Menu
Menu

Puji Pistols tak lagi gegabah menulis puisi yang panjang dengan kata-kata yang boros seperti di buku pertamanya.


Oleh: Dwi Cipta |

Seorang penulis cerita, penerjemah, dan esais. Novel pertamanya yang berjudul “Darah Muda” (diterbitkan oleh Literasi Press) terbit pada akhir 2017. Beberapa buku terjemahannya di antaranya “Victoria” karya Knut Hamsun (IBC). Penulis berdomisili di Yogya dan Semarang secara bergantian.


Identitas Buku

Judul buku: Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan
Penulis: Puji Pistols
Tahun: 2019
Penerbit: Basabasi

***

Barangkali salah satu tindakan menyedihkan seorang penulis adalah selalu menoleh pada karya-karyanya di masa lalu, melihat cacat memalukan pada karya tersebut, dan mencoba dengan seluruh kemampuan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Dalam koridor kesadaran terhadap kecenderungan tindakan yang menyedihkan ini, Puji Pistols menjalani kerja-kerja kreatifnya. Ia merasa gagal menulis puisi lamanya yang ia anggap menjadi representasi catatan hidupnya. Oleh karena itu, sesudah Anjing Tetanggaku Anjing terbit, ia lebih banyak menahan diri untuk menulis puisi yang bertutur tentang riwayat dirinya. Tidak mudah menjumpai puisi seperti “Simpang Lima dan Riwayat Sandal Jepit,” “Catatan tentang Aku,” “Abu dan Ibu,” “Balonku Cuma Kelabu,” “Kisah Pendek Lelaki Pesisiran,” atau “Hikayat Kesetiaan Si Penunggu Rumah Jingga”. Di kemudian hari, misalnya, ia bahkan mengakui bahwa keputusannya memasukkan tiga puisinya— “Mendengarkan Maher Zain,” “Pelawat Ladang Kopi” dan “Di Pesarean Kiai Mutammakin”di dalam Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan hanya sebagai pelengkap untuk buku keduanya.

Di saat bersamaan, ketika membaca kembali puisi yang merupakan perwujudan dari catatan pengembaraan intelektualnya, sekalipun menemukan cacat-cacat bawaan, beban psikologis yang ia tanggung tidak sebesar ketika membaca puisi yang berkisah tentang dirinya sendiri. Menghadapi kejerihan dalam menghadapi teks-teks yang ia anggap paripurna, ia lebih memilih ‘jalan aman’ dengan menyatu dengan teks itu dan membiarkan dirinya hanya menjadi juru bicara teks itu secara puitik.

Ketika kita memasuki puisi Puji Pistols dan berinteraksi secara langsung dengan teks-teks aslinya, pembaca akan sampai pada pemahaman bahwa sang penyair telah membahasakan teks-teks itu sesuai dengan ekosistem pengetahuan dan orientasi puitiknya sendiri. Perlakuannya terhadap “Cerita tentang Cien Sonetos de Amor” adalah contoh paling gamblang. Sesudah  ditulis dan masuk sebagai salah satu puisi dalam buku kumpulan puisi Anjing Tetanggaku Anjing, Puji Pistols nyaris tanpa beban untuk menghadapi teks lama ini dan menata-ulang sampai menemukan wujud baru yang sangat indah.

Ada dua faktor yang membuat Puji Pistols lebih memilih pengembaraan intelektual daripada memanfaatkan riwayat diri sebagai mata air penciptaan puisi.

Pertama, ia menyadari cekaman warna kelabu dari riwayat dirinya sendiri hanya bisa dibebaskan lewat pengembaraan intelektual. Dalam hal ini, sejarah pertautannya dengan dunia musik dan cerita silat, buku-buku filsafat timur (Tiongkok dan Jepang) dan kemudian karya-karya sastra Barat maupun Amerika Latin baik untuk memandunya dalam mendeklarasikan apa dan siapa dirinya atau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hidupnya jadi semakin signifikan.

Kedua, sejak puisinya diterbitkan di berbagai media massa, pergaulannya dengan para penyair dan pembaca puisinya makin luas. Beberapa di antara para penyair dan pembaca puisinya tersebut tidak hanya menjalin hubungan persahabatan dengannya, namun juga mendiskusikan baik dunia puisi secara umum maupun kecenderungan puisi-puisinya. Lingkaran epistemik inilah yang menjelmakan dirinya dari seorang otodidak menjadi seorang pelajar di dunia penulisan puisi.

Misalnya, pilihan tema puisi tentang dunia Timur, selain disebabkan lewat perenungan pribadi dan diskusinya yang intens dengan Imam Bucah—pelukis dari Pati yang mengikuti perjalanan kreatifnya sebagai seorang penyair sejak awal sampai sekarang—, juga diperantarai oleh jalinan persahabatannya dengan penyair Hanna Fransisca. Selain menjadi teman diskusi yang baik, Hanna adalah salah satu orang yang menyuplai buku-buku bacaan tentang Tiongkok bagi Puji Pistols. Dari aspek keberlangsungan kerja kreatif, pilihan politisnya[1] menulis puisi-puisi berlatar Tiongkok didasari pandangan bahwa masih sedikitnya penyair Indonesia yang mencurahkan kerja kreatifnya dengan menggarap bahan-bahan dari Tiongkok.

Sebelum masuk ke pembahasan tentang puisi-puisi di “Tokoh-tokoh dalam Sepuluh lompatan”, mari bahas terlebih dahulu kesalahan-kesalahan teknis dari buku ini.

Pertama, dari sisi penyajian puisi-puisi yang termuat di buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan, ada setidaknya dua kesalahan penulisan yang cukup mengganggu. Misalnya, dalam puisi “Maskumambang”, mungkin yang dimaksudkan oleh Puji Pistols dengan gunung “barbawasa” adalah gunung “garbawasa”. Kedua, dalam “Elegi Su Tung Po”, penyebutan alat musik Tiongkok serupa gitar yang dimainkan dengan cara dipetik adalah “kim”, atau “yang kim”, bukan “kin”.

Kedua, sejak pertama kali selesai membaca kumpulan puisi Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan, saya merasa buku ini mestinya dibaca dari tengah, yaitu dari puisi “Mendengarkan Maher Zain” sampai puisi “Di Pesarean Kiai Mutammakin.” Sekalipun bagian awal dari buku ini diisi dengan delapan dari dua belas tembang macapat, saya tak mampu menemukan referensi biografis sang penyair, terutama referensi pada hal-hal spesifik yang lahir dari pertautan fisik sang penyair dengan ruang hidup fisikal-kulturalnya dan pengakuan-pengakuan estetik penyair yang berpijak dari pengalaman hidupnya yang diharu-biru oleh kehidupan yang perih dan disesaki cerita kekalahan. Dugaan ini terkonfirmasi ketika Sang Penyair-nya sendiri bertutur tentang komposisi buku kumpulan puisinya.

Delapan dari dua belas tembang macapat yang ia hadirkan dalam puisinya adalah ikhtiar estetiknya untuk memberi ringkasan puitik atas siklus hidup manusia sejak di dalam rahim sampai liang lahat. Ini tidak berarti delapan puisi awal dalam Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan kosong dari sari-sari yang terperas lewat pengalaman hidup Sang Penyair. Delapan dari dua belas tembang macapat yang dihadirkan oleh Puji Pistols, yang menyajikan siklus hidup manusia secara umum, lebih terasa sebagai sikap batinnya yang sudah sak madya (di tengah-tengah atau mencoba adil dalam menilai sesuatu) dan sumeleh (memasrahkan diri) dalam menjalani ritus hidup. Itulah sebabnya tidak ada gugatan, kemarahan, atau ketidakberterimaan atas hukum besi kehidupan manusia dari alam rahim sampai kembali ke pangkuan pencipta. Seperti pengamal Tao yang paripurna dalam baju pengetahuan dan nilai-nilai hidup manusia Jawa, diterimanya semua dan segala yang hadir dalam hidup sebagai siklus ada dan tiada, sebagai bayang-bayang dari kalam Tuhan.

Bila Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan dibandingkan dengan “Anjing Tetanggaku Anjing”, tampak jelas bahwa intensitas interaksi Puji Pistols dengan cerita silat, musik-musik New Age dan New Wave, ajaran Zen, dan teks-teks sastra atau musik dan lukisan baik dari Dunia Timur maupun Dunia Barat saling bertautan dengan serpihan-serpihan pengalaman hidupnya dan dengan satu atau lain cara justru berhasil membebaskannya dari penjara gaya Afrizal Malna atau Goenawan Mohammad dan puisi-puisi Kompas yang suntuk ia baca sejak 2004 sampai 2015.

Di Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan ia juga menjadi lebih terampil dalam menata tipografi puisinya agar lebih sesuai dengan gagasan yang ia usung. Belajar dari kecerobohan penciptaan puisi yang tampak di Anjing Tetanggaku Anjing, di buku keduanya ini, ia menyuguhkan pada pembacanya kedalaman refleksi yang mengagumkan dalam puisi-puisinya. Ia tak lagi gegabah menulis puisi yang panjang dengan kata-kata yang boros seperti di buku pertamanya. Perhatikan baik-baik bait pertama dari puisi berjudul “Cerita tentang “Cien Sonetos de Amor”” di buku Anjing Tetanggaku Anjing:

Kisah penyair tak seperti syair
di meja kayu selalu ia sisakan catatan,
menahun…
terbang terbuang di bawah kolong tahun
ya.. tahun pun terus mencibir kesepian penyair
suatu hari, kita mabuk di tumpukan sampah koran bekas
terikat
untuk setia pada narasi puisi
puisi sebatang kara yang menua di pinggiran media?
[3]

Di buku kumpulan puisi Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan, setelah melewati perenungan yang mendalam dan pengalamannya membangun tipografi puisi, bait pertama ini diubah seperti petikan “Cerita tentang Cien Sonetos de Amor” di bawah ini:

Kisah penyair tak seperti syair
di meja kayu selalu ia sisakan nota
yang menahun terbang terbuang
di kolong musim demi musim
terus mencibir kesepiannya
petang berulang, kita mabuk di
tumpukan sampah kerang
dan terikat untuk setia pada
narasi puisi sebatang kara
di pinggir karang
[4]

Bahkan dalam puisi yang panjang seperti “Elegia Mario Jimenez,” ia menggunakan strategi pemecahan puisi menjadi bagian pembukaan, rute-rute puitik, dan bagian penutup berupa catatan Jimenez. Tak pelak lagi, puisi ini lahir setelah ia membaca Il Postino karya Antonio Skarmeta. Rekaman pengalaman pribadi Puji Pistols dengan sepeda tampak jelas sejak puisi berjudul “Monolog Sepeda” di buku Anjing Tetanggaku Anjing. Setelah terbitnya buku itu, Puji Pistols baru memiliki kesempatan membaca Il Postino dan terpesona dengan kisah tukang pos yang bekerja mengantar surat dengan sepedanya.

Dari kegandrungan pada novel itulah yang akhirnya melahirkan sebuah puisi panjang berjudul “Elegia Mario Jimenez.” Karena dari bagian pembukaan (“Elegia Mario Jimenez”), rute 1-7 dan penutup (“Catatan Mario”) memiliki judul sendiri-sendiri maka masing-masing bagian itu bisa berdiri sendiri sebagai satu puisi. Namun intensi Puji Pistols adalah menyajikan sebuah puisi naratif yang saling berkaitan satu sama lain.

Kerja penyalinan teks-teks besar yang ia kagumi menjadi puisi-puisi jernih yang semula tampak intuitif di buku “Anjing Tetanggaku Anjing” perlahan-lahan menjadi kerja penyalinan yang sadar diri. Intensionalitas dalam kerja penyalinan ini nampaknya didasari lewat diskusi yang panjang dengan seniman Imam Bucah. Dalam merespons film atau lukisan Tiongkok, Puji Pistols mengutip ucapan Imam Bucah bahwa kalau menyaksikan film atau lukisan Tiongkok, sebaiknya perhatikan saja dan tidak usah dikomentari karena penonton tidak mampu mengikuti totalitas para pekerja film dan pelukis Tiongkok dalam menjalani hidup dan berkarya.

lompatan puitik tokoh-tokoh dalam sepuluh lompatan

Bagian paling menarik dari kumpulan puisi Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan berada pada respons kreatif Puji Pistols dalam pengembaraan intelektualnya mereguk pengetahuan Timur seperti Tiongkok dan Jepang. Menurut pengakuannya sendiri, ketertarikannya untuk menulis puisi yang berangkat dari karya maupun kehidupan seniman dan tokoh-tokoh legendaris Tiongkok berangkat dari pandangan totalitas seniman dan tokoh-tokoh sejarah Tiongkok dalam menjalani hidup dan berkarya. Ketertarikannya pada filsafat Jepang, terutama pada ajaran Zen, lebih didasari karena ketenangan ajaran hidup mereka dalam menghadapi dunia yang gaduh.

Mulai dari “Kaca Rias” untuk mengenang Wu Zetian—Kaisarina Tiongkok paling kontroversial dalam sejarah, renungan mendalamnya pada kerja-kerja seni Zhang Daqian, renungan puitiknya tentang koan, sampai pertautannya dengan kehidupan etnis Tionghoa di Nusantara lewat puisi Mei Ling, Puji Pistols mendedahkan pengembaraan intelektualnya ke dunia Timur dari masa kanak-kanak sampai sekarang.

“Kaca Rias,” yang ditulis setelah ia memasuki sisi kelam operasi kekuasaan di era Kaisarina Wu Zetian, menyuguhkan renungannya yang jernih tentang risiko tumbangnya moral dan hati nurani manusia demi ambisi kekuasaan yang tidak pernah ada habisnya. Namun pelajaran muram tentang wajah telengas kekuasaan yang telah menipu manusia dari generasi ke generasi itu tak mampu pula menghentikan mereka dari pemujaan, katakanlah, pada kekuasaan yang diimajinasikan memenuhi harapan mereka tentang martabat diri dan bangsanya. Pandangan ini tampak jelas ketika ia menyalin novel Kuil Kencana karya Yukio Mishima. Teriakan “Tenno Heika Banzai” adalah penanda duka cita dari keterperosokan manusia yang melakukan pemujaan berlebihan pada kekuasaan.

Waktu-waktu luang yang dihabiskannya selama bertahun-tahun untuk menikmati kaligrafi seniman Qi Baishi mengantarkan Puji Pistols pada kesadaran puitik bahwa surga-surga palsu, cinta sejati yang pulang lebih awal, kesedihan yang datang tanpa dipesan, dan kesepian yang bersimaharajalela sesudah dendang kebahagiaan yang singkat adalah hal-hal yang niscaya hadir dalam kehidupan manusia sebelum maut datang menjemput.

Pengembaraan intelektual dan kerja penyalinan teks-teks yang dikerjakan Puji Pistols tak berhenti di kawasan Timur, namun juga ke kawasan yang disebutnya Barat[5]. Kategori Barat yang disebutnya bukan hanya meliputi pengembaraan intelektual dengan mereguk teks-teks dari penulis, musisi maupun Perupa Amerika Serikat dan Eropa, namun juga teks-teks dari Amerika Latin. Secara spesifik, ketertarikan Puji Pistols dengan karya-karya Amerika Latin disebabkan oleh dua hal.

Pertama, dari aspek sejarah dan kondisi sosio-kultural, Amerika Latin memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. Kedua, dari aspek penciptaan karya sastranya, ia terpesona pada keunikan tokoh-tokoh dan gagasan penciptaan dari karya-karya para penulis Amerika Latin. Di luar kualitas literernya yang mengagumkan, sang penyair terkesan tergesa-gesa dalam menempatkan kawasan Amerika Latin dalam peta dunia. Pengkategorian kawasan kultural Amerika Latin sebagai Barat dalam “Tokoh-tokoh dalam Sepuluh Lompatan” jelas bermasalah. Dalam geografi budaya, Amerika Latin adalah kawasan kultural tersendiri dengan sejarah panjang kebudayaan bangsa Indian, kisah penaklukan dan pembumihangusan kebudayaan Indian oleh Barat, dan pemerkosaan kultural yang akhirnya melahirkan kultur mestizos.

Akhirul kalam, merenungkan puisi-puisi dalam buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan, pembaca mungkin menemukan usaha seorang penyair dalam kerja penulisan puisinya: selalu menoleh pada karya-karyanya di masa lalu, melihat cacat memalukan pada karya tersebut. Dan jika cacat itu bak lubang, ia mencoba dengan seluruh kemampuan melakukan lompatan puitik. Mungkin ia akan kembali jatuh, tapi setidaknya di wilayah kreatif yang baru. (*)


[1] Menurut Puji Pistols kata “politis” di sini bukan dalam pengertian politik secara umum, namun politik dalam pengertian tindakan sadar yang diambil seseorang setelah melewati berbagai macam pertimbangan.

[2] Istilah ‘penyalin’ ini penulis ambil dari paparan Edward Said ketika menguraikan pelestarian pandangan tentang dunia Timur oleh para sastrawan, antropolog, sejarawan dan para pemikir Barat lainnya dari karya Gustave Flaubert yang tidak rampung, Bouvard et Pecuchet.

[3] “Cerita tentang “Cien Sonetos de Amor”” dalam Anjing Tetanggaku Anjing,2011,  Dewan Kesenian Pati, Hal. 37,

[4] “Cerita tentang Cien Sonetos de Amor” dalam Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan, 2019, Penerbit Basa-Basi, Yogyakarta, hal. 72.

[5] Wawancara dengan Puji Pistol di Pati pada 16 Agustus 2019.


Redaksi bacapetra.co juga menerima ULASAN FILM. Kirim tulisan Anda ke redaksi@bacapetra.co.

Baca juga: KEJADIAN TAK BIASA DALAM NOVEL ORANG-ORANG OETIMU KARYA FELIX K. NESI

Bagikan artikel ini ke: