Menu
Menu

Wisława Szymborska dijuluki “Mozart-nya Para Penyair”. Simak puisi-puisinya berikut ini.


Oleh: Zulkifli Songyanan |

Lahir di Tasikmalaya, 2 Juni 1990. Menulis puisi, esai, berita, dan iklan.


.

Autotomi

Dalam bahaya, teripang memotong dirinya jadi dua.
Ia meninggalkan yang satu ke dunia lapar
dan melarikan diri dengan yang lain.

Dengan kejam ia membelah menjadi mala dan selamat,
hukuman dan pahala, apa yang sudah dan yang bakal terjadi.

Sebuah jurang muncul di tengah tubuhnya
Di antara yang seketika menjelma jadi dua pantai asing.

Kehidupan di satu pantai, kematian di pantai lainnya.
Di sini harapan dan di sana keputus-asaan.

Jika ada timbangan, wajan tidak bergoyang.
Jika ada keadilan, inilah dia.

Mati sebagaimana yang disyaratkan, tanpa kelebihan.
Demi menumbuhkan lagi apa yang dibutuhkan dari yang ditinggalkan.

Kita juga dapat membelah diri, itu benar.
Tapi hanya menjadi daging dan bisikan yang pecah.
Menjadi daging dan puisi.

Kerongkongan di satu sisi, tawa di sisi lainnya,
Senyap, sekarat dengan cepat.

Di hati yang berat ini, ada non omnis moriar—
Hanya tiga kata, umpama tiga helai bulu beterbangan.

Jurang tak membelah kita.
Jurang mengelilingi kita.

In memoriam Halina Poświatowska

.

Pertemuan Tak Terduga

Kami memperlakukan satu sama lain dengan sopan-santun berlebihan;
kami katakan, sungguh menyenangkan melihatmu setelah bertahun-tahun.

Harimau kami minum susu.
Elang kami menginjak bumi.
Hiu kami seluruhnya tenggelam.
Serigala kami menguap di luar kandang yang terbuka.

Ular kami telah mengelupaskan kilat mereka,
kera kami menanggalkan penerbangan mewah,
merak kami menanggalkan bulu-bulunya
kelelawar terbang keluar dari rambut kami dulu sekali.

Kami terdiam di tengah kalimat,
semua senyum, pertolongan masa silam.
Manusia kami
tak tahu cara berbicara satu sama lain.

.

Arkeologi

Baiklah, pria malangku,
tampaknya kita telah membuat sejumlah kemajuan di bidangku,
Ribuan tahun berlalu sudah
Sejak kau memanggilku arkeologi.

Aku tak lagi membutuhkan
batu dewamu,
reruntuhanmu dengan tulisan yang terbaca.

Tunjukkan padaku apa pun milikmu
dan akan kukatakan siapa dirimu sebenarnya.
Sesuatu di bawah,
sesuatu di atas.
Sekeping mesin. Sebuah gambar leher tabung.
Seinci kabel. Jemari yang berubah jadi debu.
Atau bahkan lebih sedikit dari itu, atau bahkan lebih sedikit lagi.

Dengan sebuah metode
yang tak kau tahu sebelumnya,
aku dapat membangkitkan memori
dalam elemen tak terhingga.
Jejak darah adalah selamanya.
Kebohongan bersinar.
Kode rahasia terdengar.
Keraguan dan niat terungkap.

Bila aku mau
(dan kamu tak bisa terlalu yakin,
aku bakal melakukannya),
Aku akan mengintip kerongkongan sunyimu,
akan membaca pandanganmu
lewat kantung matamu,
Dalam detail tak terbatas, aku akan mengingatkanmu
tentang apa yang kamu harapkan dari kehidupan di gigir kematian.

Tunjukkan padaku kenihilanmu
yang kau tinggalkan di belakang
dan darinya akan kubangun hutan dan jalan raya,
bandara, landasan, kelembutan,
rumah yang hilang.

Tunjukkan padaku puisi kecilmu
dan akan kukatakan kepadamu mengapa ia tak ditulis
lebih cepat atau lebih lambat dari itu.

Oh tidak, kau salah paham.
Simpan lembaran kertasmu yang lucu
dengan coretannya.
Segala yang aku butuhkan demi tujuanku
adalah lapisan tanahmu
dan bau pembakaran
yang sudah lama hilang.

.

Hari Jadi Emas

Mereka mestinya berbeda sekali waktu,
api dan air, terpisah bermil-mil,
merampas dan menerima dalam hasrat,
yang menyerang keliyanan satu sama lain.
Merangkul, mereka saling sisih dan ambil alih
untuk waktu yang lama
hingga hanya udara yang tersisa di lengan mereka,
transparan seolah-olah habis disinari.

Suatu hari jawaban datang sebelum pertanyaan.
Di lain malam mereka menebak ekspresi mata mereka
dengan semacam keheningan di dalam gelap.

Gender memudar, misteri terpacak,
perbedaan-perbedaan bertemu pada segala kemiripan
sebagaimana seluruh warna berkoinsiden dalam putih.

Manakah dari mereka yang digandakan dan mana yang hilang?
Manakah yang tersenyum dengan dua senyuman?
Suara siapakah yang membentuk dua bagian kanon?
Saat keduanya mengangguk, manakah yang setuju?
Gestur siapakah yang melekatkan sendok teh ke bibir mereka?
Siapa yang menguliti yang lain hidup-hidup?
Manakah yang hidup dan mana yang sudah mati
tersangkut di garis tangan milik siapa?

Mereka beradu pandang dan kekembaran muncul dengan lambat.
Keakraban melahirkan ibu yang paling sempurna—
ia tidak memihak satu pun anak-anak terkasih,
ia hampir tak bisa mengingat yang mana salah satunya.

Pada hari meriah ini, hari jadi emas mereka,
seekor merpati, terlihat identik, bertengger di ambang jendela

.

Sumber terjemahan puisi-puisi di atas adalah kumpulan puisi pilihan Wisława Szymborska dalam bahasa Inggris, View with a Grain of Sand (A Harvest Original, 1995). Terjemahan dari bahasa Polandia ke bahasa Inggris dikerjakan oleh Stanislaw Baranczak & Clare Cavanagh.

Tentang Wisława Szymborska:

Memiliki nama lengkap Maria Wisława Anna Szymborska, lahir di Bnin (kini bagian Kornik), Polandia, pada 2 Juli 1923. Ia dijuluki “Mozart-nya Para Penyair” lantaran puisi-puisinya dapat dengan mudah dinikmati dalam bahasa apa pun, menggambarkan dunia dengan keanekaragaman dan kekayaan yang menakjubkan, serta lewat ungkapan-ungkapan ironi yang ditempa keingintahuan yang besar berhasil mendokumentasikan ketidakmungkinan serta keindahannya yang sebentar. Pada 1996, Szymborska diganjar Penghargaan Nobel di Bidang Kesusastraan. Ia meninggal pada 1 Februari 2012.


Ilustrasi dari Pexels

Baca juga:
Bincang Buku Laut Bercerita
Bincang Karya Cerpen Putu Wijaya

Peluang kolaborasi dengan Klub Buku Petra, hubungi: marketing@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: