Menu
Menu

Pemilik akun Flores menduga, Dewan Juri Lomba Cerpen ODGJ terpaksa menentukan pemenang lomba. Benarkah demikian?


Oleh: Tim Kerja Lomba |

Nomor HP Narahubung: 082339780887 dan 081339366174.


Tanggal 10 Desember 2019, Tim Kerja Lomba Cerpen ODGJ mengumumkan nama-nama pemenang lomba.

Seperti telah dijadwalkan sebelumnya, pengumuman dilakukan pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, sebab kegiatan lomba ini dilakukan dalam bingkai besar itu: hak asasi manusia—orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah kelompok yang hak asasinya belum berhasil menjadi isu arus utama dan untuk itulah lomba ini diselenggarakan oleh Klinik Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose.

Dalam pengumuman itu, Tim Kerja Lomba menyertakan catatan Dewan Juri. Catatan pertanggungjawaban itu kemudian ditanggapi oleh salah seorang pembaca, yang merasa bahwa para juri seperti “terpaksa menentukan para pemenang”. Tanggapan di kolom komentar pengumuman itu, datang dari seseorang dengan nama akun “Flores” berbunyi demikian:

Bahasan dan penilaiannya bagus sekali. Ok. Semua cerpen yang masuk lima besar adalah minus malum. Kata lainnya terpaksa masuk, supaya ada juaranya. Saya kira adalah sangat bagus jika juri konsisten pada pendoman penilaian. Misalnya, jangan paksakan cerpen2 itu masuk ke lima besar. Pemaksaan adalah pelanggaran terhadap pedoman yang telah juri atau panitia sendiri tetapkan. Ini disebut permisif. Mungkin cerpen juara 1 kini hanya bisa masuk ke juara 5. Biarkan itu terjadi supaya permisif itu dihindari. Praktik pasung dan pelbagai masalah apa pun, saya kira justru bermula dari praktik permisif seperti ini.

Benarkah situasi seperti itu yang terjadi—bahwa agar ada yang menang maka Dewan Juri bersikap permisif sebagaimana komentar Flores? Tim Kerja Lomba memutuskan meminta Dewan Juri menanggapi komentar ini sekaligus menjelaskan mekanisme kerja mereka, sesuatu yang sangat penting sebab hal-hal seputar pertanggungjawaban juri dalam lomba menulis (atau lomba apa saja) telah lama menjadi topik diskusi yang menarik. Bukan tidak mungkin bahwa komentar Flores juga ada di banyak kepala.

Bacapetra.co, media partner kegiatan lomba ini menyiarkan tanggapan Dewan Juri Lomba Cerpen ODGJ atas komentar Flores itu dalam sebagai satu artikel baru, alih-alih menuliskannya sebagai balasan di kolom komentar, dengan harapan dapat menjadi bagian dalam ‘sumbang pikir’ tentang bagaimana juri-juri lomba bekerja? Selamat membaca!

Tanggapan Dewan Juri

Pertama-tama, terima kasih atas perhatian dan respons untuk Pengumuman Pemenang dan Catatan Dewan Juri Lomba Cerpen ODGJ. Berikutnya, mari mulai dengan kalimat kunci: “Lomba Cerpen ODGJ adalah sayembara cerpen dengan tema dan tujuan khusus.” Tema dan misi pengarusutamaan isu ODGJ adalah pegangan dan pertaruhan semua pihak yang terlibat. Setiap prosedur penilaian dan keputusan Dewan Juri pastilah didasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan oleh Tim Kerja Lomba. Jika kita menyimak catatan panjang Pertanggungjawaban Dewan Juri, sesungguhnya telah benderang bahwa meskipun cerpen-cerpen yang masuk dalam lima besar memiliki cacat masing-masing, tiga cerpen di antaranya tetap layak dikukuhkan sebagai juara I, II, dan III. Sama sekali tidak ada paksaan harus ada pemenang dalam Lomba Cerpen ODGJ ini.

Perlu diketahui, Lomba Cerpen ODGJ dilaksanakan dengan dua saringan, yaitu Kurator dan Dewan Juri. “Cerpen-cerpen yang bermasalah besar dari segi bangun cerita, cerpen-cerpen yang ditulis terburu-buru sehingga seperti tidak selesai, cerpen-cerpen yang dapat kita sebut sebagai penulis mau omong apa sebenarnya?” telah disisihkan oleh Kurator (komentar kurator dapat dibaca di tautan ini). Dengan kata lain, meja Dewan Juri telah bersih dari cerpen-cerpen yang bahkan tidak layak menyandang juara X atau XX.

Jika pertanyaannya adalah mengapa tetap ada juara I, II, dan III padahal Dewan Juri secara gamblang menyatakan kekecewaan atas kualitas cerpen-cerpen peserta Lomba Cerpen ODGJ, termasuk cerpen-cerpen lima besar, jawabannya sebenarnya bisa singkat dan sederhana saja. Ketiga cerpen pemenang telah melewati nilai ambang batas, mereka berturut-turut menempati posisi tiga teratas. Lantas, apa makna kekecewaan Dewan Juri? Baiklah, nanti akan dijabarkan lebih jauh di bagian berikut.

Jika persoalannya adalah mengapa disebut minus malum, bukankah itu artinya semua cerpen peserta buruk adanya? Minus malum adalah ungkapan Latin yang maknanya “memilih yang kurang buruk di antara yang lebih buruk”. Minus malum sedemikian populer, punya nuansa makna dalam penggunaannya di berbagai bidang, seperti hukum, politik, atau teologi. Sebenarnya, kita boleh curiga ketika seseorang menilai sesuatu (dalam hal ini, teks sastra) semata sebagai “bagus” atau “buruk”. “Buruk” adalah pilihan kata para pemalas. Sebutan “buruk” tak bermakna apa pun, kecuali dijabarkan dalam sejumlah indikator. Sebelum menyebut minus malum, Dewan Juri telah memaparkan tiga elemen (konten, keperajinan, dan konteks) yang digunakan sebagai kriteria penilaian. Ketika menyebut minus malum, Dewan Juri secara khusus menyorot kesalahan-kesalahan elementer yang disebabkan oleh kerja penyuntingan yang tergesa-gesa dan riset yang ala kadarnya. Dewan Juri mencermati, dalam elemen keperajinan inilah sebagian besar peserta Lomba Cerpen ODGJ tersandung. Kesalahan-kesalahan itu mengecewakan, meski bukan tak termaafkan.

Ambillah cerpen juara I (Nadus dan Sembilan Roh yang Merasukinya) sebagai contoh. Dengan penyuntingan atas kekeliruan rujukan fakta historis Pahlawan Revolusi, kita akan mendapatkan angka 6-1-2, alih-alih angka 7-2-9 seperti yang tercantum dalam naskah aslinya. Rujukan diperbaiki, dan pembaca tetap akan memperoleh efek komikal yang sama. Struktur kisah tak otomatis runtuh oleh satu-dua kesalahan. Contoh lain, pada cerpen juara II (Seru Serangga Dalam Diriku), ketidaktepatan aliran paragraf dan penggunaan tanda baca cukup menggangu tapi tema kisah yang kuat dan perspektif alternatif mengenai mental breakdown vs mental breakthrough patut disebut “juara”.

Dalam praktik penyuntingan profesional, khususnya pada naskah cerpen atau novel, kita mengenal dua tinjauan: makro dan mikro. Makro berkenaan dengan tema, struktur—ini kisah bicara apa, seberapa kuat bangun narasinya. Mikro berkenaan dengan detail, bahasa—bagaimana stilistika dipakai dalam sebuah kisah. Bergerak dari makro ke mikro, kita mengenal tahap-tahap penyuntingan: restrukturisasi, revisi, copy editing, proofreading dan line editing. Kedua puluh dua cerpen yang dikirimkan ke meja Dewan Juri masih perlu melewati tiga tahap penyuntingan yang disebut terakhir jika nantinya akan diterbitkan dalam sebuah antologi. Semua cerpen, tanpa kecuali. Tapi cerpen-cerpen pemenang tentu akan lebih mudah disunting karena lebih berkaitan dengan kerja polishing daripada building.

Demikianlah, semoga menjadi jelas bahwa tiada sikap permisif dalam hal penentuan juara Lomba Cerpen ODGJ. Tentang pernyataan “praktik pasung dan pelbagai masalah apa pun, bermula dari praktik permisif seperti ini”, Dewan Juri tidak akan berkomentar lebih jauh selain menilai pernyataan ini bermanfaat sebagai bahan refleksi kita bersama. Terakhir, bolehlah ditambahkan bahwa Dewan Juri telah berupaya semaksimal mungkin untuk bekerja dalam spirit “menghormati penulis dan melayani pembaca”. Itulah sebabnya Dewan Juri wajib mengungkapkan kekecewaan (Hei para penulis (dari) NTT, kalian mestinya bisa lebih baik lagi!). Itulah sebabnya Dewan Juri wajib memeriksa sampai detail terkecil, agar pembaca nanti bukan hanya mendapatkan manfaat dari upaya pengarusutamaan isu ODGJ tapi benar-benar menikmati cerpen sebagai teks sastra yang menghibur pula. (*)


Baca juga: PROFIL KLINIK JIWA RENCENG MOSE

Simak informasi agenda-agenda menarik di media sosial kami (Facebook, Instagram, Twitter): Klub Buku Petra. Ketahui juga aneka kegiatan menarik seputar literasi di rubrik SEKITAR KITA.

Bagikan artikel ini ke:

1 thought on “Lomba Cerpen ODGJ – Benarkah Dewan Juri Terpaksa Menentukan Pemenang?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *