Menu
Menu

“Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman” dibahas di Klub Buku Petra pada bulan Februari 2020.


Oleh: Maria Pankratia |

Notulis yang (masih) berhayal menjadi penulis.


Bincang Buku “Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman” telah berlangsung pada 26 Februari 2019 di Perpustakaan Klub Buku Petra.

Novel karangan A. Mustafa yang diterbitkan oleh Shira Media ini, menjadi Pemenang kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2018 dan menjadi novel ketiga yang dibahas oleh Bincang Buku Petra di tahun 2020.

Sepuluh peserta hadir malam itu. Sebagai pemantik, dr. Ronald Susilo membuka diskusi, menyampaikan hasil pembacaannya. Bagi Dokter Ronald, topik yang dibahas dalam novel A. Mustafa ini, cukup berat. “Ada LGBT, Ahmadiyah, dan lain sebagainya. Bikin kepala hampir pecah,” tuturnya sembari tertawa. Namun demikian, dr. Ronald mengakui bahwa penulis membuatnya jatuh cinta setengah mati dengan Roro Wilis; waria yang digambarkan sangat cantik dan menarik di dalam novel ini.

Roro Wilis

Dokter Ronald seperti biasa, sebagai seorang dokter, selalu berbicara dari sisi kesehatan: tentang keputusan menjadi seorang waria, sampai saat ini belum ada temuan atau penelitian medis terkait, mengapa seseorang akhirnya memutuskan menjadi transgender/wanita yang sebelumnya pria? Apakah itu disebabkan oleh gen orang tuanya, atau komunitas yang mempengaruhi gaya hidup seseorang. “Bisa saja seorang pria dengan hormon estrogen yang lebih besar di dalam dirinya, menjadi lebih sensitif dari laki-laki kebanyakan—hampir seperti perempuan, akan tetapi belum tentu ia memutuskan menjadi seorang waria. Barangkali hanya dari sisi psikologis, hal semacam ini bisa dijelaskan,” paparnya.

Ronald juga membahas gaya hidup para waria, khususnya yang memutuskan menjadi seorang Pekerja Seks Komersial seperti yang dijalani Roro Wilis di dalam novel ini. Menurutnya, gaya hidup tersebut sangat mengkhawatirkan. Ia kemudian membandingkannya dengan salah satu novel tentang kehidupan gay/homoseksual yang pernah ia baca sebelumnya. Judul novel itu Less, karya Andrew Sean Greer. Diceritakan bahwa sang tokoh adalah seorang penulis dan gay. Ia menjalani hidupnya sebagai seorang homoseksual dengan menikahi pasangannya. Ia bercinta hanya dengan satu laki-laki saja seumur hidupnya. Tentu situasi ini akan mengurangi resiko terjangkit virus atau penyakit mematikan akibat kebiasaan bergonta-ganti pasangan. “Tetapi tentu saja, pada akhirnya, kita tidak bisa mengadili pilihan-pilihan dan keputusan seseorang dalam menjalani hidupnya,” ungkap Dokter Ronald.

Selanjutnya dr. Ronald mengomentari gaya penulisan yang sangat lancar serta proses penyuntingan yang sangat baik dari novel ini. Tidak ada kesalahan penulisan, baik itu kata maupun tanda baca. “Kita bisa belajar pemakaian tanda koma dan titik koma dari novel A. Mustafa ini,” tutup beliau.

Armin Bell mendapatkan kesempatan berikutnya untuk menyampaikan hasil pembacaannya terhadap novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman. Menurut Armin, ini novel polifonik yang baik dan layak menang, juga novel yang tidak melelahkan. “Kita bisa membacanya di mana saja, tidak perlu merasa cemas ketika harus jeda di halaman berapa saja, sebelum melanjutkannya kembali. Ada beberapa bagian yang sengaja disimpan oleh penulis, untuk kemudian dengan sangat baik akan dijawab pada bagian selanjutnya,” papar Armin. Hanya saja menurutnya, ada bagian yang mungkin tidak terlampau kuat bangun kisahnya dalam novel ini; tentang masa kecil Roro Wilis dan peristiwa politik ’66 dan beberapa hal lain yang sebenarnya tidak terlalu berdampak pada cerita.

Armin mengapresiasi kemampuan penulis yang berhasil membuat pembaca (dirinya) tidak protes ketika akhirnya tiba pada bagian Roro Wilis memutuskan menjadi Pak Wo. “Perpindahannya halus sekali. Kita juga tidak dibuat jijik dengan segala detil yang terdapat di dalam kisah ini, khususnya di bagian tentang babi lumpur. Kemudian, cara penulis menggambarkan cara hidup kaum waria, yang bisa saja di dunia nyata cenderung didiskriminasi di sekitar lingkungannya, justru di dalam buku ini tidak membuat kita terganggu,” jelas Armin. Menurutnya, penulis tidak sedang menghakimi, dan hanya ingin bercerita. Meskipun di beberapa bagian penulis terkesan berjuang bahwa Ahmadiyah dan LGBT itu telah diakui, tetapi penulis tidak mengerahkan banyak usaha yang untuk hal tersebut sehingga orang-orang merasa perlu bersimpati.

Mendapat giliran selanjutnya, Hermin memulai hasil pembacaannya dengan mengucapkan terima kasih kepada saya, sebab sebelumnya ia telah memutuskan untuk tidak menyelesaikan novel ini. Membosankan. Namun setelah berbagi cerita via obrolan online, ia akhirnya membaca hingga tuntas dan mengakui sangat menyukai novel ini.

Bagi Hermin, membaca Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman hampir sama seperti membaca Gentayangan. Kisahnya beragam. Dari strukturi novel, kisah Anak Gembala seperti  potongan-potongan cerpen. “Akan tetapi ini lebih menarik dari Gentayangan. Bagian di mana penulis mengisahkan bahwa Roro Wilis sesungguhnya adalah Pak Wo, sebenarnya itu sudah menjadi klimaks cerita. Sejak awal, penulis sudah memainkan perasaan pembaca melalui kisah-kisah Pak Wo, Roro Wilis, Mahabaratha, dan Babi Lumpur. Dan pembaca sama sekali tidak disiapkan ketika memasuki bab-bab krusial hingga pada akhirnya tiba pada bagian bahwa, Roro adalah Pak Wo. Seolah-olah itu peristiwa biasa saja, tidak perlu merasa kaget atau heran. Memasuki bab-bab terakhir, penulis sepertinya kehabisan bahan, sehingga ceritanya menjadi seperti kurang fokus,” komentar Hermin.

Ketika membaca novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, Hermin tengah membaca novel lain yang juga berkisah tentang LGBT: Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Ia kemudian membandingkan kedua novel tersebut. Baginya, Sasa mengalami diskriminasi yang jauh lebih parah dibandingkan Roro Wilis. Padahal Sasa sendiri tidak pernah  memutuskan menjadi waria; ia hanya menggeluti kesenangannya sebagai penyanyi dangdut koplo dan berdandan seperti perempuan. Kesamaan dari kedua novel ini, terletak pada sosok ibu, yang sebagaimana Tuhan, seburuk apa pun anak-anaknya, tidak akan pernah meninggalkan mereka.

Babi Lumpur, Harris, dan Kita

Pembaca selanjutnya yang berbicara adalah Ucique Jehaun. Bagi Ucique, hal menarik yang ia temukan di dalam novel ini justru kisah Babi Lumpur. Menurut Ucique, sebagai manusia kita sebaiknya tidak perlu memungkiri bahwa ada sisi lain dalam diri kita sebenarnya menyukai hal-hal serupa yang dilakukan Babi Lumpur. “Hidup kita tidak ada bedanya dengan babi. Sepertinya penulis sengaja mengisahkan perilaku babi—termasuk perilaku seksualnya yang terkesan menjijikan, tetapi sesungguhnya sering dilakukan manusia juga—untuk mempersiapkan pembaca memasuki bab-bab selanjutnya tentang kisah hidup Roro Wilis, yang (mungkin saja) tidak bisa diterima oleh pembaca sebab penuh dengan maksiat belaka,” jelas Ucique.

*

Mengapa waria diidentikkan dengan kucing? Demikian pertanyaan pembuka Reynald Susilo sebelum menyampaikan hasil pembacaannya malam itu. Rey mendapat giliran setelah Ucique. Rey memulai kesan membacanya dengan mengutarakan rasa sedih ketika Roro Wilis hampir mati dibunuh oleh pelanggannya sendiri; terjun ke jurang; berjalan kaki jauh melalui semak-semak tanpa alas kaki; hingga akhirnya bertemu satpam. Namun demikian, dalam situasi tegang seperti itu, Roro masih bisa bercanda dengan menjawab “meong” ketika satpam memanggilnya. “Benar-benar waria sejati!” Penuturan Reynald ini ditimpali tawa setuju dari seluruh peserta malam itu.

Rey kemudian melanjutkan, ketika membaca Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, bab yang ia habiskan terlebih dahulu adalah bab-bab tentang Babi Lumpur. Setelah itu, ia kembali ke bagian awal dan membaca bab yang lain. Hingga bab-bab akhir, ketika babi dimakan ular, ia berpikir, tamat sudah kisah babi ini. Tahu-tahunya, si babi hidup lagi. “Kuat sekali dia!”

Menurut Rey, yang juga adalah seorang dokter, secara anatomi manusia memang paling mirip dengan babi. Selain anatomi (dan sisi seksualitas yang telah dituturkan Ucique sebelumnya) kemiripan lain antara manusia dengan babi adalah, “kita hanya mau cari lumpur (senang/uang) saja dalam hidup ini, tidak mau cari yang lain. Apa pun yang kita lakukan, semuanya demi lumpur.”

Tentang gaya penuturan novel ini, Rey mengakui, ia sangat suka cara penulis mendeksripsikan cerita dari setiap bab di dalam novel. “Bagaimana Roro saat bertemu pelanggannya, kita dibuat lupa bahwa Roro sebenarnya adalah seorang waria. Ketika mengingat kembali bahwa yang terjadi sesungguhnya laki-laki sedang menawari laki-laki, kita pasti merasa aneh.” Rey juga berkomentar tentang penulis yang efektif ketika menjelaskan tentang orang tua Iwan—salah satu berondong Roro Wilis: “ibunya seperti bidadari, dan ayahnya seperti anjing”. “Satu kata “anjing” itu, sudah mendeskripsikan banyak hal; judi, selingkuh, main tangan dan semua yang buruk-buruk,” tutur Rey.

Terakhir, Rey berkomentar tentang Harris. Tokoh yang satu ini memiliki peran penting sekali. Jika tak ada Harris, maka kisah ini tidak jalan. Hidup yang dijalani Roro Wilis sejak kecil hingga kembali menjadi Pak Wo, buruk sekali. Ia mengalami banyak peristiwa, sebentar-sebentar di atas, lalu turun ke bawah lagi. Semuanya karena Harris. Rey membayangkan, jika Harris menghilang, maka Roro akan tetap menjadi PSK, kemudian menderita karena sakit, lalu tidak menjadi apa-apa, mati begitu saja. Alur cerita dalam novel ini, mengingatkannya pada film Memento. “Klimaksnya ada di tengah. Jadi, jika ada yang membaca lalu merasa akhirnya kurang baik—seperti komentar Hermin, memang puncak dari keseluruhan cerita adalah saat Roro bertobat dan memutuskan menjadi Pak Wo. Seterusnya ke belakang, tidak ada hal lain, terserah kepada penulis ingin menulis apa,” jelas Rey.

Sementara itu, Febry Djenadut menyampaikan bahwa Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman adalah salah satu novel yang ia baca bukan karena akan mengikuti bincang buku, tetapi karena memang sangat menarik dan menyenangkan. Febry mengakui, sama seperti dr. Ronald dan Reynald, kadang ia lupa bahwa Roro sebenarnya adalah seorang waria. Tentang surga babi, betapa penulis menggambarkannya luar biasa bagus. Babi itu sepertinya sangat puas dengan apa yang ia miliki, akan tetapi di lain sisi, babi ini juga adalah penyintas sejati. Persis seperti Roro Wilis. Kisah babi ini mengingatkan Febry agar jangan terlalu terlena dengan hidup ini. “Harus selalu waspada. Terkadang, pengkhianatan justru datang dari orang-orang terdekat kita. Seperti Harris yang kerjanya hanya membuat hidup Roro Wilis tidak tenang, datang dan pergi sesukanya. Lalu setiap kali datang, hanya membuat hidup Roro Wilis sengsara dan menderita. Saya benci sekali Harris!” Tandas Febry.

Menanggapi kebencian Febry terhadap tokoh antagonis di dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman ini, Hermin tidak mau kalah, ia kembali berkomentar dengan merangkum semua kejahatan yang dilakukan Harris kepada Roro, di antaranya; bakar rumah sekaligus Roro yang saat itu ada di dalamnya, muncul kembali ketika Roro sudah bahagia dengan hidupnya, dan begitu Roro bertobat, Harris malah yang memfitnah Roro habis-habisan.

Kebencian serius ini kemudian coba diredam oleh Armin Bell. Menurut Armin, Harris memang harus seperti itu, sebab ia membuka jalan pertobatan Roro dengan cara yang kejam itu. “Semacam ujian-ujian yang datang dari orang-orang terdekat. Lagipula, ada hal-hal yang tidak bisa kita hakimi. Hal-hal dari alam bawah sadar yang mempengaruhi kita dalam menentukan pilihan-pilihan hidup (yang sulit diterima akal sehat), termasuk mengabaikan kekerasan fisik dalam berpacaran atau berrumah tangga,” papar Armin.

Saya kemudian teringat percakapan Harris dan Roro, ketika Harris membelanjakan Roro pakaian. “Saat ini aku belikan kamu baju dulu, Ro. Suatu saat nanti, aku akan belikan kamu rumah.” Rumah yang dimaksud Harris untuk Roro, tentu saja Ahmadiyah. Tempat Roro pulang, menjadi Pak Wo.

Peserta berikut yang juga seperti biasa selalu dinanti-nantikan hasil pembacaannya adalah, Marcelus Ungkang. Celus mengakui, ia suka pada keputusan penulis menggunakan fabel babi sebagai alegori.

“Alegori setidaknya difungsikan untuk dua hal. Pertama, mendukung penciptaan dunia plural atau karnaval – sebagaimana diidealkan konsep novel polifonik. Kedua, alegori berguna untuk mentransfer adegan-adegan seks dari dunia Roro Wilis, dkk. ke dalam bentuk fabel. Transfer itu juga bisa kita lihat dari dua sudut pandang. Di satu sisi, itu bisa jadi cara menghindari klise penggambaran dunia waria—semacam sujet dalam wawasan formalisme. Di sisi lain, penggunaan fabel bisa dicurigai sebagai bentuk sensor diri. Artinya, pengarang mengantisipasi bagaimana karyanya dibaca atau diresepsi oleh masyarakat kita yang umumnya masih menolak LGBT,” urai Celus.

Dilanjutkannya, dalam catatan Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2018 dikatakan bahwa novel ini “…cukup berhasil sebagai upaya menuju novel polifonik”. “Kita bisa telusuri lebih lanjut pernyataan itu. Sebuah novel dilabeli polifonik jika relasi berbagai “suara” di dalamnya didasarkan pada kesetaraan. Terdapat plularitas kesadaran dengan hak-hak yang setara. Jika konsep itu dijadikan acuan, ada beberapa hal yang membuat novel ini belum menjadi polifonik. Kita bisa melihat itu, misalnya, pada adegan Roro Wilis dipukuli Satpol PP atau penggambaran Pandawa dan Kurawa. Penggambaran dunia itu masih bertumpu pada relasi oposisi biner. Sebagai akibat, salah satu pihak didiskreditkan dalam penggambaran. Jika pengarang bisa menyajikan kebenaran lain dari sudut pandang, misalnya Satpol PP atau Kurawa, ia bisa memberikan kita pluralitas “suara” yang setara itu.”

“Artinya, dalam pembacaan intertekstualitas, penciptaan dunia karnaval dalam novel ini masih mereproduksi logika atau resepsi umum dari teks sosial atau kisah Mahabarata yang dijadikan hipogram. Oposisi biner antara protagonis dan antagonis masih terasa dalam novel ini,” papar Dosen Unika St. Paulus Ruteng ini.

Ketika tiba giliran saya berbicara, tidak banyak hal yang ingin saya komentari dari novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman ini. Saya hanya merasa bahwa agak dipaksakan perspektif Pak Wo yang menghubung-hubungkan Ahmadiyah dengan kisah Mahabarata. Selain itu, tentang cara memandang akhir dunia dan utusan Tuhan yang dikirimkan ke dunia, Awatara atau Avatar atau lain sebagainya. Saya pikir, hampir semua agama/kepercayaan memiliki keyakinan yang sama. Terlepas dari penyebutannya, semua meyakini bahwa akan tiba masanya, seseorang yang adalah utusan Tuhan, turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia.

Neldis dan Indah adalah dua peserta yang malam itu baru pertama kali bergabung di Bincang Buku Petra. Karena belum membaca novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, keduanya tidak memberikan banyak komentar kecuali bahwa, dari judul dan hasil pembacaan yang telah disampaikan oleh peserta yang lain, mereka menjadi sangat penasaran dan ingin segera membaca novel karangan A. Mustafa ini. Malam itu, keduanya pulang dengan membawa masing-masing satu novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman.

Novel A. Mustafa ini diberi Bintang Empat oleh seluruh peserta Bincang Buku Petra malam itu. Bincang Buku bulan Maret 2020, akan membahas Novel pertama Joko Pinurbo, Srimenanti. Sampai jumpa tanggal 27 Maret 2020 di Perpustakaan Klub Buku Petra.(*)


Baca juga:
– Ketika Orang-Orang Ruteng Membicarakan “Orang-Orang Oetimu”
– “Balada Supri”, Novel Bagus yang Buru-Buru Diterbitkan

Bagikan artikel ini ke: