Menu
Menu

Origin menghadap-hadapkan sains dan agama melalui Edmond Kirsch dan Parlemen Agama-Agama Dunia, yang selanjutnya berfokus pada Uskup Antonio Valdespino dan keluarga kerajaan Spanyol. Robert Langdon masuk menjadi pusat cerita setelah Edmond Kirsch ditembak mati sesaat sebelum presentasinya dimulai.


Oleh: Gregorius Reynaldo |

Lulusan Ilmu Komunikasi Undana Kupang. Sehari-hari bisa dijumpai di Perpustakaan Klub Buku Petra sebagai Pustakawan. Penyiar di Radio Manggarai.


Identitas Buku

Judul: Origin
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan pertama: November 2017
Tebal: 511 halaman

***

Setelah serangkaian adegan kejar-mengejar dan pemecahan misteri dalam empat seri Robert Langdon sebelumnya; Angels & Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, dan Inferno, Dan Brown menulis Origin sebagai seri kelima. Apa tawaran yang diberikan Origin di balik serangkaian kejar-kejaran dan pemecahan misteri? Siapa lagi yang akan mengejar Robert Langdon?

Origin menghadirkan konflik yang tidak  baru. Dalam novel ini, Dan Brown mencerminkan serangkaian konflik dan perdebatan panjang yang muncul sejak manusia mulai memberi sekat terhadap sains dan agama. Lebih tepatnya, sains mulai menciptakan jurang dan meragukan keyakinan manusia terhadap agama.

Pertanyaan tentang eksistensi manusia sudah menciptakan jurang antara sains dan agama sejak lama. Sementara sains terus melakukan pembuktian terhadap berbagai sebab-akibat terjadinya segala sesuatu, agama terus bertahan dan menahan serangan terhadap pertanyaan-pertanyaan serupa dengan dogma-dogma yang kaku.

Inilah yang dilakukan Edmond Kirsch, seorang miliuner sekaligus ilmuwan komputer, futuris, inventor, dan pengusaha. Seorang ateis yang temuannya tentang masa depan manusia dipercaya mampu merusak fondasi agama-agama manusia.

Ini tidak akan mengguncang fondasi kalian. Ini akan menghancurkannya

Origin menghadap-hadapkan sains dan agama melalui Edmond Kirsch dan Parlemen Agama-Agama Dunia, yang selanjutnya berfokus pada Uskup Antonio Valdespino dan keluarga kerajaan Spanyol. Robert Langdon masuk menjadi pusat cerita setelah Edmond Kirsch ditembak mati sesaat sebelum presentasenya dimulai. Langdon, sekali lagi, ditugaskan untuk lari dari kejaran kerajaan Spanyol serta menyelesaikan sejumlah teka-teki, simbol, dan permainan ala detektif lainnya untuk menyiarkan temuan Edmond Kirsch kepada publik.

Dari mana asal kita? Kemana kita semua akan pergi (hlm. 102)

Pertanyaan yang fundamental ini menjadi pusat temuan Kirsch, yang selanjutnya menjadi tugas Langdon untuk menyelesaikannya. Dan sama seperti ketika membaca seri Langdon yang lain, saya selalu berusaha menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap peristiwa, makna simbol, atau siapa yang menjadi tokoh antagonis dalam cerita tersebut. Dalam Origin, pembaca sepertinya akan kesulitan juga menebak-nebak ke mana setiap simbol atau teka-teki membawa Langdon dan Ambra Vidal. Juga siapa yang sebenarnya menjadi otak di balik semua konflik dalam Origin.

Novel ini menyajikan ciri khas Dan Brown seperti biasa, mulai dari penokohan, kedalaman penelusurannya terhadap sejarah dan agama, serta konflik di dalamnya. Kesemua ini dibalut dengan cerita dan sejumlah misteri serta teka-teki yang tersebar dari awal hingga akhir cerita. Dan Brown menghadirkan Ambra Vidal yang menambah konflik-konflik percintaan, Winston, sebuah sosok kecerdasan buatan yang membantu Langdon menyelesaikan kasusnya, serta sejumlah tokoh pembantu yang perannya vital.

Dan Brown dengan cerdas membagi novel ini ke dalam 105 bab yang menggantung di bagian akhirnya, yang lalu menimbulkan rasa penasaran saya untuk sesegera mungkin menghabiskan isi novel ini. Dan hasilnya, novel setebal 511 halaman ini selesai dalam kurun waktu satu minggu.

Dengan mengambil latar tempat di Spanyol, Dan Brown memvisualkan setiap tempat dengan detail, yang mengajak saya untuk masuk ke dalam ruang-ruang rahasia di Guggenheim, atau masuk ke dalam perpustakaan Montserrat yang legendaris. Selain itu, daya tarik yang lain juga jatuh pada simbol-simbol yang menjadi bagian dari teka-teki dan lalu dijelaskan dengan baik dalam buku ini.

Sayangnya, meski dibuat tegang dengan jalan ceritanya, upaya menebak-nebak siapa yang melakukan apa dan bagian akhir yang tidak terduga, hasil temuan Edmond pada akhirnya tidak cukup kuat untuk menjelaskan jurang antara agama dan sains yang sudah dibangun sejak awal penceritaan, terutama eksistensi agama di masa depan. Temuan Kirsch sepertinya tidak mampu menghancurkan agama-agama tersebut.

Bagian ini mengingatkan saya dengan reaksi umat katolik saat Dan Brown merilis The Da Vinci Code tahun 2003, seri kedua Robert Langdon yang menimbulkan kepanikan luar biasa. Buku tersebut meski hanya sebuah novel, tetapi cukup mengguncang gereja Katolik pada saat itu. Sejumlah negara melarang peredaran buku tersebut, sejumlah pejabat gereja menulis buku-buku perlawanan. Beberapa gereja bahkan menawarkan pendampingan iman kepada umat yang ragu dengan keimanannya setelah membaca buku tersebut. Tetapi pada akhirnya, setelah diserang dengan berbagai cara, gereja tetap hidup sampai hari ini.

Origin juga menawarkan cara melihat masa depan. Alih-alih memperkirakan apa yang terjadi bertahun-tahun dari sekarang, kemunculan Artificial Intelligence (AI) bernama Winston atau kecerdasan buatan dalam novel  ini menjelaskan bahwa manusia sedang dan akan berevolusi menjadi makhluk yang lain dan mungkin berbeda sepenuhnya. Manusia sedang berada dalam proses menuju makhluk yang baru.

Setelah lima seri kejar-kejaran dan pemecahan misteri, juga setelah menyentuh salah satu pertanyaan fundamental manusia, saya penasaran siapa lagi yang akan membuat Robert Langdon lari dan memecahkan misteri, siapa yang akan mengejar Langdon, dan misteri apa lagi yang akan ditulis Dan Brown untuk Robert Langdon?


Baca juga:
Puisi-Puisi Saddam HP – Nakama
Tamu yang Tak Diharapkan – Cerpen Connie Rae White

Bagikan artikel ini ke: