Menu
Menu

titik mata: kupandangi titik di dekatmu/ tiba-tiba bintang jatuh […]


Oleh: M. Firdaus Rahmatullah |

Lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat antara lain di Koran Tempo, Republika, Jawa Pos Grup (Radar Mojokerto, Radar Jombang, Radar Bromo). Puisi-puisinya juga termaktub dalam buku Selasa di Pekuburan Ma’la: Antologi Puisi Bersama (2019), Perjumpaan: Antologi Sastra (2019), Segara Sakti Rantau Bertuah: Antologi Puisi Jazirah 2 (2019). Buku tunggalnya Cerita-Cerita yang Patut Kau Percaya (2019). Tahun 2015 mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Bali. Kini, mengabdi di SMAN 1 Panarukan Situbondo.


tentang waktu

ia kencangkan waktu
sebelum hari menjadi lebih pagi
tak ada kopi di meja makan
atau seiris roti selai berisi

ia cukupkan detik
sebelum berubah detak
tak ada almanak
atau tanggal merah berjajar: alamak.

sebab matahari tadi mengambilnya
sebelum bulan sempat meletakkannya.

maret, 2020

.

seikat bunga

ia datang membawa seikat bunga

—yang kukira racun dalam gelas

tapi ini satu babak yang ditulis sutradara—

sementara harumnya menguar ke plot lakon lainnya.

maret, 2020 

.

hakikat perjalanan

bekas langkah di tengah jalan
itu namamu yang lain

layar diangkat
level ditata setelah diangkut

tujuanmu masih jauh
sementara jalan lain belum dijamah

pada aspal yang berdebu
kau katakan, itu berbeda.

maret, 2020 

.

titik mata

kupandangi titik di dekatmu
tiba-tiba bintang jatuh
udara hening
sinarnya kering
sepasang mataku lamur
tak mampu membedakan kau
dan seseorang lain yang juga kau
pertanyaan-pertanyaan meluncur
berhamburan di dekat pertanyaanku
sebelum kutemu cahaya teduh.

sementara kau di situ
manjauh dari mataku.

februari, 2020

.

bayangkan malam

kau bayangkan malam
serupa cahaya
api mengerjap
tak padam
membakar jantungmu
membakar puisimu

tetapi malam pun pejam
gelap makin kelam
bintang-bintang tak datang
rembulan diam
sehening namamu
sehening puisimu

kemudian
sepasang fajar
menjulur dian
yang mekar

sebelum bersatu
dalam puisimu.

februari, 2020

.

botol mimpi

setiap kita bermimpi tentang indah dunia
seorang kanak mati di tempat tidur
racun berbotol-botol ditenggak tenang
darah mengucur di nadi usai diiris ritmis
kita senantiasa kehilangan satu nyawa
tanpa berdosa
dan mengaku penguasa
pemilik nyawa yang fana
dan dianggap sia-sia
sementara yang tersisa
dari kita
adalah sedikit kemanusiaan
bercampur toksit hewani
hendak menjelma madu
mengalir di sungai-sungai na’im
bersebelahan susu yang putih
menjemput mimpi-mimpi
dalam sebotol duniamu.

februari, 2020


Ilustrasi: Photo by Tom Swinnen from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi M. Aan Mansyur “Cara Lain Membaca Sajak Cinta”
– Puisi-Puisi Jahan Malik Khatun “Semalam Cintaku”

Bagikan artikel ini ke: