Menu
Menu

Nakama// Samudera tak pernah lebih luas dari/ Persahabatan dan palung tak/ bisa lebih dalam/ Dari kegembiraan…


Oleh: Saddam HP |

Lahir di Kupang, NTT, 21 Mei 1991. Aktif di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Buku puisi perdananya berjudul Komuni (2019). Puisi-puisinya dimuat di Majalah Sastra Majas, Mata Puisi, Kompas, dan Tempo. Sesekali menerjemahkan dari bahasa Inggris dan Latin. Terjemahan puisi Vergilius yang dikerjakan bersama Mario F. Lawi adalah Ecloga I (2019). Ia adalah salah satu emerging writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014. Cerpen dan puisinya tergabung dalam antologi Dari Timur 2 (2018) dan Dari Timur 3 (2019), kumpulan tulisan pilihan MIWF.


.

Lautan Sunyi

Di kapela ini, selalu ada kau yang datang
Menanggalkan riuh di depan pintu dan
Berlayar di lautan sunyi ini. Sebab,

Gelayut cemas di tubir bibirmu tak
Bisa menebak arah getir dengan kompas.
Duka pun tiada mungkin dipetakan
Di atas perkamen. Hanya

Lilin yang menyala di depan patung itu
Mampu menjelma mercusuar bagi sunyimu
Saat kau kayuh perahu doa dengan
Kekuatan hati. Meski

Hatimu telah menjadi rumah bagi kehilangan,
Kastel bagi kesedihan, istana bagi kesendirian.

Menutup mata, kausaksikan kapal-kapal lain
Timbul tenggelam berlayar ke pulau surga.
Dari langit, rasi bintang menunjuk jalan
Untuk pulang pula ke dalam diri.

Tapi di kapela ini, selalu ada kau yang datang
Melayarkan perahu-perahu itu
Ke arahKu

Lasiana, 2020

.

Perempuan yang Menenun Api

___: untuk Ete Luruk

Benang-benang yang membentang dan menghanguskan
detik-detik yang terbuang percuma, ialah api yang
menjadikan abu segala yang sementara.

Cahaya tak melukai matanya.
Panas tak mendidihkan darahnya.

Kepada udara yang bersisian dengannya
Ia bilang, “Selendang ini untuk pangeran
berkuda sembrani. Ia memintaku menulis
puisi, tapi menenun adalah berpuisi dengan
benang.”

Motif kuda diterakannya sebagai metafora.
Ia selami masa silam yang kelam dan disulam
sebagai rima dan tipografi.

Sebelum berdiam di dadanya, udara
berbisik, “Nanti bila ia datang kalungkan
untai puisi, sebab berpuisi adalah
Menenun dengan kata.”

Namun pangeran itu tak pernah tiba di beranda.
Kudanya berloncat dan meringkik di antara benang-
benang api, surainya mekar seperti lidah-lidah api.

Lasiana, 2020

.

Pengakuan Seorang Perempuan

Kembang bakung menenun kelopaknya sendiri dengan anggun di tepi jalan dikitari tatapan mata batu-batu yang pasrah menanti tangan siapa yang kelak akan mengangkat mereka lebih dahulu. Kaki-kaki berkasut dan kaki yang telanjang menjejali celah pori-pori bumi yang terengah-engah menebak apa perempuan itu akan lekas menjadi debu seperti sebelum lelaki diciptakan. Langit telah menyediakan rongga dunia mahaluas dan kulit waktu mahatipis menyelubungi mereka, noktah-noktah hitam dalam sejarah yang dikelupas pelahan-lahan oleh mata sabda.

“Tidak. Serbuk sari pejantan mabuk yang hina dihembuskan angin keadaan ke atas kepala putik betina rendahan yang tangkainya jingga, maka mekarlah aku. Biji yang terbuang dari angan ke angan, terhempas dari tangan ke tangan, lalu digadaikan ke tanah asing. Bunga belia yang menyediakan diri bagi lebah pekerja, rerama bermahkota, dan kumbang berkulit keras menutupi getas tubuh itu dengan senyum yang cemas sebab sisa ranjang di paras hanya tampak di mataku. Mataku yang mengerjap, menutup, mencekam, membuka saat sengat mereka mencapai kedalamanku.”

Matahari di atas kepala, maka gelap begitu sempurna. Tiada mampu dilihat bayangan sendiri. Sosok hitam yang senantiasa lenyap dalam genggaman. Sementara pandangan leluasa menatap ke atas dan ke depan, bayangan runduk di tanah menyigi berpasang-pasang kaki. Ingin meluput dari kelam, tapi tak dapat. Ingin beringsut dari silam, tapi tak sempat. Satu jari menuding dengan runcing ke arah perempuan, dan tiada disadari empat jari terarah pada citra diri dan bayangan yang terinjak kasut. Bayangan di bawah tapak, mestinya terang begitu padat.

“Ya. Hatiku milik seorang pemuda tampan. Lelaki bermata malaikat dengan bintik hitam di pipi kanannya. Pangeran yang lahir setiap sepuluh ribu tahun di puri-puri di balik pelangi. Wajahnya berselubungkan matahari, dengan sisa hujan berkibar dari rambutnya seperti surai seekor singa. Tatapannya menyelamatkanku dari ketiadaan saat membacakan sajak (atau sabda?) di bukit. Kesementaraanku dihantam keabadian. Mengangkatku sampai ke langit tinggi dan melemparku dengan satu hempasan ke dunia bawah. Sekali itu dan tiada lagi waktu, tak kujumpai mata itu di segala rupa lelaki yang lapuk di pelukku.”

Batu-batu tercipta dari debu dosa yang memadat, dari butir salah yang membeku, dari kesiur angin keliru yang menghablur. Batu-batu merajam kefanaan sendiri, menyesal mengapa terlahir bisu, mencemooh lewat retakan sebab tak bisa menggigit tangan yang mengepal mereka, menghujah diri sebab tiada mampu menujah lambung para pemfitnah. Batu-batu menggantung leher mereka sendiri, menghunjamkan nasib pada garis tangan para pelontar, pada jam pasir yang mengucur menuju penghabisan, menuju perempuan yang diporak-porandakan tuduhan.

“Benar. Tubuhku milik peziarah jauh dari negeri tanpa peta, perompak barat yang bersandar di dermaga, pedagang rerempah dan obat, pemuka agama-agama, penyihir yang mencampur ramuan dan mantra, peri-peri dari gua tergelap, raksasa yang pemarah, sepasang sarjana orang suci dan rerupa makhluk yang mengantri hingga ke kaki langit. Mereka yang lincah menembusiku tetapi tak pernah mencapai jantungku. Mereka berdiri di sana, berhadap-hadapan kami, di panggung yang lapang, mengulang lemparan kesalahan adam pada eva, eva pada ular, ular dalam hati.”

Ribuan bau jantan, jutaan kemarahan. Marah yang birahi. Satu perempuan, satu penyesalan. Sesal yang ilahi. Dada yang gemetar, palung mahadalam. Gemuruh guntur yang angkuh menabuh perang di langit. Para perajam memegang senjata, menunggu isyarat untuk mulai menyerang: perempuan itu satu-satunya samsak, tubuh yang menakutkan, daging yang mengerikan. Rongga dunia kembang-kempis; meratakan berlapis-lapis dinding, berpetak-petak labirin, demi menciptakan gelanggang penghakiman ini. Kulit waktu mesti dikelupas iris demi iris seperti tipis kulit bawang, tiap lapisan kian memerihkan mata.

“Tidak. Mereka menyeretku dari kamar, gincu dan minyak narwastu, kipas cendana dan dedupa dihamburkan. Butiran peluh dan air mataku diterbangkan tamparan berjatuhan di bilik kamar, di jalan-jalan raya, pasar buah, taman, dan tempat ibadah, sambil desahku yang senyap menyuburkan teriak dan makian mereka. Para pecintaku telah menjelma kaum musuh. Mata mereka seperti mata iblis, menelanjangiku. Lidah itu bertangkai, seperti lidah ular yang kurajah di paha kiriku. Di antara mereka, ada yang baru saja selesai menyantapku. Di bibirnya masih tersisa anyir darah, tilas nanah dan getah. Kau tak melihatnya, Tuan?”

Sabda itu membentuk segitiga siku-siku yang satu kaki sudutnya dekat bertumpu pada harapan perempuan, sementara garis yang lain menjelma ribuan pedang, menembusi roh-roh purba dan menebas dada kaum jantan yang meranggas. Sabda itu merajut bait-bait dirinya menjadi cemeti, membanting diri di tanah, menggelegar ke angkasa, ke kota-kota yang jauh, ke lubang-lubang waktu yang kosong di masa depan. Sabda itu menjelma telapak tangan bagi perempuan, mengusap amis darah di pinggir bibirnya, menyembuhkan nanah di mata kakinya, mengurapi getah di daging pejalnya.

“Tepat sekali. Lelaki itu yang muncul dalam mimpi dan pencarianku. Nafasnya beraroma zaitun. Langkahnya seperti memanjat golgota. Jubahnya berombak bagai laut dan ikan-ikan merenanginya. Ia membungkuk ke tanah. Mungkin menulis sepotong sabda (atau sajak?), mungkin mengenang Bapa Adam yang telah kembali ke tanah, mungkin merendah sebab mereka sudah tak bersuara. Ia pun tak melempariku dengan batu, tetapi merajamku dengan tatapan, membuangku ke dunia bawah dan mengangkatnya ke langit tinggi. Sekali lagi.”

Batu-batu bertukar tegur dengan kembang bakung dalam bahasa yang diam dan bijak, mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya yang dipetik dari tangkai, memeluk tanah yang dicintainya lalu memejamkan mata.

“Ya. Lelaki bermata malaikat itu menyelipkan bunga di telingaku, kembang bakung yang menenun kelopaknya sendiri di tepi jalan dikitari batu-batu perajam. Tunggu dulu, apakah itu Kau?”

Lasiana, 2020

.

Tombak

Tombak menyalin-tempelkan siksaan paku dan duri ke ujung tajamnya, menyunting kekuatiran orang Yahudi yang tak bersahabat sebab hari menjelang sabat, menoleh sepintas pada sang ibu di kaki kayu dan seorang murid yang dikasihi, menghibur diri seolah tak bernoda sebab hanya akan singgah sebentar di tubuh yang jasad itu. Ia tatap gemetar keringat dalam genggaman si prajurit meski angin bukit menerpanya, membayangkan kalau ia turut dipatahkan seperti kaki penyamun sebelum ini, mengetahui ia lebih berguna ditikam pada orang hidup daripada kayu mati, mengingat lembingnya tak cukup runcing untuk menembus benteng tubuh itu. Ia tak ingin menjadi sia-sia, pun tiada ingin tikaman terakhir ini menembus dada sang ibu, maka saat prajurit melesakkannya ke benteng itu, ia membungkukkan kepala di hadapan sang tubuh, agar dirinya hanya melukai lambung, tak boleh sampai ke hati.

Lasiana, 2020

.

Nakama

Samudera tak pernah lebih luas dari
Persahabatan dan palung tak bisa lebih dalam
Dari kegembiraan. Kata-kata diombang-ambingkan
Petualangan dan berlabuh di pesisir diri.

Sampai kapan kapal berlayar? Pulau-
Pulau hanyalah tanda koma bagi kalimat
Majemuk cinta yang panjang.

Kau tahu,
Segala harapan berenang perlahan
Mengikuti jejak rakit ke hulu. Kenangan
Menyalin ulang dirinya sendiri. Dan kita
Harus bersakit-sakit dahulu.

Kapal demi kapal tenggelam di hati.
Masa depan tak pernah ditebak kemudi.
Kita mimpikan langit biru yang jauh
Dari kelabu badai itu.

Kau tahu,
Peluk dan tawa tenang-tenang
Ke tepian. Dan kita seperti ombak akan
Terus bergulung demi sepotong janji:
Bersenang-senang kemudian.

Lasiana, 2019

.

Topi Jerami

Yang kau cari di pulau dan lautan
Bersemayam dalam dirimu

Sepotong hati yang disimpan leluhur
Sebagai harta karun tak terjamah waktu

Ceria kau celupkan bola mata ke biru laut
Basah pula di pelupuk penduduk yang asing

“Aku ingin menjadi raja bajak laut.”
“Kau akan kujadikan penjala manusia!”

Maka kaum musuh membaptis diri jadi kekawan
Meski terhalang pulau karang dan tualang

*

Yang ingin kau temui di sekujur tubuh samudra
Ada di sepanjang jangkau lenganmu

Memanjang melunak memeluk seperti doa
Memuncak mencakar meledak ke langit tinggi

Meninju angkasa dengan terkepal
Kau genggam erat dunia

Demi mimpi yang teranyam
Dalam topi jerami ini

Lasiana, 2020


Ilustrasi: Photo by Jayant Kulkarni from Pexels

Baca baca:
– Puisi-Puisi Servasius Hayon – Melihat Pahamu
– Puisi-Puisi Zulkifli Songyanan – Nyaris Lewat Tengah Malam
– Puisi-Puisi Gody Usna’at – Semografi

Bagikan artikel ini ke: