Menu
Menu

Kalimat pertama cerpen itu membuatmu getir, tetapi baru pada pembacaan kedua kau merasa berpotensi menjadi Gregor Samsa dengan cara yang lain.


Oleh: Sidra Muntaha |

Redaktur LPM Arena


Suatu pagi, setelah berbulan pneumonia misterius menjangkit warga Wuhan akibat coronavirus baru, kau menemukan dirimu tak ubahnya Gregor Samsa, tokoh utama dalam cerpen The Metamorphosis karya Franz Kafka, yang berubah menjadi kecoak menjijikkan. Kau memang tak punya kulit keras pelapis punggung. Kau tetap memiliki dua kaki seperti biasa, tak berlendir dan lengket hingga bisa menempel di dinding. Namun, air yang kau keluarkan dari hidung dan mulut bisa menginfeksi siapa pun.

Kau terinfeksi. Kau memiliki kerabat yang terinfeksi. Kau menemui orang di laman berita yang terinfeksi. Semua orang mendadak kebingungan.

“Apa yang terjadi padaku?” Pikirmu. Ini bukan mimpi. Kau terbangun di ruang isolasi setelah kemarin berjalan bebas di pasar, tempat wisata, kedai kopi. Kau melipat jarak begitu mudah. Namun, kini, beranjak dari kasur pun kau tak mampu. Perawat yang terus-menerus menyambungkan alat bantu napas ke hidungmu membuatmu makin sengsara. Kata dokter, paru-parumu mulai rusak. Kau berpikir dapat organ pernapasan baru–mungkin trakea. Selain tabung oksigen, bagimu, segala sesuatu terasa jauh.

Kau hanya bertemu dokter dan perawat yang berperan sebagai Grete Samsa, adik Gregor, yang siap merawat dan berharap kau sembuh. Sementara itu, semua keluarga dan kerabat mendadak jauh.

Tak ada lagi sore seperti biasa, ketika kau meminum kopi murahan di kedai kopi yang ramai. Di pagi hari, biasanya, keluargamu sedang ribut-ributnya karena ibu memasak dan membuat semua alat dapur beradu, sementara ayah berangkat kerja berharap ada uang lebih yang dibawa pulang dan membuat semua anggota keluarga kegirangan. Orang tuamu tak hentinya memberi tugas yang membuat kesal, sementara kau masih saja berkelahi dengan adikmu yang bawelnya sumpah mati bikin tinju gatal. Kini mereka semua terdiam di rumah.

Ya, mungkin saja kebiasaan rumah yang menyebalkan itu berhenti akhir-akhir ini. Sekarang kau berbaring memandangi langit-langit yang diterangi lampu terus-menerus. Kau bangga karena memberikan ketenangan macam ini pada orang tua dan saudaramu di rumah kayu yang sederhana.

Namun, bagaimana kalau semua kedamaian dan kenyamanan itu akan menemui akhir yang buruk? Ketimbang menyungkupi diri sendiri dengan pikiran semacam itu, kau mulai berharap bisa sembuh dan bertemu semua orang seperti biasa.

Mati-matian mengatasi rasa takut, kau menenggak belasan butir obat tiap hari. Dokter dan perawat menusukkan benda-benda aneh ke hidung dan mulutmu untuk sekadar tahu apakah kau akan kembali menjadi manusia biasa atau mendekam di ruang isolasi entah sampai kapan. Dan, jika bernasib buruk, kau bakal mati lalu dikubur entah di mana oleh entah siapa. Saat kau mati dalam kondisi itu, dokter, perawat, dan tukang gali kuburmu tak lagi bisa kau lihat senyumnya yang ditutupi masker. Gestur tubuhnya pun samar karena dibungkus hazmat.

Mereka semua berusaha memperlakukanmu seperti manusia, menyemangatimu saban hari, tapi tetap saja, kau tak ubahnya “kecoak” menjijikkan. Mereka semua tak lagi tahu harus memperlakukanmu seperti apa selain takut kau menginfeksi dan mengubah mereka jadi “kecoak” juga.

Pandemi coronavirus baru merebak sejak sembilan bulan lalu dan tak kunjung berhenti. Dan kau baru menemukan bahwa coronavirus ini betul-betul berbahaya setelah kau ke toko buku mengambil kumpulan cerpen The Metamorphosis dan mengantarnya ke kasir. Kau terlambat. Bayangan tentang dirimu yang terinfeksi datang terlambat, virus telah menyebar menjangkit tetanggamu.

Kalimat pertama cerpen itu membuatmu getir, tetapi baru pada pembacaan kedua kau merasa berpotensi menjadi Gregor Samsa dengan cara yang lain.

“One morning, as Gregor Samsa was waking up from anxious dream, he discovered that in bed he had ben changed into a monstrous verminous bug.”

Dalam kalimat itu, Kafka secara cerdik menyiapkanmu pada suatu pagi yang membingungkan ketika Gregor Samsa berubah menjadi kecoak jadi-jadian, menjadi makhluk yang tak mungkin dirawat siapa pun.

Beberapa halaman kemudian, kebingungan yang sama akan menyerang tokoh-tokoh lain: Grete Samsa, sang ibu dan ayah. Setiap hari, Grete Samsa membawakan berbagai macam makanan. Bila Gregor memakan semuanya, Grete bakal bersyukur karena merasa berhasil merawatnya. Bila Gregor makan satu jenis pakan dan menyisakan yang lain, Grete mungkin bakal tahu makanan yang Gregor suka dan benci. Ia bakal berusaha lebih baik besok. Kemungkinan terakhir, Gregor tak makan semuanya dan Grete frustasi.

Begitu pula dokter dan perawat. Perbedaannya, kondisi wabah lebih mengerikan. Mereka, petugas kesehatan, disodorkan ratusan Gregor Samsa setiap hari tanpa tahu pasti bagaimana cara merawat yang benar. Karena wabah ini baru dan unik dan setiap orang yang terjangkit punya kondisi unik pula, mereka lebih mungkin mengidap rasa frustasi sebelum dirimu sembuh.

Sang Ibu biasanya lebih pengertian, tapi ia tak punya kompetensi apa pun. Dia lebih sering takut melihat Gregor daripada memahami apa yang ia mau. Sang Ibu pengin Gregor bisa hidup senyaman mungkin dalam kondisi baru, tapi juga tak tega karena pengin Gregor kembali jadi manusia. Keinginan membuat Gregor bahagia dan punya hidup yang lebih baik sebagai kecoak terbentur dengan rasa simpatinya yang ingin memperlakukan anaknya seperti manusia biasa.

Begitu pula keluargamu ketika kau mendapati dirimu tiba-tiba positif tertular Covid-19.

Kau mungkin bakal dapat kabar baik seperti Gregor yang mendapati ayahnya masih memiliki banyak tabungan. Semula kau menganggap ayahmu tak punya lagi sepeser uang, paling tidak dia tak pernah mengalami hal sebaliknya, meskipun kau tak pernah menanyakannya sungguh-sungguh.

Namun, hingga akhir cerita, Gregor tak kunjung kembali jadi manusia. Adiknya mulai mengeluh kecapekan. Sang Ibu dan Ayah mulai berani memutuskan untuk membuangnya. Beberapa hari sebelum membuang Gregor, sang Ayah melempari anaknya yang jadi kecoak dengan apel hingga membuat punggungnya terluka. Luka itu tak kunjung kering dan Gregor makin bingung dengan keadaan tubuhnya sendiri.

Pilihan Sang Ayah dan Ibu untuk membuang Gregor, pada akhir cerita, memang tak terwujud. Sebab Gregor sudah tewas lebih dulu.

Kau mungkin bisa membayangkan akhir lain yang lebih indah. Berharap dirimu menjadi manusia seutuhnya. Tak lagi terjangkit virus. Tapi sebagaimana harapan pada umumnya, ia lebih sering dibuang ke keranjang sampah.(*)


Baca juga:
Cerpen Giovanni Boccaccio – Mimpi, Istri, dan Serigala
Esai Jhumpa Lahiri – Eksil

Kirim pengalaman membaca kalian untuk rubrik Saya dan Buku. Ke: redaksi@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: