Menu
Menu

Buku Jingga menggunakan tiga genre sekaligus. Adakah skema yang baik dipakai untuk membacanya?


Oleh: Marcelus Ungkang |

Dosen Sastra di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Bergiat di Komunitas Teater Saja. Menulis dan menyutradarai pementasan teater Botol Kesedihan (2016) dan Seseorang yang Pergi dari Cerita (2018). Tulisannya tentang teater dan kritik sastra tersebar di sejumlah media.


Bincang Buku Petra telah memasuki pertemuan ke-21 dan membahas Buku Jingga, salah satu karya fiksi Nirwan Dewanto. Dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Oktober 2020 di Perpustakaan Klub Buku Petra, percakapan tentang Buku Jingga ini dihadiri oleh Tomy Hikmat, Hermin Nujin, Dokter Ronald Susilo, Maria Pankratia, Armin Bell, Daeng Irman, Jeli Djehaut, dan saya sendiri.

Tidak mudah membaca Buku Jingga. Notulen ini adalah ringkasan dua hal. Pertama, merupakan gambaran bagaimana peserta bincang buku mengupayakan gerbang interpretasi untuk memasuki Buku Jingga. Kedua, usaha peserta bincang buku untuk sebisanya, memahami dan menjelaskan pengalaman membacanya sendiri.

Ringkasan Bincang Buku

Dokter Ronald adalah satu-satunya peserta bincang buku yang membaca Buku Jingga sebanyak dua kali. Kesan umum yang ia dapatkan adalah bahasanya memikat. Pilihan katanya cermat. Meski begitu, ia tidak paham buku ini mengisahkan apa. Pengalamannya membaca pelbagai jenis prosa fiksi sebelumnya ternyata tidak cukup membantu dia memahami Buku Jingga.

“Saya membaca Buku Jingga dua kali. Tetapi kalau ditanya apakah saya mengerti, jawabannya tidak,” tutur Dokter Ronald. Pengakuan Dokter Ronald tentang sulitnya memahami Buku Jingga, diamini sebagian besar peserta bincang buku lainnya.

Menurut Dokter Ronald yang ia dapatkan bukannya jalan cerita, melainkan potongan-potongan gambar yang mesti disusun secara baik demi menemukan sesuatu yang dapat ia kenali sebagai cerita. Akan tetapi, cara tersebut tetap tidak membuatnya berhasil menyimpulkan apa pun. Ia menambahkan bahwa meski sudah pernah membaca Ramayana dan Mahabharata, sosok-sosok dari dua epik tersebut menjadi lain dalam Buku Jingga.

“Saya melihat sosok-sosok itu seperti gambar atau portrait, tetapi antara gambar atau portrait yang satu dengan yang lainnya tidak saling terhubung sebagaimana dalam prosa fiksi umumnya. Gambar-gambar itu seperti meminta kita memikirkan cerita lain yang sepertinya justru ada di luar teks,” tuturnya.

Soal gambar kemudian ditanggapi oleh Hermin, seorang apoteker yang sehari-harinya bekerja di Klinik Jiwa Renceng Mose. Hermin bahkan mencoba memahami karya fiksi Nirwan Dewanto ini dengan memanfaatkan panduan pertanyaan yang lazim digunakan di Bincang Buku Petra, akan tetapi seperti pengalaman Dokter Ronald, Hermin menemukan kebuntuan. “Daftar pertanyaan tetap tidak bisa bantu saya pahami ini buku,” ungkap Hermin.

Hermin lalu beralih ke sampul Buku Jingga. Berikut arti warna jingga yang ditemukannya dari berbagai sumber.

      • Secara psikologi warna jingga (perpaduan warna merah dan kuning) memiliki arti: warna kegembiraan dan kreativitas; ia mempromosikan rasa sejahtera dan energi emosional yang mesti dibagi, misalnya, kasih sayang, gairah, dan kehangatan.
      • Arti lain, membantu seseorang pulih dari kekecewaan, hati yang luka, atau pukulan atas kesombongan seseorang.
      • Karena dibentuk oleh warna merah yang penuh energi dan kuning yang menenangkan, warna ini mengandung sifat agresi.
      • Dia memiliki visibilitas yang tinggi sering digunakan untuk mendapatkan perhatian.
      • Ada pelbagai corak jingga.

Hal menariknya, dengan bantuan informasi tentang arti warna jingga, Hermin justru melihat kemungkinan lain membaca tokoh-tokoh dalam Buku Jingga. Warna jingga lalu dikaitkan dengan Galuh Drupadi sebagai tokoh utama dan sosok perempuan yang mengalami banyak peristiwa di dalam buku ini; Hermin kemudian berpikir untuk membaca kembali buku ini dan menyelesaikannya.

Soal warna jingga ini ditanggapi lanjut oleh saya. Dengan mengaitkan antara warna dan pengalaman membaca, saya mengartikan warna jingga (warna sore hari) secara simbolik sebagai daerah ambang: antara yang diketahui (terang, siang) dengan daerah yang belum dieksplorasi (gelap, malam).

Kita bisa mengacu ke bagian pembuka Buku Jingga. Perhatikan tulisan yang dicetak tebal:

Dalam kisah yang dikenal semua orang di dunia, Drupadi adalah istri untuk lima bersaudara Pandawa. Tapi di Ayodyakarta, yaitu dalam kisah yang kita sedang hadapi, Maria Fatima Galuh Drupadi mengasihi tujuh orang – Ahmad Danu Yudhistira, Ignas Baradita Tahalea (kelak, lebih baik, kita memanggilnya Bhimasena), Lucianus Suparta Alihandaru (kelak, Arjuna), Nakula Suryawan Hardjawiraga, Sahadewa Indrawan Hardjawiraga, Wayan Armawa Sudarsana (kelak, Duhsasana), dan Uma Felicity Tharp. Dalam kehidupan delapan orang itu (dan sesiapa yang mengitari atau dikitari mereka), Ayodyakarta adalah paduan antara panggung dan kehidupan nyata: dalam kehidupan sehari-hari, mereka hidup sebagai warga biasa, supaya mereka bisa berakar untuk menyerap saripati kehidupan terbaik; kemudian, mereka menciptakan panggung untuk menjadi sosok lain, untuk mencetuskan diri dengan sebaik-baiknya, selain-lainnya.

Namun, hemat saya, wilayah misterius itu hendaknya dilihat sebagai sesuatu yang diperlukan atau diandaikan ada untuk memenuhi kebutuhan kreatif, ketimbang karena ia benar-benar ada.

(Kaitan antara bagian pembuka ini dengan kesulitan membaca Buku Jingga akan disampaikan pada bagian selanjutnya.)

Berbeda dari Hermin, Tomy Hikmat yang mendapatkan giliran selanjutnya, mencari cara memahami Buku Jingga melalui resensi buku ini di google. Ia menemukan hanya satu resensi Buku Jingga dari Seno Gumira Ajidarma, disiarkan majalah Tempo pada 12 Januari 2019.

“Meski sudah membaca resensi dari Seno, saya masih sulit menghubungkan resensi itu dengan buku yang sedang saya baca ini. Padahal buku yang dibahas Seno itu, adalah buku yang sama yang sedang saya baca,” ungkap Tomy.

Tomy lalu mencoba menghubungkan buku ini dengan situasi sosial, terutama di Jogja, sebab ia dulu pernah beberapa tahun kuliah di kota itu. Melalui tokoh-tokoh pandawa, yang dialusikan, menurut Tomy, kita bisa menemukan perwakilan lima agama. Tokoh-tokoh itu adalah kontras dengan situasi Jogja yang sudah berubah saat ini, terutama soal keagamaan. Selain itu, melalui tokoh perempuan, dapat kita lihat gambaran konflik tentang politik kepemimpinan Jogja masa kini dan masa depan. Kenyataan bahwa Sultan tidak memiliki keturunan anak laki-laki yang lazimnya menjadi penerus, serta suara-suara untuk mencabut keistimewaan Jogja banyak bermunculan. Namun, butuh kecermatan dalam membaca simbol-simbol dan budaya untuk memahami konflik yang berusaha digambarkan pengarang.

Setelah Tomy, sama seperti Dokter Ronald dan Hermin, Maria Pankratia sebagai penanggap berikutnya, juga mengaku mendapatkan hambatan dalam mengakses Buku Jingga. Kesan umum yang ia dapatkan adalah buku ini bersoal tentang pencarian jati diri dan kisah cinta.

Peserta lain yang juga hadir malam itu, Jeli Djehaut dan Daeng Irman, memutuskan tidak ikut menanggapi karena belum membaca hingga selesai.

Memahami Pengalaman Membaca

Selama proses diskusi ada usaha tidak hanya memahami teks, tetapi proses memahami pengalaman membaca itu sendiri. Proses itu sudah biasa dilakukan di Klub Buku Petra sejak tahun 2013. Pelbagai istilah ilmiah “baru” yang muncul selama proses bincang buku dirayakan sama seperti ketika dalam buku yang dibahas terdapat kata-kata atau kalimat yang segar. Toh sastra bisa dinikmati sebagai seni sekaligus ilmu.

Dengan bantuan teori Gennete, berikut rangkuman usaha memahami pengalaman membaca Buku Jingga.

Pertama, arsitektualitas Buku Jingga adalah campuran antara esai, prosa fiksi, dan puisi. Arsitekstualitas berkaitan dengan hubungan antara suatu teks dengan genre. Suatu teks, misalnya, memiliki fitur-fitur atau gestur yang mengindikasikan ia termasuk atau dapat dimasukkan dalam kelompok genre yang mana.

Pembaca yang mengenali fitur-fitur teks akan mengorientasikan dirinya mengikuti navigasi yang diberikan batasan-batasan genre. Persis di sinilah tantangan Buku Jingga. Pada bagian pembuka saja kita seperti menghadapi esai, prosa fiksi, dan puisi. Kita lihat satu per satu, dimulai dari esai. Bandingkan antara pembuka di atas dengan pembuka esai “Situasi Chairil Anwar” milik Nirwan Dewanto.

Puisi yang unggul bukan hanya puisi yang minta dibaca ulang terus-menerus, namun juga yang mengubah cara kita membaca dan menulis. Demikianlah, Chairil Anwar bukan hanya nama seorang penyair, tapi juga nama untuk sebuah situasi, tepatnya kompleks kekaryaan yang memungkinkan kita menghidupkan bahasa dan sastra kita. Menempatkan ia hanya sebagai pembaharu-pendobrak memang layak dilakukan oleh sesiapa yang menggemari klise dan nostalgia. Sekadar pembaharu bagi saya adalah ia yang hanya hidup untuk zamannya sendiri: ia hanya melahirkan fashion bagi generasinya, yang cepat menjadi kedaluarsa; si pembaharu segera menjadi bagian masa lampau jika kita memandangnya dari arah zaman kita. Tidak demikian halnya dengan Chairil Anwar.

Seperti pembukaan esai di atas, Nirwan Dewanto memulai Buku Jingga dengan kontestasi: perpaduan antara pengingkaran, antisipasi, dan pengambilan posisi. Ia memberitahu bahwa kisah ini tidak dimulai dari apa yang pembaca ketahui. Ia tidak hanya memperkenalkan tokohnya, sebagaimana kerja eksposisi dalam struktur plot, tetapi sekaligus me-lain-kan para tokohnya.

Jejak puisi dalam pembukaan Buku Jingga bisa diikuti pada “mencetuskan diri”. “Mencetuskan diri” adalah pilihan diksi yang muncul dari kebiasaan-kebiasaan menulis puisi. Mengapa demikian? Karena ia merangkulpadatkan sekaligus, sebagaimana cara kerja puisi, tiga arti “mencetuskan” dengan sampul buku dan penggarapan tokoh-tokohnya:

  1. v menerbitkan bunga api; menyalakan;
  2. v ki menimbulkan suatu keadaan (peristiwa dan sebagainya yang bersifat keras) dengan sekonyong-konyong: ~ pemberontakan; ~ revolusi; dan
  3. v ki melahirkan (perasaan, gagasan, dan sebagainya): ia ~ gagasannya di dalam rapat itu.

(Kaitkan bunga api dengan warna jingga).

Penggunaan sekaligus tiga genre itu memunculkan masalah bagi pembaca terkait skema apa yang sebaiknya dipakai untuk membaca Buku Jingga. Skema esai, prosa fiksi, atau puisi? Respons pembaca terhadap arsitekstualitas ini berkaitan dengan hal kedua.

Kedua, paratekstualitas: berkaitan dengan “gerbang interpretasi”. Paratekstualitas itu sendiri bisa ada dalam buku atau di luar buku. Tulisan di sampul buku, kata pengantar, testimoni pembaca, wawancara pengarang, atau resensi, misalnya, termasuk jenis-jenis gerbang untuk masuk ke dalam teks. Usaha Hermin mencari arti warna jingga dan Tomy mencari resensi, misalnya, adalah bagian dari kerja paratekstualitas. Persis di sini juga problem paratekstualitas Buku Jingga atau Kepada Apakah karya Afrizal Malna untuk menyebut buku lainnya. Belum banyak yang serius mengolah gerbang-gerbang untuk teks seperti itu.

Tentang ini, menurut Armin Bell, para penerbit perlu didorong untuk menerbitkan buku-buku yang bisa membuka diskusi tentang gerbang-gerbang membaca teks sastra yang belum lazim ini. “Tidak semua orang bisa menikmati teks macam Buku Jingga,” kata Armin Bell.

Selama ini sudah ada bermacam lomba kritik sastra yang mengulas teks-teks sastra yang kompleks, tetapi kebanyakan hasil-hasil kajian itu tidak dipublikasikan untuk umum. Sayangnya, karena keterbatasan bacaan, gerbang-gerbang ini tidak jarang juga membuat pengarang, terutama yang berkiblat ke fiksi pascamodern, merasa menjadi pihak yang “dianiaya” oleh pembaca(an).

Ketiga, hubungan antara hiperteks dan hipoteks: Buku Jingga sebagai hiperteks (teks yang muncul belakangan), sedangkan Ramayana, Mahabharata, atau teks-teks lain yang diacu sebagai hipoteks (teks yang lebih awal). Pelbagai hipoteks itu adalah titik berangkat Nirwan. Jika pembacaan ingin menghindari “undo”, esai Maria Popova yang membahas metafora pohon dari Paul Klee, seniman Jerman (1879-1940), bisa berguna untuk memahami hipoteks (akar) dalam kerja kreatif seni. Paul Klee menulis:

“Nobody would affirm that the tree grows its crown in the image of its root. Between above and below can be no mirrored reflection. It is obvious that different functions expanding in different elements must produce divergences.

But it is just the artist who at times is denied those departures from nature which his art demands. He has even been charged with incompetence and deliberate distortion.

And yet, standing at his appointed place, the trunk of the tree, he does nothing other than gather and pass on what comes to him from the depths. He neither serves nor rules — he transmits. His position is humble. And the beauty at the crown is not his own. He is merely a channel.”

Keempat, ada semacam tegangan kreatif dalam Buku Jingga yang mungkin mengganggu. Di satu sisi, kualitas kepengrajinan berbahasa Nirwan membuat perhatian kita ditarik oleh keajaiban bahasa. Sebagaimana diakui dokter Ronald, kalimat dan diksilah yang membuat ia terus membuka halaman demi halaman Buku Jingga, bukan karena jalan ceritanya.

Namun, di sisi lain, pelbagai alusi yang bertebaran dalam teks seperti mengundang pembaca untuk “keluar” dari teks, membaca remah-remah petunjuk tentang apa atau siapa yang dibicarakan/diacu oleh Buku Jingga. Masalahnya, pembaca yang tidak punya pengetahuan latar tentang hal-hal yang dialusikan akan sering melakukan sesuatu yang dalam naratologi kognitif disebut “deictic-shift”: kita mengganti acuan yang tidak kita kenali dengan sesuatu yang kita ketahui dalam rangka menjawab kebutuhan akan penjelasan.

Ada dua dampak negatif jika terlalu sering melakukan deictic-shift. Pertama, teks terasa asing, sukar didekati. Kedua, karena lebih banyak kembali ke pengetahuan latar, simpulan pembacaan menjadi umum. Seperti pengakuan Maria bahwa ia sendiri merasa aneh dengan simpulannya bahwa menurutnya selain kisah tentang pencarian jati diri, Buku Jingga adalah tentang kisah cinta Drupadi.

Hal itu bukan hal baru dalam bincang buku di Klub Buku Petra. Pada diskusi Raden Mandasia, misalnya, sosok tukang kayu yang mencari anaknya dikenali sebagai Yosef dari Kitab Suci Perjanjian Baru, alih-alih ayah Pinokio. Bukan salah Nirwan Dewanto, bukan salah Paman Yusi, bukan juga salah pembaca, tetapi begitulah kerja kognisi saat membaca. Itu su….

Penutup

Peserta bincang buku sepakat bahwa buku ini tidak mudah didekati, tapi kecakapan berbahasa Nirwan Dewanto di atas rata-rata. Para peserta memberikan bintang yang bervariasi (tiga bintang karena susah dipahami, sedangkan lima bintang untuk kualitas bahasanya) hingga akhirnya mencapai simpulan bintang tiga untuk Buku Jingga.

Bincang Buku berikutnya berlangsung pada hari Minggu, 25 Oktober 2020 di Aula Biara Bruder Karitas, Bangka Leda, Ruteng, membahas Antologi Cerpen ODGJ, Nadus dan Tujuh Belas Pasung. Sampai Jumpa!


Baca juga:
Catatan Dewan Juri Lomba Cerpen Bertema ODGJ
Profil Pemenang Lomba Cerpen Bertema ODGJ

Antologi Cerpen Nadus dan Tujuh Belas Pasung telah terbit. Pesan sekarang! Klik tautan ini atau hubungi kami di: marketing@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: