga ber-tunjang sepotong kayu mengikutinya dari belakang, menjaga jarak, bersiap memegang Maq Kono jika sewaktu-waktu ia tidak kuat menahan arus. Warga yang masih terdiam di tepian, menonton, melengkingkan doa. Air di hadapan mereka menjelma menjadi monster yang menakutkan. Siap memamah siapa pun yang menyerahkan diri ke dalamnya.

Di titik yang paling keras arusnya, tubuh Maq Kono miring, hampir saja jatuh. Para warga di belakangnya melengking nyaring. Tubuh Puq Bunguq juga ikut miring. Kedua tangannya yang melingkar di leher Maq Kono hampir saja terlepas. Liur dari mulutnya menetes-netes, jatuh ke atas air yang mengalir deras. Para warga di tepian, berteriak lagi, meminta Maq Kono melepaskan laki-laki tua itu, dan mengutamakan keselamatan dirinya. Salah seorang warga bahkan meneriakkan betapa Puq Bunguq lebih baik mati ketimbang terus ada di dunia ini.

Butuh perjuangan berat untuk dapat melewati sungai Popo. Tubuh mereka basah kuyup. Puq Bunguq juga begitu. Ia menggigil kedinginan. Samar-samar, ia memohon supaya tubuhnya dilemparkan saja ke sungai. Ia telah tidak kuat menjalani hidupnya lagi.

Seorang warga yang adalah keluarga jauhnya, mengancam akan memukul kepalanya sampai pecah jika ia berbicara lagi. Namun kata-kata itu tidak mengubah apa-apa; tidak ada gunanya mengancam mati orang yang memang ingin dirinya segera mati. Puq Bunguq semakin melengking nyaring. Tidak tahan, warga itu malah memanggil hantu hutan, supaya datang dan menggigit Puq Bunguq sampai mati.

Pertengkaran yang segera berakhir begitu mereka sampai di Tangkok Binong. Semua bisa saja terjadi di tempat itu. Mereka lebih dekat dengan kematian. Bahkan lebih dekat ketimbang saat mereka ada di sungai. Jauh di bawah sana, puluhan kutukan tajam menunggu mereka. Siap menerima tumbal.

Sebentar-sebentar Maq Kono berlari. Kedua kakinya yang telanjang menapak kuat di jalan berbatu. Ingin segera sampai. Bukan karena berat beban yang membebani tubuhnya. Tetapi karena bau liur Puq Bunguq yang tidak kuat ia tahan. Begitu busuk, seperti ada bangkai di dalam tubuh lelaki tua itu. Memusingkan kepalanya.

Perjalanan masih panjang. Sebisa mungkin ia membuat dirinya lupa akan jarak yang harus ia tempuh. Kedua tangannya yang dikaitkan ke belakang, menjepit kedua paha Puq Bunguq, telah mati rasa. Rahangnya terkatup rapat. Kedua matanya melotot, mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Para warga di belakangnya berteriak menawarkan bantuan, tetapi ia tahu tidak seorang pun dari mereka yang sungguh-sungguh ingin mengambil beban berat itu dari punggungnya. Ia tahu sebagian dari mereka mengharapkan Puq Bunguq segera mati. Banyak hal yang membuat mereka berharap begitu. Ia juga jauh di dalam dirinya mengharapkan Puq Bunguq berhenti bernapas. Sering sekali laki-laki tua itu melakukan hal-hal yang mengancam keamanan seluruh warga. Salah satunya perbuatan yang ia lakukan telah membuatnya sakit, tidak bisa bergerak, lumpuh, dan berakhir di punggungnya.

Di hutan yang terkenal keramat, terdapat sebuah makam. Sekali setahun orang dari berbagai tempat akan datang. Memenuhi sesangi yang pernah mereka ikrarkan. Atau meminta apa saja yang ingin sekali mereka miliki.

Warga yang sakit keras memohon kepada makam ini supaya segera disembuhkan dengan janji-janji semisal akan menyembelih kambing dan sejenisnya. Warga yang terlalu miskin datang untuk meminta sedikit kekayaan dan juga menjanjikan sesuatu. Siapa pun yang berani melanggar janji yang telah mereka ucapkan, akan terkena tulah suatu saat, jika bukan mereka, maka akan diterima anak cucu mereka. Penunggu makam tidak pernah melupakan janji mereka dan akan selalu menagih meskipun telah ratusan tahun lamanya. Warga percaya, setiap ada bencana yang menimpa mereka, adalah lantaran ada janji nenek moyang mereka yang belum dipenuhi. Dan dari golongan merekalah sebagian besar pengunjung makam ini.

Belakangan muncul satu golongan yang dahulunya tidak pernah ada. Golongan pencari nomor togel. Setiap menjelang malam mereka akan berkeliaran, mendatangi tempat-tempat keramat, yang dipercaya dapat memberikan kemenangan. Mereka datang dengan harapan akan segera menjadi kaya raya dan seluruh penderitaan akan terangkat dari punggung mereka. Salah seorang dari mereka adalah Puq Bunguq.

Berbagai cara telah ia lakukan. Pernah ia tidur semalam suntuk di bawah sebuah pohon yang dikenal keramat oleh para warga. Konon, pohon itu adalah tongkat seorang nabi yang ditancapkan di situ menjelang sang nabi lenyap ke langit. Tidak ada apa pun yang ia dapatkan. Hanya seekor ular pendek, sepanjang telunjuk, berkepala merah, yang hampir menggigitnya. Tempat keramat lain, makam seorang yang konon terkenal paling dermawan dan tersiksa lantaran orang-orang serakah terus mendatanginya sehingga mengutuk seluruh kekayaannya menjadi batu, ia datangi juga namun tidak ia dapatkan apa pun. Sampai dalam keadaan putus asa dan penuh harap, ia pergi ke sebuah hutan, mendatangi makam keramat itu, dan yakin malam itu ia mendapatkan nomor.

Semalam penuh ia duduk di situ, persis di samping makam. Dari mulutnya menguar aroma tuak. Sepanjang waktu ia memejamkan mata, berusaha tidur. Tidak bisa. Setiap ia akan tertidur, terdengar sebuah teriakan tidak jauh dari tempatnya berada. Seperti teriakan makhluk yang kelaparan. Sepanjang waktu ia mengalami hal serupa. Terkadang seperti ada yang melemparkan sebongkah batu ke dekatnya, namun ketika ia cari batu itu dengan bantuan senter bercahaya redup, tidak ada apa pun.

Paginya ia pulang dengan lunglai. Wajahnya lesu dan beban hidupnya bertambah berat. Ia yang semula telah bungkuk menjadi tampak lebih bungkuk dari biasanya.

Malam selanjutnya ia datang kembali. Harapannya tetap sebesar semula. Ia yakin sekali akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Mula-mula, saat ia datang, ia duduk menjengkeng di samping makam dan mengucapkan apa yang ia inginkan. Meraup segenggam tanah dan mengusapkan di mukanya. Remah-remah tanah melekat di alisnya yang memutih dan sedikit di bibir atasnya. Dengan melakukan itu ia yakin akan mendapatkan nomor yang pasti akan memberikan kemenangan padanya. Tetapi tetap saja seperti malam sebelumnya. Bedanya, gangguan datang dari suara kertak-kertak pohon di atasnya. Seperti akan segera tumbang. Membuatnya tidak berani tidur.

Kejadian itu telah terjadi berulang kali sampai kemudian ia geram dan datang dengan niat buruk. Sebelum berangkat ia menenggak dua kopek tuak. Sempoyongan, ia menembus hutan, menyusuri jalan setapak kecil yang licin, menuju makam keramat. Jika ia tidak mendapatkan angka ia akan mencabut nisan makam itu dan akan melemparkannya ke semak-semak. Benar saja, sampai pagi menjelang ia tidak kunjung bisa tidur dan mendapatkan mimpi yang ia harapkan. Geram, ia mencabut nisan makam itu, yang tertancap sedikit, tentu saja ia lakukan dengan mudah, dan melemparkannya ke semak-semak, lalu berjalan pulang, masih dengan sempoyongan.

Rumahnya terletak di tengah hutan belantara, hanya rumah gubuk dari bambu yang telah reot. Keluarganya telah meninggalkannya, tinggal di desa, menjalani kehidupan yang lebih layak. Begitu masuk jebak, ia duduk di berugak, dan mengingat apa yang telah ia lakukan. Lalu ia mengumpat keras, umpatan yang ia tujukan untuk penunggu makam. “Lawan saya kalau berani,” tantangnya dengan geram.

Tidak ada apa pun yang terjadi. Angin berhembus normal, pelan. Bunga-bunga dadap berguguran, jatuh ke halaman berdebu rumahnya. Di kejauhan, terdengar teriakan, mungkin teriakan orang yang pergi meramo, atau teriakan para pengangkut kayu. Terdengar juga lolongan anjing. Meskipun begitu, ada rasa tidak enak di dadanya. Seperti ada batu kecil yang mengganjal.

Selama ia duduk, ia terus memikirkan itu.

Perasaan yang semakin lama semakin membesar. Setengah sadar, ia bangkit, berjalan keluar jebak, dan berangkat ke Sungai Keditan, mandi. Ia terbungkuk-bungkuk menuruni jalan setapak. Jalan setapak yang penuh dengan daun busuk.

Jalan itu dilewati oleh Puq Bunguq setiap hari. Saat ia pergi mandi maupun ketika ia pergi ke rumah seorang warga untuk minum tuak. Meskipun begitu, hari itu entah bagaimana ia tidak bisa melihat seutas akar yang melintang dan mengait kakinya. Ia jatuh, tersungkur, tubuhnya terjatuh ke tengah-tengah rumpun pakis. Kakinya terasa ngilu, yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Terpincang-pincang ia berjalan pulang. Sedikit pun tidak tebersit dalam dirinya penyakit itu akan menyiksanya dengan kejam. Sampai esok harinya, ketika cahaya matahari menembus masuk melalui lubang-lubang dinding, dan ia tahu sudah saatnya ia bangun, ia telah tidak bisa bergerak.

Seluruh tubuhnya berat, bak melekat ke dipan.

Siang itu, seekor anjing liar yang kebetulan melintas di rumah itu, melolong keras. Seperti mengabarkan malapetaka. Ia mendengar rintihan keras dari dalam rumah bambu itu. Rintihan Puq Bunguq memohon pertolongan.

Adalah seorang pedagang untuk-untuk, yang datang ke Lelenggo sekali seminggu, yang mengabarkan tentang sakit Puq Bunguq ke desa. Ia menceritakan bagaimana ia yang tidak berniat mampir, karena yakin tidak ada yang belanja, mendengar teriakan keras dari arah rumah Puq Bunguq. Buru-buru ia datang, masuk jebak, dan rasa takut menguasainya ketika ia mendengar suara yang nyaris seperti lolongan anjing sekarat itu dari dalam rumah. Takut, ia hanya mengintip dari lubang dinding dan tampak olehnya Puq Bunguq tidur telentang, mengangkat kedua tangannya seperti tengah meraih sesuatu di atasnya.

Setengah hati para warga segera berangkat ke Lelenggo. Berjalan bergegas di Tangkoq Binong, dan kemudian berupaya keras untuk menyeberangi sungai Popo. Mendaki jalan setapak yang membentang di tengah semak-semak, menuju rumah Puq Bunguq. Sepanjang jalan mereka berdebat siapa yang akan membawa Puq Bunguq dan bagaimana cara terbaiknya.

“Kalau bukan karena mikirin kalian, saya ndak mau ikut. Dia sejahat-jahatnya manusia!” Ia meludah ke samping. Dahaknya tertahan daun dan jatuh pelan-pelan. Ngelendan. Ia lalu mengungkit bagaimana Puq Bunguq mengetuk-etuk dinding rumah istrinya ketika ia tidak ada di rumah.

Warga yang lain menimpali dengan kata-kata serupa. Ia hanya ikut untuk menghargai para warga dan ia masih ingat betul bagaimana Puq Bunguq menantangnya berkelahi hanya lantaran segelas tuak bertahun-tahun lalu. “Saya ndak akan lupa sampai mati!” katanya.

Perdebatan demi perdebatan terus berlangsung bahkan ketika mereka telah sampai di rumah Puq Bunguq. Rumah itu sepi. Sampah berserakan di halaman. Dinding rumahnya tampak sangat kotor. Ditempeli tanah entah bagaimana itu bisa terjadi. Kotoran ayam memenuhi lasah, nyaris tidak ada tempat yang cukup untuk duduk satu orang. Pelan-pelan Maq Kono mendorong pintu dan bau busuk langsung menyerbu kedua lubang hidungnya, membuat pusing.

“Siapa yang bawa?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab. Kembali seluruh warga mengungkit-ungkit perbuatan laki-laki itu kepada mereka. Para warga berdebat tentang siapa yang paling disakiti oleh si sakit. Tidak tahan, Maq Kono menawarkan dirinya. Ia berkata siap membawa laki-laki tua itu sendirian. Tanpa alasan yang sungguh-sungguh ada kecuali ia hanya ingin para warga berhenti bicara. Begitulah, ketika menempuh jalan itu kembali, Puq Bunguq yang tengah sekarat melekat di punggungnya. (*)

2018

Catatan Kaki:
Gayas: Ulat yang bersarang di tanah dan sering dimakan sebagai teman minum tuak.
Bertunjang: Menggunakan tongkat.
Sesangi: Nazar; janji.
Kopek: Botol.
Jebak: Gerbang.
Berugak: Balai-Balai.
Meramo: Aktivitas mengolah kayu/pohon dengan parang untuk dijadikan bahan bangunan.
Untuk-untuk: Jajan yang terbuat dari tepung dengan pisang di dalamnya.
Ngelendan: Menetes perlahan.
Lelenggo: Sebuah kampung di ujung selatan Lombok bagian Utara.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Cerpen terjemahan dapat dibaca di tautan ini.

Bagikan artikel ini ke:

2 thoughts on “Menjelang Sang Nabi Lenyap ke Langit”

  1. EkaSurya says:

    hutan, jalan setapak dan sungai penuh airnya semoga tetap lestari. kecuali 2 kopeq tuaq dan puq bunguq tidak usah dilestarikan hhhhaa…

  2. Culin says:

    Luar biasa menghantarkan pembaca ke khayalan yang seperti amat sangat nyata diingatan. Saya seperti melihat setiap kejadian yang diceritakan..
    Puq bunguq memang seharusnya mati.
    Akan ku doakan yang terbaik untuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *