Menu
Menu

Mauntef akan mengalirkan air kehidupan yang ditampung dari empat muara sungai.


Oleh: Siti Hajar |

Lahir tepat di puncak musim dingin. Memiliki nama pena Sayyidati Hajar dan belakangan insyaf untuk menggunakan nama pemberian orang tua. Menerbitkan antologi cerpen berjudul “Menyudahi Kabair” (IRGSC Publisher 2019). Saat ini tinggal di Kota Kupang dan membina Komunitas Sastra Pondok Aspira.


Betapa ganjilnya Desember tanpa rumpun jagung. Jalan-jalan berasap dan khawatir. Pohon-pohon garing dan haus. Kebun-kebun hangus. Arang-arang gelisah sebelum malam. Proyek mengular membelah ketiak-ketiak gunung.

Orang-orang membincangkan hujan sepanjang hari, juga menggelisahkannya sampai tidur. Bila bangun di pagi hari dan pohon-pohon tumbuh miring di jurang, mereka menyalahkan sensor dan para penebang. Bila siang datang dan binatang ternak kehausan, mereka menyalahkan sumur-sumur dan mata air yang pelit. Bila sore datang dan hujan tak tiba juga, mereka menyalahkan proyek-proyek dan para pawang. Timor menjadi rumah yang rumit. Hampir semua orang mengeluh.

Di Selatan Timor, sebuah gunung besar baru saja dibom setelah doa tujuh hari tujuh malam bersama para tua adat. Separuh gunung Mauntef—yang baru dibom itu, menjelma piramida gurun putih. Keperkasaan hutan Mauntef tiba-tiba lenyap. Menjelmalah Mauntef seumpama laki-laki atletis berdada bidang nan tampan. Tapi impoten. Isi perutnya telah dibedah dan salah satu urat suburnya putus. Di tengah kedukaan beberapa orang yang mengirim doa dan rasa kesal ke langit. Desas-desus ular berkepala manusia—penjaga hutan ramai dibincangkan. Orang-orang pro perubahan menertawai orang-orang pro alam. Ular berkepala manusia itu harusnya menelan para pekerja, bila proyek kolam raksasa itu terbukti merusak alam. Begitu pikir mereka. Layaknya penjaga Mauntef, tentu alat-alat berat itu bukan tandingannya. Tapi apa buktinya. Di bawah paha alat-alat itu, Mauntef pasrah mengabu.

Orang-orang pro perubahan optimis Mauntef akan mengalirkan air kehidupan yang ditampung dari empat muara sungai. Pipa raksasa akan membelah hutan, jalan, sungai, dan masuk ke rumah penduduk yang berdebu dan kemarau. Sambil bersiul menyambut matahari Desember mereka terus memaki kebodohan orang-orang pro alam. Hemat mereka, orang-orang kolot itu tak siap menerima perubahan.

“Ular berkepala manusia itu tak ada. Semua itu sengaja dikarang untuk menakuti pekerja!” Kepala Desa Mauntef menenangkan para pekerja. Ia menyerukan semangat perubahan. Juga menepis cerita-cerita yang berkembang. Doa tujuh hari tujuh malam menurutnya sudah cukup mengantongi kehendak alam dan para penjaga. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Meski demikian, ada segelintir orang yang tetap merayap naik ke gunung-gunung. Mereka berdoa pada uis pah, juga lebih sering mengucap salam pada para leluhur. Mereka menginginkan agar awan segera hitam dan guntur menggegerkan pohon-pohon. Tanah butuh air dan sungai-sungai harus mengalir.

Bersamaan dengan waktu-waktu ibadah, menangislah para sepuh. Sesaklah dada mereka. Sambil menghadapkan wajah ke langit dengan hati bergemuruh, satu dua orang mengharapkan malaikat Mikail terbang rendah di langit Mauntef. Menyaksikan bibit-bibit sekarat dan pohon-pohon haus.

“Hujan adalah rahmat. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dan dilimpahkanNya rahmat itu di bumi Mauntef,” seorang pemuka agama menyemangati para sepuh sebelum mereka berpisah. Selepas itu,mereka tetap gelisah. Amnas akan datang tahun ini, pikir mereka setelah mematikan lampu di malam hari.

***

Pada suatu Jumat, langit menyilam selepas siang. Cuaca berubah. Seluruh penjuru Mauntef mendadak kuning temaram. Guntur membelah langit. Kilat menyambar pohon-pohon dan beberapa ekor sapi di tanah lapang. Orang-orang bergegas sembunyi. Hujan baru turun setelah seorang perempuan kalap menangis dan pingsan usai mengucapkan kata “merah” berulang kali. Orang-orang segera mafhum selepas hujan besar di hari Jumat itu. Mereka mengangkat tubuh seorang pemuda—berbaju merah, yang mati disambar petir di kaki gunung Mauntef.

Malamnya, gunung abu berbentuk piramida itu berwujud tujuh titik api. Semakin larut semakin merah, menjilat hingga ke ujung permukiman. Ringkikan kuda dan angin ribut mengawali pertunjukan suara-suara. Tabuhan gong dan koa melengking berseling nyanyian perempuan—meratap dan marah. Bersandar pada gerigi alat berat—yang membelah lembah, seorang pemuda merekatkan lutut ke dada. Ia berdoa pada Tuhan, semoga ayam cepat berkokok dan malaikat-malaikat turun ke langit dunia. Ia hanya ingin berjumpa pagi. Agar ia yakin kematian belum membawanya pergi. Kematian enam anak buah membuatnya frustrasi. Sudah enam hari pula ia dikepung rasa bersalah dan takut mati.

Percakapan penghuni Mauntef mengiris-iris anak telinganya. Seperti drama radio, musik dan suara bergumul dengan tempo yang memburu. Berbekal selendang penyambutan yang dikalungkan ke leher, berlarilah ia meninggalkan los tempat periuk dan panci tergantung. Seperti anak kecil bermain taroso, ia meluncur dari ketinggian menyusuri jalan sertu putih yang berdebu dan kasar.

“Kau harus mati!” suara-suara mengejarnya. Asap dan tabuhan gong menghimpit di jalan. Pemuda itu menengadah ke langit, mengucap banyak doa, dan berlari seperti angin. Ia menyebut nama Tuhan, arwah nenek moyang, dan mengingat wajah bapak-ibunya bergantian sebelum menerobos toe naek. Di depan sebuah lopo besar dengan tiang-tiang berukiran aneh, tubuhnya telentang menghadap langit. Otaknya terus memperingatkan untuk bangun dan berlari lagi, suara-suara itu semakin dekat. Namun tubuhnya tumbang—tak berdaya. Semua usaha menyelamatkan diri sia-sia. Ia menghitung mundur, gemuruh suara-suara itu akan membawa napasnya.

“Matilah kau!” suara itu pecah menggetarkan tanah. Pemuda itu berteriak. Tubuhnya cekang. Ketakutannya klimaks di bawah rimbun pohon asam.(*)

Catatan:
Uis pah: (Bahasa Dawan) Sebuah sebutan untuk Tuhan yang menguasai alam dalam kepercayaan Suku Dawan.
Amnas: (Bahasa Dawan) Kehabisan bahan makanan di musim tanam sebelum musim panen tiba.
Taroso: (Bahasa Melayu Kupang) Memiliki kesamaan makna dengan kata meluncur/merosot.
Toe naek: (Bahasa Dawan) Gerbang besar yang terbuat dari susunan kayu.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
– CERPEN JOSS WIBISONO – MENGHENTIKAN KELANDJUTAN
– CERPEN ARIANTO ADIPURWANTO – MENJELANG SANG NABI LENYAP KE LANGIT

Bagikan artikel ini ke: