Menu
Menu

Aku tak bisa berdusta tidak melihat pahamu…


Oleh: Servasius Hayon |

Lahir di Bontang, 27 Agustus 1996. Mulai menulis puisi sejak duduk di Seminari San Dominggo Hokeng. Sekarang tinggal di Sangatta, Kalimantan Timur.


Kemungkinan Menjemputmu Dengan Berjalan Kaki

(1)
Aku mau saja berjalan kaki menempuh jalan yang ditunjukkan matahari. Mungkin aku akan berpapasan dengan perempuan paruh baya yang selalu menyebut namaku. Aku tak tahu apakah saat menyebut namaku, ia menginginkanku. Ia hanya tersenyum dan keringat di lehernya menguarkan bau parfum. Aku bertanya-tanya apakah peluh seorang perempuan paruh baya bisa membuat mereka terlihat lebih muda? Juga apakah seseorang sepertiku menarik bagi seorang perempuan paruh baya?

(2)
Jika aku menjemputmu dengan berjalan kaki, apakah itu pantas disebut menjemput? Aku yakin kau akan mengumpat dan mengatakan aku telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Tapi aku ingin kau berjalan bersamaku dan membiarkan matahari pagi melumuri kita dengan cahayanya. Kau akan benar-benar paham kenapa jalan-jalan kota kecil kita ini bisa sesibuk jalan-jalan di kota-kota besar. Kau akan mengerti kenapa pagi serupa pertapa hening yang membiarkan dirinya dikepung bising lalu lalang kendaraan, tapi ia tetap bisa menjadi dirinya sendiri.

(3)
Kendaraan-kendaraan yang mengantre di lampu merah akan iri pada kita yang berjalan kaki. Kita tak perlu tol untuk bebas dari hambatan. Kita hanya butuh niat untuk menikmati tiap langkah. Bukankah meninggalkan jejak kaki adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang barangkali lebih hakiki? Orang-orang akan coba mempelajari bagaimana cara kita hidup sebagai manusia, sementara mereka sudah menjadi robot. Jiwa yang tertindas selalu berharap dapat mengikuti jiwa yang bebas.

(4)
Kau akan mengeluh ketika keringat telah membasahi setiap jengkal tubuh. Kau tak akan menoleh padaku, yang berjalan persis lima langkah di belakangmu. Tapi aku coba memungut rasa kesal yang berjatuhan itu sementara kau terus berjalan. Rasa kesal yang kupungut, biarlah kurangkai jadi puisi. Aku senang ketika kata-kata yang tertidur pulas sekian lama itu perlahan-lahan membuka mata. Mata puisi. Aku tahu kau tak peduli pada kesenangan yang kuperoleh. Kau hanya ingin terus berjalan dan marah. Kau hanya ingin terus berjalan dan marah.

(5)
Aku tahu senyum yang kauberikan pada perempuan paruh baya yang kutemui sebelumnya adalah senyum yang terpaksa. Namun, perempuan itu sebenar-benarnya tak masalah apakah kau tersenyum atau tidak. Sebab ia hanya memperhatikan diriku, yang mengatur langkah sedemikian ganjil untuk sebisa mungkin mengejarmu. Aku tanya sekali lagi. Apakah ada sesuatu yang menarik dariku?

.

Yang Merindukan, Yang Melupakan

Putri merindukan Kob
yang tak pernah lagi singgah
di rumahnya setiap sore tiba.

Sejak tahun berganti, Kob tak lagi
mengetuk pintu rumahnya. Tak lagi
buka sepatu dan kaus kaki setelah
dipersilakan masuk. Tak lagi
bergegas ke kamar mandi
untuk kencing. Tak lagi
menerima segelas limun
yang disodorkan dan minum
begitu perlahan, seperti
setengah melamun.

Sementara Kob tiap malam
memikirkan Putri. Meski ia pun
punya banyak tambatan hati.
Chat sampai dini hari. Bangun
saat subuh sudah jauh berlalu.

Putri dan Kob sepertinya saling
mencintai. Tapi Putri sudah
bersuami. Kob masih sendiri.

Kob merasa mencintai kakaknya
adalah adil. Putri berpikir
mencintai adiknya adalah serakah.

Sangatta, 2020

.

Perihal Membelikan Buku

Mungkin saat kau memutuskan
untuk membelikanku sebuah buku,
kau bermimpi memiliki seorang adik
laki-laki yang akan menyayangimu
tanpa maksud apa-apa.

Atau kau sedang mencoba
membalas dendam pada kenangan
yang kembali tiba setelah sekian lama
pergi dan membuatmu merasa menjadi
seseorang yang paling kehilangan.

Atau kau sedang merasakan
detak jantung Tuhan yang gemuruh
dalam dadamu sejak kau menerima
komuni pada misa pagi tadi.

Atau kau sedang berusaha
untuk terlihat baik di hadapanku
agar surga memberkati jalanmu.

Atau kau hanya sedang berusaha
menutup mulutku agar tidak terus
menggodamu. Sebab kau takut
terjatuh ke dalam palung kehilangan
yang lebih dahsyat lagi.

Sangatta, 2020

.

Melihat Pahamu

Aku tak bisa berdusta tidak melihat pahamu tiap kali kau memakai celana sependek itu. Jika aku masih berpikir tubuh adalah tabu, dadaku adalah tabuh tifa yang bergejolak sebelum hari ketujuh. Meski begitu, betapa banyak hal menarik untuk dicermati darimu. Semisal sepotong kisah hidupmu yang tiba-tiba tersingkap. Semisal pahamu yang putih pualam itu, terpantul di gelap mata dan malamku.


Ilustrasi: Photo by Andreea Ch from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta
– Puisi-Puisi Royyan Julian – Di Ranjang Pascakolonial

Bagikan artikel ini ke: